Sinar mentari pagi datang menyapa, suara nyanyian burung-burung pun kian mulai terdengar saling bersahutan. Dara menggeliat, membuka mata sayunya dengan perlahan. Mencoba mengumpulkan nyawa yang di rasa masih tertinggal separuh di alam mimpi.
Kedua netra indahnya melirik ke arah jam beker di nakas yang ternyata sudah menunjukkan pukul 06.15. Dara baru ingat jika ternyata dia semalam lupa menyalakan alaram pada ponsel dan juga jamnya, karena terlalu lelah.
Dara sejenak merenggangkan otot-otot tubuhnya, lalu kemudian mencoba bangun dari ranjang empuknya. Berjalan perlahan memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sekitar 25 menit kemudian, gadis itu sudah berjalan keluar dari kamarnya untuk menuju ke sebuah meja makan, yang ternyata disana sudah ada Niko yang tengah duduk sendirian sambil memakan makanannya.
"loh, kak Niko semalam nggak pulang?" tanya Dara heran, sambil ikut duduk di dekat Niko untuk ikut makan bersamanya.
"gue semalam sama Jerry tidur disini." Jawabnya. Membuat Dara mengangguk faham.
Dara mengedarkan pandangannya mencari Ray yang belum terlihat sama sekali. "kak Ray mana?"
"tadi Ray udah berangkat duluan sama Jerry."
"hah? Jadi gue di tinggal gitu? Terus gue berangkat sekolahnya gimana kak?" Dara terlihat kebingungan.
"lo ngapain sekolah? Kaki lo kan lagi sakit."
Dara seperti sedang memikirkan sesuatu. "tunggu. Apa jangan-jangan kak Niko ngasih tau kak Ray soal kakiku?"
Niko mengangguk di sela-sela aktifitas makannya.
"jadi, lo ngasih tau kak Ray soal gue yang nyelinep keluar buat nemuin si kutil landak itu? Iya?"
Niko terkekeh geli sesaat, waktu melihat raut panik dari wajah Dara saat ini. "ya enggak lah Ra, gue cuman bilang ke kakak lo, kalau lo habis kepleset dI kamar mandi."
"bener, kakak nggak ngomong macam-macam sama kak Ray?" tanya Dara menyelidik.
"iya, beneran! Ngapain juga gue bohong." Jawab Niko dengan jujur.
Dara seolah bisa bernafas lega waktu mendengar jawaban langsung dari Niko tadi.
"tapi, gue hari ini mau tetep masuk sekolah." Ucap Dara, sambil menggigit roti miliknya.
"udah, nggak perlu masuk. Bolos sehari kan nggak papa."
"seharusnya kakak tuh ngajarinnya yang bener. ini malah ngajarinnya nyuruh gue bolos. Kalau kak Niko nggak mau nganterin gue ke sekolah. Gue bisa berangkat sendiri." Dara lantas melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya, lalu dengan cepat menenggak susunya hingga kandas. Berdiri, sambil melanjutkan memakan rotinya yang belum selesai tadi.
"loh, lo mau ke mana Ra?" tanya Niko heran, waktu melihat Dara yang terburu-buru.
"ke sekolah."
"naik apa?"
"taksi juga bisa kok."
"ya udah, biar gue yang anterin!" kata Niko menyerah dengan sikap keras kepala Dara saat ini.
Dara hanya tersenyum kemenangan, lalu kemudian menyandang tas miliknya dan berangkat ke sekolah bersama Niko.
*****
Daren, Farel, dan Mario, saat ini baru terlihat datang kesekolah dengan memarkir kendaraan mereka di parkiran sekolahnya.
Mario yang tengah melepas helm miliknya, seolah merasa penasaran dengan apa yang dilakukan Daren waktu semalam pergi berkencan dengan Dara. "gimana kencan lo semalam sama si Dara? Lancar nggak??"
Daren yang masih berada di atas motornya pun menjawab. "lancar lah. gue gitu, untuk urusan naklukin cewek kayak si Dara, kecil lah bagi gue." Ucap Daren penuh kesombongan.
"lo emang hebat bro. Salut gue sama lo." Puji Mario. Namun Farel hanya diam.
Ia hanya tengah memikirkan nasib motor sport kesayangannya ini, yang sebentar lagi akan menjadi milik Daren.
"tapi inget ya, janji kalian waktu itu ke gue?!" kata daren yang lagi-lagi mengingatkan soal taruhan yang sudah mereka buat.
"iya, gue inget Dare, ya elaah udah berapa kali lo ingetin hal itu ke kita?!" ucap Mario, dan Daren hanya nyengir sambil melepas jaketnya.
"tapi Dare, kalau lo tiba-tiba jatuh cinta sama Dara, gimana?" cetus Farel tiba-tiba.
Daren terdiam sesaat, seolah ingatan tentang semalam muncul kembali. Saat dirinya yang tengah merasakan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul saat ia berdekatan dengan Dara.
"nih anak di tanyain malah diem." Gumam farel, membuat Mario menyadarkan Daren dengan cara mengagetkannya.
Daren sesaat terkejut, dan kembali menormalkan ekspresinya cepat." Mana mungkin gue jatuh cinta sama tuh cewek? Dia itu bukan tipe gue."
Farel mengernyitkan dahinya heran. "bukan tipe lo? Yakin??"
Daren mengangguk cepat. "iya lah."
"padahal kalau menurut gue, si Dara kalau diliat-liat imut juga anaknya." Kata Farel menilai.
"itukan menurut lo. Kalau menurut gue sih biasa aja." Jawab Daren, yang entah berkata benar atau tidak.
"emang tipe lo yang kayak gimana?" tanya Mario penasaran.
"yang kayak Yola." Cetus Daren tanpa berfikir, bermaksud agar teman-temannya itu tidak banyak bertanya kepadanya.
kedua temannya saling memandang satu sama lain, lalu kemudian tertawa dengan kencangnya.
"kayak Yola?? Bwahahahahah..!!"
"kenapa kalian berdua malah ketawa sih?" tanya Daren dengan ekspresi tak mengerti.
Disela-sela tawanya yang masih belum terhenti, Farel pun menjawab. "yakin lo, Yola itu tipe lo? Anaknya aja kecentilan gitu."
"justru itu sensasinya. Kalau pacaran sama cewek yang kayak gitu, keuntungannya kan banyak." Jawab daren dengan entengnya.
"hahaha, itu sih elonya aja yang m***m bro." Sahut Mario.
"kayak elo nggak aja. Udah ah, buruan cabut ke kelas gih!" kata daren, yang kemudian berjalan meninggalkan parkiran tersebut menuju kelasnya. Diikuti oleh kedua temannya yang lain.
Ya, yola memang termasuk pacar Daren yang cukup lama menjalin hubungan dengannya. Bahkan hingga saat ini pun, mereka berdua masih dalam status berpacaran.
Bisa di bilang, Yola sama sekali tidak peduli dengan sikap playboy yang dimiliki oleh Daren, yang terpenting baginya adalah, dia bisa tetap berdekatan, bermanja setiap waktu bersama lelaki yang selama ini menjadi idola disekolahnya, tanpa memperdulikan cewek-cewek lain yang juga berstatus sebagai pacar Daren juga.
Karena Yola tau, jika Daren sama sekali tidak memiliki perasaan khusus kepada mereka semua, dan hanya menjadikan mereka semua sebagai mainan, yang jika bosan ataupun merepotkannya, akan di buang begitu saja.
Tapi, walaupun begitu.. Yola juga sangat tau, jika dimata Daren, dirinya juga sama seperti cewek-cewek lain pada umumnya.
Itulah yang membuat Yola menahan diri, untuk tidak menuntut apapun kepada Daren dengan mencemburui para wanita yang mengelilingiya. Agar dia bisa bertahan lama di samping Daren.
Namun satu hal yang Daren tidak tahu, jika Yola bisa memberinya masalah suatu saat nanti.
*****
"Dara, gimana acara kencannya semalam? Sukses?" chaca dengan cepat menghampiri Dara yang tengah terlihat berjalan di koridor sendirian menuju kelasnya.
"biasa aja. Malah gara-gara dia, kaki gue jadi luka kayak gini." Dara menunjukkan luka di kakinya.
"kok bisa Ra?"
"iya, soalnya semalam kan gue keluar diem-diem lewat balkon kamar gue makek kain yang udah gue bentuk sedemikian rupa jadi tali, terus abis itu gue jatuh deh. Mana sakit banget lagi." Kata Dara menjelaskan, dengan langkah kaki tertatih menuju kelasnya.
"terus, kenapa sekarang lo malah masuk sekolah?"
"nggak papa, lagian kan gue masih bisa jalan juga."
"iya ngerti, tapi kan lebih baik lo istirahat sehari dulu di rumah."
Dara menoleh ke arah Chaca yang memang terlihat tengah mengkhawatirkannya itu. "Cha, tenang aja ya, gue nggak papa kok. Lo nggak perlu kawatir."
"emm... tapi Ra, lo mau janji kan ke gue, kalau lo nggak bakal jatuh cinta sama Daren beneran?"
"kenapa lo ngomong kayak gitu, Cha?" Dara menghentikan langkah kakinya dengan kembali menoleh ke arah sahabatnya. "lo nggak percaya sama gue?"
"bukan gitu Ra, ya.. lo tau sendiri kan gimana pesona Daren buat memikat hati para cewek-cewek di sekolah ini. Ya, gue cuman takut aja kalau lo jatuh cinta beneran sama Daren nantinya." Ucap Chaca menunduk, sambil memainkan ujung jarinya.
Dara mengusap punggung sahabatnya. "tenang aja, gue nggak bakal jatuh cinta sama dia. Lo percaya kan sama gue?"
Chaca mengangguk sambil tersenyum, lalu kemudian berkata "gue percaya sama lo."
ya, seharusnya memang seperti ini. Gue nggak boleh sampai jatuh cinta sama dia. Nggak, nggak boleh!! Batin Dara meyakinkan dirinya sendiri, dengan langkah kaki yang mulai berjalan kembali menuju kelasnya.
Saat mereka sudah sampai di kelas, Dara lagi-lagi melihat pemandangan yang begitu mengganggunya. Ya, siapa lagi kalau bukan Daren.
Lelaki itu lagi-lagi tengah bermesraan bersama seorang perempuan yang berbeda di dalam kelasnya. Membuat Dara kian jengah melihat tingkah playboy yang dimiliki Daren selama ini.
Tuh cowok nggak tau malu apa gimana sih? Bisa-bisanya dia pelukan kayak gitu dalam kelas. Tuh cewek juga keganjenan banget. Dasar!! batin Dara kesal.
"Cha, lo tau nggak tuh cewek siapa?" tanya Dara sedikit berbisik, sambil menaruh tas miliknya diatas meja.
"namanya Yola, anak ips juga. dan yang gue denger sih, dia termasuk pacarnya Daren yang cukup lama menjalin hubungan sama dia. Bahkan sampai sekarang mereka berdua masih pacaran." Kata Chaca memberitahu.
"kok lo bisa tau??"
"gue taunya juga baru-baru ini Ra. Emang ya, si daren tuh ngeselin banget. Gue heran deh, kenapa gue bisa suka sama cowok yang modelnya kayak begitu." Chaca menggerutu sambil duduk di tempat duduk miliknya.
"baru nyadar buk?" sindir Dara, membuat Chaca mencebikkan bibirnya.
Pada saat mereka berdua tengah asik mengobrol, tiba-tiba cewek yang tadinya bersama Daren datang menghampiri mereka berdua. "haii..!" sapanya, membuat Dara dan Chaca kebingungan.
"iya?" sahut Dara, setelah ia dan Chaca saling berpandangan sesaat.
Tiba-tiba, gadis itu mengulurkan tangannya ke arah Dara sambil tersenyum. "kenalin, nama gue Yola. Pacarnya Daren."
Dengan ragu, Dara menyambut uluran tangan gadis di depannya itu, lalu kemudian ikut tersenyum. "gue Dara, pacarnya si kutil landak juga." Cetus Dara mengenalkan dirinya, membuat Yola mengernyitkan dahi tak mengerti.
"hah? Kutil landak??"
"eh, maksud gue, Daren." Koreksi Dara, lalu kemudian nyengir tanpa dosa.
"oh.."
Yola memperhatikan penampilan Dara dengan seksama, lalu kemudian kembali bertanya "udah lama lo pacaran sama Daren?" tanya yola menyelidik.
"baru aja tuh, kenapa emang?"
"apa lo tau, kalau Daren itu ceweknya banyak?" tanya Yola, tanpa menjawab pertanyaan Dara sebelumnya, sambil menyilangkan tangan di bawah d**a.
"gue tau kok." Jawab Dara cuek, lalu tak lama setelah itu, terdengar bel masuk sekolah berbunyi. "udah bel tuh!! Kalau nggak ada hal penting lain yang lo tanyain ke gue, mending lo buruan balik deh ke kelas lo." Sinis Dara mengusirnya.
Membuat Yola mendengus kesal, lalu kemudian pergi meninggalkan kelas Dara begitu saja.
"maksudnya apa sih tuh cewek?? Dateng-dateng main introgasi gue kayak gitu. Nggak penting banget." Kesal dara mengomel sendiri.
"kalau menurut gue, dia kayak gitu biar elo putus sama Daren, Ra."
"lah kenapa kayak gitu?"
Chaca mengedikkan kedua bahunya. "gue juga nggak tau. Itu sih cuman pendapat gue aja."
"tapi kan, dia juga tau kalau----"
"selamat pagi anak-anak!" sapa seorang guru yang baru memasuki kelas tersebut, membuat Dara menghentikan ucapannya.
"pagi bu...!!" jawab para murid dengan serentak.
Lalu tak lama setelah itu, guru tersebut mulai menjelaskan materi yang akan ia bahas di kelas tersebut, para murid pun mendengarkannya dengan seksama.
Daren yang sedari tadi memperhatikan Yola berbicara dengan Dara, sedikit membuatnya ingin tau, sebenarnya apa yang Yola bicarakan tadi dengan Dara?
Diam-diam, daren mengambil ponsel di sakunya, lalu mulai mengirimkan pesan pada Dara, di tengah mata pelajaran yang sedang berlangsung.
Daren: Ra, tadi Yola ngomong apa aja sama lo?
Lelaki itu mengetikkan pesan tersebut di bawah mejanya. Mario yang mengetahui hal itu, kemudian menegur sambil berbisik. "sstt, ketahuan guru, baru tau rasa lo!"
"nggak bakal, kalau lo nggak berisik!!" jawab Daren sambil berbisik juga.
Sementara Dara yang merasa jika ponselnya bergetar, lantas membukanya di bawah meja. Gadis itu sesaat menoleh ke arah Daren yang saat ini juga tengah menatapnya.
Tanpa membalas pesan dari Daren terlebih dahulu, Dara begitu saja mematikan ponselnya, lalu kembali memasukkan ke dalam sakunya.
Nih cowok ngapain sih? Nggak penting banget nanyain begituan. Nggak tau apa kalau sekarang lagi pelajaran. Dasar kutil landak!! Batin Dara kesal, lalu kembali memperhatikan pelajaran yang diterangkan oleh gurunya dengan seksama.
Daren yang melihat jika Dara sama sekali tak menghiraukannya, tentu saja di buat kesal oleh sikap Dara tersebut. Resek banget sih tu cewek, cuman nanya gitu doang malah nggak bales. Awas aja lo istirahat entar, gue bakal ngasih lo pelajaran mengenai gimana caranya jadi pacar yang baik buat gue! Batin Daren dengan senyum penuh arti.
BERSAMBUNG.....!!
Jangan lupa tekan love dan komennya ya...