SMA Tunas Bangsa.
Suasana di dalam kelas Ray, terlihat begitu ramai riuh, dengan suara gemuruh teriakan dari siswa siswinya yang tengah saling bercanda bersama temannya satu sama lain. Ada yang berlarian didalam kelas, saling melempar kertas ataupun bulpoin, oh.. jangan lupakan juga ada beberapa pasangan murid yang memanfaatkan waktu jam pelajaran kosong dikelas tersebut dengan berpacaran bersama pasangannya. Atau para lelaki yang hanya sekedar merayu atau pun saling mengejek beberapa murid perempuan di kelasnya.
Lain halnya dengan Ray, Jerry, dan juga Niko. Yang saat ini terlihat tengah serius membicarakan sesuatu di bangku tempat mereka duduk. Seolah mereka sama sekali tidak terganggu sedikitpun dengan suara kegaduhan di kelasnya.
"ada yang mau gue tanyain sama lo." Ucap Niko, penuh keseriusan.
"soal apa?" tanya Ray.
"soal Dara." Jawab Niko.
"kenapa emang?" Ray bertanya kembali. Sementara sebelah alis Jerry terangkat naik penuh rasa penasaran.
"apa lo tau, kalau adek lo kenal sama musuh lo Daren?"
"gue nggak tau pasti sih. Yang gue tau, mereka cuman satu sekolah." Jawab Ray.
"emang kenapa Nik?" kali ini, Jerry yang bersuara, melontarkan pertanyaan pada Niko.
"tadi pagi, pas gue nganterin Dara kesekolah. Gue nggak sengaja ketemu sama si Daren di depan pintu gerbang."
"terus, lo berdua ribut?" jerry bertanya kembali.
"sempet adu mulut dikit. Gara-gara dia yang tiba-tiba dateng, dan nggak ngebolehin gue deket sama si Dara."
"lah kenapa?" tanya Jerry semakin ingin tau.
Niko mengedikkan bahu. "gue juga nggak ngerti. Tapi yang jelas, mereka berdua kelihatan akrab." Niko mendengus, ada raut kesal saat dirinya kembali mengingat, bagaimana Daren yang waktu itu menarik kencang tangan Dara, hingga membentur tubuhnya. "gue heran sama lo, Ray. Kenapa lo ngebiarin Dara sekolah di tempat yang sama dengan musuh lo?"
"adek gue sendiri yang pengen sekolah disitu, gara-gara dia nggak pengen pisah sama sahabatnya Chaca. Lagian, gue juga nggak punya alesan buat ngelarang Ara sekolah di manapun kan?! Gue juga nggak tau, kalau gue bakalan punya musuh di tempat sekolah Ara."
Saat Ray tengah bericara, tangan Jerry terlihat sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya, yang tak lama kemudian muncul notifikasi pesan masuk di ponsel Niko.
"bilang aja lo cemburu, ngeliat si kucing garong ngedeketin si Dara."
Niko membaca pesan tersebut, sambil melirik ke arah Jerry yang tersenyum tanpa dosa ke arahnya, sambil menaik turunkan alis matanya berulang kali. Membuatnya ingin membenturkan kepala Jerry berulang kali ke tembok sampai hancur.
Tangan Niko dengan kesal membalas pesan tersebut "berisik lo t*i kuda!"
*****
Hari ini, disekolah Harapan Bangsa, semua murid pulang dijam lebih awal dari biasanya, karena para guru sedang melakukan rapat mendadak.
Tentu saja hal itu membuat para siswa siswi bersorak kegirangan. Suatu Hal yang paling mereka sukai selain hari libur.
"yes, gue bisa main ps sepuasnya." Ucap Farel begitu senang. "yo, hari ini ke rumah gue kan?" tanyanya pada Mario.
"Males gue."
"Lah, kenapa?" tanya farel tak mengerti.
"Hari ini gue pengen molor di rumah." ucap mario, yang baru membereskan semua buku-bukunya ke dalam tas.
"Alah, alesan lo basi banget. Gue tau, kalau lo pengen nonton bokep dari kaset yang lo beli kemaren kan?" selidik Farel penuh curiga.
Tanpa perduli jika ucapannya tadi ada yang mendengar atau tidak.
"Anjir nih anak, mulut lo mau gue sumpel pakai kaos kaki hah?" ujar Mario dengan satu tangan yang sudah bersiap membuka sepatunya.
Farel nyengir tanpa dosa. "Ehehehe.. Sorry-sorry."
Lalu kemudian kedua netra Farel menatap ke arah Daren sahabatnya, yang saat ini terlihat terburu-buru memasukkan peralatan tulisnya ke dalam tas. "Dare, buru-buru banget lo. Emang mau kemana habis pulang sekolah ini?"
"mau ngajakin cewek gue jalan lah. emang elo nggak punya cewek. Jones akut." Cetus Daren, dengan santainya.
"woah.. makin songong nih anak. Nggak inget dia, siapa tadi yang udah ngebantu lo kabur dari kejaran mantan lo yang s***s-s***s itu." Kata farel, mengungkit.
Karena memang dia dan Mario, saat istirahat tadi sudah berusaha keras membantu Daren yang secara serentak mengumpulkan para pacarnya, yang sebagian terdiri dari beberapa adik kelasnya, untuk di putuskan secara masal di taman belakang sekolah.
Dan hal itu menimbulkan kemarahan dari sebagian besar para wanita yang saat ini baru saja berganti status menjadi mantan Daren. Mereka yang tidak terima bahkan mengumpati Daren dengan perkataan kasar, ada juga yang menangis dan bahkan mengamuk. Sehingga membuat mereka bertiga harus melarikan diri dari kejaran para wanita tersebut.
"tau, nih liat tangan gue." Mario menunjukkan lengan tangannya pada Daren. "masih ada bekas cakaran dari mantan-mantan lo yang gila itu. Mana masih perih lagi. Gue nggak nyangka mereka sesadis itu." Ucapnya, dengan sesekali meniupi lengan tangannya.
"baru gitu doang, kalian udah pada ngeluh kayak gini. Ini namanya solidaritas dalam pertemanan." Ucap Daren dengan entengnya, sambil berdiri menyandang tas. "ya udah ya, gue pamit mau nyamperin princess gue dulu."
Setelah berkata seperti itu, Daren langsung melangkah pergi meninggalkan kedua sahabatnya itu yang saat ini, masih menatapnya kesal. "solidaritas pale lu peyang!" teriak Farel, yang sama sekali tidak diperdulikan Daren sedikitpun.
*****
Chaca dan Dara terlihat berjalan di koridor saat pulang sekolah, sambil membicarakan rencana mereka yang akan pergi ke toko buku bersama. Ada salah satu novel yang ingin mereka berdua beli.
"Ra, habis ini mau pulang dulu, atau langsung ke toko buku?" tanya Chaca.
"langsung juga nggak papa. Lagian kan, kita perginya cuman bentar." Jawab Dara.
"oh, kalau gitu pakek mobil gue aja ya?"
"emang supir lo jam segini udah jemput Cha?"
"belum sih, tapi habis ini gue telfon pasti langsung kesini. Lo nggak papa kan nunggu bentar?" tanya Chaca yang takut jika temannya itu keberatan.
"ya nggak papa lah, kan gue tiap hari udah biasa nungguin kakak gue jemput. Lo tau sendiri kan, kalau kakak gue itu suka ngaret." Kata Dara mengingatkan kebiasaan Ray jika menjemputnya.
Membuat Chaca terkekeh geli. Bagaimana bisa dia melupakan hal itu?!
"Dara!" panggil seorang lelaki, membuat mereka berdua menoleh.
"kenapa?" tanya Dara, saat ia melihat Daren yang sudah berada di dekatnya, karena lelaki itu tadinya sedikit berlari menghampirinya.
Daren sejenak mencoba mengatur napas untuk berbicara. "hari ini nggak ada acara kan? Kita keluar bareng ya?"
Dara yang memang sudah membuat janji dengan sahabatnya Chaca itu, di buat kebingungan untuk menjawab. "duh.. gimana ya, tapi aku udah ada janji sama Chaca pergi ke toko buku. Maaf ya.. lain kali mungkin bisa."
Ada raut kecewa yang tercetak jelas di wajah Daren saat ini. Padahal ini adalah waktu yang tepat untuk mengajak Dara keluar saat sekolahnya pulang cepat seperti sekarang ini.
Mengingat jika Dara begitu susah di ajak keluar, karena kakaknya yang terlalu mengekangnya.
Chaca yang melihat hal itu, lantas dengan cepat berucap. "eh, Ra. Kita kan bisa keluar lain kali, lo mending pergi aja sama Daren. Gue nggak papa kok." Ucapnya sambil menyikut lengan Dara. Ia hanya tidak mau jika kesempatan emas ini hilang begitu saja.
Menurut Chaca, jika Dara semakin bisa membuat Daren untuk lebih mencintainya, maka kesempatan untuk melukai hati lelaki itu akan kian semakin besar.
"tapi kan Cha, gue jadi nggak enak sama lo." Ujar Dara.
"hatduuh.. udah deh, nggak perlu pakek acara nggak enak segala. Kita kan bisa pergi besok." Chaca mendorong tubuh Dara kedekat Daren. "ya udah kalau gitu, gue balik duluan ya.. bye Ra." Chaca melambaikan tangan, sambil melangkah pergi meninggalkan Dara bersama Daren.
"ini semua gara-gara kamu. Acaraku buat pergi sama Chaca jadi batal kan." Ucap Dara. Memukul bahu Daren cukup kencang.
Daren memekik, tangannya memegangi bahu yang dipukul Dara. "duh, mukulnya jangan kenceng-kenceng dong, sakit!! Lagian Chaca juga biasa aja kan tadi. Kenapa jadi kamu yang sewot."
"tapi aku jadi nggak enak sama dia. Gara-gara kamu!!"
"ya udah maaf. Tapi ini kan juga kesempatan bagus buat kita keluar bareng. Kamu lupa? Kakak kamu kan sering ngelarang kamu keluar kalau nggak ada kepentingan khusus." Kata Daren mengingatkan.
"ya udah sih, biarin. Kan kita tiap hari masih bisa ketemu disekolah."
"tapi aku juga pengen jalan keluar bareng kamu Ra. Oh ya, sekalian ada yang mau aku kasih liat ke kamu."
Dara menatap lelaki itu penuh tanya. " apaan?"
"entar juga kamu tau."
Daren lalu menggandeng tangan Dara menuju parkiran.
Mengajak gadis itu menaiki motor bersamanya, untuk menuju kesuatu tempat.
*****
Motor sport Daren berhenti tepat disebuah rumah, yang terlihat cukup mewah, dengan pagar besi yang menjulang tinggi mengelilingi rumah tersebut.
Bahkan pelataran rumah tersebut sangat luas, dengan di tumbuhi banyak tanaman hijau dan juga bunga yang bermacam-macam. Memberi kesan jika pemilik rumah tersebut begitu menyukai bunga dan juga tanaman hias lainnya.
Dara yang kebingungan pun akhirnya bertanya pada lelaki itu. "ini rumah siapa?"
"rumahku." Ucapnya, sambil melepas helm dikepala.
"hah, ru-rumah kamu? Ki-kita ngapain kesini?" tanya Dara, yang sudah terlihat bingung dan juga gugup. Ia sama sekali tidak menyangka, jika Daren akan mengajak ke rumahnya seperti ini.
"ya, aku cuman pengen ngajak kamu main ke rumahku. Ketemu sama mamaku. Itu doang kok."
Dara memegangi lengan Daren dengan erat. "tapi, kenapa kamu nggak bilang aku lebih dulu sih? Tau gitu, tadi aku pulang dulu buat ganti baju. Kan nggak enak kalau masih pakek seragam kayak gini. Ka-kalau gitu, mending aku pulang aja deh." Ucap Dara, dengan langkah kaki yang sudah berbalik, bersiap pergi.
Tapi tentu saja Daren tidak akan membiarkannya begitu saja. "eh... kok malah minta pulang sih. Mamaku kan pengen ketemu sama kamu Ra." Ucapnya, memegang tangan Dara, menahannya agar gadis itu tidak pergi.
"nga-ngapain mama kamu pengen ketemu sama aku?" Dara terlihat semakin gugup saja saat ini, dia sama sekali belum siap untuk bertemu dengan mama Daren.
"kan aku udah cerita sama mamaku semalam, soal kamu. Terus.. kata mama, dia penasaran sama kamu." Daren semakin mengeratkan tangannya pada tangan Dara. Seolah memberinya ketenangan.
"udah, kamu jangan kawatir. Mamaku orangnya baik kok. Kamu tenang aja ya.." ucap Daren, dan Dara hanya mengangguk ragu, dengan diselimuti perasaan gugup yang luar biasa.
Lelaki itu akhirnya mengajak Dara untuk masuk ke dalam rumahnya yang memang sangat luas itu, hampir sama luasnya dengan kediaman Dara.
"assalamualaikum mah.. Daren udah pulang nih." Ucap Daren yang berteriak cukup lantang, memanggil sang mama, saat sudah berada di ruang tamu rumahnya.
"waalaikumsalam. Ya ampun... anak mama yang paling ganteng udah pulang." Maya memberikan ciuman sayang, dipipi kiri dan kanan anaknya. Membuat lelaki itu menjadi sedikit risih di depan sang pacar. Sementara Dara yang melihat hal itu, saat ini sudah tersenyum geli dengan satu tangan yang ia gunakan untuk menutup senyuman dibibirnya.
"mah, nggak usah pakek cipika cipiki segala napa, kan malu di liatin Dara." Protes Daren, dengan memanyunkan bibirnya beberapa senti kedepan, sambil mengusap pipinya, yang ia yakini pasti sekarang terdapat lipstik sang mama tertinggal di wajahnya.
Maya yang baru menyadari jika daren saat ini tengah pulang dengan seorang perempuan pun terlihat bertanya bingung. "Dare, ini siapa? Kok cantik banget."
"ini yang namanya Dara mah, yang aku ceritain sama mama semalam. Cantik kan?" ucap Daren, tersenyum penuh arti. Sementara Dara saat ini terlihat begitu gugup dan canggung di depan Maya.
Tidak mau terlalu lama dalam keadaan canggung, Dara mengulurkan tangan, bermaksud memperkenalkan diri. "kenalin tante, saya Dara. Temen satu sekolahnya Daren."
Daren yang mendengar jika Dara mengakuinya sebagai teman di depan ibunya, tentu saja tidak terima. "bohong mah, bukan temen. Tapi pacar." Daren menatap Dara dengan protes yang keluar begitu mudah dari mulutnya. "sayang, kok kamu nggak ngakuin aku pacar di depan mama sih?"
Tangan kiri Dara mencubit pinggang Daren cukup kencang. Karena menurutnya Daren sudah membuatnya semakin malu saat ini. "isshh.. ngeselin banget sih kamu!" ucapnya, dengan setengah berbisik.
Daren tentu saja mengaduh kesakitan. "aduh, kok nyubit sih? Sakit tau..!" protesnya, dengan tangan mengusap pinggang yang masih tertutup seragam sekolahnya.
Namun hal itu masih bisa di dengar jelas oleh Maya, membuatnya terkekeh geli saat melihat Dara yang begitu saja mencubit pinggang Daren sepeti itu. "kalian berdua ini lucu banget sih. Serasi lagi. Mama jadi inget pas waktu jaman muda dulu. Oh ya, panggil aja saya tante maya, atau manggil mama juga boleh kok. terserah kamu enaknya kayak gimana." Maya melepas jabatan tangannya.
Kedua pipi Dara serasa memanas. Saat mendengar pujian yang baru saja keluar dari mulut Maya. Daren yang melihat hal itu, semakin betah memandangi wajah imut gadisnya, yang memerah seperti ini.
"ya udah. Dara, kamu duduk dulu gih, anggap aja rumah sendiri. Tante mau minta tolong bibik dulu buat bikinin kamu minum, ya.." ucap Maya, yang di angguki oleh Dara.
Tak lama setelah itu, Maya beranjak pergi menuju dapur. Sementara Daren sudah menemani Dara duduk manis di sebuah sofa panjang yang berada di ruang tamu tersebut.
BERSAMBUNG DULU YA.... ^_^