Dara bisa merasakan hangat bibir Daren yang menempel sepersekian detik di bibirnya, hingga tak lama, lumatan demi lumatan terasa begitu lembut dan nyata ia rasakan. Gadis itu hanya terdiam kaku dengan jantung berdebar. Ia tidak tahu lagi harus bersikap atau membalasnya seperti apa. Pasalnya Dara memang tidak pernah merasakan yang namanya pacaran sekalipun. ini adalah sebuah ciuman pertamanya. Dan ia sama sekali tak menyangka jika akan melakukan first kiss bersama Daren. Playboy yang selama ini begitu ia benci di sekolahnya.
Tangan kanan Daren terangkat, jari jemarinya terasa menggelitik tengkuk Dara, menekannya perlahan, sebagai tanda jika lelaki itu ingin memperdalam ciumannya.
Tapi sebelum itu terjadi, Dara sudah lebih dulu menyadarkan dirinya cepat. Dan mengakhiri ciuman dari bibir Daren, yang bisa ia pastikan jika sebentar lagi akan membuatnya terlena, dan melupakan segalanya.
Tangan Dara terangkat, menekan d**a Daren dengan sedikit mendorongnya, agar lelaki itu tidak melakukannya lebih jauh lagi. Netra yang tadinya terpejam, seketika terbuka begitu saja.
Daren terhenyak, saat Dara melakukan hal itu, didetik itu juga ia begitu khawatir jika perempuan yang saat ini tengah berada tepat di hadapannya itu menjadi marah padanya.
"em.. gu-gue.. mau pulang. Sorry." Ucap Dara kikuk. Lalu kemudian berdiri beranjak pergi.
Namun sebelum gadis itu benar-benar pergi, Daren lebih dulu menahan lengan gadis itu agar tidak secepat ini meninggalkannya. "Ra, tunggu!"
Dara terdiam membeku, tanpa mau menoleh ke arah Daren. Ia bisa merasakan genggaman tangan Daren yang begitu erat di pergelangan tangannya. Seolah dia tidak mau jika gadis itu menghilang dari hadapannya secepat ini.
Lelaki itu yang tadinya masih duduk, lantas berdiri menyamai posisi Dara, masih di belakangnya. tanpa melepas sedikit pun genggaman dari tangannya. "lo~ marah sama gue?" suara lirihnya terdengar, menyadarkan keterdiaman Dara. Membuat gadis itu kian dilingkupi rasa gugup yang begitu luar biasa.
Dan disini, untuk saat ini. Dara hanya bisa diam tanpa berniat menjawabnya sedikitpun.
"maafin gue ya Ra, gue tadi-emm.. se-sebenarnya gu-gue..." Daren menghela napasnya frustasi, ia sama sekali tidak mengerti dengan dirinya saat ini. Lidahnya seolah mendadak tercekat kaku saat ia ingin mengatakan sesuatu yang menurutnya begitu penting untuk di katakan pada Dara.
Dara yang tadinya masih memunggungi Daren, lantas berbalik menghadapnya. "iya, gue tau, kalau yang tadi itu cuman kesalahan kan?! Gue bakal anggep kalau ini nggak pernah terjadi." Ucap Dara dengan berusaha bersikap biasa di depan Daren.
"tapi Ra, gue sama sekali nggak anggep kalau ciuman kita tadi sebuah kesalahan." Daren berucap tegas, membuat Dara mengerutkan dahi penuh tanya.
"kenapa lo nggak bisa percaya sama gue, kalau gue beneran~ udah jatuh cinta sama lo. Gue sayang sama lo Ra. Dan gue sama sekali nggak pernah sekalipun ngerasain hal kayak gini sama cewek lain."
Dara masih terdiam, dengan kepala menunduk.
"saat lo nolak gue waktu itu, nggak tau kenapa, gue jadi nggak tenang dan terus menerus mikirin lo." Daren kembali melanjutkan perkataannya. "gue sayang sama lo Ra, apa lo sama sekali nggak punya perasaan apapun buat gue? Apa sedikitpun nggak ada Ra? Jawab gue Ra, gue mohon.." Daren mengguncang bahu Dara yang kini masih terdiam.
Gadis itu kebingungan, ia takut jika Daren saat ini hanya tengah mempermainkannya saja. Sementara saat ini dirinya sudah mulai menyimpan perasaan lebih untuk lelaki itu.
Dara hanya takut terluka oleh perasaan bodohnya saat ini.
"gue-gu-gue..."
Daren masih menunggu apa yang akan di katakan oleh Dara padanya.
Dara menghela napas panjang, berusaha menghilangkan perasaan gugupnya, dan juga berusaha mencoba setenang mungkin. "gue se-sebenarnya juga punya perasaan yang sama kayak lo. Ta-tapi---"
"tapi apa Ra?" jawab Daren tidak sabar, dengan kedua tangan menyentuh pipi Dara. Membuat kedua netra mereka saling beradu sesaat.
"tapi gue nggak bisa nerima lo."
"kenapa? Apa karena gue playboy, dan cewek gue dimana-mana?"
Dara diam, ingin sekali dia mengiyakan ucapan Daren barusan. Tapi sayangnya, Dara lebih memilih diam.
"Ra. Lo liat mata gue, dan dengerin gue baik-baik!" titahnya, dan Dara pun menurut.
"gue janji sama lo, kalau gue bakal putusin semua cewek gue. Gue mau berubah demi lo. Gue sayang sama lo Ra. Gue juga nggak tau sejak kapan gue mulai suka sama lo. Tapi yang jelas, apa yang gue katakan saat ini sama lo beneran jujur dari hati gue yang paling dalam. Dara, gue tanya sekali lagi, apa lo mau jadi cewek gue beneran? dan lupain perjanjian konyol tentang pacaran satu bulan kita waktu itu?"
Daren bahkan mengatakannya dengan tangan yang masih tetap memegang kedua pipi Dara, menatapnya penuh harap.
"tapi-"
"gue mohon Ra, gue janji akan berubah demi lo. Gue nggak akan pernah mainin cewek lagi. Cuman lo, satu-satunya cewek yang saat ini bisa buat gue kayak gini. Gue sayang sama lo, gue harap lo mau percaya sama gue. Dan juga mau nerima pernyataan cinta gue barusan."
Sekali lagi, Daren berusaha meyakinkan Dara dengan perkataannya.
Masih ada sedikit perasaan ragu di hati Dara saat ini, namun tak lama kemudian..
"ya, gue mau." Ucapan itu begitu saja meluncur dari mulut Dara. Membuat Daren terkejut dengan ekspresi tak percaya.
"se-serius??" bahkan saat ini Dara bisa melihat kedua netra lelaki didepannya itu, yang seolah tengah berbinar-binar dilingkupi rasa bahagia yang teramat sangat.
Sementara Dara hanya bisa mengangguk malu dengan semburat merah yang sudah menghiasi pipi indahnya.
Daren kembali menggenggam tangan Dara erat, memberi usapan lembut di punggung tangannya. "makasih Ra, lo udah mau nerima gue sebagai cowok lo. Makasih.." lirihnya, dengan menghujami ciuman berkali-kali di punggung tangan Dara, saking senangnya.
Ya tuhan.. aku harap aku nggak salah buat ambil keputusan. Batin Dara.
Saat ia menerima pernyataan cinta Daren, gadis itu sama sekali tidak memikirkan apapun , seperti memikirkan bagaimana perasaan sahabat dekatnya Chaca nanti, saat ia tahu jika dirinya benar-benar menjalin hubungan dengan mantannya. Dara juga sama sekali tidak memikirkan tentang kakaknya ray, yang memang melarang Dara berpacaran hingga sampai lulus sekolah nanti.
Yang gadis itu fikirkan hanyalah...
Perasaannya.
Perasaan sayang yang memang ia miliki untuk lelaki itu, Daren Bagaskara.
Orang yang selama ini selalu ia benci karena sikapnya yang memang suka mempermainkan banyak wanita. Tapi lihatlah sekarang! Bahkan takdir bisa dengan mudah merubah perasaan bencinya itu menjadi sebuah rasa cinta di waktu secepat ini.
"em.. ka-kalau gitu, gue~ pulang sekarang nggak papa kan?!" tanya Dara pada lelaki di depannya. Karena memang Dara tidak ingin jika harus pulang kerumah setelah kakaknya. Bisa-bisa, Ray marah besar kalau sampai tau dirinya mengendarai motor secara diam-diam seperti sekarang ini.
"gue anter ya?" tawar Daren.
"kayaknya nggak perlu deh. Lagian gue juga bawa motor sendiri kok."
"oh ya? Lo parkir di Mana emang?" tanya Daren dengan mengedarkan pandangan matanya kesekeliling.
"tuh disana!" tangan Dara menunjuk ke arah dimana motor sportnya terparkir.
Daren yang melihat hal itu dibuat tak percaya, jika gadis di depannya itu sanggup membawa motor sport seberat itu.
"lo beneran bawa motor kayak gitu sendiri?" tanya Daren, seolah masih tak prcaya.
"iya, kenapa emang?" Dara bertanya dengan wajah polos tak mengertinya.
"kok bisa? Maksud gue, bahkan selama ini gue sama sekali belum pernah sekalipun ngelihat lo bawa motor ke sekolah. Apalagi motor sport kayak gitu."
"oh..." Dara tersenyum. "soalnya emang kakak, sama bokap gue nggak ngizinin. Gara-gara gue pernah kecelakaan dulu." Kata Dara menjelaskan.
"berarti tadi, lo keluarnya diem-diem lagi dong?" tebak Daren.
Dara nyengir, lalu kemudian mengiyakan ucapannya. "hehehe, iya." Dara bahkan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal sedikitpun.
"lo tuh, bandel juga ya ternyata." Cetus Daren, lalu kemudian tersenyum.
"nggak juga sih. Kalau kakak gue nggak terlalu ngekang gue, pasti gue nggak bakalan keluar diem-diem kayak gini. Apalagi pakek acara nekat bawa motor." Ucap Dara manyun. Memandang lurus ke arah motornya.
Tanpa mereka berdua sadari, kini mereka sudah bisa kembali bersikap normal setelah ciuman yang mereka berdua lakukan tadi. Rasa canggung pun perlahan menghilang, seiring obrolan mereka yang justru sesaat membuat Dara lupa, kalau ia tadinya berniat untuk pulang ke rumahnya.
Daren memperhatikan raut wajah Dara dari samping, menelusuri setiap lekuk indah paras cantiknya.
Lelaki itu hanya terheran dengan dirinya, selama ini mereka berdua selalu saja bertengkar satu sama lain, tapi kenapa ia sama sekali tidak pernah menyadari jika Dara memiliki paras yang sanggup membuat degupan jantungnya berdetak kencang seperti ini?
"Ra.."
"hmm?" Dara menoleh ke arah daren yang tengah menatapnya intens.
"gue seneng, lo mau nerima pernyataan cinta gue. Mungkin... entar gue bakal kesulitan tidur, gara-gara terus menerus mikirin lo Ra."
Dara tersipu, semburat merah di wajahnya kembali muncul. Bahkan sikapnya berubah menjadi salting. "apaan sih, geli tau dengernya."
Tanpa di sangka. Tangan Daren terangkat, memberikan cubitan sayang di pipi Dara yang tengah tersipu malu itu, membuat daren kian menjadi gemas melihatnya. "nggemesin banget sih Ra. Jadi makin sayang." Cetusnya.
Dara mengusap pipi, sambil mencebikkan bibirnya. "ishh, baru juga jadian. Udah nggombal aja."
"apa sih, orang gue serius juga. Lo tuh nggemesin tau." Lagi, daren kembali mencubit gemas pipi Dara. Bahkan kali ini menggunakan kedua tangannya.
"bukannya lo pernah bilang kalau gue itu cewek s***p nyebelin?!" cetus Dara.
Daren yang melihatnya lantas segera merangkul Dara, membawa ke pelukanya. "ngomong apa sih?! Lo kan juga sering ngatain gue kutil landak. Tapi sekarang, lo malah mau pacaran sama kutil landak kayak gue." Balas Daren, yang hanya bermaksud menggodanya.
"ishh, ngeselin!" Dara memukul pelan d**a bidang Daren. Membuat lelaki itu terkekeh geli.
"gue anterin pulang aja ya?" ucap daren kemudian, sambil merenggangkan pelukannya, dengan tangan mengusap puncak kepala Dara lembut.
"tapi motor gue---"
"ya kita bawa motor sendiri-sendiri. Gue ngikutin lo dari belakang. Gue cuman mau mastiin sendiri kalau lo nyampek rumah dengan selamat. Nggak papa kan?" tanyanya dengan kepala sedikit menunduk menatap dara, karena memang ukuran tubuh Daren yang lebih tinggi darinya.
"terserah deh." Dara berucap pasrah.
"ya udah, gue ngomong Mario sama Jerry dulu ya kalau gitu?!" pamit daren, yang di agguki oleh Dara.
Setelah itu, Daren berjalan melangkah menghampiri kedua temannya untuk memberitahu, jika dirinya akan mengantar Dara pulang ke rumahnya terlebih dahulu.
"guys, gue balik duluan ya?" ujar Daren, saat sudah dihadapan kedua temannya.
"ngapain balik sekarang? Baru juga jam segini. Entaran aja lah dare." Jawab Farel, yang tidak menginginkan jika temannya itu pulang secepat ini.
"tau nih, lo nggak liat tuh, lagi seru banget. Gue juga baru masang taruhan lagi." Sahut Mario menimpali, saat sudah menghembuskan asap rokoknya membentuk bulatan yang tak lama kemudian menghilang di terpa angin malam.
"sorry banget ya, tapi gue mau nganterin Dara pulang kerumahnya."
Seketika kedua netra Mario dan Farel saling berpandangan satu sama lain, seolah mereka tengah berbicara melalui ekspresinya masing-masing. -tumben banget-
"ngapain lo pakek acara nganterin si Dara pulang?" tanya Mario heran.
"gue nggak bisa biarin dia pulang sendiri, apalagi udah jam segini kan?! Lo berdua kan juga tau, kalau dia tadi baru ngalamin hal yang buruk. Gue nggak mungkin tega negebiarin dia pulang sendirian. Ya udah ya, gue tinggal dulu." Daren melakukan tos pada kedua temannya, lalu begitu saja pergi mnghampiri Dara dengan membawa motor miliknya.
Sementara kedua temannya masih saja melihat ke arah sahabatnya itu dengan sebuah tatapan curiga.
"Rel, lo satu pemikiran nggak sama gue?" tanya Mario, tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali ke arah Daren.
Farel menganggukinya, dengan pandangan mata yang juga sama --menatap lurus kepergian Daren bersama Dara- "kayaknya si Daren~ udah mulai jatuh cinta sam si Dara."
"ya, lo bener. gue juga mikir kayak gitu."
*****
"thank's ya, lo udah mau repot nganterin gue sampai rumah." Ucap dara, saat ia sudah berada tepat di depan pintu gerbang rumahnya, dengan helm yang sudah terlepas dari kepalanya.
"sama-sama. Lagian, lo kan cewek gue Ra sekarang. Gue nggak mungkin lah setega itu biarin lo pulang sendirian, apalagi ini udah malam banget."
Dara tersenyum malu, saat Daren mengingatkan jika mereka berdua sudah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih yang sesungguhnya.
Dara sama sekali tak menyangka, jika Daren bisa bersikap sesweat ini padanya. Tidak seperti waktu mereka belum pacaran dulu, yang selalu saja beradu mulut setiap kali mereka berdua bertemu.
"ya udah, lo balik gih, gue mau masuk." Ucapnya, yang sebenarnya tidak ingin jika Daren terlalu lama melihat wajah malunya saat ini.
"ngusir nih?"
"ishh.. bukannya gitu. Gue takut kakak gue tau, kalau gue pulang bareng cowok."
"ya elaah, lagi-lagi itu alasannya."
Dara memaksa menarik senyum dibibirnya. "sorry..."
Daren menghela napas sesaat. "ya udah, kalau gitu gue balik dulu ya." Pamitnya, yang kemudian di angguki oleh Dara.
Daren lantas mendekatkan wajahnya ke arah Dara, dengan jari telunjuk yang ia tempelkan dipipinya sendiri. Membuat Dara memasang wajah bingung tak mengerti. "apa'an?" tanya dara mengernyitkan kening.
Helaan napas Daren terdengar lemas. Lelaki itu hanya tak menyangka jika Dara tak sepeka yang ia bayangkan. Padahal sudah jelas, jika dia memberinya kode untuk meminta ciuman dipipi. Tapi gadis itu malah bertanya tak mengerti.
"nggak jadi deh." Daren mengurungkan niatnya, lalu kembali menegakkan tubuhnya yang tadi sempat ia condongkan ke arah Dara, dan mulai memakai helmnya.
Pada saat ia akan memasukkan helm di kepalanya, Dara dengan cepat memberikan ciuman dipipi Daren, lalu berjalan begitu saja memasuki pintu gerbang, sambil menuntun motornya memasuki pelataran rumahnya, dengan perasaan malu yang teramat sangat.
Sementara Daren sendiri, saat ini justru tengah terdiam mematung, dengan tatapan kosong ke depan. Tidak menyangka jika Dara akan memberinya ciuman dipipi seperti ini.
BERSAMUNG..!