Daren berjalan mendekat menghampiri Dara yang masih tetap memunggunginya. "Ra, gue rasa, gue udah jatuh cinta sama lo."
Dara bisa merasakan hangat dari hembusan napas Daren, saat dia mengucapkan kalimat tersebut, tepat di dekat daun telinganya, yang sesaat sanggup membuatnya melayang tinggi. Karena memang baru kali ini, Dara mendapat pernyataan langsung dari seorang lelaki.
Apalagi lelaki itu adalah Daren.
Namun tak lama kemudian, Dara kembali berusaha menormalkan perasaannya. Gadis itu tidak ingin terlalu hanyut dan tertipu oleh perkataan lelaki itu, lelaki yang selama ini menyandang predikat playboy di sekolahnya.
"rayuan lo itu, sama sekali nggak mempan buat gue!" ketus Dara, lalu kemudian berjalan pergi meninggalkan Daren.
Daren terdiam mematung, saat ia mendengar jawaban yang terucap langsung dari bibir Dara.
Ia sama sekali tak menyangka, jika pernyataan cintanya akan ditolak seperti ini. Daren tersenyum hambar. "seharusnya gue tau, kalau lo nggak akan bisa dengan mudah percaya sama gue." Daren bergumam pelan, dengan pandangan mata menatap lurus punggung Dara yang terlihat semakin menjauh.
*****
Dara terdiam, duduk di depan pintu gerbang menunggu kakaknya datang menjemput, dengan segala macam fikiran berkecamuk di kepalanya.
Gadis itu tertunduk lesu, kata-kata Daren masih terngiang indah memenuhi isi kepalanya. Dan sialnya, gadis itu sama sekali tidak bisa menyingkirkan bayangan lelaki itu di benaknya.
Semakin ia mencoba menyingkirkannya, justru hal itu kian semakin menyiksanya.
Gue kenapa? Batin Dara tak mengerti, dengan memijit pelan kedua ujung pelipisnya menggunakan tangan kanannya.
Seorang gadis berambut lurus sepunggung, dengan baju seragam super ketat serta rok sekolah yang ia pendekkan hingga diatas lutut, terlihat mendekat ke arah Dara yang masih duduk tetap pada posisinya.
Gadis itu berjalan dengan menatap tak suka ke arah Dara, dengan kedua tangan yang sudah di silangkan di bawah d**a, penuh keangkuhan.
Dara yang masih menunduk, tentu saja mendongakkan kepalanya ingin tau, saat ia melihat sepasang kaki yang sudah berhenti tepat di depannya, dengan jarak yang sangat dekat.
Kening Dara mengernyit heran dan penuh tanya, saat kedua netranya menatap Yola yang saat ini sudah memandang ke arahnya dengan sinis. "apa?" tanya Dara pada Yola.
Tanpa berniat berbasa-basi sama sekali, Yola pun mulai berucap. "jauhin Daren. Gue nggak suka lo deket-deket sama dia!" ucapnya memperingatkan.
"kenapa?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Dara.
"karena dia cowok gue! Dan gue nggak suka kalau lo kegatelan sama dia!"
"tapi kenapa? Dia kan juga cowok gue!" entah kenapa perkataan itu bisa begitu mudah terucap dari bibir mungilnya. Ia juga bingung. Dara hanya tidak suka melihat sikap Yola yang saat ini terlihat begitu sok di depannya.
Lagi pula, apa yang ia katakan memang benar kan? Kalau Dara memang termasuk salah satu yang menjadi pacar Daren Bagaskara.
"kalau gue bilang nggak suka, ya nggak suka!! Ngerti nggak sih?!" kesal Yola, dengan sedikit berteriak ke arah Dara.
Tapi Dara justru menanggapi ucapan Yola dengan jawaban cuek, yang justru membuat gadis itu kian semakin kesal. "nggak!" cetusnya enteng seolah tanpa beban.
Yola berdecak sinis, ternyata gadis didepannya ini benar-benar sanggup membuatnya dengan mudah tersulut emosi. "berani lo sama gue?" geramnya, menatap tajam Dara.
"kenapa juga, gue harus takut sama lo." Ucap Dara, yang saat ini juga mulai berdiri menyamai tubuh Yola, seolah menantangnya.
Kedua netra mereka saling beradu menatap tajam satu sama lain. Masing-masing dari keduanya terlihat sama sekali tidak mau mengalah sedikitpun. Hingga pada akhirnya, Yola memutus sepihak kedua netra mereka dengan mendorong kasar tubuh Dara, membuatnya jatuh tersungkur ke tanah dengan posisi duduk.
Membuat rok selutut yang ia kenakan saat ini menjadi kotor terkena tanah, karena memang gadis itu belum siap menerima kontak fisik dari Yola yang begitu tiba-tiba.
Dara mengumpat kesal, "sial."
Membuat Yola tersenyum sinis ke arah Dara penuh kemenangan. Yola membungkuk dengan satu tangan kanan yang menekan kuat kedua pipi Dara hingga mendongak ke arahnya. "sebaiknya lo turuti apa kata gue barusan, kalau lo nggak mau celaka!" ancamnya, berbarengan dengan terlepasnya tangannya dari pipi Dara.
Bahkan Dara bisa merasakan kedua pipinya yang saat ini terasa berdenyut nyeri. "lo ngancem gue? Lo fikir dengan mendengar anceman lo itu, gue bakalan takut gitu sama lo? Cih, lo salah besar!" ucap Dara, yang memang sama sekali tidak merasa takut sedikitpun terhadap Yola.
Lagi pula, buat apa juga ia takut sama Yola, mereka berdua kan sama-sama makan nasi, kalau si Yola udah beralih makan orang, baru deh Dara takut.
"elo----" geram yola, dengan satu tangannya yang sudah terangkat naik, hendak menampar Dara, namun belum sempat ia melakukannya, tangan Yola terhenti di udara, saat ia melihat seorang lelaki yang baru turun dari motor, sedikit berlari ke arah Dara, dan memanggil namanya.
"Ara!!"
Suara tersebut sontak saja membuat kedua gadis itu menoleh ke asal suara. Yola bisa melihat dengan jelas baju seragam lelaki itu tidak tertutup resleting jaket yang dikenakannya, sehingga membuatnya tau, dari sekolah mana dia berasal.
"urusan kita belum selesai! Gue akan terus ngawasin lo! Awas aja lo, kalau sampai lo masih tetep kegatelan sama cowok gue. Gue akan kasih lo pelajaran yang lebih dari pada ini!!" ancam Yola pada Dara yang masih terduduk di tanah. Untuk kesekian kalinya.
Lalu kemudian, Yola beranjak pergi meninggalkannya, dengan kembali memasuki sekolah tersebut. Melihat Daren yang saat ini sedang bermain basket bersama teman-temannya.
"Ra, lo nggak papa kan?" tanya lelaki tersbut saat sudah mendekat, dengan membantunya berdiri.
Dara menggeleng pelan. "nggak papa kok. Kakak tenang aja." Ucapnya, dengan tangan yang saat ini sudah membersihkan bagian rok kotornya, dengan cara menepuk-nepuknya.
Lelaki itu seolah tak percaya dengan jawaban Dara barusan. Ia lantas memeriksa kondisi tubuh Dara, dengan kedua tangan memegang bahu sambil memutar tubuh Dara, menelisik jika ada luka goresan di tubuhnya.
"kak, gue nggak papa!!" ulang Dara, karena kesal melihat kakaknya Ray yang seolah tak mempercayainya.
"dia tadi siapa Ra? Kenapa dia bersikap kasar sama lo? Apa jangan-jangan selama ini, lo sering di bully ya, waktu di sekolah??" Ray memberinya banyak pertanyaan penuh rasa khawatir.
"apaan sih, enggak kok." Jawab Dara yang mulai tidak suka jika kakaknya terlalu banyak bertanya seperti ini.
"terus, kenapa dia ngasarin lo tadi?" tanya Ray, yang masih saja ingin tau.
"cuman salah faham doang kak. Udah deh, nggak usah di perpanjang lagi. Lagian gue juga nggak papa kan?!"
"iya, tapi kalau gue tadi nggak dateng tepat waktu, gue yakin kalau lo pasti udah---"
Dara memotong ucapan Ray. "apaan sih kak. Gue juga bisa jaga diri kali. Udah ah, mending pulang sekarang aja. Kelamaan disini, bisa-bisa lo jadi wartawan dadakan gara-gara terus ngepo'in gue." Ucapnya, lalu menarik tangan kakaknya menuju motor yang terparkir di seberang jalan.
Ia hanya tidak mau jika kakaknya terus menerus menanyainya seperti tadi.
*****
Bukannya tadi itu, cowok dari SMA Tunas Bangsa kan?
Tapi, gimana bisa si Dara kenal akrab sama salah satu cowok dari sekolah itu?
Fikiran Yola seolah terus menerus diliputi rasa penasaran, saat ia melihat seorang lelaki yang tiba-tiba datang menghampiri Dara seperti tadi. Apalagi Yola sangat tau jika lelaki tersebut berasal dari sekolah dimana para musuh Daren menimba ilmu.
"tungu tunggu!" Yola berucap sendiri, dengan langkah kaki terhenti. Seolah dirinya mengingat sesuatu tentang lelaki tadi.
"bukannya cowok tadi itu... musuhnya Daren?" ucapnya, saat berusaha mengingat-ingat siapa lelaki tersebut. "tapi masak iya sih?!"
Yola masih belum terlalu yakin, mengingat ia hanya sekali dua kali bertemu dengan cowok tersebut, dan sekarang jika memang benar dia adalah cowok yang dimaksud. Berarti ini sudah kali ketiganya mereka bertemu.
Mengingat waktu itu, Yola bertemu lelaki tadi saat dirinya tengah jalan berdua bersama Daren. Dan tentu saja pertemuan mereka tidak disengaja, dan pada akhirnya hanya meninggalkan keributan di antara Daren dan juga Ray, tiap kali mereka bertatap muka.
"apa gue kasih tau Daren aja ya?" gumamnya, dengan langkah kaki berjalan menuju lapangan, dimana sudah ada Daren disana.
Yola memilih menunggu di pinggir lapangan bersama para murid lain yang juga tengah menyaksikan para lelaki bermain basket. Sesekali ia juga ikut meneriaki nama Daren bersama para murid perempuan yang lainnya, dengan memberikan semangat dan juga tepukan tangan saat melihat Daren yang berhasil memasukkan bola basket ke dalam Ring.
"AYO SAYANG. SEMANGAT!!"
"DAREN, DAREN, DAREN, WOOAHH..!!" teriak para perempuan yang bersorak kagum, diiringi suara tepukan tangan yang begitu riuh, saat melihat lelaki idola mereka berhasil menembakkan bola ke dalam ring.
Setengah jam kemudian, para lelaki yang tadinya bermain basket, kini sudah membubarkan diri. Ada yang duduk-duduk di pinggir lapangan dengan menselonjorkan kaki mereka yang terasa lelah.
Ada yang menghampiri sang pacar, dan menerima sebotol minuman dari sang pacar secara langsung, sambil sesekali menyekakan keringat di dahinya. Seperti yang dilakukan Yola saat ini.
"capek ya?" tanya Yola, dengan tangan yang tetap menyeka keringat di dahi Daren menggunakan sebuah handuk. lalu turun dan berpindah mengusapkan di bagian lehernya.
"lumayan." Jawab Daren, saat ia sudah selesai menenggak minuman yang diberikan Yola tadi.
Tangan Yola masih tetap telaten membersihkan keringat di bagian leher Daren cukup lama, hingga membuat lelaki itu merasa risih, lalu menurunkan tangan Yola begitu saja.
Entahlah, kenapa Daren bisa bersikap seperti ini. Padahal selama ini, dia begitu suka jika Yola memberikannya perhatian lebih, bahkan dia juga sering sekali melakukan ciuman dengan Yola di depan teman-temannya.
Namun lihat sekarang? Daren bahkan dibuat bingung sendiri dengan sikapnya kali ini.
"Yol, hari ini lo pulang sendiri nggak papa kan?" ucap daren tiba-tiba.
"emangnya kenapa? Kamu lagi ada acara sama temen-temen kamu?"
Ya, begitulah Daren, walaupun dia dan Yola berpacaran. Tapi dia sama sekali tidak pernah memanggil Yola dengan kata 'aku,kamu'
Begitu juga dengan pacarnya yang lain. Lelaki itu hanya tidak biasa melakukannya. Lagi pula menurutnya juga hal itu tidak begitu penting. Apalagi selama ini pacar-pacar Daren sama sekali tidak ada yang protes sedikitpun. Termasuk Yola.
Arti seorang pacar menurut Daren sendiri, hanyalah sebagai pelepas penat saat dirinya jenuh dengan sesuatu hal. Dengan adanya dia memiliki banyak pacar seperti ini, ia merasa jika harinya semakin berwarna. Namun jika pacarnya itu sudah mulai merepotkan, maka ia tidak akan segan untuk mencampakkannya begitu saja.
"iya. Nggak papa kan?" kata Daren berdusta. Lelaki itu hanya sedang tidak memiliki mood yang baik saat ini.
Semenjak Dara secara terang-terangan menolak dan berkata jika Daren bukanlah tipenya, perkataan gadis itu terus saja memenuhi kepalanya. Ia sama sekali tidak menyangka jika perkataan Dara sanggup membuat hatinya serasa di tusuk oleh ribuan jarum kecil yang begitu tajam.
Membuatnya semakin kesulitan menyingkirkan bayang wajah Dara dari benaknya.
"ya udah, nggak papa. Entar aku bisa pulang naik taksi kok." Ucap Yola, yang sebenanya begitu kecewa mendengar ucapan Daren barusan. Namun gadis itu hanya bisa menyembunyikan rasa kecewanya itu dengan senyum palsu di bibirnya.
Ia tau, dan sangat tau, jika Daren sama sekali tidak suka jika pacarnya menuntut hal ini itu. Itulah alasan yang membuat Yola enggan memaksa Daren untuk mengantarkannya pulang.
Dan dia hanya bisa berucap pasrah, menutupinya dengan kebohongan dibalik senyum manis yang terukir indah di bibirya.
"tapi entar malam kita jalan ya? Mau kan?" tanya Yola kemudian.
Daren terdiam sesaat.
"liat entar lah." jawab lelaki itu, dan beranjak pergi meninggalkan Yola.
Namun tak lama, Yola menahan lengannya, membuat langkah kakinya terhenti. "kenapa lagi Yol?"
"em.. ada yang pengen aku kasih tau ke kamu."
"tentang apa?" tanya Daren, menatap ingin tau ke arah Yola.
"woi, bro! Cabut yuk!" Farel tiba-tiba datang, dengan merangkul pundak Daren, mengajaknya pulang.
"ngomongnya lain kali aja ya Yol, gue udah di ajak anak-anak balik nih."
Saat Daren kembali mencoba melangkah pergi, Yola mengeraskan nada bicaranya ke arah Daren. "tapi ini tentang Dara."
Mendengar nama gadis yang akhir-akhir ini terus menerus memenuhi fikirannya, tentu saja membuat langkah kaki lelaki itu terhenti begitu saja. Daren menyuruh Farel untuk meninggalkannya terlebih dahulu, berdua bersama Yola.
Setelah farel pergi, barulah Daren mulai bertanya pada gadis didepannya itu. "memangnya Dara kenapa?"
"aku tadi liat dia di jemput sama cowok."
"mungkin itu kakaknya." Sahut Daren dengan sikap biasa. Karena memang dia tau, jika Dara selalu di antar jemput oleh kakaknya saat di sekolah. Hanya saja lelaki itu hingga saat ini masih belum tau, siapa, ataupun bagaimana sosok kakak dari gadis yang sanggup membuat hatinya tak karuan jika bertemu.
"kakaknya?? Jadi menurut kamu, cewek itu punya kakak yang sekolah di SMA Tunas Bangsa gitu?"
"SMA Tunas Bangsa?" tanya Daren mengkoreksi pendengarannya,
Yola menganggukinya cepat. "iya, tadi aku sempet ngeliat seragam yang cowok itu pakai. Dan kayaknya aku kenal sama cowok itu." Yola terlihat nampak seperti sedang berfikir mengingat-ingat sesuatu. "ah iya, aku baru inget. Dia itu yang pernah berantem sama kamu waktu kita lagi jalan bareng, satu minggu yang lalu. Yang kita nggak sengaja berpapasan sama mereka di jalan waktu itu.."
"maksud lo, Ray??" tanya Daren, dan Yola menganggukinya.
BERSAMBUNG...!