8

1878 Kata
"argghh.. kesel gue sama tuh cowok satu. udah sok kecakepan, belagu, ngeselin pula. heran gue, sama cewek-cewek disekolah ini, apa sih yang dilihat dari tampang tuh cowok?!" omel Dara, sambil mengganti roknya yang basah menggunakan celana olah raga miliknya di dalam kamar mandi. sementara Chaca yang menunggunya di luar pintu kamar mandi pun, hanya diam dengan menghela napas beberapa kali, akibat mendengar omelan Dara yang sedari tadi sanggup membuat telinganya terganggu. bagaimana tidak, Dara bahkan menyumpah serapah Daren berulang kali di dalam kamar mandi, dan hal itu hanya Chaca yang mendengarnya. padahal menurut Chaca, seharusnya Dara melakukan itu didepan Daren. bukannya malah ngedumel tidak jelas seperti ini. setelah selesai mengganti rok miliknya yang basah akibat terkena tumpahan jus jeruk yang disengaja oleh Daren, Dara pun keluar dari dalam kamar mandi dengan raut wajah kesalnya. "tuh cowok emang nyebelin banget. awas aja ya, gue bakal bales entar. liat aja!" ucap Dara, dengan pandangan mata penuh dendam pada Daren. membuat Chaca mengernyitkan dahinya penuh penasaran, dengan apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya itu terhadap Daren. "emang lo bakal lakuin apa, Ra?" Dara tersenyum menyeringai. "entar juga lo bakal tau." "apaan sih? bikin penasaran aja." "udah ayok, balik ke kelas sekarang! bentar lagi mau bel masuk nih." kata dara, sambil merangkul pundak Chaca begitu saja, tanpa memberitahukan rencana yang sudah tersimpan rapi di kepalanya. **** kriingg... bel tanda berakhirnya pelajaran terdengar memekakkan telinga. para murid yang tadinya tenang di dalam kelas, kini mereka sudah berhamburan keluar kelas dengan riangnya. merasa senang karena mereka sudah bisa terbebas dari mata pelajaran yang sanggup membuat kepala mereka serasa ingin pecah sekarang juga. Dara, gadis itu saat ini bahkan terlihat sangat terburu-buru memasukkan semua buku-buku dan alat tulis miliknya ke dalam tas. teman satu bangku Dara yang melihatnya pun di buat bingung oleh sikapnya kali ini. "buru-buru amat Ra, mau ngapain sih??" tanya Chaca penasaran. dengan tersenyum cengengesan, Dara pun menjawab "gue mau jalanin rencana gue buat ngerjain si kutil landak itu." kata Dara memberitahu. "HAH??" chaca terkejut dengan bersuara keras. membuat beberapa murid yang tengah berada di kelas menatap ke arah mereka penuh tanya. termasuk juga Daren dan kedua temannya. "pssttt... jangan kenceng-kenceng, entar tuh orang curiga." kata Dara memperingati dengan menempelkan satu jari telunjuk ke arah bibirnya. "Ra, lo nggak usah aneh-aneh deh!" Chaca balik memperingati Dara. membuat Dara memutar kedua bola matanya jengah. "udah ya Cha, mending lo nggak usah bawel dan sok nasehatin gue. karena gue tetep akan jalanin rencana gue. mending lo sekarang buruan beresin buku lo, karena gue nantinya akan butuh bantuan lo buat ngejalanin misi gue kali ini." ucap Dara, sambil menutup resleting tas miliknya. "gue??" Chaca menunjuk dirinya sendiri. "nggak ah, gue nggak mau ikutan ya.." ujar Chaca menolak dengan tegas. "hatdeehh... udah, ayo buruan!!" karena tidak sabar, Dara pun akhirnya dengan asal membantu memasukkan buku milik Chaca ke dalam tasnya, agar ia bisa segera bergegas keluar dari kelasnya sebelum lelaki itu yang keluar terlebih dahulu. "tapi Ra..." "udah, ayok buruan!!" ucap Dara semakin tidak sabar. lalu kemudian menyuruh temannya agar cepat berdiri dan sedikit menarik tangannya untuk keluar kelas menuju parkiran. sesampainya mereka berdua di parkiran, Dara terlihat celingukan di antara beberapa motor yang masih terparkir di sana. "Ra, lo sebenarnya mau ngapain sih?" tanya Chaca semakin tak mengerti dengan apa yang akan di perbuat oleh Dara kali ini. "ssstt... udah, jangan berisik! sekarang, gue mau supaya lo jaga disini. gue mau ngempesin ban motornya si kutil landak itu pakek ini." ujar Dara sambil mengeluarkan sebuah benda tajam berbentuk paku dari dalam saku bajunya. kedua bola mata Chaca membulat sempurna, tak menyangka jika Dara akan melakukan hal ini. "Ra, lo jangan gila ya. lo dapet paku itu dari mana??" "adalah pokoknya. udah, lo jaga disini ya! kasih tau gue kalau misalkan si kutil landak sama temen-temennya itu dateng. oke?!" ujar Dara sambil mengangkat ibu jarinya ke arah Chaca. "tapi Ra--" sebelum Chaca melayangkan protesnya, Dara sudah terlebih dulu melangkah pergi menuju motor Daren yang tengah terparkir bersama beberapa motor lainnya, sehingga membuat Chaca terpaksa menuruti apa yang di perintahkan sahabatnya itu kepadanya. dengan perasaat was-was, Chaca berjaga di sekitaran parkiran tersebut dengan sikap waspada. jika nanti Daren dan kedua sahabat dekatnya itu datang dengan tiba-tiba untuk mengambil motor miliknya. sementara Dara saat ini sudah berjongkok di depan motor Daren dengan sebuah paku di tangan kanannya. "mampus lo! salah sendiri nyari gara-gara sama gue." ucap Dara, lalu menusukkan paku tersebut ke ban motor bagian belakang, lalu setelah itu dia melakukan hal yang sama di bagian depan ban motor tersebut. setelah melakukan hal itu, Dara segera berdiri. ada sedikit perasaan bersalah waktu dia melakukan hal ini terhadap motor Daren. namun setelah itu, gadis itu hanya menggeleng dengan meyakinkan dirinya sendiri kalau apa yang ia lakukan saat ini bukan sepenuhnya salah dia. "ishh... lagian salah sendiri, jadi cowok kok nyebelin banget. rasain tuh gue kerjain." ucap Dara berbicara sendiri, lalu segera bergegas pergi menghampiri Chaca, yang masih menunggunya di depan parkiran. "lama banget sih Ra." protes Chaca karena merasa sudah menunggu terlalu lama dengan perasaan kawatirnya. khawatir jika apa yang di rencanakan Dara akan ketahuan oleh si pemilik kendaraan. "iya, iya sorry. ya udah, sekarang pergi yuk..!" "pulang maksudnya?" tanya Chaca tak mengerti. "ya enggaklah, masak pulang sih. kan gue juga pengen liat tuh si kutil landak ngedorong motornya. secara kan, motornya tuh gede. pasti berat banget kan waktu ngedorongnya?! aaakk... gue nggak sabar pengen cepet-cepet liat gimana tampang keselnya itu. pasti lucu banget deh." ucap dara antusias, seolah puas dengan apa yang baru saja ia lakukan terhadap motor Daren barusan. "tapi entar kalau dia curiga sama kita gimana Ra??" "nggak bakal. udah tenang aja. lagian dia kan nggak punya bukti apapun buat curiga sama kita. ya kan?!" ujar Dara, namun Chaca hanya diam tak menjawab. Dara lalu segera mengajak temannya itu untuk duduk menunggu di depan pintu gerbang. berharap jika Daren akan segera muncul. selang beberapa menit kemudian, Daren dan kedua sahabatnya itu muncul dan menuju ke tempat parkiran untuk mengambil motor mereka masing-masing. kedua teman Daren mengambil helm dan motornya seperti biasa. namun pada saat Daren mendekati motor miliknya, kekesalan nampak terlihat jelas di raut wajahnya saat ini. "b******k!! apa-apaan ini?!" ucap lelaki itu dengan memandangi ban motor miliknya yang sudah kempes dua-duanya. "kenapa bro??" tanya Farel, waktu melihat wajah kesal Daren. "lo liat deh ban motor gue. kayaknya ada yang sengaja ngerjain gue. s****n!" kesal Daren. Farel dan Mario, lantas mendekat ke arah motor Daren untuk melihatnya sendiri. "wah-wah.. parah banget. kalau ini mah, emang sengaja di tusuk pakek paku nih. tuh, lo liat aja lubangnya." ujar Mario waktu melihat dan memeriksa sendiri bagaimana kondisi ban motor milik sahabatnya itu. "b******k emang!! awas aja kalau sampai gue tau siapa pelakunya, bakal gue kasih pelajaran tuh anak." ucap Daren, dengan kilatan emosi di kedua bola matanya. Daren akhirnya memutuskan untuk mendorong motornya tersebut keluar dari gerbang sekolah miliknya. mencari tempat tambal ban yang sekiranya tidak jauh dari tempat sekolahnya itu. Chaca dan Dara bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi kesal di wajah Daren saat ini, bahkan Dara sampai harus bersusah payah menahan tawanya agar tidak pecah begitu saja, waktu melihat Daren mendorong motornya dengan susah payah, yang bisa di pastikan Dara, jika motor tersebut pastilah sangat berat. ditambah lagi dengan cuaca yang sangat panas seperti sekarang ini. semakin membuat tawa Dara akhirnya menggelegar karena tak sanggup menahannya lebih lama lagi. "bwahahhahahahaha....!!" Dara tertawa dengan kencangnya, waktu melihat Daren mendorong motor didepannya, membuat Chaca menyikut lengan Dara berulang kali bermaksud memperingatkan. tak terima di tertawakan seperti itu, membuat Daren menghentikan langkahnya dan segera memarkir motornya dengan asal di sana. lalu kemudian berjalan mendekat ke arah Dara yang masih duduk di sekitar pintu gerbang, sambil sesekali mengusap matanya yang berair akibat tawanya yang tak mau berhenti sama sekali, "ngapain lo ngetawain gue? hah?!" ucapan Daren sepertinya sama sekali tidak di gubris oleh Dara, karena gadis itu saat ini masih saja tertawa dengan kencangnya, sesekali tangannya memegangi perutnya yang terasa sudah sangat kaku akibat tawanya sendiri. "Ra, Dara!! itu.. si Daren, Ra...." Chaca berusaha memperingatkan Dara, agar gadis itu segera menghentikan tawanya sekarang juga. karena Chaca sudah sangat ketakutan waktu melihat raut wajah Daren yang saat ini terlihat begitu marah. "WOI...!! NGAPAIN LO NGETAWAIN GUE?!" kali ini bentakan Daren membuat tawa Dara seketika terhenti, karena terkejut mendengar suara lelaki yang meninggi di hadapannya saat ini. "eh, siapa juga yang ngetawain lo. nggak usah GR ya.." dusta Dara dengan menampilkan raut watadosnya. "jelas-jelas gue tau, kalau lo emang sengaja ngetawain gue. pakek nggak ngaku segala lo." ucap Daren tak mau kalah. Dara berdiri dari duduknya, membuat Chaca semakin terlihat ketakutan. dia sangat yakin kalau sebentar lagi pasti akan terjadi perdebatan seperti biasa antara Dara dan juga Daren. "heh, gue heran deh sama lo. kenapa lo jadi orang tuh sok ke PD an banget, lagian siapa juga yang ngetawain elo. orang gue sama Chaca lagi ngobrolin hal yang lucu kok. kenapa justru elo yang sewot sama gue? sensi banget sih lu jadi cowok?!" "alaah, nggak perlu pakek alesan ya lo. gue tau, kalau lo yang udah sengaja bikin bocor ban motor gue. iya kan?? ngaku lo!" ujar Daren penuh keyakinan. sesaat perkataan Daren barusan, cukup membuat Dara terkejut. namun kemudian gadis itu bisa kembali menormalkan kembali ekspresinya seperti semula. "apa-apaan lo, nuduh gue sembarangan. emang lo punya bukti? hah??" tantang Dara, dengan semakin memberanikan dirinya saat ini. "gue emang nggak punya bukti, tapi gue yakin banget kalau yang ngelakuin ini semua itu, elo!!" "woaah..!! enak banget ya lo nuduh gue sembarangan kayak gitu. lo nggak tau ya, kalau fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan!! lo udah jelas-jelas ngefitnah gue dengan tuduhan yang sama sekali nggak jelas kebenarannya." ucap Dara tanpa rasa bersalah sedikitpun. padahal jelas-jelas apa yang sudah di tuduhkan Daren padanya itu benar adanya. namun gadis itu masih saja menyangkalnya seolah tak mau mengalah begitu saja dengan cowok dihadapannya saat ini. "Dare, udah nggak perlu nyari ribut sama cewek nggak normal kayak dia. percuma juga dia nggak bakalan ngaku. apalagi kita kan emang nggak punya bukti." kata Mario menasehati. "betul apa yang Mario bilang. mending kita buruan nyari tukang tambal ban terdekat deh. daripada ribut sama cewek aneh kayak dia." sahut Farel membenarkan perkataan temannya itu, yang masih terdengar jelas oleh Dara. "enak aja ngatain gue aneh. temen lo tuh yang aneh, pakek acara nuduh orang sembarangan! dasar sinting!!" ujar Dara mengatai Daren. "elo tuh yang sinting!!" sahut Daren tak terima, sambil kembali mendorong motornya pergi meninggalkan Dara. "elo yang sinting!! dasar kutil landak." Dara kembali menyahut tak mau mengalah. "dasar cewek s***p!!" teriak Daren yang mulai sedikit menjauh dari Dara. "DASAR KUTIL LANDAK SIALAAN...!! RASAIN LO DORONG MOTOR, GUE SUMPAHIN KAKI LO GEMPOR SEKALIAN!!" teriak Dara yang entah masih bisa di dengar oleh Daren atau tidak. sementara Chaca yang melihatnya hanya menggeleng-nggelengkan kepalanya tak percaya, melihat kebencian sahabatnya itu terhadap Daren hingga seperti ini. "udah Ra, orangnya udah nggak ada." kata Chaca mengingatkan. "ya, gue tau. nggak perlu diingetin juga." ketusnya. karena dia masih kesal dengan lelaki itu. "beli minum di warung depan yuk!! haus banget nih gue jadinya." "ya jelas lah lo haus, orang lo aja teriaknya ampek kayak gitu tadi." jawab Chaca yang hanya dibalas Dara dengan cengirannya, lalu mereka segera bergegas menyebrang ke warung depan untuk membeli sebotol minuman dingin, sambil menunggu kakaknya Ray untuk menjemputnya. BERSAMBUNG...    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN