15

2194 Kata
HAPPY READING ^_^ "duh, lo bisa bawa motor apa enggak sih?" omel Dara, waktu mendapati Daren yang tiba-tiba mengerem mendadak. "iya, sorry. Lo nggak liat di depan macet banget tuh!" Ck, apa sih yang gue fikirin?! Cewek jutek kayak gini, nggak mungkin banget bikin gue tertarik. Yang ada gue kesel terus tiap kali ngomong sama dia. Batin Daren menggerutu kesal. Lelaki itu kembali melajukan laju motornya, saat dirasa kendaraan di depannya sudah mulai bergerak kembali. "Ra!" "apa?" sahut Dara. "rumah lo dimana? Lo kan belum pernah ngasih tau rumah lo ke gue." "ya udah sih, turunin gue di tempat yang sama kayak tadi siang." "yakin lo?! Kaki lo kan lagi sakit. Buat jalan aja susah." "udah nggak papa kok. Beneran!" jawab Dara, yang sebenarnya tidak ingin jika Daren terlalu banyak tanya. "oh, ya udah kalau gitu." Daren kembali fokus menyetir kendaraannya tanpa banyak bertanya lagi terhadap Dara. Hingga tak lama kemudian, mereka berdua pun sampai di tempat tujuan. Seperti tadi siang, Daren kembali menurunkan Dara di tempat yang tidak begitu jauh dari rumah gadis itu. Dengan perlahan, Dara mencoba turun dari motor sport Daren, yang memang cukup tinggi itu. "aduh, sshhh...!" Dara memekik kesakitan saat kakinya sudah menapak tanah. Dengan tangannya yang memegangi pahanya. "sakit kan? Mangkanya tunjukin rumah lo dimana? Biar gue anter lo pulang. Biar lo nggak terlalu kesakitan sama luka di lutut lo itu." Kata daren menawarkan, dengan masih berada di atas motornya. "tapi kan-" "udah ayo..!" paksa Daren, yang akhirnya membuat Dara terpaksa menaiki kembali motor tersebut, menerima tawaran Daren. Motor Daren kembali melaju pelan menyusuri sebuah jalan kompleks perumahan yang bisa di bilang cukup elit, dengan lampu penerangan jalan yang cukup terang. "yang mana rumah lo, Ra?" tanya Daren. "itu, yang didepan sana." Tangan Dara menunjuk ke arah sebuah rumah yang jaraknya cukup dekat dengan posisi mereka saat ini. Daren menghentikan motornya, melepas helm di kepalanya, lalu ikut turun, saat Dara sudah berhasil turun terlebih dahulu. "loh, lo mau ngapain ? buruan balik!!" tanya Dara dengan heran, lalu kemudian mengusirnya. "gue mau bantuin lo jalan lah." "apa'an sih, nggak usah. Gue bisa jalan sendiri." "ck, nggak usah keras kepala deh jadi orang." "siapa juga yang keras kepala. Gue cuman nggak mau kalau kakak gue tau, gue pulang di anter sama cowok. Bisa gawat nanti urusannya. Lagian gue kan udah bilang ke elo, kalau gue keluar rumahnya diem-diem." "tapi Ra---" "ssstt... udah diem, nggak usah cerew-" ucapan Dara tertahan. Berbarengan dengan telunjuk jarinya yang sudah ia tempelkan begitu saja di mulut Daren, hingga membuat mereka saat ini saling bertatapan satu sama lain. Tanpa berkedip sedikitpun, Daren memandang lekat ke arah wajah Dara. Menyusuri setiap jengkal keindahan paras cantik dan imut yang dimiliki oleh gadis itu, hingga membuat Daren baru menyadari, jika sosok perempuan yang selama ini selalu berdebat dengannya itu, ternyata sanggup membuatnya terpikat seperti ini. Perasaan yang sama juga di alami oleh gadis itu. Dara bahkan dengan mudahnya memuji ketampanan Daren dalam hatinya. Kedua bola matanya tertuju ke arah dua rahang kokoh dan juga bibir menawan, yang begitu sanggup membuat hatinya bergetar tak karuan. Hingga pada akhirnya, mereka berdua tersadar. Dan membuat Dara dengan cepat menarik kembali tangannya dari bibir Daren, hingga membuat mereka berdua berada dalam keadaan sangat canggung. "sorry." Ucap Dara dengan cepat, namu Daren hanya diam. Ia hanya bingung harus menjawab apa. Apalagi saat ini, Daren di buat tak mengerti dengan perasaan aneh yang ia rasakan saat dirinya berdekatan dengan Dara seperti tadi. Dara mengayunkan langkah kakinya memasuki pintu gerbang rumahnya yang menjulang tinggi, diikuti oleh Daren di belakangnya. Satu Tangan Daren kembali melingkari pinggang Dara, membantu memapahnya. Dan sialnya perasaan aneh di dalam dirinya itu muncul kembali, berbarengan dengan detak jantung yang kian semakin tak terkontrol. Bahkan Dara hanya diam saja, waktu Daren melingkarkan tangannya di pinggang mungilnya. Gadis itu juga sama bingungnya dengan Daren. Apalagi, dara belum pernah merasakan hal ini seumur hidup. Apakah ini yang dinamakan cinta? Dara menggeleng pelan, berusaha menepis fikiran konyol di otaknya saat ini, dan berusaha meyakinkan dirinya, jika apa yang ia rasakan saat ini bukanlah sesuatu yang penting baginya. "Ra...!" terdengar suara serak lelaki di sampingnya tengah memanggilnya. "iya..?" sahut Dara, tersentak dari fikiran di kepalanya yang mulai berkecamuk. "lo masuk lewat pintu depan aja ya?! Biar gue yang bantu njelasin sama kakak lo!" "hah, ja-jangan!! Nggak perlu!" Dara menolak cepat. "kalau lo nggak mau lewat pintu depan, terus lo mau lewat mana?" "itu, di samping rumah gue." Dara menunjuk ke arah samping rumahnya. Daren pun akhirnya membantu memapah tubuh Dara ke samping rumahnya. Di tempat itu, Daren bisa melihat jika ada sebuah kain putih yang menggantung panjang di sebuah pagar besi balkon kamarnya. "jadi lo---" Daren sedikit terkejut dengan apa yang terlintas di fikirannya saat ini. Apalagi membayangkan Dara memanjat kain tersebut untuk mencapai kamarnya, cukup mengerikan bagi Daren. "gue kan udah bilang waktu di kafe tadi, kalau gue keluarnya emang makek tali beginian." "ya elah Ra, aneh-aneh aja ya lo." Ujar daren masih tak percaya. "bantuin gue!!" kata Dara sedikit merengek. Membuat Daren kian semakin gemas dengan gadis itu. "iya, iya. Tenang aja. Pasti gue bantuin." "tapi jangan ngintipin gue ya?! Awas aja lo kalau berani ngintipin gue!" ancam Dara yang saat ini akan berusaha memanjat menggunakan Dress selutut yang dikenakannya. "ya elah, nggak bakalan gue ngintipin elo. p****t tepos begitu aja, apanya yang mau di lihat?!" gumam daren di bagian akhir ucapannya. "lo ngomong apa barusan?" tanya Dara yang tidak begitu jelas mendengar ucapan Daren. Daren dengan cepat menggelengkan kepalanya. "enggak, gue nggak ngomong apa-apa tuh!" dustanya. Dara mulai mengikat kain tersebut ke pinggangnya, lalu kemudian, dia menaikinya melalui sebuah pohon besar di dekat balkon kamarnya, di bantu oleh Daren. Dengan perlahan dan hati-hati, Dara memijakkan kakinya di antara dahan pohon besar tersebut, agar tidak terjatuh. Tangannya meraih bagian atas kain yang melilit tubuhnya tadi, bahkan gadis itu sedari tadi melakukannya dengan menahan rasa sakit di bagian kakinya. Ini benar-benar menyusahkan. "Ra, hati-hati!" kata Daren memperingatkan dengan bersuara pelan, yang masih dapat di dengar jelas oleh Dara. Setelah berjuang susah payah menaiki pohon tersebut, akhirnya Dara berhasil juga sampai diatas balkon kamarnya itu dengan selamat. Dara bersorak senang dalam hati, ia lalu menatap ke arah Daren yang masih tetap berada di bawah dengan tangan yang memegang sebuah ponsel yang sudah ia tempelkan di telinganya. Dara berbicara dengan Daren melalui panggilan telfon, agar tidak di dengar oleh kakaknya. {pulang gih! Gue nggak papa kok.} kata Dara menyuruh Daren. {beneran?} tanya Daren memastikan, sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Dara mengacungkan jempol ibu jarinya ke arah Daren, {iya, beneran! Buruan pulang, entar kalau ketahuan kakak gue bisa gawat!} {oke deh, kalau gitu. Gue balik duluan ya?} pamit Daren. Dan lagi-lagi Dara mengacungkan jempol ibu jarinya, sambil melambaikan tangan ke arah Daren. {hati-hati.} ceplos Dara, yang sama sekali tak mengerti. Untuk apa juga dia berkata seperti itu pada Daren. Lalu setelah itu, Daren berjalan keluar dari pintu gerbang, berbarengan dengan panggilan telfon yang sudah ia matikan. Di sela langkah kakinya, ia sempat melihat ada dua motor sport yang terparkir di halaman depan rumah Dara. Lelaki itu baru menyadarinya. Entah kenapa, menurut Daren kedua motor sport itu sangat mirip dengan motor dari musuh bebuyutannya, yang selama ini sering mencari masalah dengannya. Namun tak lama setelah itu, Daren berusaha menepis hal aneh difikirannya. Apa sih yang gue fikirin?! Lagian Nggak mungkin juga si Dara kenal sama mereka. Batin Daren, yang kemudian segera beranjak pergi meninggalkan rumah tersebut dengan motornya. ***** Dara melangkahkan kaki memasuki kamar dengan senyum merekah indah di bibir mungilnya. Tubuhnya ia hempaskan di atas ranjang besarnya begitu saja. Kejadian beberapa menit yang lalu bersama Daren seolah tengah memenuhi kepalanya saat ini. Ia tidak habis fikir, ternyata Daren begitu perhatian terhadapnya. Apalagi saat ia mengingat bagaimana lelaki itu mengobati luka di lututnya, dan mengantarkannya pulang seperti tadi. Menurut Dara, Daren tidak terlalu buruk juga untuk ukuran cowok yang di cap playboy selama ini. Tok tok tok..!! Suara ketukan pintu terdengar, membuat gadis itu menjadi panik sendiri. Pasalnya Dara saat ini tengah mengenakan baju yang ia kenakan waktu keluar tadi, dengan polesan make up tipis yang masih belum ia bersihkan sama sekali. Jika yang mengetuk pintu itu adalah kakaknya, tentu saja Dara pasti akan mendapatkan banyak pertanyaan dari Ray. Mengingat kakaknya itu sangat berlebihan sekali kalau sudah menyangkut sesuatu tentang dirinya. "siapa??" teriak Dara dari dalam kamarnya. "gue, Niko!" Dara bernafas lega mendengar jawaban lelaki yang saat ini berada di luar pintu kamarnya. Ia lantas berdiri, berjalan tertatih ke arah pintu dan membukanya. "ada apa?" tanya Dara dengan membuka separuh pintu kamarnya. "lo belum tidur Ra?" tanya Niko, dan dara menggeleng pelan. "nih, gue tadi keluar beli martabak. Lo mau nggak?" tanya Niko dengan membawa sekotak martabak di tangannya. "em.. nggak usah kak. Aku udah kenyang kok." Ucap Dara jujur, karena memang dia masih kenyang, karena baru saja di traktir makan oleh Daren di sebuah kafe. Niko mengernyitkan dahinya heran, "udah kenyang?? Bukannya lo dari tadi belum makan malam ya?" Mampus gue. Batin Dara. "eh, iya ya, ma-maksud gue, gue masih kenyang, belum laper. Hehehe.." ucap Dara di akhiri cengirannya, membuat Niko semakin memandang curiga ke arah Dara. "kenapa pintunya cuman lo buka separuh doang sih?" "ah, i-itu, ka-kamar gue berantakan kak. Kan malu kalau misalkan lo liat." Dusta Dara, dengan rasa gugup takut ketahuan. "terus, itu muka lo kenapa malam-malam gini makek make up? Tumben." Tanya Niko semakin heran, karena tidak biasanya Dara memakai make up seperti ini. "oh ini, tadi gue lagi iseng aja belajar tutorial make up yang ada di youtube." Lagi, Dara memaksakan senyum di bibir mungilnya, yang sebenarnya membuat Niko tahu, jika gadis itu tengah berbohong. Hingga pada akhirnya, Niko nekat mendorong paksa pintu tersebut, hingga terbuka sempurna. Entahlah, Niko hanya takut jika Dara menyembunyikan sesuatu di kamar tersebut. Misanya.. seorang lelaki mungkin?! Walaupun itu sangat tidak mungkin, tapi Niko tetap saja penasaran. "kak Niko apa-apa'an sih?" kesal Dara, karena lelaki itu sudah memaksa masuk begitu saja ke kamarnya. Tanpa menjawab, Niko lalu mulai memeriksa setiap sudut di kamar Dara, termasuk kamar mandi gadis itu. Fikiran aneh Niko terhadap Dara kian tak karuan, apalagi jika mengingat apa yang Ray katakan tentang Dara yang kedapatan pulang sekolah di antar oleh seorang cowok. Semakin membuat Niko kian dibakar api cemburu yang begitu susah di padamkan, akibat Rasa sayang yang semakin lama kian semakin besar terhadap adik dari sahabatnya itu. Niko lantas berjalan ke arah pintu menuju balkon yang masih dalam kondisi belum tertutup itu, sementara Dara dengan tertatih mengikutinya dari belakang. "kak Niko kenapa sih? Masuk kamar orang tanpa izin itu sangat nggak sopan kak!!" "ini apa Ra??" tanya Niko geram, saat ia melihat sebuah kain berbentuk tali, yang masih menggantung rapi di pagar besi kecil di balkon tersebut. "i-itu-emm..." seolah bingung mencari alasan, membuat Dara mengehela napas panjang sejenak. "itu apa?? lo habis keluar sama cowok? Iya?" tebak Niko. "enggak!!" Dara menggeleng cepat, menutupi kebenaran yang dikatakan oleh sahabat dekat dari kakaknya. "terus, kenapa bisa ada tali disini Ra??" Niko memandang keseluruhan penampilan Dara saat ini, yang memang terlihat seperti baru keluar menemui seseorang. Hingga akhirnya kedua netra lelaki itu menatap lekat ke arah luka di lutut Dara dengan raut wajah khawatirnya. "kaki lo kenapa?? habis jatuh?" tanya Niko menyudutkan, membuat Dara akhirnya menyerah dengan kebohongannya. Dengan satu tarikan napas panjang, dara menjawab "iya, tadi jatuh pas waktu turun dari sana." Kata Dara menunjuk ke arah tempat tali itu menggantung. "ya tuhan..! lagian lo ngapain sih, pakek acara turun dari sana segala, hmm?" Dara terdiam, menundukkan kepala, sambil berjalan perlahan duduk di tepi ranjangnya. "jadi.. apa yang dicurigai kakak lo itu emang bener? kalau lo sekarang udah punya cowok?" ada rasa kecewa saat Niko menanyakan hal itu langsung terhadap Dara. Lelaki itu sangat berharap jika Dara akan menjawab tidak dengan cepat. Namun yang terjadi, Dara justru memberi jeda waktu cukup lama saat menjawab pertanyaan Niko barusan. "jadi sebenarnya---" dara mulai menceritakan semuanya kepada Niko, tanpa menyebut nama Daren sedikitpun. Dara hanya memanggil Daren di depan Niko dengan sebutan kutil landak seperti biasanya. "kenapa lo gitu aja mau di ajak pacaran satu bulan sama dia, Ra?!" tanya Niko dengan raut kecewa di wajahnya. "ya terpaksa." Niko menghela napas gusar, ikut duduk di samping Dara. "lo bisa tunjukin gue siapa orangnya. Dengan begitu, gue bisa ngasih pelajaran sama tuh cowok. Sekalian gue juga bisa nyuruh dia buat hapus foto lo dari ponselnya." Tawar Niko membuat Dara sedikit terkejut. "eh, enggak perlu kayak gitu juga kan kak. Lagian gue nggak papa kok. Dan Gue yakin, kalau gue bisa nyelesai'in masalah gue sendiri. Tapi gue mohon sama lo, jangan ceritain hal ini sama kak Ray, gue nggak mau kalau kak Ray marah sama gue nantinya." Pinta Dara dengan raut wajah memohonnya. "nggak usah lo suruh pun, gue juga nggak akan pernah bilang apapun tentang hal ini ke kakak lo. Asal lo mau janji ke gue, jangan ngelakuin hal konyol yang bisa buat lo terluka lagi kayak gini. Okey?" Dara mengangguk cepat, lalu memeluk tubuh Niko dengan erat. "makasih kak. Kakak memang selalu bisa di andalkan." Ucap Dara tersenyum dipelukan Niko. Niko membalas pelukan Dara cukup erat, lebih erat dari pelukan Dara kepadanya. Lelaki itu mengulas senyum sambil membatin. Gue sayang sama lo Ra. Kapan lo bisa menyadari hal itu? BERSAMBUNG...!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN