Belum sempat Dara menjawab, suara seseorang yang cukup ia kenal membuat bibirnya terkatup cepat. "gue keberatan! Dan gue nggak suka liat lo deketin dia!" ucap lelaki itu tegas, sambil menarik tangan Dara cukup kuat, hingga membentur tubuhnya.
"Daren, lo apa-apaan sih?" protes Dara yang tidak menyukai sikap lelaki tersebut. Sementara Daren hanya diam, sambil tetap menatap tajam ke arah Niko -teman Ray-yang menjadi musuhnya selama ini.
Tatapan Niko tertuju ke arah tangan Dara yang saat ini masih setia digenggam erat oleh Daren. Membuat Niko harus mengepalkan buku tangannya kuat, untuk meredam emosi yang sudah mulai tersulut.
"apa urusan lo ngelarang gue buat deketin Dara?" tanya Niko dengan nada tidak suka. Sama sekali tidak ada sedikitpun raut takut di wajahnya saat ini.
"jelas ini urusan gue, karena Dia sekarang udah jadi pac-hmmppp." Belum sempat Daren menyelesaikan perkataannya, Dara sudah lebih cepat membekap mulutnya menggunakan tanganya.
"emm... kak Niko, gue masuk dulu ya." Setelah berkata seperti itu, Dara dengan cepat melepas bekapannya, lalu menarik tangan Daren kuat untuk memasuki gerbang sekolah. Meninggalkan Niko yang saat ini masih menatap kesal penuh amarah ke arah mereka berdua.
dara masih saja menarik tangan daren hingga memasuki koridor, sementara Daren saat ini tengah berkutat dengan fikiran di kepalaya, mengenai hubungan Dara dengan Niko. Bagaimana dia bisa mengenalnya, sampai-sampai mereka berdua bisa berangkat sekolah bareng seperti tadi.
Rasa penasaran sudah merasuki fikirannya, hingga membuat lelaki tersebut melepas tarikan tangan Dara, membuat gadis itu menghentikan langkah, lalu menoleh menatap Daren penuh tanya.
"lo kenapa sih?" tanya Dara, membuat Daren semakin mencuramkan alis, memasang wajah kesalnya.
"bukan lo, tapi kamu." Jawab Daren dengan ekspresi yang masih sama.
"hah?" dara semakin tidak mengerti dengan ucapan lelaki didepannya itu. "maksud lo apa sih?"
Daren menghela napas sesaat. "kita ini udah resmi pacaran kan Ra. Seharusnya kita nggak manggil lo gue lagi."
Dara tertegun sesaat, berusaha mencerna perkataan lelaki yang semalam baru saja resmi menjalin hubungan dengannya. Tidak lama kemudian sudut bibir Dara terangkat perlahan, membentuk sebuah senyum yang perlahan menampilkan deretan giginya yang tertata rapi.
Gadis itu terkekeh geli saat mengerti apa yang di maksud Daren. "apaan sih, cuman masalah kayak begitu diributin." Dara lantas kembali mengayunkan langkah hendak pergi, namun hal itu ia urungkan, saat mendengar perkataan Daren.
"karena hal itu penting buatku Ra."
Dara menatap ke arah Daren, menelisik sebuah keseriusan di raut wajahnya. "sepenting itukah?"
Daren mengangguk cepat.
"padahal selama ini, lo kan-eh, maksudku kamu. Nggak pernah mempermasalahkan hal itu sama cewek-cewek kamu yang lainnya."
"buat kamu pengecualian." Ucapan tersebut, sontak membuat Dara bertanya heran.
"maksudnya?"
Daren kembali melangkah, dengan menggandeng tangan Dara. "kan aku udah pernah bilang, kalau aku beneran sayang sama kamu. Aku juga janji ke kamu kan, kalau aku bakal berubah, nggak kayak dulu lagi."
Dara terdiam, kepalanya mengangguk mengerti, berbarengan dengan degupan jantung yang semakin tidak karuan akibat tangan Daren yang sama sekali tidak ingin lepas dari tangannya.
Semburat merah pun kembali menghiasi wajah malunya.
"jadi.... Niko itu siapa kamu?" tanya Daren ingin tahu. Dara fikir lelaki itu sudah melupakan kejadian tadi. Namun ternyata dugaannya salah.
"aku fikir kamu udah lupa, ternyata kamu masih inget."
"jelas lah aku inget." Daren tiba-tiba teringat sesuatu. "tunggu... ja-jangan bilang, di-dia kakak kamu?" ucapnya sambil menghentikan langkah, saat mereka sudah berada di depan kelas, dengan kedua tangan yang sudah berada di kedua bahu Dara. Kedua bola matanya bahkan membulat sempurna, seolah berharap jika ucapannya tadi salah besar.
"bukan kok, tapi aku emang udah nganggep dia sebagai kakakku sendiri." Ucapnya lalu kemudian tersenyum. Sementara Daren justru mendengus, melepas tangan dari bahu Dara.
"tapi tetep aja aku nggak suka liat kamu deket-deket sama dia." Ucapnya, kembali memasang wajah tak suka.
Kedua retina Chaca melihat ke arah sahabat dan juga mantannya yang saat ini terlihat begitu dekat. Apalagi saat ini dia bisa melihat jika mereka berdua memasuki kelas bersama.
Tumben? Fikir Chaca keheranan.
"pagi Cha..." sapa Dara, sambil menaruh tas di atas meja. Lalu kemudian duduk di kursinya.
"pagi! Eh, kok lo bisa masuk kelas barengan sama si Daren sih?" tanyanya ingin tau.
"emangnya kenapa?"
"nggak papa sih, cuman dikit aneh aja. Tapi Ra, lo nggak beneran suka kan sama dia kan?"
Dara terhenyak sesaat. Ia seolah melupakan ucapan Chaca dulu, yang menyuruhnya menyakiti hati Daren, ketika lelaki itu sudah mulai menyukainya.
"e-enggak lah. haha, lo aneh-aneh aja." Dustanya, dengan tawa palsu, menyembunyikan kebohongannya.
Sorry Cha... batin Dara merasa bersalah.
Seorang guru terlihat sudah memasuki kelas tersebut dengan membawa buku materi pelajaran yang akan di ajarkan di kelas itu hari ini.
Namun Dara sama sekali belum bisa menghilangkan fikirannya mengenai ucapan Chaca barusan, bagaimana bisa ia melupakan hal sepenting ini?
Kedua netra Dara sesaat terpejam, dan tak lama kembali terbuka, gadis itu menggeleng pelan, berusaha menyingkirkan sesuatu yang mengganggu di benaknya. Dara akan mencoba jujur pada Chaca, tapi itu nanti di waktu yang tepat.
*****
"lo ngapain ngajakin kita berdua ke sini?" Mario bertanya heran pada Daren, saat dirinya sudah berada di rooftop sekolah bersama Farel di sampingnya.
Belum sempat Daren menjawab. Farel sudah lebih dulu menyelanya. "kalau lo mau ngajakin kita berdua ngerokok, entaran aja lah. habis makan. Gue udah laper nih." Tangan Farel, mengusap perutnya yang saat ini sudah mulai berteriak meminta jatah makan.
Pasalnya saat istirahat tadi, Farel dan Mario di paksa Daren untuk menemuinya di atap sekolah. Membuat mereka belum sempat memasukkan apapun kedalam perut kosongnya.
Daren memutar bola matanya sesaat. "bukan itu. Gue ngajakin kalian berdua kesini soalnya ada yang mau gue omongin sama kalian berdua. Sekaligus gue juga pengen ngaku sesuatu."
"apaan emang?" Mario bertanya antusias.
"iya, apaan sih, sampai-sampai lo harus ngajakin kita ke rooftop segala. Padahal ngomong di kantin juga bisa, sekalian sambil makan." Sahut Farel, yang masih merasakan lapar di perutnya.
"otak lo dari tadi makanan mulu." Cetus Mario, melirik ke arah Farel sesaat.
"dih, si t*i. Nggak ngerti orang lagi laper apa?!" balas Farel yang tidak mau kalah.
"gimana gue bisa ngerti, kalau lo nggak masang pengumuman di jidat lo itu pakek kertas. Lo pikir gue bisa baca isi otak lo!"
"lah si anjing, bukannya barusan gue udah ngomong."
"lah si t*i. Resek lo kalau lagi laper."
"elo tuh yang resek!"
"elo."
"elo."
"elo.."
Perdebatan tidak penting dari kedua temannya itu semakin membuat Daren kian pusing, dengan tangan yang memijit pangkal hidungnya.
Daren menghela napas lelah mendengarkan perdebatan konyol antara dua temannya itu. Lalu setelah itu, ia mulai mengumpulkan keberanian, untuk mengatakan sesuatu yang sedari tadi sempat tertahan gara-gara mereka berdua.
"STOP....!!" teriak Daren menghentikan perdebatan dari kedua temannya.
Mario Dan Farel yang tadinya sedang beradu mulut pun seketika tersentak, dan langsung menghentikan perdebatan tidak penting mereka saat mendengar suara temannya yang tiba-tiba meninggi.
"gue kan udah bilang tadi, kalau ada yang pengen gue omongin sama kalian berdua. Ini kenapa malah kalian ribut sendiri sih." Kesal Daren, dengan tingkah dua sahabat dekatnya itu.
Mario dan Farel nyengir berbarengan.
"sorry bro, tadi lo mau ngomong apa?" tanya Mario kemudian.
Dengan entengnya, Daren berucap. "gue suka sama Dara!" lalu kemudian daren mulai menceritakan semuanya pada kedua temannya itu, mulai dari dirinya yang melakukan perjanjian soal pacaran satu bulan dengan Dara, dan hal itu memang belum diketahui oleh kedua temannya sama sekali.
Perkataan itu sontak membuat kedua sahabatnya itu terkejut bukan main, dengan pandangan saling menatap satu sama lain. Mereka sama sekali tidak menyangka jika Daren akan membuat pengakuan seperti ini.
"kita berdua nggak salah denger kan?" tanya Farel yang takut, jika telinganya itu sudah mulai bermasalah.
"iya Dare, lo seriusan suka sama si Dara? Cewek yang selama ini selalu ngatain lo sebagai playboy kutil landak??" tanya Mario masih tidak bisa percaya, sambil sedikit mengingatkan bagaimana selama ini Dara selalu mengatainya.
Daren memutar bola matanya jengah, atas ucapan Mario barusan. "gue serius. Dan lo nggak usah ngingetin gue yang dulu-dulu. Oh ya, gue juga mau bilang ke kalian berdua buat batalin taruhan kita waktu itu. Sorry."
"batalin taruhan??" Farel kembali mengulang apa yang ia dengar barusan, dengan dahi mengernyit heran.
Daren mengangguk pasti. "iya. Karena gue nggak mau jadiin cewek yang gue sayang sebagai bahan taruhan nggak penting kita."
Lagi-lagi, Farel dan Mario kembali saling menatap satu sama lain. Dan tak lama setelah itu, kedua bibir mereka terangkat naik, yang perlahan menampilkan satu garis senyum, hingga membuat tawa mereka berdua pecah seketika.
Mereka bahkan kini sudah tertawa dengan terpingkal-pingkal. Sambil memegangi perut masing-masing.
"hahaha, gue nggak nyangka, kalau lo bisa kena karma kayak gini bro." Ucap Farel disela-sela tawanya.
"gue fikir, seorang Daren Bagaskara nggak bakalan bisa takluk sama seorang cewek sampai kapan pun. Tapi ternyata dugaan gue salah selama ini." Ucap Mario, yang bahkan belum sanggup untuk menghentikan tawanya.
Daren mendengus, dari awal ia sudah tau jika kedua temannya itu akan mengejeknya seperti ini. Tapi Daren sama sekali tidak perduli, dan tidak mau ambil pusing. Yang terpenting kedua temannya saat ini sudah tau tentang perasaannya terhadap Dara.
"terserah kalian berdua mau ngomong apa. Yang jelas, gue mau batalin taruhan kita waktu itu." Ucap Daren, kembali mengulang perkataannya yang tadi. "jadi gue minta sama kalian berdua, jangan sampai Dara tau masalah taruhan ini. Lo berdua bisa kan jaga rahasia?"
"ya, gue ngerti. Masalah Dara yang kita jadiin bahan taruhan waktu itu, kita jamin nggak bakalan ada yang tau." Kata Farel meyakinkan.
"eh, terus gimana soal perasaannya si Dara sama lo? Apa dia juga----"
Seolah mengerti maksud dari pertanyaan Mario tadi, daren pun menjawab. "ya, gue juga nggak nyangka sebenarnya, kalau ternyata Dara juga nyimpen perasaan yang sama buat gue."
"hah, ja-jadi kalian berdua udah beneran pacaran?
"udahlah." Jawab Daren dengan cepat, sambil tersenyum membayangkan kejadian ciumannya bersama Dara semalam, yang menjadi ciuman terindah untuknya.
Walaupun ia sudah sangat sering sekali melakukan ciuman dengan banyak wanita sekalipun, namun hanya dengan Dara, ia dibuat kacau dan sulit untuk melupakannya. Hingga membuatnya sampai susah untuk tidur pada malam harinya.
Mereka bertiga tetap mengobrol satu sama lain, dan masih tetap membicarakan Dara, hingga tidak lama setelah itu, obrolan mereka terhenti saat mereka mendengar bunyi suara handpone berdering, berbarengan dengan suara pintu rooftop yang tertutup dengan kencang.
Membuat Daren bergerak cepat menelisik ke asal suara, untuk memastikannya. "WOI, SIAPA DISANA?!"
Daren membuka pintu rooftop yang tertutup tadi, dan melihat ke arah tangga, yang ternyata tidak ada siapapun disana. Membuatnya khawatir sekaligus gelisah. Ia hanya takut ada orang yang mendengarkan percakapan bersama kedua temannya tadi.
"siapa Dare?" tanya Mario, menepuk bahu Daren.
Sementara lelaki itu hanya mengedikkan bahu tidak tahu, dengan ekspresi kawatir yang begitu tercetak jelas di wajahnya.
*****
Seorang wanita nampak terlihat terengah-engah berlari di belokan anak tangga menuju lantai satu dengan degup jantung yang berpacu cepat. Bahkan sebuah ponsel yang berada di tangannya masih setia ia genggam dengan erat.
Sesekali gadis itu menoleh ke arah belakang dengan langkah kaki yang tetap berlari, memastikan tidak ada ketiga lelaki tadi yang mengikutinya. Hingga membuatnya beberapa kali menabrak para murid lain yang berada di depannya. Dan membuat para murid tersebut memberikan u*****n yang sama sekali tidak diperdulikan sedikitpun olehnya.
Gadis itu berbelok dan memasuki salah satu bilik toilet, menguncinya dengan rapat. Tangan kirinya memegangi deru napas didadanya yang tersengal naik turun sambil sedikit membungkukkan badannya. Membuat rambut panjangnya yang tergerai, menjuntai menutupi sisi wajahnya. Dia hampir saja kehabisan napas.
"s**l, hampir aja gue ketahuan." Umpatnya, di sela deru napasnya.
Matanya beralih menatap sebuah ponsel yang sedari tadi berada di genggaman tangannya, lalu kemudian membuka layar ponsel tersebut, memutar sebuah video yang berhasil ia rekam waktu di rooftop tadi.
Seringaian perlahan muncul menghiasi sudut bibirnya, berbarengan dengan sebuah ide licik yang terlintas saat ia memutar video tersebut. "tinggal gue edit dikit, biar Daren kelihatan brengseknya di depan Dara."
BERSAMBUNG...