12

1688 Kata
"permisi bu.." Dara masuk dengan mengetuk pintu ruang kelasnya sopan. Diikuti oleh Daren dibelakangnya. Bu Silvi menoleh ke asal suara. "Dara. Kenapa lama sekali?" "maaf bu, tapi tadi Daren-" belum sempat Dara menyelesaikan ucapannya, Daren sudah lebih dulu memotongnya. "tadi perut saya sakit banget bu, jadinya lama. Saya sudah nyuruh Dara ke kelas duluan, tapi dianya nggak mau." Dusta Daren dengan raut watadosnya. Membuat Dara memberikan tatapan tajam ke arah Daren. Namun lelaki itu hanya bersikap biasa saja. Bu Silvi menghela napas lelah. "ya sudah kalau begitu, kalian duduk di bangku kalian masing-masing, lalu kerjakan ulangan kalian!" "iya bu." Jawab Dara, lalu kemudian melangkah duduk di tempatnya. Begitu juga dengan Daren. Dara mulai mengambil peralatan tulisnya dengan perasaan yang masih kesal terhadap Daren. "Ra.." Chaca menyikut pelan lengan Dara, dengan sedikit berbisik. Dara menoleh sekilas. "hmm.." sahutnya. "lo kenapa BT gitu sih?" tanya Chaca ingin tahu, dengan suara yang masih berbisik. "nggak papa." Dara menjawab dengan cuek. "yakin lo nggak papa?" tanya Chaca memastikan. "iya Chaca..!! udah ya, gue mau ngerjain nih soal, biar cepet kelar." Ucap Dara, lalu kemudian segera mengerjakan soal ulangannya dengan serius. Dara kenapa sih, aneh banget. Batin Chaca keheranan. **** Saat jam pulang sekolah. Daren terlihat menyandang tas miliknya, lalu datang menghampiri tempat duduk Dara. "sayang, pulangnya aku anterin ya?" ucap Daren seenak jidatnya, membuat Dara membulatkan matanya karena terkejut dengan panggilan kata 'sayang' yang terucap dari mulut Daren untuknya. Sementara kedua teman Daren yang melihat hal itu tentu saja sangat terkejut. Begitu juga dengan Chaca. "eh, lo denger nggak si Daren manggil Dara dengan sebutan apa tadi?" tanya Farel pada Mario. "sayang kan?!" jawab Mario yang sebenarnya sangat yakin jika apa yang didengarnya itu benar. "gue juga dengernya gitu. Apa mereka udah pacaran ya?" kata Farel bertanya-tanya. Mario hanya mengedikkan bahunya sesaat. Lalu kembali menajamkan indra pendengarannya ke arah Daren. Dara berdiri, menatap Daren dengan setengah berbisik. "ngapain lo pakek acara manggil gue sayang segala, b**o!" ketus Dara tak terima mendengar panggilan sayang dari Daren, yang justru terdengar sangat menjijikkan baginya. "lo lupa ya? Kita kan sekarang udah pacaran." Daren mengingatkan dengan berbisik juga. "tapi nggak perlu manggil sayang segala. Gue jijik dengernya!!" "cerewet lu!" tiba-tiba, tangan Daren merangkul pundak Dara begitu saja. "sayang.. gimana, kamu mau kan aku anter pulang?! Hmm.." tanya Daren sekali lagi, dengan ekspresi yang terlihat seolah menyuruh Dara untuk mengikuti apa yang dilakukannya saat ini. Dara tersenyum paksa, sambil melepaskan tangan Daren yang tengah merangkulnya. "sorry, gue nggak bisa!" "loh.. kok gitu sih kamu..." protes Daren dengan nada bicara yang dibuat-buat. Chaca yang sedari tadi memperhatikan tingkah mereka berdua, lidahnya seolah gatal jika tidak menanyakan apa yang sebenarnya terjadi saat ini, kepada mereka berdua. "tunggu-tunggu. Kalian berdua~ pacaran??" "hah, enggak. Anu-itu-" Dara dibuat kebingungan saat Chaca melontarkan pertanyaan itu untuknya. "seperti yang lo lihat. Kita berdua emang pacaran. Ya kan sayang?" kata daren meminta pembenaran dari Dara, dengan kembali merangkul pundak gadis itu begitu saja, membuat Dara kian semakin risih dibuatnya. "hah, jadi-kalian-" belum sempat Chaca melanjutkan ucapannya. Dia sudah lebih dulu menarik tangan Dara untuk menjauh dari Daren. "Ra, lo beneran udah jadian sama Daren??" kata Chaca bertanya antusias. "duh Cha, lo jangan salah faham ya. Sebenarnya gue-" "aaakk....!! lo hebat banget Ra, gue sama sekali nggak nyangka, kalau lo akhirnya jadian juga sama Daren." Histerisnya, dengan memeluk tubuh Dara sesaat. Membuat Dara kebingungan. Loh, ini si Chaca kenapa sih?! Batin Dara tak mengerti. "Ra, makasih ya, lo udah mau nurutin apa kata gue waktu itu. Gue udah nggak sabar pengen liat si Daren itu ngerasain sakit hati nantinya." Seolah mengerti dengan apa yang di ucapkan dari sahabatnya itu. Membuat Dara berkata "ta-tapi... gue sama daren sebenarnya Cuma----" "udah, nggak perlu malu-malu gitu Ra. Oh ya, pokoknya lo harus bikin si Daren itu cuman suka sama lo doang, dan lo juga harus bisa ngebuat si Daren itu ninggalin semua pacar-pacarnya. Kalau lo berhasil ngelakuin itu semua, berarti tandanya dia udah beneran jatuh cinta sama lo. Dan lo bisa langsung mutusin dia begitu saja. Kayak yang sering dia lakukan selama ini terhadap cewek-cewek lainnya. Gimana? Setuju?!" Dara terdiam, seolah tengah mencerna apa yang diucapkan sahabatnya itu barusan. "duh, lama banget mikirnya. Pokoknya iya kan?!" "emm... ta-" "ya udah kalau gitu, lo terima aja gih ajakannya si Daren tadi. Urusan kakak lo, biar gue yang ngurus." Ucap Chaca sambil sedikit mendorong tubuh Dara ke tempat dimana Daren tengah berdiri menunggunya. "tapi Cha---" "ssstt... udah, nggak usah bawel!" **** Dara dan Daren terlihat tengah berjalan bersama di koridor sekolahnya, menuju parkiran. "lo ngomong apa aja tadi sama si Chaca?" tanya Daren ingin tau. "gue nggak ngomong apa-apa." Jawab Dara dengan cuek, sambil terus berjalan lurus, diikuti oleh daren di sampingnya. "yakin lo? Lo nggak ngasih tau ke Chaca soal kesepakatan kita tentang pacaran satu bulan itu kan?" "apaan sih. Gue nggak ngasih tau apapun soal itu ke Chaca." Kata Dara berucap jujur. "bagus deh kalau gitu. Pokoknya anak-anak nggak boleh tau tentang kesepakatan kita ini. Kalau enggak-" Daren menghentikan ucapannya, sambil menunjukkan ponselnya ke arah Dara, dengan senyum iblisnya. "ishh.. iya iya. Dasar kutil lan-" "eiitss..." daren membungkam mulut Dara menggunakan tangannya. Membuat langkah mereka berdua seketika terhenti. "karena kita berdua udah pacaran, lo jangan lagi manggil gue kutil landak. Gue tuh punya nama, nama gue Da-ren. Ngerti?!" Dara melepas kasar tangan Daren dari mulutnya, lalu mengusap bibirnya berulang kali menggunakan punggung tangannya. "nggak usah nyentuh gue sembarangan!! Gue nggak suka!" kecamnya, lalu kembali berjalan begitu saja dengan kesal. "lama-lama lo juga pasti suka." Ucap Daren dengan kembali mengikuti langkah kaki Dara. "oh ya, kalau di depan temen-temen, sikap lo yang manis dong. Kayak gue tadi, manggilnya pakek aku kamu. Terus jangan masang tampang jutek kayak tadi. Yang ada mereka malah nggak percaya kalau kita pacaran." Kata Daren memberitahu. "lo kok jadi banyak maunya gini sih?" sinis Dara, dengan sekilas menoleh ke arah daren. "bukan banyak maunya. Tapi kalau orang pacaran ya emang begitu. Mangkanya, pacaran dong. Jangan ngejomblo terus!" kata daren menyindir. "urusan gue, mau ngejomblo apa enggak!" sinis Dara, tetap memasang wajah juteknya. Daren menghela napas lelah. "terserah elo deh, yang penting gue udah ngasih tau. Awas aja kalau sikap lo masih aja kayak gini di depan temen-temen. Gue nggak bakalan mikir panjang lagi buat nyebarin foto kita berdua ini." Ancam Daren sambil menaik naikkan alis matanya. Membuat Dara mendengus kesal, merasa dirinya kali ini kalah berdebat dengan lelaki disampingnya ini. Setelah mereka berdua sampai di parkiran, barulah Daren mengeluarkan kunci motornya dari saku celananya. Lalu mengeluarkan motornya dari parkiran. "sayang...!" panggil salah seorang cewek dengan mendekat menghampiri Daren. "yank, anterin aku pulang ya.. supirku nggak bisa jemput sekarang." Rengek cewek tersebut, dengan melingkari lengan tangan Daren. "duh, gimana ya, aku udah ada janji buat nganterin cewekku yang satunya pulang. Sorry ya, kamu pulang aja sendiri." Ucap Daren tanpa rasa bersalah sedikitpun. "cewek kamu yang satunya?? Siapa??" "tuh, orangnya lagi nunggu di sana." Daren menunjuk Dara menggunakan dagunya. Membuat perempuan itu menjadi kesal. "kamu punya pacar baru lagi??" tanyanya. "iya, kenapa emang?" "kok kamu gitu sih?! Aku fikir aku ini cewek terakhir kamu. Tapi apa?? Kamu malah punya cewek baru lagi. Nyebelin banget sih." Daren memutar bolamatanya jengah. "heh, denger ya, gue nggak suka punya cewek yang sok ngatur kayak lo. Kalau lo nggak suka gue punya cewek baru lagi. Ya udah kita putus aja!" Setelah berkata seperti itu, Daren lalu mendorong motornya pergi meninggalkan perempuan itu, yang kini tengah terdiam syok. "ayo Ra, buruan naik!!" perintah Daren saat sudah berada di dekat Dara. "eh, tadi siapa?? Cewek lo?" tanya Dara ingin tau. "iya. Tapi sekarang udah jadi mantan!" jawab Daren seolah tanpa beban. "hah??" kata Dara terkejut. "udah, buruan naik!!" "iya iya..! bawel banget lu." Saat Dara sudah naik ke atas motor Daren, perempuan yang baru saja di putus oleh lelaki itu, tiba-tiba datang menghampiri Daren, merengek sambil menangis, meminta agar hubungan mereka tidak berakhir secepat ini. "Daren, kamu nggak bisa mutusin aku sepihak kayak gini. Aku masih sangat mencintai kamu Dare. Aku nggak mau putus dari kamu!! Apalagi cuman demi cewek kayak dia, yang bahkan jauh dari kata cantik." Ucap perempuan itu sambil memberikan tatapan tajam ke arah Dara. "dih, lo jadi cewek nggak tau malu banget. Udah di putusin juga, masih aja sok-sok'an mewek nggak jelas kayak gini. Mana harga diri lo sebagai cewek?!" kata Dara, sedikit meninggikan nada bicaranya. "bukan urusan lo, b***h!" "apa?? Lo bilang apa tadi?? Elo tuh yang---" belum sempat Dara menyelesaikan umpatannya, Daren sudah terlebih dulu melajukan motornya meninggalkan perempuan tadi begitu saja. "heh, kok lo main pergi gitu aja sih?! Gue kan belum selesai maki-maki dia tadi." Protes Dara mengomel di belakang punggung Daren. "udah, lain kali aja. Lagian lo ngapain sih ngeladenin cewek nggak jelas kayak dia? Nggak penting banget!" ucap Daren sedikit mengeraskan suaranya, agar terdengar oleh Dara di belakangnya. "ha-ha-ha. Lo lupa? Cewek yang lo bilang nggak jelas itu, mantan lo!" kata Dara mengingatkan di dekat telinga Daren. Daren yang tak menjawab hanya tertawa geli tanpa bersuara. "oh ya Ra, rumah lo dimana?? Masih jauh nggak?" tanya Daren ingin tau. "bentar lagi juga nyampek." "nah, stop disini aja!" kata Dara memberitahu. Memberhentikan motor Daren di tempat yang tidak begitu dekat dengan rumahnya. Dara hanya takut jika sampai kakaknya tau dia di antar pulang dengan cowok. Bisa-bisa nanti akan menjadi masalah baru. Mengingat jika Ray memang tidak memperbolehkan adiknya itu untuk berpacaran dulu saat ini. Daren menepikan dan memberhentikan motornya. "ini rumah lo?" tanya Daren. "bukan!" "lah, kalau bukan rumah lo, kenapa lo minta turun disini??" "terserah gue dong mau turun dimana. Repot banget lo jadi orang. Udah sono buruan balik!!" kata Dara mengusir Daren. "yakin lo nggak papa, gue tinggal disini?" "nggak papa. Rumah gue kan udah deket. Udah sana, buruan pulang!!" sekali lagi, Dara mengusir paksa Daren. "ck, iya-iya! Bukannya bilang makasih, ini malah ngusir. Dasar pacar nggak tau diri!" omel Daren dengan menghidupkan kembali motornya. "siapa suruh lo maksa gue buat jadiin pacar." Sahut Dara, membuat Daren terdiam tak menjawab. Lelaki itu lalu melajukan motornya begitu saja meninggalkan Dara. Di perjalanan pulang, Daren membatin. Kalau bukan karena taruhan itu, gue juga nggak bakalan mau buat ngejadiin lo pacar gue. Dasar cewek s***p!! BERSAMBUNG...!!    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN