Chapter 7

1716 Kata
Bima melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. Saat kakinya sudah menginjak di tangga terakhir, langkah Bima terhenti. Pandangan Bima terfokus pada ruangan yang terdapat di hadapan anak tangga. Lebih tepatnya ruangan yang baru saja direnovasi oleh bundanya. Bima yang tadi hanya ingin berlalu langsung mengurungkan niatnya kemudian melangkah ke ruang itu. Ruang itu sudah dijadikan sebagai ruang santai oleh bunda Bima. Ruangan yang tidak terlalu besar dengan dinding pembatas di kanan, kiri dan belakang yang terbuat dari kaca sehingga dapat langsung memperlihatkan taman belakang. Disudut ruangan terdapat rak buku dan di sampingnya terdapat sofa kecil yang dapat digunakan apabila sedang bersantai dan membaca buku. Di tengah ruangannya terdapat beberapa sofa yang juga berukuran kecil dengan lantai yang ditutupi karpet berbulu dengan warna hijau yang memberi kesan asri dan damai. Namun bukan itu semua yang menarik perhatian Bima, namun lukisan yang sudah dipajang di salah satu dinding kaca. Entah bagaimana bisa ada gantungan di dinding kaca seperti itu. Bima sangat salut dengan kemampuan bundanya yang merancang sendiri setiap sudut ruangan di rumahnya ini. Bima tersenyum kecil melihat lukisan itu. Terlihat sangat pas mengisi kekosongan ruangan ini. “Bim,” suara panggilan itu membuat Bima melirik ke arah kakaknya yang sudah ada di belakangnya. “Iya kak.” “Kenapa lihat lukisannya sampai segitunya?” “Gak papa kak, aku suka aja.” “Oh gitu, kakak juga suka. Kira-kira ada lagi gak ya? Kakak kepingin pajang di rumah,” tanya Alya. “Aku sih gak tau kak, tapi nanti kalau aku lewat di depan toko mbak Mira, aku coba lihat ya,” balas Bima. Alya mengangguk setuju. “Kakak mau ke mana?” Tanya Bima saat melihat penampilan kakaknya yang sudah rapi sembari menyandang tasnya, terlihat akan pergi. “Mau nganterin filenya mas Aldo yang ketinggalan. Mas Aldo lagi meeting di kantor rekan kerjanya.” “Kenapa gak minta antari kurir aja kak?” “Ini file penting, jadi kayaknya lebih baik kalau kakak aja yang anter.” “Yaudah kalau gitu biar Bima aja yang antar. Lagian kasihan Nana nanti kalau bangun mamanya gak ada,” usul Bima. Memang tadi setelah lelah bermain Nana langsung tertidur.  “Bener nih? Ntar ngerepotin kamu.” “Kakak apaan sih. Kayak sama siapa aja. Lagian Bima tadi rencananya juga mau keluar. Mau nyamperin Kevin di bandara.” “Yaudah kalau gitu, kakak minta tolong antarin ini ya,” Alya memberikan file-filenya pada Bima.  “Oh iya, kamu kapan mulai flight?” Tanya Alya. “Lusa kak, aku ke Singapore,” balas Bima. “Yaudah aku pergi dulu ya, nanti bilang in sama bunda aku pergi sebentar ya.” Alya mengangguk kemudian membiarkan Bima pergi berlalu dari hadapannya. Alya tersenyum melihat kepergian adiknya. Rasanya Tuhan begitu baik padanya, memberikan adik yang begitu baik. Bahkan Alya lupa kapan terakhir kali ia bertengkar dengan adiknya itu. Atau bahkan tak pernah? Sebenarnya 2 bulan yang lalu Alya masih tinggal bersama bundanya. Namun sejak Bima memberi tahu bahwa ia akan pindah ke Indonesia, Alya dan Aldo memutuskan untuk pindah rumah. Bukan karna tak betah, hanya saja mereka ingin membentuk keluarga kecil sendiri. Walaupun begitu, hampir setiap pagi Alya mengunjungi rumah bundanya usai Aldo berangkat kerja untuk mengantarkan Nana sedangkan Alya akan pergi ke butiknya untuk mengecek sampai siang hari. Setelah itu ia akan kembali ke rumah bundanya sampai menunggu Aldo pulang dari kantor. Keluarga Bima adalah keluarga yang sangat hangat. Yang namanya perdebatan sangat jarang terjadi di keluarga mereka. Mereka lebih sering berdiskusi dari pada berdebat untuk menyelesaikan masalah apa pun. Mungkin itulah tips harmonis andalan mereka. *** “Terima kasih mbak, saya gak menyangka lukisannya bakal secepat ini terjualnya. Kalau gitu saya titip satu lagi ya mbak,” ucap Reina setelah mendapat uang dari wanita di hadapannya itu sembari memberikan satu lagi lukisan hasil karyanya. Wanita itu menatap Reina sedikit ragu. Ia bahkan sampai menggaruk tengkuknya karna tak tahu bagaimana harus membicarakan hal yang sedari tadi ia pikirkan pada Reina yang kini tampak begitu bahagia. “Maaf ya Neng, sebenarnya.. duh gimana ya. Maaf sebelumnya ya neng,” Reina mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan wanita itu yang tak ia mengerti. “Kenapa mbak Mira?” Tanya Reina pada wanita yang ia tahu bernama Mira itu. “Maaf ya, mbak gak bisa terima lukisan kamu lagi,” balasnya lirih. “Loh kenapa mbak? Apa saya pasang harganya ketinggian? Tapi pasarannya memang segitu kok mbak.” “Bukan karna itu neng, tapi mbak udah gak berani lagi jual lukisan kamu, mbak minta maaf ya.” “Tapi kenapa mbak?" Reina makin dibuat tak mengerti. Rasanya tak ada yang salah dengan lukisannya. “Mbak cuma sayang sama toko mbak neng. Mbak gak mau toko mbak kenapa-kenapa karna jual lukisan kamu,” balas Mira kemudian berlalu ke dalam tokonya. Reina menatap kepergian Mira dengan pikiran yang melayang-layang berharap pikirannya menemukan jawaban dari keanehan ini. Tiba-tiba Reina teringat sesuatu. Rasanya pikirannya ini berhasil menemukan jawabannya. Namun sesaat kemudian dadanya terasa sesak. Hanya ada satu orang di balik semua ini. Kenapa ia begitu tega melakukan ini? Reina mengepalkan tangannya erat-erat berharap rasa sesak di dadanya dapat hilang sehingga sesuatu yang sudah menggumpal di pelupuk matanya tak jatuh. Dengan cepat Reina berlalu dari tempat itu menuju satu tempat dimana terdapat orang yang harus bertanggung jawab atas semua ini. *** Bima turun dari mobil sembari melepaskan kaca mata yang sedari tadi bertengger di hidung mancung. Bima tersenyum ramah saat beberapa pejalan kaki menatapnya sembari tersenyum penuh memuja. Bahkan Bima di buat terkekeh geli saat mendengar pekikan tertahan dari mereka saat Ali membalas senyumannya. Bima kemudian bergegas memasuki toko yang sudah berada di hadapannya. “Siang mbak Mira,” sapa Bima. Mira yang sedang menata beberapa barang yang baru masuk ke dalam tokonya langsung berbalik menatap Bima. “Eh Bima, selamat siang.” “Lagi repot banget kayaknya mbak?” “Enggak kok. Ada yang bisa mbak bantu?” “Bima mau cari lukisan kayak yang waktu itu mbak, buat kak Alya. Ada lagi gak?” Tanya Bima. “Yah, udah gak ada lagi Bim.” “Terus adanya kapan mbak?” “Gak bakal ada lagi Bim, mbak udah gak terima lukisan dia lagi.” “Loh kenapa?” Tanya Bima heran. Mira menghela nafasnya sejenak. “Mbak juga sebenarnya masih mau jual in lukisan dia Bim, tapi mbak udah gak bisa lagi. Waktu kamu beli lukisan itu, gak lama ada 2 orang yang datang. Mukanya pada sangar-sangar banget. Mereka larang mbak buat terima lukisan dari perempuan itu lagi, kalau enggak mereka bakal tutup toko mbak. Mbak kan takut,” jelas Mira. Bima mengerutkan dahinya heran. Kenapa sampai ada yang mengancam Mira seperti itu? Rasanya tak ada yang salah dari lukisan itu. “Oh gitu, ya udah deh mbak mau gimana lagi dari pada toko mbak di apa-apain. Ya udah Bima pergi dulu ya mbak. Lagi ada urusan,” pamit Bima yang dibalas Mira dengan anggukan sembari tersenyum. Bima pun langsung bergegas pergi. Bima melirik jam di tangannya, Bima harus mengantarkan file titipan kakaknya. Bima berlalu pergi menuju alamat kantor yang tadi sudah dikirim oleh kakaknya. *** Dengan tergesa-gesa dan tidak sabar Reina berjalan menuju ruangan yang ingin ia tuju. Bahkan suara teriakan yang menghalanginya sama sekali tak ia dengar. Dengan kasar Reina membuka pintu besar itu membuat seseorang yang berada di dalamnya terlonjak kaget. “Reina! Kalau masuk ruangan itu harus sopan.” “Sopan? Papa ngomong soal sopan? Siapa sekarang yang gak sopan? Papa kira menghalangi usaha orang lain itu sopan?” Tanya Reina dengan nafas yang memburu.  “Kamu jangan teriak-teriak gitu ya ngomong sama papa kamu, maksud kamu apa?” sergah Bram. “Papa gak usah pura-pura gak tau deh. Aku tau, papa kan yang nyuruh orang buat larang pemilik toko tempat aku nitip lukisan buat jual lukisan aku,” ucap Reina dengan nada yang masih sama. Menggebu-gebu dan nafas memburu. Bram menghela nafasnya sejenak kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kebesarannya. “Mau papa apa sih? Aku sama sekali gak nyusahin papa. Aku cuma mau cari uang buat besar in Zidan,” kini suara Reina terdengar pelan dan lirih. Air mata yang sedari tadi ia tahan juga sudah luruh membasahi pipinya. “Papa cuma mau kamu pilih pilihan yang papa kasih, bukan memilih pilihan yang kamu tetapkan sendiri.” “Papa egois, aku kecewa sama papa. Papa banyak berubah.” Reina menyeka air matanya kasar kemudian berlalu dari ruangan itu. “Papa gak akan berhenti sampai disini, sampai kamu kembali sama papa tanpa anak sialan itu,” ucapan sengit Bram itu membuat hati Reina terasa perih. “Gak akan pa. Kalaupun aku akan kembali sama papa, aku kembali sama Zidan,” balas Reina kemudian melanjutkan langkahnya dan berlalu dari ruangan itu. Reina menutup mulutnya menahan isakkannya yang benar-benar sudah akan pecah. Dengan cepat Reina berlari untuk keluar dari kantor itu dengan tangis yang tidak juga terhenti. Namun karna terburu-buru dengan keadaan menangis, Reina tak sengaja menabrak seseorang. “Ma..maaf,” Reina tertunduk sembari menghapus air matanya yang masih tidak berhenti. “Reina,” suara itu membuat Reina langsung mendongakkan wajahnya. “Bima,” Reina menatap Bima, ia tak menyangka bahwa akan kembali bertemu dengan pria itu. “Ka..kamu nangis? Kamu kenapa?” Tanya Bima panik saat melihat keadaan Reina. Dengan cepat tangannya terulur menyeka air mata Reina. Bukannya terhenti, air mata itu malah makin deras mengalir. “Bim,” panggil Reina pelan. Terdengar sangat pilu dan lirih. Bahkan Reina merasa sesak didadanya, ia merasakan ada beban yang sangat berat yang di tanggung wanita di hadapannya itu. Dengan cepat Bima membawa Reina dalam pelukannya. Tanpa Bima dulu, Reina langsung membalas pelukannya bahkan sangat erat. Reina menenggelamkan wajahnya di d**a Bima sembari menumpahkan tangisnya. Ia rapuh, ia tak sekuat kelihatannya. Bolehkan sekarang ia mencari tempat untuk berteduh dari badai yang tiada henti menerpanya? “Udah ya, jangan nangis lagi,” bisik Bima lembut mengelus rambut Reina. “Gue capek Bim, gue gak kuat,” balas Reina disela isakkannya. “Kalau kamu gak kuat, pegang aku. Bagi beban kamu sama aku,” entah sadar atau tidak Bima mengucapkan hal itu. Yang ia tahu adalah ia ingin menenangkan wanita dalam pelukannya ini.  Reina makin mengeratkan pelukannya membuat Bima terpejam. Bima tak bisa berbuat apa-apa sekarang selain membiarkan wanita itu tenang terlebih dahulu. Bahkan Bima tak peduli saat ada beberapa karyawan kantor yang melewati lorong tempat mereka berada sekarang sembari memperhatikan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN