20

2353 Kata
Yola menganggukinya cepat. "iya, tadi aku sempet ngeliat seragam yang cowok itu pakai. Dan kayaknya aku kenal sama cowok itu." Yola terlihat nampak seperti sedang berfikir mengingat-ingat sesuatu. "ah iya, aku baru inget. Dia itu yang pernah berantem sama kamu waktu kita lagi jalan bareng, satu minggu yang lalu. Yang kita nggak sengaja berpapasan sama mereka di jalan waktu itu.." "maksud lo, Ray??" tanya Daren, dan Yola menganggukinya. Daren menyunggingkan sedikit senyum dibibirnya, tak mempercayai dengan apa yang dilihat Yola tadi. "mungkin lo cuman salah liat." "aku nggak mungkin salah liat. Aku yakin banget kalau cowok itu adalah Ray, musuh kamu selama ini." Yola berucap penuh keyakinan. Tapi sayangnya, Daren sama sekali tak mempercayainya sedikitpun. Menurutnya mungkin Yola saat ini tengah berhalusinasi. "udah ya Yol, gue balik duluan. Temen-temen gue udah pada nunggu soalnya. Key?!" Tanpa menunggu jawaban Yola, Daren begitu saja melangkah pergi meninggalkannya. Bahkan kali ini lelaki itu sama sekali tidak memperdulikan teriakan Yola, yang terus menerus memanggil namanya. "Daren, dengerin aku dulu! Aku yakin banget kalau aku nggak salah liat! DAREN!!" Yola semakin berteriak frustasi, saat lelaki itu sama sekali tak menggubrisnya sedikitpun. "b******k!!" umpatnya penuh kekesalan. "kenapa Daren nggak percaya sih?!" ***** "lama banget sih Dare." Keluh Mario, karena sudah menunggu temannya itu cukup lama. "tau nih, ngomong apa aja sih sama Yola?" sahut farel, seraya menyilangkan kedua tangan di d**a, dengan punggung yang bersandar di pintu masuk parkiran sekolahnya, menunggu Daren datang. "iya sorry, lagian kalian juga ngapain nungguin gue. Bukannya pulang duluan juga."ucap Daren, dengan memakai jaket miliknya, tanpa menjawab pertanyaan dari temannya tadi. "ya, kali aja kan, si Yola ngapa-ngapain lo. Kita berdua kan juga kawatir, ya kan yo?" kata Farel bermaksud bercanda. Dan di angguki oleh Mario yang kemudian nyengir begitu saja. "s****n lo! Bukannya kebalik?!" "hah? Emang lo ada niatan ngapain Yola Dare?" Farel berseru histeris. Membuat Daren ingin sekali menimpuk kepala temannya itu menggunakan sebuah tabung gas 30kg. daren memutar kedua bola matanya jengah. "udah, cabut yuk! Kelamaan disini, bisa-bisa lo makin nggak waras." Cetus Daren, dan Farel memberinya pukulan tinju di bagian d**a kirinya pelan. Lalu kemudian ikut mengambil motornya yang masih terparkir disana, diikuti oleh Mario, yang juga melakukan hal yang sama. ***** Pukul 20.11 malam. Dara nampak terlihat serius berkutat dengan layar monitor di laptopnya, dengan jari jemari yang begitu lincah menari-nari di atas keyboard, mengerjakan satu tugas sekolahnya dengan serius, yang dimana tugasnya itu akan di kumpulkan besok saat ia masuk sekolah. Ray berjalan menuruni anak tangga menuju ruang tamu, disana ia melihat adiknya Dara, yang tengah duduk di bawah lantai, beralaskan sebuah karpet, dan sibuk dengan laptopnya. Lelaki itu sangat tau, apa yang dikerjakan oleh adiknya itu hingga membuatnya terlihat begitu seserius ini. "wih, adek gue rajin banget sih." Celetuk Ray, sambil membawa sebuah helm di tangan kiri yang terapit di antara lengan dan juga pinggangnya. Sementara tangan yang satunya menggenggam sebuah kunci motor sport miliknya. Dara menghentikan aktifitasnya sejenak, lalu memperhatikan kakaknya yang terlihat begitu tampan dan juga rapi. "kakak mau kemana?" tanya Dara ingin tau. "biasa, nongkrong sama temen-temen." Jawab Ray. Dara yang tadinya sedang duduk, lantas segera berdiri menyamai tubuh Ray, "gue ikut ya kak! Bosen nih dirumah terus." Cetus Dara, berharap jika kakaknya itu akan mengizinkannya. "ngapain ikut? Lo di rumah aja, jaga rumah sama bik ijah. Tugas lo kan belum selesai." Tolak Ray, yang sama sekali tidak menginginkan jika adik perempuannya itu ikut. Apalagi mengingat nantinya hanya ada para lelaki disana, dan Dara hanya akan menjadi perempuan satu-satunya. Tentu saja Ray sangat tidak menginginkan hal itu, kecuali kalau memang Ray hanya akan nongkrong bersama kedua sahabat dekatnya, Jerry dan Niko saja. Mungkin ia akan mempertimbangkannya. "tapi tugas gue bentar lagi selesai kok kak, beneran! Boleh ya kak, gue ikut. Pleasee..." pinta Dara dengan wajah memohon. "kakak baik deh, boleh ya, ya ya.." lanjutnya merayu, berharap jika Ray akan merubah keputusannya. Ray menghela napas panjang, "nggak bisa Ra, lo di rumah aja ya. Lain kali, kalau gue keluarnya cuman sama Niko dan Jerry, gue janji deh, pasti bakal ajakin elo, ya?!" lelaki itu menempelkan telapak tangannya di pipi Dara, memberikan sebuah usapan lembut seorang kakak kepada adiknya. Jika sudah seperti ini, Dara hanya bisa mendngus, lalu berucap pasrah. "ishh, ya udah deh." Gadis itu kembali duduk, dengan bibir yang sudah manyun beberapa senti kedepan. Ray, yang melihat hal itu, lantas menarik bibir adiknya itu dengan jari tangan yang ia gunakan untuk menggenggam kunci motor. "nggak usah manyun gitu juga kali. Makin jelek entar!" goda Ray, dan Dara hanya menjawab ketus. "bodo." Ngambeknya. "ngambek nih ceritanya?! Ya udah deh, entar janji pulangnya gue beliin es krim." Bujuk Ray. "sama martabak juga!" cetus Dara. Membuat sang kakak hanya bisa mengiyakan, jika memang hal itu membuat Dara tidak akan marah padanya. "iya, tenang aja. Pasti gue beliin! Ya udah, gue berangkat dulu ya?!" pamit Ray mengusap puncak kepala adiknya, dan Dara hanya menganggukinya. Dara masih bisa mendengarkan bunyi motor sport Ray, yang terdengar berderum di pelataran rumahnya, dan tak lama kemudian, suara tersebut semakin menghilang di indra pendengarannya. Merasa jika kakaknya sudah benar-benar pergi, Dara tiba-tiba berlari keluar untuk memastikannya sendiri. Lalu setelah itu kembali lagi ke mejanya, membereskan seluruh peralatan yang ia gunakan untuk mengerjakan tugasnya tadi, dan menaruh di kamarnya seperti semula. "sorry ya kak Ray, udah lama banget gue pengen lakuin hal ini." Dara berucap didepan cermin, dengan memakai jaket kulit miliknya, menarik resleting jaketnya ke atas. Lalu kemudian mulai mengikat rambutnya menjadi ekor kuda. Setelah dirasa penampilannya sudah sempurna, Dara keluar kemarnya, dan secara diam-diam memasuki kamar Ray untuk mengambil sebuah kunci motor miliknya dulu. Setelah berhasil mendapatkan kunci tersebut dengan bersusah payah mencarinya, Dara lantas keluar dari kamar kakaknya, menuju garasi, tempat dimana motor sport yang sering ia kendarai dulu, tersimpan dengan sangat baik, tanpa tersentuh oleh siapapun cukup lama. Dengan berhati-hati, Dara mulai membawa motor tersebut keluar garasi, dan meghidupkan mesin motornya di jarak yang cukup jauh dari tempat tinggalnya, agar bik ijah tidak dapat mendengarkan suara derum motor miliknya. Bisa gawat nanti, kalau sampai pembantunya itu tau. Bisa di pastikan jika pembantu tersebut akan mengadukannya pada kakaknya Ray. Dara memperhatikan motor miliknya itu cukup lama, dia merasa seperti sedang bernostalgia di masa lalu. Begitu banyak kenangannya saat menggunakan motor pemberian sang ayah untuk ulang tahunnya dulu. Hingga pada akhirnya, sang ayah sendirilah yang melarangnya menaiki motor tersebut akibat suatu insiden kecelakaan. Dan Dara terpaksa menyetujuinya dengan syarat bahwa ayahnya mau mengurusi biaya perbaikan motornya itu sampai tuntas. Setelah gadis itu cukup lama memanasi motornya, ia lantas melajukan kendaraan kesayangannya itu dengan kecepatan sedang. Menikmati hembusan angin malam yang masih terasa, biarpun ia saat ini menggunakan pakaian tertutup dan juga helm di kepalanya. Seneng banget bisa naik motor lagi kayak gini, apalagi nyetir sendiri. Batin Dara berucap senang, dengan senyum mereka indah di bibir yang tertutupi pelindung kepalanya. Gadis itu membawa motornya kemanapun ia mau, tentu saja tanpa tujuan. Karena memang saat ini ia hanya ingin kembali mengendarai motor miliknya seperti waktu dulu. Hingga tak lama kemudian, Dara bisa melihat dari kejauhan, ada banyak anak-anak muda yang tengah berkumpul, berdiri di sepanjang trotoar jalan yang terbilang sepi dari lalu lalang kendaraan lain yang lewat. Dara mengarahkan motornya ke dekat mereka. Memperhatikan dengan seksama apa yang sebenarnya mereka lakukan. "oh, jadi mereka lagi taruhan buat balapan." Gumam Dara mengerti, lalu turun dari atas motornya, melepas helmnya, dan berjalan mendekat, ikut berbaur bersama para penonton yang lain. Namun ia hanya berniat menyaksikan saja. "kelihatannya seru juga." Riuh suara penonton terdengar begitu memekakkan telinga, bercampur dengan sorak sorai yang terdengar saling bersahutan. Kedua netra Dara memandang lekat ke arah seorang pembalap yang terlihat begitu femiliar di matanya, apalagi saat ini, Dara juga merasa jika orang tersebut tengah memperhatikannya. Walaupun memang wajahnya tertutupi oleh sebuah pelindung kepala, tapi entahlah, perasaannya seolah berkata, kalau ia mengenalnya. Beberapa detik kemudian, lelaki tersebut sudah melesat kencang bersama para pebalap motor lain, berusaha keras agar ia bisa memenangkan pertandingan ini. Siapa ya? Kok kayaknya, dia tadi juga lagi merhatiin gue?! Batin Dara, melihat motor yang di gunakan lelaki tadi begitu mirip dengan motor lelaki yang cukup mengganggu fikirannya akhir-akhir ini. Disaat ia tengah berkutat dengan fikirannya sendiri, ada seorang lelaki b******k yang tiba-tiba mendekat, menghimpit tubuh belakangnya, hingga membuat Dara bisa merasakan junior lelaki itu yang mengeras di sana. Bukan itu saja, lelaki itu tanpa tau malu juga mencium leher mulus Dara, yang terekspose bebas, akibat seluruh rambutnya yang ia ikat menyerupai ekor kuda. Dara tentu saja dibuat risih dengan kelakuan lelaki yang tak dikenalnya itu, "lo apa-apaan sih?!" kesal Dara, dengan berusaha menyingkir menjauhi lelaki itu. Namun tak disangka, lelaki itu justru mengikutinya dari belakang, menarik tangannya dengan satu tarikan kasar hingga membentur sebuah pohon besar. "lepasin! Lepasin gue!!" Dara meronta, tangannya terus memukuli tubuh lelaki tersebut yang sudah bersiap menciumnya. "tenang sayang, nggak perlu sok-sok'an nolak gitu, ini akan sangat menyenangkan." Lelaki tersebut menyeringai, Dara bahkan bisa merasakan bau alkohol dari hembusan napasnya, dengan jarak yang begitu dekat. "lo mabuk! Jangan coba-coba nyentuh gue!!" sentak Dara dengan satu tangan menutup hidungnya, tak tahan dengan bau alkohol yang begitu menyengat indra penciumannya. "oh, jadi kalau gue lagi nggak mabuk, lo mau ngelayani gue. Hmm?" tanya lelaki itu, dengan satu tangan menyentuh dagunya. Dan... Plakk..! suara tamparan. Tangan Dara, reflek mendaratkan satu buah tamparan di wajah lelaki tersebut, hingga membuatnya berpaling ke samping. Lelaki tersebut menatap geram ke arah gadis di depanya, sesaat matanya seolah memerah penuh amarah, tak terima dengan perlakuan sikap dari perempuan didepannya. Dengan kasar, lelaki itu menekan rahang Dara kuat, dan menghempaskannya hingga membuat tubuh gadis itu terjatuh ke tanah. Tidak ada satu orangpun yang berniat menolongnya. Jangankan menolong, mereka bahkan terlihat acuh, sambil tetap menyaksikan berlangsungnya balapan tersebut. Dara sudah mulai terlihat ketakutan, matanya mulai berkaca-kaca, bersiap menjatuhkan bulir-bulir air matanya. Lelaki tersebut menindih tubuhnya, dara semakain meronta dengan memejamkan kedua netranya erat. Gadis itu sangat merasa ketakutan. Ia sama sekali tak menyangka jika akhirnya akan seperti ini. "b******n!!" BUGH BUGH BUGH BUGH! Suara pukulan bertubi-tubi. Dara membuka matanya perlahan, saat ia merasakan jika lelaki tadi sudah tidak berada di atas tubuhnya. Gadis itu bisa melihat seseorang yang begitu sangat ia kenal tengah memukuli lelaki b******k yang mengganggunya tadi dengan membabi buta. "anjing ya lo, berani-beraninya lo nyentuh dia!! Dasar b******k!!" Daren menarik kerah baju lelaki itu, lalu kembali memukulinya berulang kali, hingga membuat wajahnya penuh lebam cukup parah. "Ra, lo nggak papa kan?" suara Mario terdengar di sampingnya, berbarengan dengan Farel yang juga berada di sana. Dara mengangguk pelan dengan raut wajah yang masih diselimuti rasa takut. Bahkan pandangan matanya sama sekali tidak bisa lepas dari arah Daren yang masih tetap terus menerus memukuli pria tadi, tanpa mau berhenti sama sekali. Bahkan Farel dan Mario baru kali ini melihat sahabatnya itu semarah ini. Apalagi alasannya karena tak terima melihat Dara di perlakukan tidak baik oleh lelaki itu. "Rel, Yo, gue mohon sama kalian berdua, buat ngelerai Daren. Kalian liat kan, tuh cowok udah babak belur kayak gitu. Kalau dia mati gimana? Nanti temen kalian bisa masuk penjara." Kata Dara mengingatkan. "nggak bakal. Udah tenang aja." Jawab mario dengan santainya. Dara yang sama sekali tidak bisa tinggal diam begitu saja, lantas memberanikan diri mendekat, untuk memperingatkan Daren. "Daren, udah cukup!! Berhenti Dare!" teriak Dara melerai perkelahian tersebut. Karena sedari tadi tidak ada satupun yang berniat menghentikan mereka berdua. Yang ada justru penonton yang lainnya tengah sibuk merekam apa yang mereka lihat saat ini. Merasa jika Daren sama sekali tidak memperdulikannya. Dara nekat memeluk tubuh Daren dari belakang, berharap lelaki itu akan berhenti melayangkan pukulannya ke wajah lelak tadi. "DAREN STOP! Gue mohon jangan di terusin! Please.." pinta Dara memohon, diposisi yang masih sama. "please gue mohon, berhenti!" Kepalan tangan Daren terhenti di udara, saat ia merasakan sebuah tangan melingkari tubuhnya begitu erat. Lelaki itu akhirnya mendengar apa kata Dara, dan mengehentikan perkelahiannya. Tangan daren terulur, menyentuh lembut pipi Dara, kedua bola mata yang tadinya menajam, kini sudah beralih menatap sayu penuh rasa khawatir ke arah Dara. "lo nggak papa kan, Ra?" Lagi-lagi, Dara mengangguk pelan, menandakan jika dirinya dalam kondisi baik berkat bantuannya. Daren menggandeng tangan Dara sedikit menjauh dari tempat perkelahiannya tadi. Dan para penonton yang tadinya tengah bergerombolpun, kini sudah membubarkan diri, beralih menyaksikan kembali aksi balapan selanjutnya. Kedua teman Daren memilih untuk memberikan waktu pada mereka berdua. Dara dan Daren, terlihat tengah sama-sama duduk di trotoar jalan. keadaan canggung mulai terasa. Sesaat terjadi keheningan di antara mereka berdua. "emm... thanks ya. Lo udah nolongin gue tadi. Ka-kalau nggak ada lo, gue---" belum sempat Dara melanjutkan kalimatnya, Daren sudah terlebih dulu memotongnya. "lo~ kenapa bisa ada disini? Lo sendirian?" Lagi-lagi, Dara mengangguk mengiyakan. "cewek kayak lo, nggak baik malam-malam keluar ke tempat kayak gini. Lain kali jangan diulangin ya, gue nggak mau kalau sampai lo kenapa-napa kayak tadi." Nasehat Daren, dan gadis itu hanya diam mendengarkan. Ia hanya bingung harus menjawab apa. Dara yang tadinya menunduk, kini memperhatikan lelaki disampingnya. "em.. a-apa lo nggak terluka?" jawabnya gugup. Entah kenapa dirinya harus merasa gugup seperti ini di depan Daren. "gue nggak papa. Nggak perlu kuwatir." Kata Daren, ikut menoleh ke arah Dara, membuat keduanya sesaat saling bertatapan satu sama lain. Seolah hanya ada mereka berdua di tempat itu, dengan keheningan yang menyelimuti keduanya. Kedua netra Dara menatap ke arah Daren begitu lekat, begitu juga sebaliknya. Dara sesaat mengulum bibirnya sendiri, menelan salivanya penuh rasa gugup luar biasa. Namun ia masih bisa merasakan bagaimana jantungnya berdetak tak beraturan. Hingga membuatnya tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya saat ini. Disisi lain, iblis seolah tengah meracuni fikiran Daren untuk lebih mendekatkan wajahnya ke arah Dara, dan sialnya, lelaki itu justru melakukannya. Ia sudah terhanyut saat melihat kedua bibir mungil Dara yang saat ini sudah dalam kondisi basah. Membuat Daren semakin ingin segera melumatnya sekarang juga. Apalagi saat ini, gadis yang berada di depannya itu, terlihat sama sekali tidak berusaha menjauh sedikitpun darinya, membuat jarak di antara mereka kian semakin menipis, dengan kedua hidung yang sudah saling bersentuhan. Aroma mint, kian semakin merebak seiring hembusan napas Daren yang menerpa wajahnya. Kedua bola mata mereka berdua sudah saling terpejam satu sama lain, melupakan kondisi disekitarnya untuk beberapa detik. Hingga akhirnya.. CUP dan ciuman itupun terjadi. BERSAMBUNG....!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN