11

2485 Kata
"Dara.." panggil seorang guru kepada Dara. "iya bu, ada apa ya?" "bisa tolong bantuin saya sebentar?" tanya guru tersebut. "bantu apa bu?" "ini tolong kamu bawa ke kantor ya. Kamu nggak keberatan kan?" kata guru tersebut, meminta bantuan Dara untuk membawakan sebagian buku-buku tersebut ke kantor. "oh, nggak keberatan kok, sini buk biar saya bantu." Dara mengambil sebagian buku tersebut dengan cekatan, untuk membawanya ke kantor kepala sekolah. "makasih loh Ra." Kata guru tersebut dengan tersenyum ramah, dan di balas Dara dengan tersenyum juga. Gadis itu lalu dengan perlahan membawa tumpukan buku tersebut dengan sedikit kesulitan, pasalnya Dara sama sekali tidak menyangka jika bukunya akan sebanyak ini. "banyak banget Ra bukunya, mau gue bantuin nggak nih?" tawar salah seorang lelaki yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya. Dara yang belum mengetahui siapa lelaki itu, karena tumpukan buku yang ia bawa saat ini menghalangi pandangannya, tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, "iya nih, bantuin gue dong, berat banget bukunya." Kata dara, lalu membiarkan lelaki itu mengambil sebagian buku di tangannya. Dara di buat terkejut saat sudah mengetahui siapa lelaki yang tengah membantunya saat ini. "elo..!" "kenapa terkejut gitu sih? Biasa aja kali." Ucap Daren dengan santainya. "nggak pernah liat orang ganteng nolongin lo ya?!" tanya Daren dengan langkah kaki yang tetap berjalan menuju kantor. Dara berdecih, "ganteng dari hongkong?! Nggak usah sok ke PD an deh." Daren menghela napas panjang. "Ra, lo kenapa jutek terus sih sama gue? Padahal gue udah berusaha bersikap baik sama lo." "gue kan nggak minta buat lo baikin." Jawab Dara dengan ketusnya. "ya, seenggaknya hargain dong kebaikan gue. Jangan jutekin gue terus kayak gini. Lo nggak capek apa, kita berantem terus tiap hari ?" Dara menolehkan pandangannya ke arah Daren, menatapnya penuh tanya. "kenapa lo tiba-tiba jadi aneh gini sih? Nggak kayak lo biasanya. Kemarin juga. Pakek sok-sok'an mau nganterin gue pulang segala." Dara mengulurkan punggung tangannya ke kening Daren, seolah tengah mengukur suhu tubuhnya. "lo sehat kan??" Sialan nih cewek, dia fikir gue nggak waras apa ya?! Sabar sabar.... demi menang taruhan. Batin Daren. "apa'an sih lo, gue sehat kali.." ucap Daren dengan mempercepat langkah kakinya. Membuat Dara terkikik geli. "oh, kirain.." "kirain apa?" "nggak, nggak papa." Jawab Dara dengan menahan tawanya, Hingga akhirnya mereka berdua saat ini sudah berada di tempat yang dituju. Dara dan Daren menaruh buku-buku yang mereka bawa di atas meja. Lalu kemudian berpamitan pergi meninggalkan ruangan tersebut bersama-sama. "muka lo kenapa lebam gitu? Habis berantem lo?" tanya Dara tiba-tiba, entahlah dia juga bingung, kenapa juga dia harus menanyakan hal konyol seperti ini. Lagi pula ini kan bukan urusannya. "oh, ini.. biasalah masalah cowok." Jawab Daren kemudian, membuat Dara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Dara!!" teriak Chaca memanggil Dara dari kejauhan. "gue duluan ya.." tanpa menunggu jawaban Daren, gadis itu begitu saja berlari pergi meninggalkannya. "ya elaah... buru-buru banget sih." Gerutu Daren saat melihat kepergian Dara yang semakin menjauh. Tapi, apa yang gue lakuin sekarang udah mengalami kemajuan nih. Gue cuman tinggal bersabar sedikit lagi. Supaya gue bisa akrab sama Dara. Habis itu, gue tinggal nembak dia deh. Batin Daren, dengan tersenyum percaya diri. **** "Ra, lo ngapain tadi sama si Daren?? Tumben banget." Tanya Chaca penasaran. "oh, dia tadi habis bantuin gue bawain buku ke kantor kepala sekolah." Jawab Dara dengan jujur. Saat ini mereka tengah berjalan menuju kelasnya. "bantuin lo bawain buku??" ulang Chaca, mencoba memperjelas pendengarannya. "iya." "kok tumben? Bukannya setiap kalian ketemu selalu berantem ya?" tanya Chaca keheranan. "gue juga nggak ngerti Cha. Akhir-akhir ini. Si kutil landak itu aneh banget. Lo tau nggak, bahkan dia kemarin aja nawarin gue buat nganter pulang." "hah?? Serius lo?" tanya Chaca tak percaya. Lalu segera duduk di kursinya bersama Dara. "serius gue. Ngapain juga gue bohong. Nih ya.. tadi pagi juga dia kayak sengaja nolongin gue gitu dari murid cowok yang hampir mau nabrak gue. Terus dia juga tadi bilang ke gue gini, Ra.. lo nggak capek apa, berantem terus sama gue? Katanya gitu. Aneh kan tuh anak." Chaca hanya diam. "cha, lo kok diem aja sih?" "apa jangan-jangan-si Daren jatuh cinta Ra sama lo?" ujar Chaca berspekulasi. Ucapan Chaca barusan, seketika membuat tawa Dara pecah begitu saja. "lo ngomong apa sih? Ngaco banget deh." Ucap Dara, di sela-sela tawanya. Chaca menatap Dara penuh tanya. "kok lo malah ketawa? Perasaan nggak ada yang lucu deh." "elo tuh yang lucu. Lagian mana mungkin tuh si kutil landak suka sama gue. Gue aja liat dia enek. Apalagi dia?!" Dara kembali tertawa geli. "semua kan nggak ada yang nggak mungkin Ra." "duh.. udah deh, lagian gue nggak bakal bisa suka sama cowok playboy macam dia Cha." Chaca terdiam sesaat. Lalu kemudian kembali berbicara. "kadang gue nggak habis fikir sama sikapnya si Daren. Apa dia selama hidupnya nggak pernah ngerasain yang namanya sakit hati ya?! Secara dia tiap hari selalu aja gonta-ganti cewek nggak jelas. Apa hati dia itu udah beku? Sehingga dia bisa dengan mudah mainin cewek se'enaknya sendiri?!" kata Chaca dengan menatap kosong ke depan. Dara mengusap punggung Chaca sejenak. "lo masih belum bisa lupain dia ya?" Chaca mengangguk. "gue fikir bisa gitu aja ngelupain Daren. Tapi ternyata enggak. Ini sulit banget buat gue Ra." "sabar ya, Cha.. gue yakin kok, kalau seiring berjalannya waktu, lo pasti bisa lupain Daren. Dan gue yakin, suatu saat nanti si kutil landak itu pasti bisa ngerasain sakit hati yang lebih dari apa yang lo rasain saat ini." "gimana kalau... elo yang balasin sakit hati gue ini ke dia?" cetus Chaca tiba-tiba. Membuat Dara terkejut tak mengerti. "maksudnya??" "ya.. lo deketin si Daren. Bikin dia suka sama lo. Terus habis itu putusin dia, seperti apa yang selama ini dia perbuat sama cewek-cewek lain." Dara tersenyum hambar. "ogah banget. Buat apa gue harus ngelakuin hal itu Cha? Buang-buang waktu aja. Lagipula, nanti juga dia pasti kena karmanya sendiri kok. Percaya sama gue." "kapan Ra?? Gue pengen dia ngerasain apa yang gue rasain ini secepatnya. Lagipula, cuman lo satu-satunya cewek di sini yang nggak mungkin tertarik sama Daren. Please Ra, bantuin gue. Gue mohon.. demi gue.." kata Chaca memohon. "nih ya Cha, gue kasih tau, si Daren nggak mungkin bisa suka sama gue. Jadi percuma aja biarpun gue baikin dia juga, sampai anak ayam bertelor gajahpun, dia nggak bakalan pernah suka sama gue." Ucap Dara dengan yakin. "itu kan menurut lo. Lagipula lo kan belum nyoba Ra. Ayolah Ra, please.. di coba dulu. Gue mohon untuk sementara bersikap manis di depan Daren. Ya ya? Please Ra, demi gue." Pinta Chaca memasang wajah memelasnya, dengan cara menyatukan kedua telapak tangannya. Berharap jika Dara mau menyetujui permintaannya barusan. Dara mendengus kesal, telinganya seakan ingin pecah mendengar rengekan dari sahabatnya itu. "ya udah iya. Tapi gue nggak janji ya, kalau bisa ngebuat tuh si kutil landak suka sama gue." Ketus Dara dengan terpaksa mengiyakan permintaan temannya itu. Chaca mengangguk cepat. "tapi gue yakin kok, kalau lo mau dandan dikit aja. Gue yakin si Daren pasti bakal klepek-klepek sama lo." "ishh.. terserah lo aja lah. Pusing gue!" Tak beberapa lama terdengar suara bel, tanda pelajaran akan segera di mulai. Semua murid bergegas masuk ke kelas untuk bersiap menerima pelajaran berikutnya. **** "selamat siang anak-anak..." ucap bu silvi saat memasuki kelas tersebut. "siang juga bu.." sahut para murid serempak. "okey, hari ini kita ulangan dadakan ya, masukkan buku-buku kalian kedalam tas. Saya nggak mau kalau sampai nanti ada yang nyontek." "huuuhhh...!!" semua murid berseru tak terima dengan ulangan yang tiba-tiba mendadak seperti ini. "bu silvi kebiasaan banget, suka bikin ulangan dadakan kayak gini. Nggak asik!" protes Farel tiba-tiba. "kenapa Rel, kamu keberatan? Kalau kamu keberatan, kamu bisa keluar dari kelas saya sekarang juga." Ucap bu Silvi dengan tegasnya. "eh, e-enggak kok bu. Hehe.." jawab Farel dengan cengirannya. Arah pandang bu Silvi tertuju ke arah tempat duduk di samping Mario yang saat ini tengah kosong, namun guru tersebut masih bisa melihat sebuah tas yang tergeletak begitu saja di atas meja tersebut. "Mario, dimana teman satu bangku kamu?" tanya bu silvi sambil berjalan mendekat ke arahnya. "nggak tau bu, mungkin lagi sakit perut. Apa perlu saya panggilin?" tawar Mario dengan posisi yang sudah berdiri, kesempatan untuknya menghindari ulangan dadakan ini. "nggak perlu! Yang ada nanti kamu malah nggak balik-balik lagi. Saya ini sudah hafal ya kebiasaan kamu itu." Ucap bu Silvi, membuat Mario mendengus kesal, lalu kemudian kembali duduk. "Dara...!" panggil bu Silvi dengan lantang. "sa-saya bu!" Dara berdiri, saat namanya di panggil. "tolong kamu cari Daren ya, bilang sama dia kalau hari ini ada ulangan di pelajaran saya. Suruh dia cepat masuk." Perintah bu Silvi. "ta-tapi nyari dimana bu?" tanya Dara kebingungan. "kata Mario, tadi katanya di toilet. Kalau nggak ada, kamu cari di tempat lain." "i-iya bu. Kalau gitu saya permisi." Ucap Dara berpamitan. "jangan lama-lama ya Ra!" "baik bu." Dara lalu melangkahkan kakinya keluar dari kelas untuk mencari Daren di tolet cowok. tuh cowok nyusahin banget sih! Batin Dara dengan langkah kaki yang sudah berada tepat di depan pintu toilet cowok. "woi.. kutil landak! Lo lagi ada di dalam nggak?? Dicariin bu Silvi tuh, ada ulangan dadakan! Buruan keluar! Jangan nyusahin gue deh!" teriak Dara berharap lelaki itu aka mendengarnya. Namun sayangnya, Dara sama sekali tidak mendengar sahutan dari dalam toilet tersebut. Dara pun akhirnya memutuskan untu masuk kedalam. Disana, Dara bisa melihat jika beberapa pintu dalam kondisi terbuka, menandakan jika hanya dirinya yang tengah berada di dalam sana. Gadis itu memutuskan keluar, mencarinya ke tempat lain. Seperti perpustakaan. Mungkin saja lelaki itu sedang berada di sana dengan pacarnya yang lain seperti dulu. Walaupun menurut Dara hal itu tidak mungkin. Namun tetap saja Dara mencarinya ke tempat itu. "tuh cowok ke mana sih? Nyusahin banget!" gerutu Dara, waktu melihat perpustakaan itu yang juga dalam kondisi kosong. Dara mencoba menuju kantin, disana juga dia sama sekali tidak melihat Daren. Hingga akhirnya hanya ada satu tempat yang bisa di pastikan Dara, jika orang yang dicarinya itu pasti ada disana. Rooftop. BRAK..!! Pintu rooftop terbuka dengan kencangnya. Dengan nafas tersengal naik turun akibat kelelahan mencari Daren kesana kemari, Dara pun berkata "jadi lo disini?! Malah nyantai-nyantai lagi." Ucapnya saat mendekat dan melihat lelaki itu, yang justru tengah asik menghisap sebatang rokok miliknya. "ngapain lo ke sini?" Daren melirik ke arah Dara sekilas, lalu kembali menghisap rokoknya dengan acuh. "gue disuruh bu Silvi buat manggil lo. Lo disuruh ikut ulangan." Kata Dara memberitahu, dengan napas yang masih tak beraturan. "oh. Duluan ajalah. Entar gue nyusul!" Daren berkata dengan cueknya, membuat Dara meradang. Dengan kasar, Dara mengambil rokok yang di hisap Daren begitu saja. Lalu membuangnya. "lo apa-apa'an sih?! Ganggu gue banget!" protes Daren tak terima. "elo tuh yang apa-apa'an. Gue udah capek-capek ke sini nyariin lo, tapi lo malah acuh nggak peduli gitu." Daren tertawa mengejek. "lah, ngapain juga lo nyariin gue, kurang kerjaan banget." "heh kutil landak, kalau nggak disuruh sama bu Silvi juga, gue nggak bakalan mau buat capek-capek nyariin lo kayak gini. Jadi mending lo ikut gue ke kelas sekarang juga!" Ucap Dara dengan meninggikan nada bicaranya. "nggak mau!" Dara membulatkan kedua bolamatanya tak percaya dengan jawaban Daren barusan. "lo b***k ya? Gue bilang tadi ada ulangan!!" kata Dara mengulang perkataannya. "ya terus kenapa kalau ada ulangan? Hm.." tanya Daren meremehkan. Semakin membuat Dara kian meradang. "ishh, lo tuh ya, ngeselin banget. Udah ayo buruan ikut gue ke kelas!!" Dara menarik paksa lengan tangan Daren. Namun Daren masih saja tidak mau beranjak pergi dari tempatnya. "gue kan udah bilang nggak mau, kenapa lo masih aja maksa-maksa gue sih?! Sengaja ya, biar bisa pegang-pegang gue?" Dara terperangah mendengar ucapan lelaki menyebalkan itu. "nggak usah sok ke PD an deh lo, sekarang buruan ikut gue ke kelas!!" sekali lagi, Dara menarik paksa lengan Daren agar mau menuruti perkataannya. Namun sialnya yang terjadi justru Dara terjatuh ke pelukan Daren dengan posisi tubuh Dara yang menindih tubuh daren, saat Daren balik menarik tangannya dengan kencang, hingga membuat gadis itu menjadi hilang keseimbangan. Untuk sepersekian detik, Pandangan mereka berdua saling beradu dengan jarak yang begitu sangat dekat, hingga akhirnya Daren berkata.. "jadi cewek gue sekarang juga!!" Dara terhenyak dengan apa yang baru saja ia dengar. Dengan posisi yang masih sama, Gadis itu mengedipkan netranya berulang kali, mencoba menyadarkan dirinya saat ini. Hingga akhirnya gadis itu benar-benar sadar dan membuatnya segera berdiri, namun sayangnya Daren menahannya dengan cara melingkarkan tangannya ke pinggang Dara cukup erat. "jadi cewek gue sekarang juga, Ra!" ucap Daren memaksa. Membuat Dara meronta meminta dilepaskan. "lo gila ya?? Lepasin gue nggak?!" "enggak akan. Sebelum lo mau jadi cewek gue." Ucap Daren tanpa malu sedikitpun. Ini semua ia lakukan supaya bisa menang taruhan dengan teman-temannya. Yah.. walaupun memang cara yang ia gunakan ini termasuk curang, tapi mau bagaimana lagi. Karena menurut Daren, membuat Dara jatuh cinta terhadapnya tak semudah yang ia bayangkan. "dasar cowok gila!! Gue nggak bakalan mau jadi cewek lo. Nggak akan!!" Dara semakin meronta di pelukan Daren. "ya udah, kalau gitu gue juga nggak akan lepasin lo dari pelukan gue. Biar kita sama-sama nggak ikut ulangan." "apa?? Dasar kutil landak s****n!!" u*****n Dara kian semakin menjadi. "lagian atas dasar apa lo mau ngajakin gue pacaran hah??" Daren sedikit berfikir. "emm... atas dasar apa ya?! Gue juga nggak ngerti." Jawab Daren sambil nyengir. Tidak mungkin kan kalau dia harus berkata jujur demi taruhan?! "dasar cowok nggak jelas. Lepasin gue!!" Dara kembali meronta. "gue bakal lepasin, asal lo mau pacaran sama gue selama satu bulan." "nggak. Gue nggak mau!!" Dara tetap kekeh dengan pendiriannya. "ya udah, biarin aja nempel kayak gini terus." Tiba-tiba, daren mengambil handphone di sakunya, lalu memotret keadaan mereka yang saat ini tengah dalam posisi tidak lazim seperti ini. CEKREK CEKREK...!! Dara semakin panik dengan apa yang dilakukan Daren saat ini. "apa yang mau lo perbuat sama foto-foto itu hah??" "gue bakal nyebarin foto ini ke anak-anak satu sekolah. Biar lo bisa cepet jadi famous kayak gue." Ujar Daren dengan santainya. "apa?? Hapus nggak tuh foto!" perintah dara dengan masih berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Daren. "enggak. Sebelum lo nerima tawaran gue tadi." Dara terdiam, seolah berfikir. Percuma juga gue teriak-teriak, dia juga nggak bakal lepasin gue! Aarrgghhh dasar cowok sialan..!! tapi, kalau gue nggak nurutin apa mau dia, gue yakin dia pasti nggak akan main-main sama ucapannya barusan. Akhirnya, setelah memikirkannya dengan matang, Dara akhirnya mengalah dan menyetujui apa yang Daren inginkan. "okey, gue bakal nurutin apa kata lo, tapi setelah satu bulan selesai, lo juga harus hapus foto-foto itu dari ponsel lo!" "Deal!!" ucap Daren, berbarengan dengan terlepasnya tangannya dari tubuh Dara. Membuat Dara seketika langsung berdiri. "inget ya, jangan ingkar janji!" kecam Dara. "lo juga, jangan sampai kesepakatan kita ini di ketahui sama orang lain, termasuk temen deket lo Chaca. kalau sampai ada yang tau, gue nggak bakalan ragu buat nyebarin foto kita yang lagi pelukan sambil tiduran ini ke anak-anak satu sekolah." Ancam Daren, yang semakin membuat Dara kian kesal. "iya iya, gue ngerti!!" ucap dara, lalu kemudian pergi meninggalkan daren dengan kesal. Diikuti oleh Daren dibelakangnya dengan tersenyum kemenangan. Kayaknya, ini bakalan seru nih. Batin Daren dengan langkah kaki menuruni tangga menuju kelasnya. BERSAMBUNG      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN