Chapter 6

2064 Kata
“Nah kita udah sampai, sekarang jagoan mommy boleh main disekitar sini, mommy bakal duduk disini sambil ngelukis. Zidan jangan main jauh-jauh ya,” ucap Reina memperingati putranya. “Oke mommy,” balas Zidan patuh kemudian berlalu dari hadapan Reina. Reina tersenyum menatap putranya yang tampak berlari ke sana kemari. Sore ini Reina mengajak Zidan ke sebuah taman yang tak jauh dari apartemen. Selain untuk mengajak Zidan bermain agar tak bosan terus menerus di dalam apartemen, Reina juga ingin melukis dengan suasana yang berbeda. Mungkin dengan tempat yang terbuka dan sejuk ini, imajinasi Reina akan lebih terbuka. Reina mulai mempersiapkan segala macam peralatan melukisnya sambil sesekali memperhatikan putranya agar tak lepas dari pengawasan. *** “Om Bim,” suara panggilan lembut itu membuat Bima yang sedang membolak-balikkan agendanya menatap ke arah bawah. Bima tersenyum saat melihat Nana sedang menarik-narik ujung celana jeans Bima yang hanya sebatas lutut. Merasa gemas Bima langsung membawa Nana ke dalam pangkuannya “Kenapa sih sayang?” Tanya Bima. “Au alan-alan ama om Bim,” racau Nana.Bima menautkan alisnya tak paham. “Kamu bilang apa?” “Au alan-alan ama om Bim,” ucap Nana lagi. Dan lagi lagi Bima tetap tak paham. “Katanya dia mau jalan-jalan sama kamu,” sahut Alya yang tiba-tiba datang. Bima menepuk dahinya pelan baru menyadari apa yang di ucapkan Nana karna memang keponakannya itu belum terlalu lancar berbicara. “Oh Nana mau jalan-jalan, aduh om Bim baru paham. Ya udah kalau gitu om Bim ganti baju dulu ya,” Bima memindahkan Nana ke dalam pangkuan kakaknya kemudian berlalu ke kamarnya. Nana menepuk-nepuk tangannya girang membuat Bima tersenyum gemas. Di ciumnya pipi putrinya itu berkali-kali. Tak beberapa lama Bima sudah kembali menghampiri mereka. “Kak, Nana aku bawa jalan-jalan bentar ya. Kakak mau ikut gak?” Tanya Bima. “Gak usah deh Bim. Kamu gak dengar tadi Nana mau nya jalan sama kamu.” “Oh ya udah kalau gitu, ayuk Nana kita pergi.” Bima mengulurkan tangannya mengambil alih Nana dalam gendongan Alya. Dengan cepat Nana langsung menyambut uluran tangan Bima. Akhirnya Bima pun langsung membawa Nana pergi. Sebenarnya Bima bingung hendak membawa Nana ke mana. Jika membawanya ke tempat wisata pasti akan sangat ramai, lagi pula hari sudah sore. Jika mengajak ke mal, Bima paham betul jika keponakannya ini tak begitu suka mal, akhirnya Bima memutuskan untuk melajukan mobilnya ke sebuah taman. Bima ingin mencari taman yang tak begitu ramai namun sejuk. Setelah beberapa saat Bima dan Nana sampai ke taman itu. Di taman ini terdapat juga tempat bermain khusus anak-anak.  “Nana mau main apa?” Tanya Bima. “Au ain itu,” jawab Nana sembari menunjuk ke arah ayunan kecil. “Ya udah kita ke sana.” Bima pun akhirnya membawa Nana menuju ayunan. Nana tampak begitu antusias. Bima terkekeh geli melihat keponakannya yang tampak sangat menggemaskan. “Daddy,” tiba-tiba suara panggilan itu membuat Bima menghentikan aksinya mengayunkan Nana dan langsung menoleh ke arah suara. Bima tampak sedikit kaget saat melihat seorang anak kecil yang pernah ia lihat sebelumnya kini berada di sampingnya. “Zidan.” Zidan tersenyum semringah menatap Bima. Matanya tampak begitu berbinar. “Kamu sama siapa disini?” Tanya Bima. “Sama mommy.” “Oh ya, mommy kamu dimana?” “Itu mommy,” Zidan menunjuk ke arah dimana Reina berada. Bima menatap Reina dari kejauhan. Reina tampak sedang sibuk dengan kanvas di hadapannya. Bima sempat terpaku menatap Reina. Ia tak menyangka akan bertemu lagi dengan Reina. “Kita ke tempat mommy yuk,” ajak Bima yang mendapat anggukan oleh Zidan. Bima langsung menggendong Nana kemudian menggandeng  tangan mungil Zidan menghampiri  Reina. “Haiii mommy muda,” sapa Bima saat sudah berada di hadapan Reina. Reina mendongakkan wajahnya menatap seorang pria yang sedang berdiri di hadapannya sembari tersenyum. “Bima,” Reinaa membulatkan matanya tak percaya karna Bima berada di hadapannya. Bima tersenyum menatap Reina sementara Reina masih tampak terpaku. “Kenapa lo bisa ada disini?” Tanya Reina. “Pertanyaan kamu lucu deh. Ini kan taman, siapa aja bisa kesini,” balas Bima diiringi kekehan kecilnya. Reina memutar bola matanya jengah mendengar jawaban Bima. Sebenarnya Reina juga merutuki pertanyaannya, pertanyaan macam apa itu. “Om Bim,” suara pelan dari Nana menyadarkan Bima bahwa sedari tadi Nana yang berada dalam gendongannya telah ia acuhkan. Pandangan Reina beralih menatap anak kecil dalam gendongan Bima. Rein tersenyum kecil saat anak kecil itu menatapnya. “Hai cantik. Namanya siapa?” Tanya Reina lembut sembari mengelus pipi gembul Nana. “Nana aunty,” balas Bima seolah mewakili Nana. “Gue gak nanya sama lo!” Geram Reina menatap Bima tajam. “Mommy, jangan marahi daddy dong,” ucap Zidan membela Bima. Reina menatap Zidan tak percaya. Bagaimana bisa putranya malah membela orang yang asing menurut Reina. Bima menatap Zidan sembari mengelus pucuk kepalanya. “Mommy muda galak nih.” Reina membelalakkan matanya mendengar ledekkan Bima. Reina mengatup giginya geram sembari memperlihatkan kepalan tangannya ke hadapan wajah Bima yang bukannya membuat Bima takut namun malah terkekeh. “Aunty ayak belbi Nana ya om Bim,” ucap Nana menunjuk wajah Reina sembari menepuk-nepuk tangannya. Bima memperhatikan wajah Reina sesaat. Wajahnya memang terlihat menggemaskan seperti barbie. Bahkan ia tidak terlihat seperti wanita yang sudah memiliki 1 anak. Mendengar ucapan Nana membuat Reina menatap mereka heran karna ia tak paham dengan apa yang diucapkan Nana. “Iya, mirip,” balas Bima pada Nana. “Nana bilang apa?” Tanya Reina penasaran. “Katanya muka kamu kayak barbie,” jelas Bima diiringi senyumnya membuat Reina ikut tersenyum namun bukan tersenyum pada Bima melainkan pada Nana. “Om Bim au ain,” racau Nana sembari menunjuk taman bermain. Bima tampak berpikir sejenak. “Zidan mau ajak adik main gak?” Tanya Bima. “Mau daddy,” Zidan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya udah, Zidan sama adik Nana main ya, daddy lihat in dari sini,” ucap Bima yang mendapat anggukan setuju dari Zidan. Bima menurunkan Nana dari gendongannya kemudian membiarkan Zidan membawa Nana ke tempat taman bermain. Bima tersenyum kecil melihat Zidan yang begitu sabar menuntun Nana berjalan dengan langkah kecilnya. Tanpa sadar Reina juga ikut tersenyum menatap putranya bangga. “Kamu ngapain aja disini?” Tanya Bima mengambil posisi duduk di samping Reina. Reina menatap Bima malas kemudian melanjutkan lukisannya yang baru setengah jadi. “Lukisan kamu bagus,” puji Bima. Reina sama sekali tak menggubris ucapan Bima dan tetap fokus melukis.Bima yang merasa bahwa Reina sepertinya tak begitu suka diajak bicara saat sedang melukis membuat ia memutuskan untuk diam. Ia tak ingin Reina kembali meluncurkan kata-kata pedasnya lagi. Bima menyandarkan tubuhnya di bangku taman sembari memperhatikan Reina. Tangan Reina tampak begitu mahir menari-nari diatas kanvas. Sesekali Reina tampak menyeka peluhnya. Bima tersenyum kecil saat melihat sesuatu yang aneh dari Bima. Reina yang merasa diperhatikan melirik Bima dengan ekor matanya. Rein berdecap sebal saat mendapati Bima terang-terangan memperhatikannya. “Lo bisa berhenti gak liatin gue kayak gitu? Lo bikin konsentrasi gue buyar,” omel Reina. “Yang kanvas itu sebenarnya yang di depan kamu apa muka kamu sih?” Tanya Bima. Reina mengernyitkan dahinya bingung tak mengerti dengan pertanyaan Bima. “Maksud lo?” Bukannya menjawab, Bima malah meraih sesuatu di dalam sakunya. “Untung tadi aku bawa tisu basah Nana. Maaf ya,” ucap Bima kemudian lebih mendekat pada Reina. Reina hanya mampu diam tak mengerti apa yang akan dilakukan Bima. Bima mengambil satu tisu basah kemudian mengarahkannya kebagian hidung Reina. Reina hanya mampu terpaku menatap Bima. Mata teduh Bima tampak begitu serius menatap hidungnya. “Hidung kamu kena cat, tapi sekarang udah bersih,” Bima tersenyum kemudian menjauhkan kembali dirinya dari Reina. Reina yang sudah tersadar dari keterpakuannya langsung mengalihkan pandangannya dari Bima dan kembali fokus pada kuas dan kanvasnya. Bima tersenyum kecil melihat gerak-gerik Reina. Apakah ia sedang gugup? Pandangan Bima yang sedari tadi terfokus pada Reina kini beralih pada Zidan dan Nana. Zidan tampak asyik bermain seluncuran sementara Nana menunggu di bagian bawah sambil menepuk-nepuk tangannya menunggu Zidan meluncur. Beberapa saat kemudian Bima beranjak dari posisi duduknya. Tak ingin mengganggu Rein, Bima pun memutuskan untuk menyusul Zidan dan Nana. Reina menatap sebentar ke arah Bima yang menjauh darinya. Reina berdecap sebal. Kenapa ia tak bisa bersikap biasa saja saat sedang bersama pria itu? Reina menggelengkan kepalanya pelan dan kembali fokus melukis. Bima ikut asyik bermain dengan Zidan dan Nana. Bima memang tipe pria yang menyukai anak kecil. “Om Bim, au es klim,” ucap Nana disela bermainnya sembari menunjuk penjual ice cream di pinggir taman. “Oh mau ice cream. Zidan mau juga nak?” Tanya Bima. “Mau daddy,” balas Zidan. “Ya udah yuk kita beli, jagoan daddy naik di punggung daddy biar adek Nana daddy gendong.” Bima berjongkok membiarkan Zidan menaiki punggung kemudian Bima menggendong Nana pula. Mereka langsung bergegas membeli ice cream itu. *** Reina tersenyum puas saat melihat hasil lukisannya. Tampak simpel bila dilihat orang awam, namun bagi Reina lukisannya ini memiliki banyak cerita. Reina merasa sangat lega saat bisa menyalurkan idenya ke dalam kanvas. “Buat kamu,” Reina sedikit tersentak kaget saat tiba-tiba di depan wajahnya sudah ada sebuah icecream coklat.  Reina mendongakkan wajahnya menatap Bima yang sedang tersenyum padanya. Reina menatap ice cream itu ragu, namun sesaat kemudian ia menerimanya. “Thanks” ucap Reina. Bima kembali duduk di samping Reina kemudian mulai memakan ice cream miliknya begitu pula dengan Reina. Reina menoleh ke arah Nana dan Zidan yang sedang duduk di rerumputan sembari menikmati ice cream mereka pula. “Sorry udah bikin Zidan manggil lo daddy terus. Gue belum sempat jelas in. Kalau lo risih, lo bisa ajari dia buat manggil lo om atau apa gitu,” ucap Reina. Bima yang sedang asyik memakan ice cream menjadi terhenti sejenak mendengar ucapan Reina. “Gak papa kok. Aku gak risih sama sekali. Harusnya aku yang ngerasa gak enak sama kamu, mungkin aja kamu atau suami kamu merasa keberatan kalau Zidan manggil aku daddy,” ucapan Bima itu membuat Reina terhenti memakan ice cream. Reina meletakkan cup ice cream itu kemudian bangkit dari duduknya untuk mengemas peralatan melukisnya. “Kamu mau ke mana?” Tanya Reina heran. “Gue mau pulang.” “Loh kenapa? Ice cream kamu belum habis. Aku tadi salah ngomong ya? Maaf ya.” “Zidan, ayo pulang sayang, udah hampir malam,” Reina memanggil putranya tanpa menggubris ucapan Bima. Bima menggaruk tengkuknya yang tak gatal tak mengerti kenapa Reina terlihat terburu-buru. Zidan yang dipanggil pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Bima diiringi Nana yang ikut berlari kecil di belakang Zidan. “Aku antar pulang ya,” tawar Bima. “Gak usah, gue bisa pulang sendiri, ayuk sayang kita pulang. Dadah Nana,” Reina mengelus lembut pipi Nana kemudian menggandeng Zidan berlalu pergi. Melihat Reina yang sudah melangkah pergi membuat Bima dengan gerakan cepat menahannya. Melihat sikap Reina membuat Bima makin yakin bahwa ada perkataannya tadi yang menyinggung Reina. “Apa lagi sih?” Tanya Reina jengah. “Aku anter kamu pulang, kamu tolong bawa Nana ke mobil ya.” Bima mengambil alih peralatan melukis Reina kemudian berjalan mendahului Bima ke mobilnya. Reina memutar bola matanya malas. Dengan terpaksa Reina mengikuti Bima sembari menggandeng Zidan dan Nana. *** “Thanks,” ucap Reina saat sudah keluar dari mobil Bima. Kini mereka sudah berada di depan apartetemen tempat Reina tinggal “Iya sama-sama.”  “Daddy gak ikut sama Zidan?” Tanya Zidan menatap Bima penuh harap. “Daddy harus kerja lagi sayang. Zidan jaga in mommy ya,” Bima mengelus pucuk kepala Zidan. “Siap daddy,” Zidan mengarahkan tangannya membentuk hormat membuat Bima tertawa gemas. Reina ikut tersenyum melihat tingkah putranya. “Semoga nanti kita bisa ketemu lagi ya,” ucap Bima pada Reina. Reina hanya diam tak tahu harus menjawab apa. Jika mereka ditakdirkan untuk mereka bertemu lagi, Reina bisa apa? Reina tersenyum kecil pada Bima kemudian berlalu bersama Zidan dari hadapan Bima. “Rein,” panggil Bima membuat Reina menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Bima.  “Semoga di pertemuan selanjutnya kamu kasih tau apa aja yang gak boleh bicara in ke kamu. Maaf soal tadi,” ucap Bima. Walaupun Bima tak tahu bagian mana pembicaraannya yang tak Reina suka, namun Bima berharap di pertemuan selanjutnya ia tak akan mengulanginya lagi. Bima ingin Reina tak ketus lagi setiap bertemu dengannya. Bima tersenyum pada Reina yang hanya terdiam kemudian kembali memasuki mobilnya. Bima langsung bergegas pergi bersama Nana yang sudah tertidur di dalam mobil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN