18

1260 Kata
sementara itu ditempat lain, Yola menatap ke arah Daren dan Dara yang tengah terlihat makan berdua, dengan tatapan heran. Namun tak lama kemudian gadis itu memutuskan untuk datang mendekat menghampiri mereka dengan membawa makanan miliknya. "sayang, aku boleh gabung kan? Boleh dong pasti?!" tanpa menunggu persetujuan dari mereka, gadis itu sudah begitu saja duduk di samping Daren dengan sikap centilnya. Daren hanya bersikap biasa. Namun Dara cukup terganggu dengan kedatangan gadis itu. Apalagi, Dara juga sangat tidak menyukai sikap yola yang sangat kecentilan pada Daren. "sayang, kok makannya belepotan gitu sih, ya ampun.." tangan Yola mengambil sehelai tisu, lalu mengusapkan ke bibir Daren. Dih, dasar cabe kurang belaian! Batin Dara berucap sinis, lalu kemudian kembali memakan makanannya begitu saja, berusaha tidak memperdulikan kehadiran Yola di dekatnya. Daren menatap ke arah Yola penuh tanya. "Yol, lo ngapain ke sini sih?" tanya Daren menunjukkan rasa tak sukanya. "loh, emangnya kenapa? Kamu nggak suka ya kalau aku ikut makan disini bareng pacar kamu yang lainnya? Aku ini kan juga pacar kamu beb." Ucap Yola mengingatkan dengan gaya manja seperti biasanya. "iya, ngerti. Tapi kan nggak seharusnya lo ikut makan disini bareng gue. Lo kan tau, kalau gue nggak suka di ganggu saat lagi sama cewek gue yang lainnya." "sekali-sekali kan nggak papa yank." Tiba-tiba, Yola merengkuh lengan Daren dengan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu. "entar malam jalan yuk! Janji deh entar malam aku akan ngasih kamu kiss yang lebih hebat dari biasanya. Aku udah kangen sama bibir kamu." Yola berucap manja, dengan jari telunjuk yang sudah ia tempelkan di bibir Daren. Membuat Dara tersedak makanannya, saat mendengar ucapan Yola yang sangat tidak tau malu itu. "uhuk uhukk..!" Dara memukul-mukul dadanya pelan, dengan satu tangan meraih gelas minumannya. Namun, pada saat Dara akan mengambil gelasnya, Yola sudah terlebih dulu mengambilnya dan menenggaknya begitu saja. Membuat Dara menatap perempuan itu tak percaya, dengan sikapnya saat ini. Daren yang melihat hal itu, lantas dibuat kesal sesaat, lalu kemudian ia memberikan minuman miliknya kepada Dara, agar gadis itu merasa baikan. Dara tentu saja menerima minuman tersebut dan menenggaknya hingga kandas. "gimana? Udah merasa lebih baik?" tanya Daren menayakan kondisi Dara saat ini. Dara mengangguk cepat, "thanks." Lalu setelah itu, ia menatap ke arah Yola dengan kesal. "kalau lo emang nggak suka sama gue, ngomong aja. Gue bisa pergi sekarang juga!" "ya udah sih, pergi aja sana! Itu lebih bagus. Hush hushh..!" Yola mengibas-ngibaskan tangannya mengusir Dara. Dara mendengus kesal, lalu kemudian berdiri beranjak pergi meninggalkan Yola dan Daren begitu saja. Bahkan Dara sama sekali tidak memperdulikan teriakan Daren yang terus menerus memanggil-manggil namanya. "lo kenapa sih Yol? Nggak biasanya sikap lo jadi kayak gini." Tanya Daren dengan raut wajah terlihat kesal. "emang sikapku kenapa? Perasaan biasa-biasa aja." Yola berbicara tanpa merasa bersalah sedikitpun. Daren berdiri, menatap nyalang ke arah Yola. "denger ya Yol, gue nggak suka dengan sikap lo yang kayak gini. Gue nggak suka kalau lo ngeganggu waktu gue dengan pacar gue yang lainnya, apalagi waktu sama Dara. Gue nggak suka. Jadi gue harap, lo ubah sikap lo itu, kalau lo masih pengen bertahan jadi cewek gue!!" Setelah berbicara seperti itu, Daren pergi meninggalkan Yola begitu saja. Yola sangat merasa kesal dengan sikap Daren, yang seolah tengah membela Dara, dan memilih mengabaikannya. Padahal menurutnya, selama ini Daren selalu menomer satukan dia, dibanding dengan pacar-pacarnya yang lain. Ini semua gara-gara cewek s****n itu. Awas aja lo, gue nggak bakal ngebiarin Daren terlalu deket sama lo. Cuman gue yang berhak ngedapetin perhatian Daren. Batin Yola dengan kebencian yang begitu besar terhadap Dara. ***** Daren melangkahkan kakinya menuju kelas, berharap jika dirinya akan bertemu dengan Dara di sana. Namun sayangnya, didalam kelas tersebut sama sekali tidak ada Dara. Daren mencoba bertanya pada Chaca yang tengah duduk sendirian di bangkunya. "Cha, lo tau nggak Dara di mana?" "loh, bukannya tadi dia lagi di kantin sama lo?" "iya, tapi dia tiba-tiba pergi gitu aja, terus-" belum sempat Daren melanjutkan perkataannya, orang yang dibicarakan memasuki kelas tersebut. "Ra, lo habis dari mana aja sih? Kenapa lo tadi main pergi gitu aja hmm?" "gue nggak mau ganggu waktu lo sama Yola." Ketus Dara menjawab. Daren tersenyum penuh arti. "kenapa? Lo cemburu ya, kalau gue deket-deket sama Yola?" Dara yang tengah duduk, menatap Daren dengan mendongak ke arahnya, yang saat ini berdiri di sampingnya. "cemburu??" Dara terenyum sinis. "enggak lah, nggak penting banget!" "yakin nih nggak cemburu?" tanya Daren menggoda, membuat Dara menghela napas lelah. "iya, gue nggak cemburu!! Ngeselin banget sih! Udah sana, pindah ke tempat duduk lo. Jangan gangguin gue mulu!" Dara mendorong tubuh Daren, mengusirnya. "woi! Dare, buruan sini! Pacaran mulu lo dari tadi." Panggil Mario. Dengan setengah berteriak, dan Daren pun datang menghampirinya. Setelah kepergian Daren, Chaca bertanya pada Dara. "Ra, kayaknya si daren udah mulai suka sama lo." "sok tau banget lo." "ishh, di kasih tau juga." "elo tuh nggak cocok jadi peramal, ngerti?!" "tapi gue yakin, tebakan gue tuh nggak salah. Ngeliat gimana Daren memperlakukan elo waktu di kantin tadi, gue yakin, kalau dia suka sama lo." Dara terdiam sesaat. Berkutat dengan fikiran di kepalanya tentang lelaki itu. Ia hanya takut jika ternyata dirinya lah yang saat ini tengah terperangkap cintanya Daren. Apalagi waktu di kantin tadi, ada perasaan aneh yang seolah tengah menusuk-nusuk jantungnya, saat ia melihat Yola yang bersikap manja pada Daren. ***** Jam pulang sekolah. Seperti biasa, Dara berjalan keluar kelas bersama temannya Chaca. Mereka berdua terlihat asyik mengobrol kesana kemari dengan sesekali diselingi tawa yang terukir indah dari bibir mereka berdua. Daren yang melihat jika Dara sudah lebih dulu keluar dari kelasnya, membuatnya bergegas untuk mengejarnya. "Dara, lo mau kemana?" Daren bertanya, dengan menahan lengan Dara. Membuat langkah kaki gadis itu terhenti. "pulang lah. emang mau ke mana lagi?!" "jangan pulang dulu ya, pleasee..!" pinta daren memohon. "lah, emang kenapa?" tanya Dara bingung. "hari ini gue ada latihan basket sama anak-anak. Tungguin gue ya, lo mau kan? Nanti biar gue yang anterin lo pulang." Daren berkata dengan memasang wajah seriusnya. Dara melepas genggaman tangan Daren. "sorry, gue nggak bisa." "kenapa?" ada raut kecewa di wajah Daren, waktu Dara menolak permintaannya. "kakak gue pasti nggak ngizinin." "lo kan bisa nyari alasan buat kerja kelompok." "kenapa gue harus ngelakuin hal itu?" Dara bertanya heran, dengan menatap ke arah Daren lekat. Membuat Daren bingung harus mencari alasan seperti apa. Hingga akhirnya, Daren menjawab. "karena lo pacar gue. Dan sebagai pacar yang baik, lo harus mau buat nungguin gue sampai selesai main basket." Jawab Daren dengan balik menatap lekat ke arah Dara. Dara menghela napas sesaat. Lalu kemudian menyuruh temannya Chaca, untuk pulang terlebih dahulu. Karena ia tidak ingin jika nanti supir yang ditugaskan untuk menjemput Chaca menunggunya lama. Lagipula, Dara juga ingin berbicara empat mata dengan Daren, tanpa ingin diketahui oleh sahabatnya. "gini ya, biar gue tegasin ke elo. Status gue emang pacar lo, tapi hati gue bukan milik lo! Lo tau kenapa??" tanya Dara, sementara Daren hanya diam mendengarkan. "karena cowok playboy kayak elo, sama sekali bukan tipe gue! Jadi lo nggak berhak buat ngatur gue ini itu. Ngerti?!" Setelah berkata seperti itu, Dara berbalik pergi melangkahkan kakinya meninggalkan Daren yang masih terdiam mematung. "kalau gitu, gue akan putusin semua pacar-pacar gue demi lo, Dara." ucap Daren, mengeraskan nada bicaranya, membuat langkah kaki Dara terhenti. Daren berjalan mendekat menghampiri Dara yang masih tetap memunggunginya. "Ra, gue rasa, gue udah jatuh cinta sama lo." Dara bisa merasakan hangat dari hembusan napas Daren, saat dia mengucapkan kalimat tersebut, tepat di dekat daun telinganya, yang sesaat sanggup membuatnya melayang tinggi. Karena memang baru kali ini, Dara mendapat pernyataan langsung dari seorang lelaki. Apalagi lelaki itu adalah Daren. BERSAMBUNG...!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN