"dasar cewek s***p, gila!! Gue yakin banget, kalau yang udah ngebuat ban motor gue jadi kayak gini tuh karena cewek nggak normal itu." Ucap Daren dengan rasa kesal yang meluap-luap saat ia dan dua temannya kini sedang menunggu motor miliknya yang tengah diperbaiki itu.
"iya Dare, gue juga punya fikiran yang sama kayak lo." Sahut Farel kemudian.
"gue heran deh sama tuh cewek, kenapa dia itu segitu nggak sukanya sama lo. Padahal nih ya, banyak beberapa murid cewek di sekolah kita yang tergila-gila banget sama lo. Tapi kenapa dia enggak masuk hitungan ya?!" sahut Mario menimpali.
"kenapa lo masih nanyain hal itu? Udah jelas banget kan, kalau dia itu cewek nggak normal. Sekarang lo fikir aja deh sendiri, kalian pernah nggak liat tuh cewek jalan bareng sama cowok?? Enggak kan?! Berarti bener kan dugaan kita selama ini, kalau dia emang cewek nggak normal." Ucap Daren mengambil kesimpulan, dengan perasaan yang masih sangat kesal.
Farel yang kini tengah duduk bersama dua sahabatnya itu di kursi yang memang disediakan di bengkel itu, terlihat seolah tengah berfikir. "eh dare, kenapa lo nggak coba aja deketin tuh cewek pelan-pelan, terus lo ajak dia jadian sama lo."
Mendengar perkataan Farel barusan, membuat Daren membulatkan matanya, seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu.
"bener juga tuh. Gue juga penasaran banget sama si Dara, dia itu bisa kepincut sama pesona lo apa enggak. Secara selama ini kan dia kelihatan banget bencinya kayak apa sama lo. Ya kan...?!" sahut Mario membenarkan ucapan Farel.
"tunggu-tunggu, jadi maksud kalian berdua, kalian nyuruh gue baikin si Dara, ngerayu dia, terus jadian sama dia gitu? Iya??" tanya Daren memastikan maksud dari kedua sahabatnya itu.
"yups, betul!!" jawab Farel dan Mario yang hampir terdengar bersamaan.
"enggak-enggak. Gue nggak mau. Najis banget gue baikin cewek songong kayak dia. Mau ditaruh dimana harga diri gue? Yang ada tuh cewek malah makin berasa hebat, dikiranya gue tertarik sama dia. Ogah banget!!" tolak Daren dengan tegasnya.
Membuat kedua sahabat dekatnya itu saling memandang satu sama lain.
"kenapa?? Lo takut??" tanya Mario pada Daren.
"takut?? Takut kenapa nih maksudnya??" Daren bertanya tak mengerti.
"ya, lo itu cuman takut kalau lo di tolak sama si Dara nantinya. Apalagi dia sebenci itu sama lo. Iya kan Rel??" kata Mario meminta pembenaran Farel.
Farel menjawab dengan menganggukkan kepalanya. "ternyata, lo nggak sehebat yang gue fikir Dare, lo pernah bilang ke gue, kalau lo bisa naklukin cewek manapun disekolah lo yang lo mau.tapi apa sekarang?? Lo udah kehilangan rasa percaya diri lo duluan, waktu kita nyuruh lo naklukin si Dara, cewek yang bahkan nggak pernah ngerasain yang namanya pacaran sekalipun." Ucap Farel panjang lebar.
Membuat Daren tak terima saat mendengar kedua sahabatnya itu terdengar seakan seperti sedang meremehkan dirinya saat ini. "enak aja kalian berdua kalau ngomong. Gue bisa naklukin cewek yang modelnya kayak si Dara dengan mudah." Kata Daren dengan entengnya.
"oh ya?? Yakin lo bisa?" kata Mario mempertanyakan kebenaran ucapan Daren barusan.
"ya iya lah! Kenapa? Lo nggak percaya sama gue?" tanya Daren kemudian.
"jelas lah kita berdua nggak percaya kalau nggak ada bukti." Sahut Farel menimpali.
"okey, gue bakal buktiin omongan gue barusan, kalau gue bisa dengan mudah naklukin si Dara." Tiba-tiba Daren mengeluarkan kunci motornya dan menaruhnya begitu saja di atas meja di hadapan kedua temannya itu. "motor gue yang jadi taruhannya, kalian bisa ngejual motor gue, dan membaginya sama rata, kalau misalkan gue nggak bisa ngedapetin si Dara, gimana??"
"okey, gue setuju." Sahut Farel.
"gue juga." Sahut Mario ikut menyetujui ucapan Daren barusan.
"eiittss... tapi, kalau misalkan gue berhasil dapetin si Dara gimana??" kata Daren dengan tersenyum penuh arti ke arah kedua sahabatnya itu.
"mana mungkin. Gue nggak yakin." Jawab Mario dengan tersenyum meremehkan.
"gue juga nggak yakin kalau lo bisa ngedapetin si Dara." Sahut Farel ikut meremehkan.
"kalian jangan terlalu ngeremehin gue dong, gue bilang kan tadi misalnya. Masak cuman gue sih yang berani taruhan disini. Kalian berdua juga dong, biar makin semangat gue nya." Kata Daren dengan penuh percaya dirinya.
Mario yang seolah mengerti dengan apa yang di maksud Daren itupun akhirnya ikut mengeluarkan kunci motornya dan menaruhnya begitu saja di atas meja, menyamai apa yang dilakukan Daren tadi.
"okey, kalau lo berhasil ngedapetin si Dara, dan ngebuatnya jatuh cinta setengah mati sama lo, motor gue beserta surat-suratnya jadi milik lo." Mario lalu melirik ke arah Farel, bermaksud mengajaknya ikut serta dalam taruhan ini juga. "gimana Rel? Lo setuju juga nggak??"
Walaupun ada sedikit keraguan di hati Farel, namun mengingat bagaimana bencinya Dara terhadap Daren, akhirnya lelaki itu ikut serta juga dalam taruhan ini. "okelah, gue setuju." Jawabnya dengan hati yang berharap banyak supaya Dara nantinya akan menolak Daren mentah-mentah.
"okey, jadi kita bertiga sepakat ya? Inget!! Kalau gue berhasil dapetin Dara, motor kalian berdua jadi milik gue!" ujar Daren memperingatkan kedua sahabatnya itu lagi.
"elahhh... itu kan kalau lo berhasil dapetin dia. Kalau nggak, ya motor lo yang jadi milik kita." Kata Farel mengingatkan Daren juga.
"terserah apa kata kalian berdua, tapi gue nggak bakal nyerah buat dapetin dia." Ucap Daren dengan penuh kesungguhan di matanya.
---000---
"duh... kak Ray lama banget sih jemputnya. Tumben." Gerutu Dara yang sudah merasa kesal, karena sedari tadi ia sudah berada di sebuah warung sendirian untuk menunggu kedatangan kakaknya tersebut, yang hingga saat ini belum muncul juga.
Sehingga membuat Dara terpaksa harus menyuruh Chaca pulang duluan, karena ia tidak mau temannya itu ikut menunggu kedatangan kakaknya terlalu lama.
Dara memang sengaja tidak mau menerima tawaran Chaca yang mengajaknya pulang bersama, karena memang dia tidak mau merepotkan supir pribadi dari sahabatnya itu, mengingat arah rumahnya dengan rumah Chaca berbeda.
Sudah berulang kali Dara memperhatikan jam tangan miliknya, yang ternyata sudah hampir satu jam lebih gadis itu menunggu disana sendirian. "huftt.. benar-benar menyebalkan."
Dara berdiri, menengokkan kepalanya ke kiri dan kanan, berusaha mencari keberadaan sang kakak yang mungkin saja sudah berada di sekitar sekolahnya, namun ia tidak mengetahuinya.
Hingga akhirnya...
Tiinn.... tiiinn....!! bunyi sebuah klakson kendaraan yang tengah berhenti tepat di depannya, terdengar memekakkan telinganya.
"belum di jemput nih?? Mau gue anterin nggak??" tawar seorang lelaki yang ternyata adalah Daren.
Membuat kening Dara mengernyit heran saat memperhatikan lelaki yang sangat ia kenal itu. "nggak perlu!!" jawab Dara dengan juteknya.
Ada sedikit rasa heran di benak Dara saat ini. Jangan-jangan nih anak pas di bengkel tadi habis nenggak oli gara-gara depresi abis berdebat sama gue. Mangkanya dia jadi aneh gini sekarang. Mana pakek acara nawarin gue pulang segala lagi. Hah?! Apa jangan-jangan nih cowok cuman mau ngerjain gue aja ya?! Batin Dara penuh tanya.
"kenapa?? Lo takut gue kerjain ya?? Elah, tenang aja kali. Gue nggak punya fikiran sepicik itu. Nggak kayak lo." Ucapan Daren memelan saat ia mengeluarkan kalimat terakhirnya.
"gue udah bilang kan tadi, nggak perlu. Apa perkataan gue tadi kurang jelas buat lo?? Iya?" kesal Dara terhadap sikap aneh Daren saat ini.
Bagaimana tidak aneh, kira-kira baru satu jam yang lalu mereka berdua berdebat tentang masalah ban motor Daren yang bocor. Dan sekarang sifat lelaki itu sudah berubah 180 derajat terhadapnya, jelas saja Dara merasa curiga terhadapnya.
"lo kenapa sih jutek banget sama gue?? Gue kan cuman mau bersikap baik doang sama lo. Kenapa lo justru nanggepinnya kasar gitu sih?!" ujar Daren dengan menahan rasa kesalnya terhadap Dara.
Ternyata bersikap sok baik di depan cewek seperti Dara, tidak semudah yang ia bayangkan. Ini benar-benar membutuhkan kesabaran yang begitu besar. Apalagi disini juga Daren sudah mempertaruhkan harga dirinya di depan Dara, cewek yang selama ini selalu bersikap menyebalkan terhadapanya.
"ya terserah gue dong, mau jutek apa enggak sama lo. Lagian lo tuh aneh, ngapain juga lo tiba-tiba sok peduli sama gue? Gue yakin, kalau lo pasti punya rencana kan di balik ini semua?! Jangan lo kira gue sebodoh itu ya, bisa ketipu gitu aja sama kebaikan palsu lo itu." Ucap Dara dengan ketusnya.
Membuat kesabaran Daren sudah naik melewati batasnya. "terserah lo ya mau nilai gue kayak gimana. Yang penting gue disini sudah berusaha bersikap baik sama lo. Kalau lo nggak mau gue anterin, ya udah. Bye..!!" ucap Daren, lalu kemudian pergi begitu saja memacu motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Dara.
"cih, dasar cowok nggak jelas!!"
"ishh, kak Ray mana sih, lama banget." Gerutu Dara dengan perasaan yang semakin kesal akibat ulah Daren barusan.
Tak lama kemudian ada sebuah motor ninja berhenti tepat didepannya. Lelaki itu membuka kaca helmnya. "sorry Ra, tadi gue ada pelajaran tambahan di sekolah." Kata Raymon meminta maaf.
"kenapa nggak bilang dari tadi sih?" protes Dara sambil mencebikkan bibirnya. "gue dari tadi nunggu ampek lumutan tau nggak?!"
"ya elaa... iya Ra, sorry. Gitu aja ngambek. Gue traktir es krim deh habis ini. Ya?" bujuk Ray, berharap jika adiknya itu tidak akan marah lagi terhadapnya.
"ck, kakak sih pakek acara nggak ngizinin gue bawa motor sendiri. Gini kan jadinya."
"udah nggak usah ngedumel terus, bawel banget sih. Ayo buruan naik!! Mau di traktir es krim nggak nih?"
"mau..." jawab Dara, namun dengan ekspresi yang masih terlihat kesal.
"ya udah, ayo buruan!"
"iya-iya..." Dara kemudian naik ke atas motor bersama kakaknya tersebut untuk mampir ke sebuah kedai es krim terlebih dahulu, lalu kemudian pulang kerumahnya.
---000---
Pukul 22.30
"gimana? Lo berhasil nggak ngajakin si Dara pulang bareng sama lo tadi siang??" tanya sahabat Daren yang bernama Mario itu.
"nggak. Tapi lain kali gue pasti berhasil." Ujar Daren dengan raut wajah kesalnya.
Saat ini mereka bertiga tengah berada di sebuah tempat yang biasa mereka jadikan untuk memacu kecepatan laju motornya bersama teman-temannya yang lain.
Dinginnya angin malam, sama sekali tidak membuat mereka bertiga termasuk yang lainnya menjadi terganggu. Justru malam ini mereka terlihat sangat antusias sekali. Apalagi saat ini Daren akan melakukan adu balap dengan salah seorang musuh bebuyutannya, yang tidak lain bernama Raymon, kakak kandung Dara, yang selama ini belum di ketahui oleh Daren jika Raymon adalah kakak kandung dari seorang gadis yang selama ini selalu menjadi musuhnya di sekolah.
Sudah hampir setengah jam, Daren dan juga kedua temannya itu menunggu Ray di tempat itu dengan beberapa anak-anak lain dari sekolah mereka masing-masing yang kini sudah memadati tempat berlangsungnya balapan yang sebentar lagi akan di selenggarakan.
"si Ray lama banget sih?! Apa dia nggak jadi dateng gara-gara ketakutan duluan ya ngelawan gue?!" ucap Daren dengan tersenyum meremehkan.
Namun tak lama kemudian sorot lampu kendaraan bermotor milik Ray, terlihat menyilaukan arah pandang Daren, Farel, dan Mario saat ini, dibarengi dengan riuh suara pendukung dari kubu Ray. Semakin membuat suasana malam kian ramai dengan teriakan dari beberapa penonton yang hendak ingin menyaksikan aksi balap mereka.
Ray terlihat datang bersama kedua sahabat dekatnya Jerry dan Niko.
Mereka lalu turun menghampiri Daren dan kedua temannya yang tengah duduk di atas motornya menunggu kedatangan mereka bertiga sedari tadi.
"kita mulai pertandingannya sekarang juga!!" ucap Ray dengan lantang tanpa basa basi sedikitpun.
"cih, gue fikir lo lama dateng, karena lo takut duluan sama gue. Ternyata, punya nyali juga ya lo." Ucap Daren memandang remeh ke arah Ray.
Ray melangkah maju ke arah Daren. "nggak usah banyak bacot lo, mending kita mulai balapannya sekarang juga!" tantang Ray dengan kilatan mata penuh dendam.
Daren lantas berdiri menyamai posisi tubuh Ray, dengan menyingkap lengan jaketnya sesaat. "lo jual, gue beli!!"
BERSAMBUNG....