17

1950 Kata
"Ra, ke kantin yuk!" kata Chaca mengajak Dara. "lo duluan aja deh, gue mau ke toilet bentar." "oh, ya udah kalau gitu. Tapi habis itu lo samperin gue ke kantin ya?" "siip." Dara menjawab dengan mengacungkan jempolnya ke arah Chaca, setelah itu ia langsung bergegas keluar menuju toilet. Setelah selesai membuang air kecil, Dara pun keluar dari dalam toilet tersebut dengan bercermin sesaat di depan kaca yang tersedia di sana. Mengecek penampilannya sejenak, lalu kemudian berbalik sambil mengaduh, saat kepalanya membentur tubuh seseorang. "aduh.." Dara mengusap keningnya sesaat. Menatap ke arah seseorang yang tiba-tiba berdiri didepannya. Betapa terkejutnya Dara, saat ia melihat siapa lelaki tersebut. "elo!! Lo ngapain disini?? Ini kan toilet cewek." "ya, gue tau kalau ini toilet cewek." Jawab Daren dengan santainya. "lah terus, lo ngapain disini?? Mau ngintipin gue??" tanya dara mulai kesal. "tadinya sih maunya gitu, tapi lo udah keburu keluar. Sayang banget." Kata daren memasang wajah kecewa dengan menggeleng pelan kepalanya. Dara membulatkan kedua bola matanya, "gila ya lo?! Cepetan minggir!! Gue mau keluar!" ucap Dara, dengan tangannya yang sudah memaksa tubuh Daren supaya menyingkir. Namun sialnya, lelaki itu tetap tak bergeming. Dan justru tetap berdiri memandang lurus ke arah Dara dengan ekspresi yang sulit di artikan. "gue bilang minggir!!" sekali lagi, Dara memaksa tubuh lelaki di depannya itu, supaya segera menyingkir, namun yang terjadi tetap sama. Daren sama sekali tak mau bergerak sedikitpun. Dara menghela napas lelah. "mau lo apa sih? Jangan macam-macam sama gue, atau gue akan teriak sekencang-kencangnya." Ancam Dara pada Daren. Namun sayangnya Daren justru terlihat tidak takut sedikitpun dengan ancaman Dara "coba aja teriak, gue nggak akan segan-segan untuk nutup mulut lo itu pakek bibir gue" kata Daren dengan santainya, lalu kemudian menyeringai di depan Dara. Membuat gadis itu begidik ngeri melihatnya. Dasar cowok nyebelin, sebenarnya apa sih maunya? Batin Dara kesal. Namun tak lama setelah itu, dia mulai meredam kekesalannya itu, dengan kembali menetralkan emosinya saat ini. "mau lo apa sih sebenarnya?" tanya Dara berusaha setenang mungkin, walaupun ia tak memungkiri jika saat ini dirinya benar-benar merasa ketakutan dengan sikap Daren yang seperti ini. Daren mendekati tubuh Dara dan menyudutkannya ke dinding, dengan tangan kiri yang ia gunakan untuk mengunci tubuh Dara. Membuat jantung Dara kembali berdetak tak karuan, persis seperti yang ia rasakan semalam, waktu dia pergi keluar ke kafe bersama Daren. "gue nggak suka kalau lo nyuekin pesan dari gue kayak tadi. Ngerti?!" Daren berkata dengan menatap lekat ke arah Dara. "apaan sih, cuman masalah gitu doang juga. Lo nggak tau, kalau tadi itu lagi pelajaran?!" "tetep aja gue nggak suka!!" ucap daren dengan nada tegasnya. "denger ya, sebagai pacar yang baik, elo itu harus nurut apa kata gue barusan." "nurut?? Lo ngomong apaan sih, gue nggak ngerti." "ya, lo itu kan udah jadi pacar gue, jadi lo harus bersikap selayaknya pacar yang baik buat gue." "tunggu tunggu, jadi maksud lo gue harus bersikap kayak pacar lo yang namanya Yola itu, iya??" Tanpa menjawab pertanyaan Dara barusan, Daren justru balik bertanya pada Dara. "jadi lo udah tau, kalau Yola itu cewek gue??" "iya lah, dia sendiri yang bilang ke gue tadi pagi." Jawab dara dengan jutek. Membuat Daren memalingkan wajahnya ke samping, sambil mendengus. Sementara Dara yang sudah merasa sangat lapar itu, akhirnya mencoba lepas dari Daren, melalui sisi yang dimana tidak ada tangan Daren yang menghalangi. Namun sayangnya, lelaki itu dengan cepat mengulurkan tangannya ke dinding, agar Dara tidak bisa kabur darinya. Dara menggeram kesal, menurutnya Daren saat ini benar-benar keterlaluan. "ck, lo kenapa sih? Gue tuh laper tau! Minggirin tangan lo!" "enggak mau!" jawab Daren selayaknya anak kecil. "jadi maksud lo, lo mau kayak gini terus sampai entar pulang sekolah. Iya?? Gila ya lo!!" ketus Dara, yang tak mengerti lagi harus menghadapi sikap aneh Daren saat ini seperti apa? "gue cuman mau lo itu bersikap manis di depan gue kayak cewek-cewek gue yang lainnya." "hah, enak banget lo ngomong. Jangan samakan gue sama cewek-cewek cabe koleksi lo itu!! Gue nggak sama kayak mereka. Ngerti! Sekarang minggirin tangan lo! Gue udah laper, lo mau gue pingsan disini?" "gue bakal nyingkirin tangan gue, kalau lo meminta dengan lembut." Dara memutar bola matanya jengah, waktu mendengar ucapan Daren barusan. "kalau sama lo, gue nggak bisa ngomong lembut." "kenapa gitu??" tanya Daren tak mengerti. "takdir! Udah cepetan minggir, Daren!!" ucap Dara, yang sudah mulai merasa lelah berdebat dengan lelaki menyebalkan yang ada di depannya saat ini. "nggak akan, sebelum lo meminta dengan lembut selayaknya seorang pacar yang baik sama gue." Dara kian semakin geram mendengar jawaban Daren barusan. "ya udah okey!!" kata Dara menyerah. Menurutnya, berdebat dengan lelaki seperti Daren sama sekali tidak akan pernah ada habisnya. Yang ada hanya akan membuatnya kian semkin naik darah. Gadis itu mnghela napas panjang berulang kali, berusaha menetralkan emosi yang sempat meluap tadi, dan juga berusaha menyiapkan diri untuk kali pertamanya mengeluarkan kalimat yang ia rasa cukup menjijikkan yang akan ia katakan pada Daren. "cepetan dong! Lama banget!" cetus Daren tidak sabar. "isshh!! Cerewet banget!" sahut Dara, lalu tidak lama kemudian, ekspresi Dara berubah manis. Dengan senyum manis yang menghiasi bibir mungilnya. Membuat gadis imut itu terlihat kian semakin cantik. "sayang.. aku laper, minggirin tangan kamu ya, aku mau ke kantin." Ucap Dara dengan memasang wajah imutnya di depan Daren. Membuat lelaki itu memuji kecantikan Dara dalam hati. Ya tuhaann.. kenapa Dara kalau kayak gini manis banget?! Dara yang melihat Daren tengah menatapnya tanpa berkedip itupun, memanfaatkan hal ini untuk kabur, dengan cara menginjak kaki Daren dengan kencang menggunakan sebelah kakinya yang tidak terluka, lalu segera bergegas membuka pintu dan berlari pergi meninggalkan Daren yang tengah kesakitan begitu saja. Sementara Daren justru memekik kesakitan di bagian kakinya, dengan mulut yang sudah mengabsen satu persatu nama hewan dengan tangan yang sudah memegangi kakinya yang berdenyut nyeri, akibat ulah Dara tersebut. "dasar cewek s***p!! Gimana bisa gue muji dia manis, kalau sikapnya aja ngeselin kayak gini!" gerutu Daren, yang kembali merasa kesal. ***** "huft, dasar kutil landak ngeselin!! Seenaknya banget dia ngatur-ngatur gue. gara-gara dia, jam makan gue jadi berkurang kan." Dara menggerutu, dengan langkah kaki berjalan menuju kantin. Saat sudah sampai kantin, dia mengedarkan pandangannya mencari sosok temannya Chaca. "Dara! Disini!" teriak Chaca melambai ke arah Dara yang terlihat celingukan. Dara dengan cepat menghampiri meja Chaca, dengan tetap memasang wajah badmoodnya. "muka lo kenapa asem gitu?" tanya Chaca, saat Dara sudah duduk di depannya. "nggak papa." Jawab Dara jutek, sambil begitu saja meminum minuman milik Chaca yang tinggal separuh, dan menenggaknya hingga habis tak bersisa. "ishh, Dara. Itu kan minuman gue, kok lo habisin sih, Pesen sendiri sana!!" protes Chaca tak terima waktu melihat gelasnya sudah kosong tak berisi. Dara menaruh gelas yang sudah kosong tadi di atas meja, sambil mengusap sisa minuman di bibir menggunakan punggung tangannya. "sorry Cha, gue aus banget. Lo pesen lagi gih, entar biar gue yang bayar." Ujar Dara, dengan nyengir menampilkan raut watadosnya. "ck, ngeselin lo!" cetus Chaca sambil berdiri, hendak memesan lagi minumannya, namun tak lama kemudian Dara memanggilnya. "eh Cha, sekalian pesenin makanan buat gue ya, laper banget nih perut gue." "elah, kenapa nggak mesen sendiri sih?!" "lo nggak liat nih? Kaki gue cakit anget, enut-enut..!!" ucap Dara memasang wajah mendramatisir, dengan ucapan yang ia buat layaknya seorang anak kecil. Dan hal itu sukses membuat Chaca menuruti permintaannya barusan. "hatdeeh, iya deh iya. Gue pesenin!" ucapnya, lalu kemudian berbalik pergi untuk memesankan makanan untuk Dara. Tak lama kemudian, Chaca sudah kembali dengan membawa sepiring makanan. Dan juga dua gelas minuman untuknya dan juga untuk Dara. "nih, pesenan lo. Buruan makan gih. Entar keburu masuk baru tau rasa lo." Ucap Chaca mengingatkan. Saat Dara hendak mengambil sendok untuk memakan mekanannya, piring tersebut tiba-tiba ada yang menariknya dari samping dengan cepat. Dan memakannya begitu saja. Dara tentu saja tak terima dengan perlakuan orang tersebut yang lagi-lagi bersikap seenaknya sendiri seperti ini. "elo lagi, lo lagi! Kenapa lo selalu ngerecokin gue sih? Balikin makanan gue!" Namun lelaki itu sama sekali tak perduli, dan justru tetap memakan makanan itu dengan rakus, tanpa memperdulikan Dara yang sudah mengomel meminta miliknya dikembalikan. Sementara Chaca, hanya memandang aneh dan bingung ke arah mereka berdua. "hoi, kutil landak!! Gue bilang balikin makanan gue!" lagi, Dara kali ini menaikkan nada bicaranya, supaya lelaki itu mendengarnya. Daren menoleh ke arah Dara sesaat, lalu kemudian kembali menatap makanan tersebut dengan berpura-pura batuk, dan membuat makanan yang tengah berada di dalam mulutnya, menyembur keluar mengenai piring tersebut. Tanpa rasa bersalah, dan seperti tidak terjadi apa-apa, Daren memberikan piring tersebut kepada Dara. "tuh, habisin!" ucap lelaki tersebut, membuat Dara menggeram kesal. "jorok banget sih. Lo fikir gue mau gitu, makan makanan bekas lo?!" "lah, gimana sih. Kan tadi lo yang minta." Ucap Daren dengan tanpa merasa bersalah sedikitpun. Menurutnya, mengganggu Dara seperti ini adalah sebuah hal baru yang entah kenapa sangat menyenangkan untuknya. "iya, tapi kalau-aarrgghh! Udah lah. capek gue ngomong sama kutil landak kayak lo!" ucap Dara memilih menyerah berdebat dengan Daren, lalu memilih pergi bersama Chaca. Namun, sebelum gadis itu benar-benar pergi, Daren sudah lebih dulu menahan tangan Dara, agar dia tidak cepat pergi meninggalkannya. "kan gue udah pernah bilang, jangan lagi manggil gue kutil landak. Kita ini kan udah resmi pacaran. Masak hal kayak gini aja, mesti gue ingetin ratusan kali sih?!" ucap Daren dengan tetap duduk santai di kursinya sedari tadi. "elo--" Dara menahan kekesalannya, dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Cha.." Daren memanggil Chaca, membuatnya tersentak kaget. "hah, i-iya??" Chaca menyahut gugup. Bagaimanapun Daren pernah menjadi seorang yang sangat spesial dalam hatinya. Walaupun mereka berdua hanya menjalin hubungan dengan singkat, tetap saja Chaca masih belum bisa bersikap biasa jika berdekatan dengan Daren di jarak sedekat ini. Daren mengeluarkan ponsel dari saku celananya. "lo pengen liat foto langkah di ponsel gue nggak?" tawar Daren, membuat Dara terperangah. Gadis itu sangat tau apa maksud dari ucapan Daren barusan. Dia sangat yakin sekali, jika Daren pasti akan menunjukkan foto mereka berdua, yang tengah dalam kondisi tak lazim itu. Dan ia juga yakin, jika lelaki itu akan menambahkan cerita yang dilebih-lebihkan, hingga membuat si pendengar menjadi salah faham. Ya... setidaknya itulah yang ada di fikiran Dara saat ini, mengenai Daren. "nggak perlu liat Cha, nggak penting!" cegah Dara yang saat ini sudah sangat panik. "lo apaan sih, ngeselin banget! Mau lo apa sih sebenarnya?" "mau gue, lo tetep disini. Makan bareng gue sekarang juga, BERDUA!!" "tapi, gue---" "oh, atau lo mau kalau gue-" Daren menghentikan kalimatnya, dengan tangan memainkan ponselnya didepan Dara. Membuat gadis itu dengan terpaksa mengiyakan ucapan lelaki menyebalkan itu. "iya udah, iya." Dara menjawab cepat, lalu kemudian melirik ke arah Chaca dengan perasaan tidak enak. Chaca yang mengerti, mencoba menenangkan Dara, dan bilang kalau dia tidak apa-apa. Setelah itu, Chaca segera berpamitan pergi ke kelasnya, meninggalkan mereka berdua. Setelah kepergian Chaca, Daren menyuruh Dara untuk duduk. Lalu kemudian lelaki itu menyuruh salah seorang murid memesakan makanan untuknya, dan juga untuk Dara. Saat makanan sudah datang, Daren langsung kembali makan dengan lahapnya, sementara Dara hanya menatap kesal ke arah piring didepannya, tanpa ingin memakannya sedikitpun. Daren yang mengetahui hal itu, tentu saja tidak suka. Ia lantas menyuruh Dara supaya segera memakan makanan tersebut. "ngapain bengong? Buruan makan! Atau lo pengen gue yang nyuapin, hmm?" ucap Daren. Dengan sebuah sendok yang sudah berada tepat didepan mulut Dara. "apaan sih, gue bisa makan sendiri!" ketus Dara dengan kesalnya. Padahal baru semalam gadis itu memuji Daren mengenai sikap perhatiannya dan juga ketampanannya. Tapi lihat sekarang? Dara sudah kembali di buat kesal oleh sikap seenaknya yang dimiliki oleh Daren. Dasar cowok nyebelin! Dara menjerit kesal dalam hatinya. Entah kenapa, gue ngerasa kalau gangguin lo kayak gini, benar-benar menyenangkan buat gue, sehari tanpa gangguin lo, rasanya begitu hambar. Dara, apa yang sebenarnya udah lo lakuin sama gue? Kenapa gue jadi gini? Batin Daren, dengan menatap lekat Dara yang tengah memakan makanannya. BERSAMBUNG..!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN