"jadi beneran, kalau lo itu udah jadian sama si Dara?" tanya Farel kepada Daren.
"iya lah, nggak nyangka kan lo?!" ucap Daren begitu bangga di depan kedua temannya saat ini.
"tapi kok, gue nggak percaya ya.." cetus Mario, lalu kembali menghisap rokok miliknya.
Saat ini, mereka bertiga tengah berada di kediaman rumah Farel. Kepergian kedua orang tua Farel ke luar kota, di manfaatkan oleh Mario dan juga Daren untuk berkunjung, sambil menikmati sebatang rokok tanpa takut ketahuan oleh sang pemilik rumah.
"maksud lo apa nggak percaya?? Lo fikir gue bohong gitu?"
Mario tersenyum sesaat. "bukannya gitu bro. Gue cuman heran aja, gimana bisa si Dara secepat ini pacaran sama lo. Selama ini kan, dia sebegitu bencinya sama lo."
"iya Dare, apa jangan-jangan lo udah melet dia ya?" cetus Farel tiba-tiba, membuat Daren melayangkan sebuah bantal sofa ke wajah Farel hingga membuat rokoknya terjatuh.
"ini jaman moderen! Masih aja lo percaya sama yang begituan." -Daren.
"kali aja kan Dare." -Farel.
"lagian buat apa juga gue ngelakuin hal begituan. Kurang kerjaan banget." Ucap Daren dengan tubuh yang tetap berbaring di sebuah sofa panjang di ruang tamu tersebut. "ya udah, jadi kapan nih kalian berdua mau nepatin janji kalian waktu itu?"
Kedua teman Daren hanya terdiam dengan saling berpandangan satu sama lain.
"tunggu, jangan bilang kalau kalian berdua ngebohongin gue, dan nggak mau nepatin janji kalian waktu itu." Kata Daren berspekulasi.
"ck, tenang aja. Nggak bakal kita ngebohongin lo. Tapi-" Mario menggantung kalimatnya.
"tapi apa?"
"biar kita berdua yakin kalau lo sama si Dara itu emang pacaran, kita tunggu lah beberapa minggu ke depan. Nggak papa kan?" lanjut Mario.
"alah.. bilang aja kalian nggak mau nyerahin motor kalian buat gue. Iya kan?!"
"ya ela bro, takut banget lo kita bohongin. Tenang aja, kita berdua nggak mungkin ingkar janji. Ya kan Rel?"
"yo'i" jawab Farel.
"ck, oke kalau gitu, gue pegang omongan kalian berdua."
****
Dara saat ini terlihat tengah terbaring di atas ranjang besar dikamarnya, dengan berbagai macam fikiran mengenai cowok yang bernama Daren, yang baru saja menjadi pacarnya.
Dia sama sekali tidak menyangka, jika saat ini dirinya berada dalam kondisi sesial ini.
Menjadi pacar dari seorang Daren Bagaskara? Memikirkannya saja, sudah membuat kepala Dara seolah terbebani oleh sebuah besi panas. Ini benar-benar mimpi buruk baginya.
Dara memejamkan rapat-rapat kedua bola matanya, sambil mencoba menghilangkan fikiran tentang Daren di kepalanya. Namun ini begitu sulit.
Lelaki itu seolah bersemayam di benak Dara, hingga membuat kepalanya terkadang berdenyut nyeri.
"aaarrrgghh...!! kenapa gue harus berada dalam kondisi sesial ini sih?!"
Dara berteriak kencang, mengubah posisinya menjadi duduk. Dengan rambut yang sudah acak-acakan, akibat ulahnya sendiri.
Terlalu pusing memikirkan hal menyebalkan seperti ini.
Tok tok tok..
"masuk!" kata Dara mempersilahkan.
Pintu pun terbuka, menampilkan sosok Ray yang melangkah mendekat ke arah Dara, dengan menduduki sisi ranjang.
"tadi pulang sekolah di anter siapa?" tanya Ray penuh selidik.
Dara melirik ke arah kakaknya sekilas, yang saat ini masih duduk memunggunginya.
"di anter Chaca. Kenapa?"
"emang Chaca bisa naik motor?"
DEG!
Pertanyaan kakaknya barusan, seketika membuat Dara tercengang.
Apa jangan-jangan, kakak tau ya?! Batin Dara heran.
"em.. itu---" Dara kebingungan menjawab pertanyaan dari kakaknya.
"Ra, lain kali nggak usah nyuruh temen lo buat bohongin gue. Gue tau kok kalau lo pulang di anter sama cowok kan?"
Dara terdiam. Dia hanya tengah berfikir, kakaknya ini tau dari mana kalau dia pulang sekolah di antar cowok?!
"gue kan udah pernah bilang sama lo, jangan pacaran dulu. Belajar yang bener. kenapa sih lo nggak mau dengerin apa kata gue??"
"tapi, gue nggak pacaran kak! Gue cuman---"
"lo mau bilang kalau dia cuman temen deket lo gitu? Siapa sih dia? Gue pengen tau orangnya." Ray, memasang wajah tidak sukanya.
Hingga membuat gadis itu sangat yakin, jika kakaknya itu memang tengah kesal terhadapnya.
"buat apa? Nggak penting juga. Lagian gue emang nggak pacaran kok sama dia." Kata Dara yang tak sepenuhnya berbohong.
Lagipula, walaupun Daren sudah memaksanya menjadi pacar, tapi kan Dara tidak memiliki perasaan apapun pada cowok itu, jadi nggak salah dong kalau dia berkata pada Ray, bahwa dirinya tidak berpacaran dengan lelaki itu?!
Ray menghela napas lelah. Lelaki itu mencoba mengalah untuk mempercayai ucapan adiknya itu. Dia lantas berdiri, memandang lurus ke arah Dara yang masih tetap di posisinya. "okey, kali ini gue percaya. Besok pulang sekolah biar kakak yang jemput. Nggak ada lagi yang namanya pulang di anter sama cowok. Ngerti?!"
"iya!" Dara menjawab dengan ketus.
Lalu kemudian Ray pergi meninggalkan kamar Dara.
Setelah kepergian Ray, gadis itu mengumpat sejadinya. Menurutnya ini semua gara-gara Daren, sehingga membuatnya harus menerima teguran dari kakaknya seperti ini.
Drrt drrtt...
Dara mencoba meraih ponsel miliknya yang saat ini tengah tergeletak asal di atas tempat tidurnya.
Gadis itu melihat sebuah notifikasi pesan Chat dari Daren, yang semakin membuatnya kian kesal.
Daren: sayang, entar malam jalan kuy.
Dara: sayang pala lu peang!
Daren: kok kamu masih jutek gitu sih. Kita kan udah pacaran, lupa ya..
Dara: nggak usah panggil aku kamu an lah, najis gue bacanya.
Daren: tuh kan, jahat!
Daren mengirim pesan tersebut dengan tawa yang sudah tak terbendung lagi, membayangkan wajah Dara yang saat ini tengah kesal terhadapnya, benar-benar sangat menyenangkan, dan membuatnya terhibur.
Dara: bodo!
Dara melempar ponselnya asal di atas kasur tempat tidurnya. Gadis itu sama sekali tidak menyangka, jika Daren ternyata bisa semenjijikkan ini.
"dasar cowok gila!!" umpat Dara kesal.
Gadis itu memutuskan untuk tidak menghiraukan Daren, dan lebih memilih untuk merebahkan kembali tubuhnya dengan menutup kepalanya menggunakan sebuah bantal.
Drrtt.. drtt..
Getaran ponselnya kembali terdengar. Kali ini ponselnya sudah bergetar berulang kali. Benar-benar sangat mengganggunya.
Dara masih berusaha untuk tidak menghiraukannya, namun semakin ia berusaha tidak peduli, justru hal itu semakin membuatnya terganggu, akibat ulah lelaki itu yang terus menerus mengiriminya spam chat tanpa henti.
"ya tuhaann...!! maunya apa sih tuh anak!" Dara berteriak gusar dengan menyingkirkan kasar sebuah bantal yang tengah menutupi kepalanya tadi.
Lalu kembali meraih ponsel miliknya dan membukanya.
"dasar cowok gila!!" umpat Dara, saat sudah melihat isi ponselnya yang sudah penuh dengan foto dirinya dengan Daren yang tengah berpelukan sambil tiduran, dengan posisi Dara berada di atasnya.
Dengan emosi yang sudah tak tertahan lagi, Dara akhirnya membalas pesan tersebut.
Dara: mau lo sebenarnya apa sih?
Daren: nanti malam pukul 8 di cafe xxx.
Dara: gue nggak mau. Dan nggak bisa.
Daren: ya udah, gue sebarin foto kita berdua.
Dara: lo gila ya? Apa lo nggak punya malu sedikitpun?
Dara: lagian kakak gue nggak mungkin ngizinin gue keluar.
Daren: alah, alesan aja lo, pakek acara bawa-bawa nama kakak lo segala. Basi banget!
Daren: gue nggak mau tau, pokonya lo harus dateng. Titik!!
Setelah mengirim balasan terakhirnya, Daren langsung menaruh begitu saja ponselnya di atas nakas. Lelaki itu sangat yakin, jika Dara pasti akan datang nanti malam.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, Dara justru semakin dibuat kesal dengan sikap Daren yang seenaknya seperti ini.
"maksudnya apa sih ngajak gue ketemu?! Seenaknya banget jadi cowok."
****
Pukul 19.05 malam
Dara nampak mengayunkan kakinya pelan menuruni anak tangga. Di sana dia bisa melihat jika kakaknya Ray tengah berada di rumah, dan sedang bersama kedua temannya. Niko dan Jerry di meja ruang tamu.
Duh.. tumben banget sih kak Ray dirumah. Biasanya juga jam segini nongkrong sama temen-temennya diluar. Batin Dara merasa gelisah, karena pasti dia akan kesulitan untuk pergi keluar diam-diam nantinya.
Dara bisa melihat jika saat ini mereka bertiga tengah bermain kartu, dengan beberapa coretan hitam yang menghiasi wajah mereka masing-masing, yang sanggup membuat Dara menjadi geli sendiri melihatnya.
"Ra, mau ikut main nggak?" tawar Jerry waktu melihat kedatangan Dara yang sudah mendekati mereka.
"nggak perlu ngajakin dia, gue lagi kesel sama tuh anak!" cetus Ray dengan pandangan mata tertuju pada beberapa kartu di tangannya.
"halah, sok-sok'an banget lu, pakek acara kesel sama adek lo segala." Sahut Jerry dengan menaruh kartu miliknya di atas meja. Dan Ray hanya diam tak menjawab.
Dara menghela napas panjang, lalu kemudian memilih duduk di dekat Niko, yang juga tengah fokus bermain kartu, sambil menyandarkan kepalanya di bahu kiri Niko. Membuat lelaki itu sedikit kehilngan konsentrasinya dalam bermain kartu.
"lagian siapa juga yang mau ikut. Kalau mainnya pakek dicemong-cemongin gitu, males banget." Ucap Dara dengan wajah manyunnya.
"kenapa emang Ra? Lo takut keliatan jelek ya?! Tenang aja Ra, gimanapun juga dimata gue lo tetep kelihatan cantik kok." Ucap Jerry, menggoda Dara.
"gombal banget mulut lo Jer." Sahut Niko dengan mencoret wajah Jerry, diikuti oleh Raymon yang juga melakukan hal yang sama. Membuat Dara yang melihatnya tertawa geli.
Sementara Jerry sama sekali tidak membalas, karena memang dirinya saat ini tengah kalah dalam permainan kartu yang mereka bertiga mainkan.
Jerry menata kembali kartu-kartu yang berserakan di atas meja tersebut seperti semula, lalu kembali membaginya kepada kedua temannya.
"beneran nih nggak mau ikutan??" tanya Niko pada Dara. Dan gadis itu hanya menggeleng.
"em..kak Ray!" Dara memanggil kakaknya sedikit ragu.
"apa?" sahut Ray.
"gue boleh keluar bentar nggak malam ini?"
Ray memandang ke arah adiknya itu, yang saat ini masih berada di dekat Niko. Namun kali ini Dara sudah tidak lagi menyandarkan kepalanya di bahu Niko seperti tadi.
"kemana? Sama siapa? Ada acara apa?" tanya Ray bertubi-tubi.
Dara mendengus. "ya elah kak, nanya nya satu-satu napa."
"kalau nggak penting nggak usah keluar, di rumah aja!" ucap Ray dengan wajah datarnya.
"siapa bilang nggak penting. Penting kok! Gue sama Chaca mau kerja kelompok bareng malam ini." Kata Dara yang lagi-lagi harus membohongi kakaknya, hanya karena lelaki menyebalkan seperti Daren.
"ya udah, kerja kelompoknya di rumah aja."
"ishh, kok gitu?!" Dara mencebikkan bibirnya kesal. "kan gue udah janji sama Chaca mau ngerjain tugasnya di rumah dia kak. Masak mesti batalin sih?!"
Ray menghela napas lelah. "apa bedanya sih Ra, kerja kelompok di rumah dia atau disini?! Nggak ada bedanya kan? Toh, kalian berdua juga tetep bisa ngerjain tugas bareng. Ya kan?"
"ya nggak bisa gitu dong kak. Kalau dirumah Chaca kan nggak bakal ada yang gangguin. Lah kalau disini---"
"tenang aja, gue sama Niko nggak bakalan gangguin lo kok." Sahut Jerry tiba-tiba.
"tuh, denger kan?!"
"ishh, kak Ray nyebelin!" karena kesal, Dara akhirnya berdiri, lalu berlari pergi ke kamar atasnya begitu saja.
Membuat kedua teman Ray menatap ke arahnya dengan heran.
"bro, lo jangan terlalu ngekang si Dara lah. Masak cuman kerja kelompok doang, lo nggak ngasih izin sih." Nasehat Niko pada Ray,
"tau nih, parah banget lu jadi kakak. Gue jadi kasian liatnya." Sahut Jerry menimpali.
"gue ngelakuin ini juga demi kebaikan adek gue. Lagian gue yakin banget, kalau dia lagi ngebohongin gue."
"maksudnya?" tanya Niko tak mengerti.
"nih ya, tadi pas waktu pulang sekolah, gue ngelihat si Ara di bonceng sama cowok."
Niko terlihat sangat terkejut mendengar penuturan Ray barusan. "serius lo? Siapa? Lo kenal nggak?"
"gue sih nggak ngelihat tampangnya. Soalnya tuh cowok nggak lepas helm sama sekali." Jawab Ray.
"lo salah liat kali. Bisa aja kan tuh cowok cuman tukang ojek." Sahut Jerry dengan cueknya.
"ya kali tukang ojek makek motor sport." Cetus Raymon menimpali ucapan Jerry barusan.
Sementara Niko saat ini tengah bergulat dengan fikirannya sendiri. Dia begitu penasaran mengenai lelaki yang dimaksud oleh Ray barusan.
Ia hanya tidak mau jika Dara benar-benar memiliki sosok spesial di hatinya sat ini. Karena pasti Niko akan sangat merasa terluka.
Mengingat dia sudah cukup lama menyimpan perasaan terhadap adik dari teman dekatnya ini.
****
"ishh, kak Ray nyebelin banget sih. Keluar aja nggak boleh. Kesel kan jadinya."
"duh.. gimana ini. Kalau gue nggak dateng, si kutil landak itu pasti beneran nyebarin fotonya. Mau di taruh dimana muka gue, kalau sampai anak satu sekolah tau?! Bisa-bisa gue dinilai sama kayak cewek-cewek lainnya. Dih, males banget!"
Dara yang sedari tadi mondar mandir tidak jelas di dalam kamarnya, melihat ke arah jam dinding dengan ekspresi terkejut, karena jam sudah menunjukkan pukul 19.35.
Dengan cepat, Dara berjalan ke arah meja riasnya. Memoles sedikit wajahnya menggunakan bedak dan peralatan make up yang lainnya. Ini semua terpaksa ia lakukan karena Chaca yang menyuruhnya.
Katanya, kalau ingin membuat Daren benar-benar tertarik padanya, Dara harus membiasakan diri berdandan. Tidak cuek sepertinya biasanya.
Ya, memang. Dara tidak terlalu pandai dalam soal berdandan, karena menurutnya hal itu sangat merepotkannya.
Tapi kali ini, dia terpaksa melakukan ini demi sahabatnya Chaca.
Membuat Daren tertarik dengannya, lalu mencampakkannya begitu saja? Sepertinya, ini menarik juga.
Setelah dirasa penampilannya sudah cukup lumayan, Dara segera berjalan ke arah pintu, lalu mengunci pintu kamarnya dari dalam.
Gadis itu lantas keluar kamar melalui balkon kamarnya dengan membawa sebuah kain panjang yang ia ikatkan di salah satu besi dan juga pinggangnya, lalu kemudian mencoba turun perlahan dengan sangat hati-hati, agar dia tidak terjatuh.
Namun pada saat kaki Dara hendak menyentuh tanah, kain yang tadinya sudah ia lilitkan di pinggang cukup kencang melonggar hingga membuatnya terjatuh dengan lutut yang bertumpu membentur tanah.
Membuatnya terluka di salah satu bagian lututnya, hingga mengeluarkan darah yang lumayan cukup banyak. Apalagi saat ini Dara tengah mengenakan dress simpel selutut, sehingga ia bisa melihat dengan jelas darah yang sudah mengalir menyusuri kulit mulus kakinya.
"akh.. sakiiitt!!" pekik Dara, merasa sakit di bagian lututnya.
Ia lantas mengambil selembar tisyu di dalam tas selempangnya, untuk membersihkan Darah di bagian kakinya. Lalu setelah itu mencoba kembali berdiri dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat.
Dara berjalan tertatih menuju pintu gerbang rumahnya, lalu menyetop sebuah taksi yang melintas, untuk mengantarkannya pergi ke kafe yang di maksud.
Saat sudah sampai tempat tujuan, Dara berjalan pincang memasuki kafe dengan mengedarkan pandangannya mencari sosok lelaki yang sudah membuatnya hingga seperti ini.
Hingga gadis itu bisa melihat lelaki itu, yang tanpa tau malu melambai ke arahnya dengan memasang wajah tak berdosanya.
"kaki lo kenapa Ra?" tanya Daren saat melihat dara yang tengah berjalan tertatih ke arahnya.
Dengan ketus, Dara berkata. "mana HP lo??" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Daren sebelumnya. Bahkan Dara sama sekali tidak duduk di kursinya.
Gadis itu sudah tidak tahan lagi menghadapi sikap seenaknya Daren, yang sudah membuatnya sampai terluka seperti ini.
"lo kenapa sih? Datang-datang main minta ponsel gue seenaknya." Tiba-tiba terlintas sesuatu di kepala lelaki itu. "jangan-jangan... lo takut gue selingkuh ya?" candanya, tanpa tau jika Dara saat ini sudah begitu kesal terhadapnya.
BRAKK!! Suara gebrakan meja.
"GUE BILANG, MANA HP LO!!" bentakan Dara kali ini membuat Daren tau, jika perempuan yang saat ini berada di hadapannya tengah benar-benar dalam kondisi marah kepadanya.
BERSAMBUNG...!!