Tangan Dara dengan sangat perlahan dan hati-hati, menutup pintu garasi. Tentu saja ia tidak mau jika sampai bik ijah pembantunya itu terbangun dari tidur lelapnya.
saat pintu garasi sudah berhasil tertutup sempurna, Dara melangkah menuju pintu rumah, dan membukanya dengan sangat pelan. Gadis itu bahkan terlihat seperti pencuri di rumahnya sendiri, karena harus memasuki rumahnya dengan cara mengendap-endap seperti ini.
Kedua netranya samar-samar masih bisa melihat ruang tamunya yang gelap tanpa penerangan, dengan sebuah tas selempang di pundaknya, dan dengan satu tangan yang menenteng sepatu miliknya, agar suara langkah kakinya tidak terdengar saat masuk rumah, Dara melangkah sedikit berjinjit menaiki tangga lantai 2 menuju kamarnya.
Namun tiba-tiba, Dara dikejutkan oleh cahaya lampu di ruangan terebut yang mendadak menyala terang.
"habis dari mana?"
Suara lantang tersebut begitu mengagetkan indra pendengaran Dara. Gadis itu sangat mengenal siapa pemilik dari suara tersebut.
"kak Ray...." Dara tertangkap basah saat ini. Ia bisa melihat jika kakaknya terlihat marah, menatap ke arahnya. Seraya menyilangkan kedua tangannya di d**a.
"gue tanya, lo habis dari mana malam-malam gini hm?" ulang Ray, masih tetap menanyakan hal yang sama.
"gu-gue tadi habis... emm..." Dara mulai kebingungan mencari alasan. "ha-habis dari rumah Chaca." Lanjutnya dengan berbohong. Bahkan ia sama sekali tidak berani menatap mata Ray sedikitpun.
Ray melangkah mendekat menghampirinya, dengan tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya. "siapa yang ngajarin lo bohong kayak gini hm?"
"gue nggak bohong kak!" kata Dara mengelak.
Ray menghela napas panjang, mencoba bersabar. "gue tanya, siapa yang ngajarin lo bohong kayak gini?" ulangnya, sedikit menaikkan nada bicaranya.
"tapi gue beneran nggak bohong kak!" elak Dara, bersikeras.
"tapi gue tau kalau lo sekarang lagi bohongin gue! Karena gue barusan udah nelfon Chaca buat nanyain keberadaan lo. Tapi dia malah sama sekali nggak tau lo dimana!! Jadi, lo nggak perlu bohongin gue lagi. Ngerti!!" kali ini suara Ray terdengar semakin tinggi, dengan emosi yang mulai tersulut.
Niko dan Jerry yang tengah berada di lantai atas -dikamar Ray-bergegas turun, saat ia mendengarkan suara Ray yang terdengar begitu keras. "Ray, lo kenapa sih?! Nggak perlu sampai teriak juga kan?!" kata Jerry, berdiri di anak tangga bersama Dara, yang kini sudah terlihat takut oleh kemarahan sang kakak.
"iya Ray, lo nggak liat kalau adek lo udah ketakutan kayak gini?!" ucap Niko, yang saat ini sudah berdiri tepat di samping Dara, yang sudah ketakutan dengan kepala tertunduk.
"kalian berdua nggak perlu ikut campur. Ini urusan gue sama adek gue!" kata Ray, dengan nada tegas. Dan kedua temanya itu hanya diam sambil memperhatikan.
Tangan Ray terulur ke arah Dara, meminta sebuah kunci motor sport yang masih berada di genggaman tangan Dara. "mana kunci motornya?"
Dengan ekspresi takut, gadis itu memberikan kunci tersebut. Bahkan tangannya terlihat sedikit bergetar saking takutnya. Ia sama sekali tak menyangka jika kakaknya tau, dia keluar dengan membawa sebuah motor sport miliknya dulu.
"ma-maaf kak. Gu-gue Cuma---"
"lo emang keterlaluan ya Ra. Gue sama papa udah ngelarang lo buat bawa motor lagi. Tapi sekarang lo malah keluar diem-diem kayak gini. Mau lo tuh apa sih hah?"
Dara diam, ia tau jika dirinya salah. Mangkanya dia lebih memilih untuk diam.
Niko yang melihat ekspresi ketakutan dari wajah Dara, tentu saja merasa tidak tega. "Bro, udah lah nggak perlu di perpanjang lagi. Gue yakin kok kalau si Dara pasti ngakuin kesalahannya. Dan gue yakin kalau dia juga pasti menyesal, dan nggak bakalan ngulangin hal yang sama kayak gini lagi." Ucap Niko, memberi pembelaan pada Dara, orang yang selama ini diam-diam sangat ia cintai sepenuh hati.
"elo tuh nggak usah ngebela dia kayak gitu. Udah jelas-jelas dia salah. Masih aja lo bela! Gini nih, kalau keseringan di manja. Jadi ngelunjak!" sinis ray, yang saat ini tengah di selimuti emosi di kepalanya. Kemarahan Ray bukannya tanpa alasan. Dia hanya mengkhawatirkan keselamatan adiknya. Aplagi ray masih mengingat dengan jelas bagaimana insiden kecelakaan yang dulu pernah menimpa adik kandungnya itu
Dara yang tadinya diam, kini sudah mulai berkaca-kaca. "ya, gue ngerti gue salah. Maaf udah buat lo kesel dan kawatir!" Dara mengusap air mata yang sudah terjatuh menelusuri kedua pipinya, lalu berlari pergi menuju kamarnya, dengan membanting pintu cukup kuat.
Bahkan Dara sama sekali tidak memperdulikan teriakan kakaknya yang terus menerus memanggilnya. "Ra, kakak belum selesai ngomong! ARA!!" teriaknya frustasi, lalu kemudian menggeram kesal, karena merasa tidak di pedulikan sedikitpun.
Ray menaiki anak tangga berusaha mengejar adiknya. Namun Niko menahan pundaknya, menghentikan langkah kakinya.
"lebih baik lo biarin dia sendiri dulu. Gue yakin kalau adek lo lagi butuh waktu untuk sendiri." Nasehat Niko, dan Ray hanya diam tanpa menjawab. Seolah apa yang dikatakan Niko barusan, ada benarnya.
"elo keterlaluan sih, Ray. Adek lo sampai nangis kayak gitu. Gue aja liatnya kasian." Cetus Jerry, dengan menyilangkan kedua tangannya, sambil menyandarkan punggung di besi pegangan tangga.
"lo bilang gue keterlaluan?! Gue itu cuman kawatir sama dia. Papa udah mempercayai gue buat jagain Ara disini. Lo berdua juga tau kan, kalau dulu papa gue sempet mau bawa Ara ke luar negeri, gara-gara insiden kecelakaan itu. Karena papa gue ngira, gue nggak becus buat jagain dia." Ekspresi ray mendadak berubah sendu. "gue cuman nggak mau, kalau papa gue maksa Ara buat tinggal di luar negeri lagi kayak dulu. Karena gue tau, kalau adek gue itu lebih suka tinggal disini. Karena disini, dia bisa mengunjungi makam mama kapanpun dia mau." Ucapnya. Membuat kedua temannya itu hanya diam tak menjawab.
*****
Daren: ping
Daren: ping
Daren: Ra, udah tidur? Read
Daren: Ra, bales dong. Jangan di R doang! Read
Daren: a
Daren: d
Daren: a
Daren: r
Daren: a
Daren: f
Daren: r
Daren: a
Daren: n
Daren: s
Daren: i
Daren: s
Daren: k
Daren: a
Daren: please bales! Jangan bikin aku buat nyepam kamu terus. read
Daren: sayang..
Daren: huft -_-
Daren: ya udah aku nyerah.
Daren: met bobok kalau gitu.
Daren: good night. read
Dara hanya menatap ponselnya dengan terbaring di atas kasur, tanpa berniat membalasnya sedikitpun. Bahkan air matanya sama sekali belum kering. Ia menaruh ponselnya asal di atas Ranjang.
Gadis itu hanya masih belum bisa melupakan kemarahan Ray tadi. Dan dia hanya bisa menangis sambil memeluk sebuah boneka teddy bear berukuran besar, pemberian mamanya sewaktu ia masih kecil dulu.
Berbagai macam fikiran andai-andai, menghiasi isi kepalanya. Jika sudah begini, hanya satu yang akan Dara ingat -sang mama-yang telah lama pergi meninggalkannya.
Andai aja mama masih hidup. Pasti semuanya nggak akan jadi kayak gini. Mama pasti nasehatin kak Ray, supaya nggak terlalu ngekang aku kayak gini. Mah.. Dara kangen sama mama. Kenapa mama tega ninggalin Dara secepat ini... batinnya, dengan linangan air mata yang semakin deras menelusuri wajah cantiknya.
sementara di luar pintu kamar Dara saat ini, sudah berdiri seorang lelaki yang tadinya sempat memarahi Dara, hingga membuatnya menangis seperti ini.
Lelaki tersebut mengangkat tangan hendak mengetuk pintu. Namun ia menghentikannya. Ada perasaan ragu yang sesaat menyelimuti hatinya. Ia hanya takut jika penghuni kamar tersebut telah terlelap nyenyak ke alam mimpi. Dia hanya tidak mau mengganggu tidurnya.
Di tengah keraguan hatinya, lelaki itu mencoba memutar knop pintu kamar, yang ternyata dalam kondisi tidak dikunci oleh sang pemilik.
Langkah kakinya terayun memasuki ruangan bernuansa pink tersebut. Ia mendekat ke arah Dara yang saat ini tengah tidur dalam posisi menyamping, memunggunginya.
"lo belum tidur, Ra?" tanyanya, saat sudah duduk di tepi ranjang. Melihat punggung Dara yang bergetar. Lelaki itu tau, jika gadis yang terbaring memunggunginya itu, hingga kini masih tetap menangis terisak karenanya.
Dara hanya diam, tanpa ingin menjawab sekalipun.
"maafin gue ya Ra. Gue nggak bermaksud buat marahin lo. Gue tuh cuman kawatir sama lo." Ucapnya menjelaskan. Dan dara hanya diam tak menjawab. Membuat lelaki itu tau jika adiknya ini masih kesal kepadanya.
"Gue cuman nggak mau kalau lo itu kenapa-napa Ra. Gue sayang sama lo melebihi apapun. Gue harap, lo nggak terlalu lama marah sama gue. Maafin gue ya?!" lanjutnya, mencoba menjelaskan. Namun lagi-lagi adiknya itu masih tetap diam tak menjawab.
Ray menghela napas sesat. Tangannya terulur untuk menaikkan selimut dara setinggi leher, lalu memberikan kecupan selembut kapas di keningnya. "cepet tidur, jangan nangis mulu. Entar makin jelek." Cetus Ray, dengan candaan ringannya, sambil mengusap puncak kepala penuh sayang.
Tidak lama setelah itu, Ray berdiri melangkah keluar, meninggalkan Dara dengan perasaan penuh sesal.
*****
"mah, gimana kabar mama? Ara harap mama baik ya disana. Walaupun mama sendirian setiap hari, tapi Ara selalu nggak pernah lupa kok buat doain mama disini."
Dara menunduk, berusaha menahan air mata yang sudah menggenangi pelupuk matanya. Namun itu hanya sebentar, karena tidak lama setelah itu, gadis itu kembali mengangkat wajahnya, memandang lurus ke arah gundukan tanah yang telah lama menjadi tempat peristirahatan terakhir almarhum mamanya. "kalau boleh jujur, sebenarnya Ara kengeen.. banget sama mama. Mama tau nggak, kak Ray semalam marahin aku cuman karena aku bawa motor diem-diem."
"Ara ngerti kok, kalau kak Ray mungkin cuman kawatir. Tapi.. rasa kawatirnya itu terkadang terlalu berlebihan, dan ngebuat Ara merasa terkekang. Nggak boleh ini, nggak boleh itu. Padahal kak Ray juga tau kalau Ara dari dulu suka banget bawa motor sendiri.
Seandainya mama masih ada, pasti mama bisa nasehatin kak Ray supaya nggak terlalu ngatur aku ini itu. Ara kan udah besar mah, udah SMA. Tapi kadang Ara ngerasa kalau kak Ray selalu nganggep aku kayak anak keci!"
Tangan Dara mengusap nisan yang bertulisan nama ibunya itu dengan lembut. Selama ia menceritakan keluh kesahnya, air matanya sudah tidak sanggup lagi ia bendung.
Gadis itu memang selalu begini, jika ada sesuatu yang membuatnya sedih, senang, atau apapun itu, ia akan menyempatkan untuk datang menziarahi makam ibunya dan menceritakan semuanya. Tentu saja ia melakukan hal itu setelah selelsai memanjatkan doa terlebih dahulu.
Bahkan terkadang bisa membuatnya hingga lupa waktu, saking asyiknya bercerita ini itu.
Seperti saat ini, sinar mentari pagi yang tadinya masih bersembunyi, kini sudah mulai mengintip dan perlahan-lahan semakin memancarkan silau di wajah Dara.
Seolah memberinya sebuah peringatan, jika waktunya berada di tempat itu sudah habis, dan kini adalah waktunya Dara untuk pergi menuju kesekolah, jika ia tidak ingin terlambat.
Dara melihat sebuah jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya sesaat. "mah, ceritanya udahan dulu ya?! Dara udah mau telat masuk sekolah. Tapi mama nggak perlu kuwatir, karena Dara pasti sering-sering ngunjungin mama lagi, biar mama nggak kesepian." Ucapnya, dengan senyum, tangannya untuk kesekian kali kembali mengusap jejak air mata di wajahnya. "Dara pamit ya ma."
Ucap gadis itu, lalu kemudian berdiri. Menghampiri sebuah motor yang sudah menunggunya diluar makam tersebut.
"udah selesai Ra?" tanya Niko, dan gadis itu menganggukinya.
"hampir aja gue nyusulin lo ke sana."
"kenapa?"
"habisnya lo lama banget Ra, gue fikir lo ketiduran." Cengir Niko, yang sebenarnya bermaksud menghilangkan kesedihan yang masih tercetak jelas di wajah gadis itu. Tentu saja dia sangat tau, jika gadis di depannya itu akan selalu menangis setiap kali mengunjungi makam ibunya.
"apaan sih kak, mana mungkin gue ketiduran di sana. Ada-ada aja." Dara mencebikkan bibir.
Membuat Niko tersenyum simpul. "Ra.."
"hmm..?"
"jangan terlalu lama marah sama kakak lo. Nggak baik. Apalagi lo pakek acara nyuruh gue buat njemput lo diem-diem kayak tadi." Ucap Niko, yang saat ini mengenakan seragam sekolah lengkap seperti Dara.
Ya, memang Dara menyuruh Niko menjemputnya pagi-pagi sekali di depan pagar rumahnya secara diam-diam. Hal itu memang menjadi keinginan Dara yang memintanya sendiri melalui sebuah panggilan telfon, untuk mengantarkannya ke tempat pemakaman ibunya.
Bahkan hal itu membuat kakaknya Ray menjadi kelabakan, saat mengetahui jika Dara sudah tidak ada di rumahnya, pada saat ia terbangun.
Namun, hal itu tidak berlangsung lama, saat Niko memilih untuk memberitahu jika Dara tengah bersamanya.
"ya udah, lain kali gue nggak bakal minta tolong kak Niko lagi. Abis, kak Niko kayak keberatan gitu sih." Cetus Dara.
"bukannya keberatan Ra, tapi----"
Belum sempat Niko meneruskan kalimatnya, Dara sudah terlebih dulu menaiki motornya dengan cepat. "ngomongnya entaran aja. Udah mau telat nih kak."
Niko menghela napas, lalu kemudian memilih untuk melajukan kendaraannya, saat ia sudah terlebih dulu memberikan helm pada gadis itu.
*****
Tidak membutuhkan waktu lama, Dara dan Niko sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah Harapan Bangsa.
Dara melepas helm, memberikannya pada Niko. Lalu kemudian turun. "makasih ya kak, udah mau nganterin gue." Dara tersenyum manis.
Niko yang melihat hal itu, ikut tersenyum ke arahnya. "iya, kalau lo mau, pulang sekolah nanti gue bisa jemput lo juga kok. Itupun kalau lo nggak keberatan."
Belum sempat Dara menjawab, suara seseorang yang cukup ia kenal membuat bibirnya terkatup cepat. "gue keberatan! Dan gue nggak suka liat lo deketin dia!" ucap lelaki itu tegas, sambil menarik tangan Dara cukup kuat, hingga membentur tubuhnya.
BERSAMBUNG..!