25

2016 Kata
Tak lama setelah itu, Maya beranjak pergi menuju dapur. Sementara Daren sudah menemani Dara duduk manis di sebuah sofa panjang yang berada di ruang tamu tersebut. "gimana, mamaku baik kan?" Daren bertanya, sambil mengulurkan tangannya ke belakang punggung Dara, berniat merangkulnya. Namun Dara yang tau hal itu, dengan cepat menepis tangan lelaki tersebut hingga membuatnya mendengus. "cuman pengen ngerangkul doang, masak nggak boleh?!" Tangan Dara memukul paha Daren sekali. "nanti di lihat mama kamu, malu tau!" Daren yang mendapatkan pukulan tersebut, justru menggerutu. "perasaan dari tadi aku dianiaya terus." "emm... oh ya, tadi katanya kamu mau kasih liat aku sesuatu, apaan emang?" tanya Dara yang tiba-tiba saja mengingat ucapan Daren waktu disekolah tadi. Daren yang juga baru mengingat hal itu, akhirnya mengeluarkan ponsel dari sakunya. Namun, belum sempat ia menunjukkannya pada sang pacar, Maya sudah lebih dulu datang ditemani pembantunya, sambil membawa beberapa makanan ringan dan juga minuman untuk mereka berdua. "duh tante, jadi ngerepotin gini. Maaf ya tante.." ucap Dara yang merasa tidak enak. "apaan sih, tante sama sekali nggak ngerasa direpotin kok. Justru tante seneng, karena Daren mau ngenalin pacarnya sama tante." Ucapnya, saat sudah menaruh makanan kecil yang ia bawa tadi di atas meja. "oh ya Ra, tadi kan tante bikin puding. Kamu cobain gih." Dara tersenyum canggung, lalu kemudian mengambil puding buah yang terlihat lucu dan sudah terpotong kecil-kecil mirip sekali dengan buah semangka. Dan kemudian memakannya. "gimana Ra, suka?" tanya Maya antusias. Dara pun mengangguk sambil tersenyum ramah, "suka kok tante. Rasanya mirip puding buatan almarhum mama saya dulu." Kata Dara, sambil kembali melahap puding tersebut, yang begitu sangat ia sukai. Dan membuatnya teringat akan kenangan dengan almarhum mamanya. Kedua netra Maya dan juga Daren saling berpandagan satu sama lain, seolah fikiran mereka bisa saling terhubung, ingin sekali Maya menanyakan tentang orang tua Dara. Namun ia akhirnya mengurungkannya, karena tidak ingin membuat gadis itu menjadi sedih, dan membuatnya kian teringat dengan sosok ibu kandungnya. "kalau kamu suka, nanti biar tante bawain buat kamu ya?" "eh nggak usah tante, Dara nggak mau ngerepotin tante." Tolaknya dengan halus. "nggak ngerepotin sama sekali kok Ra. Lagian tadi tante bikinnya kebanyakan. Sedangkan di rumah cuman ada Daren sama papanya doang kan." Maya tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya, memberi waktu pada mereka berdua untuk mengobrol. "ya sudah kalau gitu, kalian ngobrol aja dulu. Tante ke dalam dulu." Sebelum langkah kakinya benar-benar beranjak pergi, wanita yang masih terlihat awet muda, diumurnya yang baru menginjak kepala empat itu, memberi candaan pada Dara sesaat. "oh iya, satu lagi. Tante hampir lupa. Kalau nanti anak tante nakal, kamu tinggal teriak aja panggil tante yang kenceng. Biar nanti tante yang ngasih Daren hukuman." Ucapnya, di akhiri dengan tawa dibibirnya. Daren yang mendengar hal itu, tentu saja mendelik kaget. "apaan sih mah, Daren mana mungkin nakal." Protesnya tak terima, memasang wajah ngambek yang sama sekali tidak diperdulikan oleh Maya, karena Maya lebih memilih pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua di ruang tamu. "Ra, jangan didengerin omongan mama barusan. Aku mana mungkin nakal sama kamu. Paling cuman dikit doang." Cengirnya, sambil menggenggam tangan Dara, yang kemudian di tepis oleh gadis itu. "nggak usah modus!" ucap Dara tegas. Dan lagi-lagi Daren hanya bisa mendengus pasrah. "ck, dikit doang nggak boleh." "dikit-dikit, lama-lama bisa keterusan!" ucap Dara, mengingatkan. Daren hanya bisa pasrah, lalu kemudian memberikan ponselnya pada Dara. Membuat gadis itu menjadi kebingungan. "apaan?" kata Dara bertanya tak mengerti. "buka aja galery nya." Kata Daren menyuruh. Kening Dara mengernyit heran. "buat apa?? Nggak mau ah, takut nemu yang nggak-nggak entar." Ucap Dara, dengan kembali memberikan ponsel tersebut pada Daren. "duh, gini nih. Kalau sama pacar sendiri curigaan mulu." Ujar Daren, sambil membuka sendiri gallery di ponselnya, memutar salah satu video dan menunjukkannya pada sang pacar. Dara tersentak kaget, waktu ia menyaksikan video tersebut. Di dalam video nampak ada beberapa pacar Daren, dikumpulkan menjadi satu. Lalu kemudian di putuskan oleh Daren secara masal. Dan tak lama kemudian, rekaman di video tersebut menjadi tidak jelas, karena para wanita tadi sudah berhamburan mengejar sang pemegang ponsel. Hendak merampas ponsel tersebut. Dan hal itu justru membuat Dara tertawa geli. "ya ampun.. aku nggak nyangka kalau kamu bisa melakukan hal segila ini." Ucapnya, dengan tawa yang sulit ia hentikan. "tentu saja bisa. Aku cuman bisa ngelakuin hal gila kayak gitu, demi kamu Ra." Perkataan Daren yang terlihat serius itu, membuat tawa Dara seketika berhenti. Ada rasa tersanjung, karena lelaki yang duduk di sampingnya saat ini rela melakukan hal seperti itu hanya untuknya. Apalagi Daren ternyata benar-benar menepati janjinya waktu itu, untuk memutuskan semua koleksi pacarnya selama ini. Dia fikir, Daren akan berpura-pura tidak ingat. Namun ternyata dugaannya salah besar. "sekarang~ kamu percaya kan sama aku?" tanya Daren, dengan kembali menggenggam tangan gadisnya. Dan kali ini Dara sama sekali tidak menepisnya sedikitpun. "jadi~ kamu~ udah beneran mutusin keseluruhan pacar kamu?" "belum sih, cuman tinggal satu doang." Kata Daren jujur. Dara menoleh ke arah lelaki tersebut penuh tanya. "oh ya, siapa?" "Yola." Gadis itu memalingkan pandangannya ke arah rok sekolah yang ia kenakan, sambil memainkan jari tangannya, setelah sebelumnya ia kembali melepas genggaman tangan Daren darinya. "oh. Kenapa emang? Kamu~ masih sayang ya sama dia? Wajar sih, Yola kan anaknya cantik banget. Nggak kayak a----" belum sempat Dara menyelesaikan kalimatnya, lelaki itu sudah lebih dulu membungkam mulut Dara menggunakan tangannya, agar gadis itu tidak bisa melanjutkan perkataannya. "bagiku, cuman kamu yang paling cantik Ra." Ucapnya jujur. "besok, aku pasti putusin Yola. Soalnya... tadi aku udah ngubungin Yola, tapi dia sama sekali nggak angkat telfonku. Aku juga heran kenapa. Padahal biasanya dia selalu angkat." Mendengar alasan yang diberikan oleh Daren, membuat gadis itu mengangguk mengerti. Dia mencoba mempercayai apa yang Daren katakan. Lagipula Daren juga sudah menepati janjinya kan, yah.. walaupun memang masih ada satu wanita yang masih belum diputuskan oleh Dia. Perbincangan mereka berlanjut hingga tak lama setelah itu Maya kembali datang, dan ikut mengobrol kembali bersama mereka. Dimata Maya, Dara adalah sosok perempuan yang baik. Walaupun ia baru pertama kali bertemu, tapi wanita itu sangat yakin, jika pemikirannya tidaklah salah. Dibandingkan dengan Yola, yang selalu memakai pakaian kekurangan bahan, dan juga tanpa malu mengumbar kemesraan didepannya. Hal itu benar-benar berbeda dengan Dara. Ya.. sangat berbeda. Bahkan rok yang dikenakannya tidak sependek rok yang dikenakan Yola saat berkunjung ke rumahnya. Setelah perbincangan yang cukup panjang, Dara mencoba melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya. "emm... tante, kayaknya udah kesorean, Dara mau pamit pulang dulu." "loh, kok udah mau pulang aja Ra? Padahal tante masih pengen ngobrol banyak sama kamu. Lagian bentar lagi, papanya Daren mau pulang kantor. Kan tante juga pengen kenalin kamu sama suami tante." Kata Maya yang tidak merelakan Dara pergi secepat ini. "i-iya, maaf tante. Lain kali Dara pasti main kesini lagi kok." "bener?" Dara mengangguk pasti. "ya udah, kalau gitu tunggu bentar, biar tante bungkusin puding yang tadi buat kamu. Kan tadi katanya kamu suka." "eh, nggak usah tante. Nggak perlu serepot itu." Tolak Dara, yang merasa semakin tidak enak. "udah Ra, biarin aja. Kan mama sendiri yang nyuruh." Sela Daren, membuat dara terdiam pasrah, tanpa bisa menolak lagi. ***** "Ra, beneran nih, kamu mau main ke rumah lagi ketemu mama?" tanya Daren, yang seolah masih tak percaya jika Dara mau kembali lagi berkunjung ke rumahnya. "ya, kalau kamu ngajakin lagi. Pasti aku mau." Ucap Dara yang saat ini tengah di bonceng Daren, sambil melingkarkan tangannya di pinggang lelaki itu cukup erat. Menurut Dara, bertemu langsung dengan mama Daren membuatnya bisa mengobati rasa rindu di hatinya mengenai almarhum ibunya. Selama ini Dara bahkan hanya bisa merasakan sebuah kasih sayang yang diberikan oleh sang ayah, walaupun hal itu bisa dibilang jarang, karena ayahnya yang selalu disibukkan oleh pekerjaan di luar negeri. Sehingga membuatnya terbiasa menerima kasih sayang dari sang kakak, satu-satunya orang yang selalu dekat dengannya. Walaupun memang terkadang cara menujukkan rasa sayangnya itu, seringkali membuat Dara merasa tidak nyaman, karena merasa terlalu terkekang oleh sikap kakaknya selama ini. "kalau besok gimana? Kamu mau?" tanya Daren, penuh harap. "ya nggak besok juga. Kalau keseringan kan nggak enak." "keseringan apaan, kan kamu baru sekali ke rumahku." "tetep aja, aku nggak bisa kalau besok." "ya udah deh, tapi sekarang kita nyari makan dulu nggak papa kan?" "langsung pulang aja lah, takutnya entar kakakku nyariin, gara-gara aku nggak ada di rumah." Daren mendengus, lagi-lagi yang menjadi alasan Dara untuk menolak ajakannya, karena kakaknya. Daren jadi penasaran, bagaimana sosok kakak dari gadisnya itu, yang menurut penilaiannya sangat membatasi Dara dalam melakukan segala hal. Apalagi waktu itu, Dara juga pernah bilang jika kakaknya melarang keras untuk berpacaran dulu, sampai lulus nanti. Ck, alesan macam itu?! ***** Sementara itu, saat ini di tempat lain, di waktu yang sama. Ray, Jerry, dan juga Niko. Tengah melakukan freestyle di sebuah jalan raya yang bisa dibilang cukup sepi dari aktifitas pengendara lain. mereka melakukannya bukan hanya bertiga, namun mereka juga melakukannya bersama beberapa teman sekolahnya yang lain. Jerry yang saat ini nampak tengah melakukan trik dasar dalam freestyle dengan cara mengangkat ban roda depannya, terlihat begitu mahir melakukannya. Hal itu membuatnya disambut dengan suara tepukan tangan penonton yang melihatnya. Setelah Jerry selesai melakukan hal itu, Ray mulai menghidupkan mesin motornya dan mulai melakukan hal yang sama. Namun kemudian lelaki itu mencoba melakukan trik stand up wheelie. Dimana Ray mengangkat ban depan motornya, dan mulai berdiri, dengan kaki kiri ada di behel, sedangkan kaki kanan berada di footstep depan kanan, sambil tetap berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Kali ini tepukan tangan terdengar begitu kencang dari teman-temannya. Hal itu terus berlanjut, mereka secara bergantian mengasah kemampuan mereka dalam melakukan freestyle. Tentu saja karena hal itu sudah menjadi hobi mereka selama ini. Mereka juga mencoba beberapa gaya freestyle baru, yang masih sulit untuk mereka kuasai. "lo hebat banget Ray tadi." Ucap Jerry memuji Ray, dengan tangan yang menepuk bahu lelaki itu. "jelas lah, gue!" Ray, berucap percaya diri, dengan membenarkan kerah baju seragamnya. Niko menghembuskan asap rokok dari mulutya, "elo dong Jerr, lain kali belajar freestyle yang serius kayak si Ray. Jangan PS mulu yang lo bisa." "cih, si t*i sok banget nasehatin gue. Emang lo udah jago hah?" Niko hanya tersenyum simpul, tidak perduli. Lalu kemudian kembali menghisap rokonya seperti tadi, sambil menyaksikan atraksi freestyle yang dilakukan oleh teman-temannya, dengan tetap duduk di atas motor sportnya. Hingga tak lama kemudian, kedua netranya terganggu oleh beberapa tingkah temannya yang memberhentikan paksa sebuah motor yang kebetulan melintas. "eh, itu ada apaan sih, rame-rame?" tanya Niko, memberitahu pada kedua temannya. Membuat Ray dan juga Jerry, mengikuti arah pandang Niko, untuk mencari tau apa yang dilihatnya. "kayaknya gue femiliar banget sama tuh motor." Cetus Ray, yang memang tidak bisa mengenali wajah si pengendara, karena masih tertutup oleh helm di kepala. "samperin aja bro!" ujar Jerry. Mereka bertiga akhirnya meninggalkan motor mereka, untuk berjalan menghampiri keributan tersebut. Rokok yang tadinya di hisap Niko, bahkan ia buang begitu saja, lalu kemudian ia injak menggunakan sepatu miliknya. Sebelum akhirnya ia sudah berada di tempat dimana keributan tersebut terjadi. "woi!! Gue nggak ada urusan ya sama kalian semua! Biarin gue lewat sekarang juga!!" kata Daren dengan nada tegas. Ia hanya tidak mau membuat kekasihnya itu berada dalam bahaya seperti sekarang ini. "Daren, mereka siapa? Aku takut!" ucap Dara, sambil meremas kuat baju seragam Daren. Percayalah, jika saat ini gadis itu benar-benar sangat ketakutan. Daren yang sangat mengerti jika kekasihnya itu begitu sangat merasa ketakutan, lantas berusaha menenangkan, dengan satu tangan kanan meraih tangan Dara, menggenggamnya seolah menyuruhnya agar tidak perlu kawatir dengan kondisi mereka saat ini. "ada apa ini?" Ray datang dengan ditemani oleh kedua temannya Jerry dan juga Niko di belakangnya. Dara yang saat ini masih memakai pelindung kepala yang berkaca gelap, tentu saja sangat terkejut melihat kakaknya Ray yang tiba-tiba berada disana, bersama dua orang sahabatnya. Ingin rasanya saat ini Dara berteriak meminta bantuan pada Ray, agar bisa terbebas dari teman-teman satu sekolahnya. Namun hal itu tidak bisa ia lakukan, saat Dara mengingat jika dirinya saat ini tengah bersama seorang lelaki yang berstatus sebagai pacarnya. Gadis itu tidak mau membuat kakaknya marah. Aplagi Dara tadi sudah menyuruh Ray untuk tidak menjemputnya kesekolah, dengan alasan bahwa dia akan pulang diantar Chaca. Tapi lihatlah sekarang! Sepertinya kebohongannya itu sebentar lagi akan ketahuan oleh sang kakak. Tamat sudah riwayatnya! BERSAMBUNG...!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN