BRAKK!! Suara gebrakan meja.
"GUE BILANG, MANA HP LO!!" bentakan Dara kali ini membuat Daren tau, jika perempuan yang saat ini berada di hadapannya tengah benar-benar dalam kondisi marah kepadanya.
Daren berdiri, menyamai posisi Dara saat ini. "wushh.. nyantai dong! Nggak perlu teriak-teriak juga kali." Kata Daren menenangkan, sambil menyentuh bahu Dara, menyuruhnya duduk di kursinya.
Namun Dara yang sudah sangat emosi, menepis kasar tangan Daren dari bahunya. "nggak usah pegang-pegang gue! Sekarang gue minta, lo hapus foto gue dari ponsel lo sekarang juga!!"
"ya nggak bisa gitu dong, kan kesepakatan kita, lo harus pacaran sama gue selama satu bulan dulu."
"gue udah nggak peduli lagi sama kesepakatan konyol yang lo buat itu. Lo liat sekarang kaki gue, gara-gara lo maksa gue buat ketemu. Kaki gue sampai luka kayak gini."
Daren melihat ke arah kaki Dara yang terluka. Lelaki itu sama sekali tidak menyangka jika gadis itu bisa sampai terluka seperti ini.
"emangnya, lo habis jatuh darimana?" tanya Daren ingin tau, bahkan kali ini wajahnya sudah terlihat sangat khawatir dan juga bersalah.
Dengan masih memasang wajah kesalnya terhadap Daren, Dara menjawab. "gue jatuh pas waktu turun dari balkon rumah gue pakek tali. Gue kan udah bilang sama lo, kalau kakak gue nggak ngizinin gue buat keluar malam ini. Elo malah tetep maksa!" ketusnya.
Ada rasa bersalah waktu dia mendengar penuturan Dara barusan. Lagipula, Daren sama sekali tidak bermaksud untuk membuat Dara sampai terluka seperti ini.
Lagipula waktu itu Daren sama sekali tidak tahu, jika apa yang dikatakan Dara padanya adalah sebuah kebohongan atau tidak.
"ya udah, gue minta maaf. Gara-gara gue maksa lo ketemu, kaki lo jadi luka kayak gini. Nanti gue bakal ngobatin kaki lo. Tapi sekarang, mending lo duduk dulu buat makan. Tenang aja gue yang traktir kok. Okey..."
Dara terlihat berfikir, ini anak tumben banget minta maaf sama gue. Tapi nggak papa lah, itung-itung dapat gratisan. Hehehe..!
Dara untuk sementara mencoba menghilangkan rasa kesal terhadap Daren saat ini.
Apalagi saat ini gadis itu baru menyadari jika para pengunjung kafe, sebagian besar sudah menatapnya dengan tatapan aneh.
Gadis itu sangat yakin, kalau mereka pasti mengira jika dirirnya saat ini tengah bertengkar dengan pacarnya.
Tanpa fikir panjang lagi, Dara mencoba meredam egonya, lalu menuruti apa yang dikatakan Daren barusan dengan ikut duduk bersama lelaki itu di satu meja yang sama.
Setelah mereka berdua memesan beberapa menu dan memakannya hingga hampir habis, Dara kembali membuka obrolan, menanyakan mengenai fotonya di ponsel Daren dan menyuruh supaya dia segera menghapusnya.
Namun Daren sama sekali tidak mau, Dara yang kembali kesal, sangat ingin melempar garpu yang ia pegang saat ini ke wajah Daren. Tapi tentu saja Dara tidak benar-benar melakukannya.
Gadis itu masih menyimpan sedikit akal sehatnya untuk tidak melakukan hal itu.
"tapi, lo juga jangan maksa-maksa gue kayak tadi lagi dong! Lo nggak tau sih, gimana watak kakak gue kalau udah marah. Serem tau!" ucap Dara saat sudah menaruh gelas yang baru ia minum tadi di atas meja.
"okey, gue nggak bakal maksa-maksa lo lagi. Asal lo juga mau bersikap manis sama gue waktu di sekolah. Cuman satu bulan doang, apa susahnya sih?!" ujar Daren.
"jelas susah lah. Sehari sama lo aja udah buat gue muak, apa lagi satu bulan. Bisa-bisa gue kena struk mendadak nantinya."
Daren mencuramkan kedua alisnya, tak terima dengan apa yang di katakan Dara, yang menurutnya sangat berlebihan. "songong banget lu jadi cewek. Bikin darah tinggi aja." Ucap Daren, lalu kemudian meminum minumannya hingga kandas tak bersisa.
Ternyata berbicara dengan cewek seperti Dara, benar-benar membutuhkan kesabaran ekstra lebih.
"ya udah ayok, buruan gue anter ke apotik terdekat buat ngobatin kaki lo itu." Ucap Daren saat selesai mengusap mulutnya menggunakan sehelai tisu.
"kok ke apotik? Bukannya ke rumah sakit atau puskesmas terdekat."
"ini kan udah malam, lo mau kalau lo pulangnya entar makin kemaleman gara-gara antri?"
Dara menggeleng pelan, dengan memanyunkan bibir mungilnya. Membuat Daren sejenak menatap gemas ke arah Dara, namun tak lama setelah itu dia segera menepis fikiran konyolnya itu di kepalanya.
Gue udah gila kali ya? Masak cewek nyebelin kayak gini nggemesin sih?! Udah konslet nih kayaknya otak gue. Batin Daren keheranan.
Setelah membayar seluruh makanan yang mereka berdua pesan. Daren lantas keluar dari kafe tersebut dengan memapah tubuh Dara, membantunya berjalan.
"aduh, pelan-pelan dong Dare!" protes Dara saat mereka sudah berada di luar kafe.
"baru kali ini, gue denger lo manggil nama gue. Bukan kutil landak lagi." Ucap Daren, dengan melepas sebelah tangannya di pinggang Dara, untuk mengambil motornya.
Sementara Dara hanya diam sambil melirik sekilas ke arah Daren.
"tunggu bentar ya, gue ambil motor dulu." Pamit Daren dan di angguki oleh Dara.
Setelah Daren sudah mengambil motor sportnya yang terparkir di antara beberapa kendaraan lain, barulah lelaki itu kembali mendatangi Dara dan memapahnya seperti tadi, untuk membantunya menaiki motor miliknya.
"bisa nggak naiknya?" tanya daren merasa tidak yakin.
"bisa lah. Lo fikir gue cewek manja, apa?!" ucap Dara sinis, lalu mencoba menaiki motor Daren dengan perlahan. Walaupun cukup susah juga, namun akhirnya Dara berhasil menaiki motor tersebut tanpa bantuan Dari Daren.
*****
Saat ini, Dara dan Daren tengah berada di sebuah apotik, membeli obat untuk luka di kaki Dara.
Setelah Daren sudah membeli beberapa yang ia perlukan, lelaki itu dengan cekatan mengajak Dara duduk di sebuah kursi kayu yang berada di sana.
"lo duduk dulu disini, biar gue yang obatin kaki lo." Ucap Daren, sambil berjongkok di depan Dara yang tengah duduk di sebuah kursi kayu.
"yakin, lo bisa?? Gue nggak mau ya, kalau sampai nanti gue malah jadi korban malpraktek gara-gara elo yang sok-sok'an bisa ngobatin kaki gue." Ketus Dara, sedikit tak percaya dengan Daren.
"ya ela.. lebay banget lo. Mau di obatin apa nggak nih? Apa lo mau, luka di kaki lo itu membusuk gara-gara lo cerewet terus dari tadi hmm??"
"ishh...! elo tuh mau ngobatin, apa mau nyumpahin gue sih? Ngeselin banget!" Dara menyilangkan kedua tangannya kesal dibawah d**a.
"kan elo yang mulai duluan!"
"ya udah sih, cepetan obatin!!" ketus Dara menyuruh Daren.
Daren dengan kesal akhirnya mulai mengobati luka di kaki Dara dengan hati-hati. Membersihkan luka tersebut menggunakan alkohol yang sudah ia taruh di sebuah kapas.
Rasa perih menjalar, berbarengan dengan tangan Dara yang sudah mencengkram kuat kursi kayu yang ia duduki saat ini.
Dengan menggigit bibir bawahnya, meredam teriakan rasa sakit yang meluncur dari mulut mungilnya.
Dara mendesis, saat Daren mulai membalut lukanya menggunakan sebuah perban.
Daren yang mendengar hal itu, lantas mendongakkan kepalanya menatap wajah Dara yang saat ini tengah kesakitan cukup lama.
Kalau gue perhatiin, ternyata Dara imut juga. Batin Daren saat memandangi wajah Dara yang saat ini tengah terpejam erat menahan rasa sakit di kakinya.
"kok berhenti, udah selesai belum?" tanya Dara sambil tetap memejamkan mata, saat merasakan Daren menghentikan aktifitasnya saat ini.
"eh, i--iya bentar lagi selesai kok." Jawab Daren dengan sedikit gugup dan salah tingkah.
Duh.. gue kenapa sih?! Batin Daren kembali berucap aneh tentang sikapnya saat ini.
"nah, udah selesai." Ucap Daren saat sudah selesai mengobati luka di kaki Dara.
Lelaki itu lalu mulai membereskan obat-obat tadi, dan menaruhnya kembali kedalam kantong keresek, memberikannya kepada Dara. "nih, lo bawa! Biar lo bisa obatin luka lo waktu di rumah." Daren yang tadinya berjongkok, kini sudah duduk di samping Dara.
Dara menerimanya, lalu kemudian berkata "emm.. thanks ya, lo udah ngobatin kaki gue." Ucapnya kikuk.
"sama-sama. Lagian ini kan juga salah gue. Sorry banget ya Ra." Ucap Daren meminta maaf, dan Dara pun hanya mengulas senyum manis di bibir mungilya. Membuat Daren menelan salivanya sendiri dengan susah payah.
"lo kenapa merhatiin gue kayak gitu sih?" tanya Dara sedikit risih, saat kedua netra Daren menatap intens ke arahnya.
"hah, enggak, gu-gue cuman baru nyadar aja, kalau ternyata lo cantik juga kalau dandan gini." Daren memuji Dara dengan jujur.
Namun Dara justru tertawa saat mendengar kalimat pujian yang di lontarkan Daren untuknya.
Tentu saja hal itu membuat Daren menjadi heran dan juga bingung. "kenapa lo malah ketawa?"
"seharusnya gue yang nanya. Apa lo udah biasa ngerayu cewek dengan pujian basi kayak gitu?" tanya Dara di sela-sela tawanya.
"hah? Tapi gue-" belum sempat Daren melanjutkan ucapannya, Dara sudah terlebih dahulu memotongnya.
"nih, uang buat ganti obat yang lo beliin barusan." Dara memberikan beberapa uang ke tangan Daren. Tapi tentu saja daren tidak ingin menerimanya.
"apaan sih, nggak usah ganti juga kali. Cuman obat segitu doang." Daren kembali menyodorkan uang tersebut ke tangan Dara.
"tapi kan-"
"udah, nggak usah di ganti." Ucap Daren yang tetap tidak mau menerima pemberian uang dari Dara.
Dara mendengus. "padahal, gue cuman nggak mau punya hutang budi sama lo."
"ya elaa.. tenang aja. Gue bukan tipe cowok yang suka ngungkit kebaikan yang udah gue kasih kok. Jadi lo nggak perlu kuwatir dan nyantai aja."
Ucapnya, membuat Dara tersenyum, menganggukkan kepala, sambil memasukkan kembali uangnya kedalam tas miliknya.
Ternyata, daren nggak terlalu buruk juga untuk ukuran cowok yang dicap playboy selama ini. Batin Dara menilai sikap Daren saat ini.
"gue anterin pulang yuk!" tawar daren, saat dirinya sudah melihat jam yang melingkar di tangannya.
"anterin??" tanya Dara memastikan pendengarannya.
"iya, gue anterin. Ini kan udah cukup malam banget Ra. Nggak baik kan kalau cewek kayak lo pulang sendirian."
"tapi.... gue takut kalau nanti---"
"ketahuan sama kakak lo?" tanya Daren menebak, dan di angguki oleh Dara.
"tenang aja, gue jamin nggak bakal ketahuan." Kata Daren meyakinkan.
Setelah berfikir beberapa saat, akhirnya Dara menyetujui juga tawaran dari lelaki itu untuk mengantarkannya pulang.
*****
Di tengah dinginnya angin malam yang sangat menusuk kulit. Di tambah dengan lalu lintas jalan raya yang lumayan padat, Dara yang tengah berada di boncengan motor sport Daren, sontak tersentak kaget saat tiba-tiba lelaki itu mengerem mendadak.
Membuat tubuh Dara reflek merapat ke punggung Daren, dengan kedua tangan yang sudah melingkar erat di pinggang Daren. Membuat lelaki di depannya itu seolah merasakan ada degupan-degupan aneh yang ia rasakan tepat di jantungnya.
Bukan, hal ini bukan karena rasa kaget saat ada kendaraan yang tiba-tiba berhenti di depannya. Tapi perasaan ini terasa lain. Seolah dirinya tengah merasa gugup saat Dara memeluknya erat seperti ini.
Bahkan Daren sama sekali belum pernah merasakan hal ini, saat dia sedang bersama pacar-pacarnya yang lain.
Apa yang dirasakan Daren sangat berbeda, hingga dia tidak bisa mengutarakannya dengan kata-kata.
Sebenarnya, gue kenapa?? Batin Daren tak mengerti.
BERSAMBUNG...!!
jangan lupa komennya ya...