Tepat pukul satu siang, pintu kamarku diketuk dengan irama yang nggak biasanya. Bukan Bunda, ataupun teh Ida. Ketukan itu merampas kenyamananku ketika membaca sebuah novel, karya penulis yang sudah cukup familiar karya-karyanya berada di rak buku kamarku. Setelah meletakkan pembatas buku sebagai penanda halaman terakhir yang telah k****a, dengan langkah malas akhirnya sampai juga di pintu kamarku. "Astaga, Gisela? Gue kira elu nyangkut di Rinjani atau gunung Agung!" "k*****t lo!" Serta merta aku memeluk sahabat baik yang sudah berbulan-bulan ini nggak ketemu. Bahkan bertukar kabar pun sudah sangat jarang. Akhirnya kami berdua larut saling bertukar cerita akan hal yang terjadi pada alur hidup kami selama nggak bertatap muka. Bahkan baik aku maupun Gisel nggak memedulikan sama sekali pang

