63

1673 Kata

Bugh! Bugh! Bugh! Entah sudah keberapa kali Daren melayangkan pukulannya ke wajah sekaligus tubuh Radit, adik kelasnya itu, di taman belakang sekolah. Walaupun Radit sudah berulang kali meminta maaf untuk dilepaskan, tapi Daren seolah tuli tidak perduli, dan justru semakin gencar melayangkan pukulannya tanpa mengenal belas kasihan sedikitpun. Beberapa siswa yang menyaksikan, dapat melihat dengan jelas jika wajah Radit saat ini sudah dipenuhi memar. Sudut bibirnya pecah hingga mengeluarkan darah segar, akibat menerima tonjokan tangan Daren yang begitu luar biasa. Tidak ada satupun murid disana yang berani menolongnya. Mereka tentu saja tidak mau jika terkena imbas kemarahan Daren, yang kini lebih terlihat seperti tengah kerasukan iblis yang begitu kejam. Bahkan Mario yang dari awal sud

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN