Chapter 8

1960 Kata
Mobil yang Bima kemudikan berhasil berhenti di parkiran bandara. BIma menatap seorang wanita cantik yang ada di sampingnya, Reina. Sejak masuk ke dalam mobil Bima hingga mereka sudah sampai di bandara Reina hanya diam dengan pandangan kosong ke arah luar jendela. Bima cukup bingung harus bagaimana memulai pembicaraan sedari tadi karna ia paham bahwa Reina tidak dalam keadaan baik-baik saja. Namun karna kini mereka sudah sampai di bandara, mau tak mau Bima harus membuka suara. “Rein,” panggil Bima. Reina yang langsung tersadar saat ada yang memanggilnya pun segera memalingkan wajahnya menatap Bima. “Aku ada urusan sebentar di dalam, kamu mau ikut atau disini aja?” Tanya Bima. Reina diam sejenak tampak berpikir. “Lo mau kita jadi pusat perhatian karna lo jalan sama cewek yang mukanya udah gak jelas kayak gimana?” Bima terkekeh kecil mendengar ucapan Reina apalagi melihat ekspresi datar Reina saat mengucapkan kata itu.  “Ya gak papa, kenapa harus mikirin omongan orang.” “Lo gak paham banget sih. Lo gak liat mata gue bengkak gini, belum lagi hidung gue yang merah,” balas Reina kesal. “Yaudah kalau gitu kamu tunggu disini aja ya. Aku gak lama kok,” ucap Bima yang dibalas anggukan pelan oleh Reina. Setelah mendapat anggukan dari Reina, Bima hendak keluar dari mobil. “Bim,” suara panggilan Reina itu membuat Bima mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil dan kembali menatap Reina. “Sorry ya, gara-gara gue baju lo jadi basah,” ucap Reina. Tanpa Reina sadari tangan Reina terulur untuk memegang baju Bima pada bagian pundak dan d**a untuk memastikan masih basah atau tidak. Walaupun baju yang Bima pakai berwarna gelap, Reina hanya merasa tak enak jika Bima tak nyaman dengan bajunya. Bima tersenyum kecil melihat Reina kemudian menggenggam tangan Reina yang ada didada membuat tubuh Reina menegang seketika.  “Gak papa kok, nanti juga kering,” ucap Bima diiringi senyumnya. Reina langsung menjauhkan tangannya dari d**a Bima dan mengalihkan pandangannya. Bima tersenyum kecil, ia tahu Reina kini sedang salah tingkah. Lucu rasanya melihat wanita yang selalu ketus padanya namun kini menjadi salah tingkah seperti itu. Akhirnya Bima pun keluar dari mobil. Reina menghela nafas lega saat Bima sudah pergi. Entah kenapa setiap kali berdekatan dengan Bima membuat ia merasa bahwa pasokan udara di sekitarnya berkurang. Reina tersenyum kecil melihat Bima yang sudah berjalan makin menjauhinya. Reina tak mengerti dengan takdir Tuhan. Kenapa Tuhan seolah-olah mengirimkan Bima untuknya disaat ia merasakan benar-benar rapuh.  Ingatan Reina kembali pada kejadian beberapa saat lalu. Kejadian saat ia menumpahkan segara rasa sedih, sakit, kecewa dan marahnya dalam pelukan Bima. Bima dengan begitu sabar menunggunya hingga benar-benar tenang. Bahkan saat tangisnya mereda pun, Bima bukannya bertanya seolah-olah ingin tahu dengan apa yang terjadi namun malah mengajak Reina pergi. Setidaknya hal itu membuat Reina lega, lagi pula ia sedang tidak ingin menceritakan apa pun pada siapa pun. Ada satu kalimat yang Bima ucapkan tadi yang selalu berputar-putar dalam benak Reina. Kalau kamu gak kuat, pegang aku. Bagi beban kamu sama aku. Apa maksud Bima? Tanpa sadar bibir tipis Reina tersungging membentuk seulas senyuman. Reina mengusap wajahnya kasar. Apa yang sebenarnya terjadi padanya setiap mengingat pria itu? Reina mengalihkan pandangannya pada bagian kursi belakang mobil Bima. Reina menghela nafas saat melihat lukisannya yang terbungkus rapi disana. Saat ia memasuki gedung kantor papanya, Reina sengaja menitipkan lukisannya pada satpam. Bagaimana ia dapat memenuhi kebutuhan putranya lagi jika papanya benar-benar menghalangi usahanya ini? Papanya kini benar-benar sudah banyak berubah. Bahkan Reina merasa asing dengan sosok papanya kini. Tak lagi sehangat dulu. *** “Maaf ya lama,” suara lembut itu membuat Reina yang sedari tadi pengotak-atik ponselnya malas kini beralih menatap Bima yang sudah duduk dibalik kemudi. “Lo benaran pilot?” Pertanyaan Reina dengan ekspresi datarnya itu sukses membuat Bima tertawa. Reina menautkan alisnya heran. “Bukannya aku udah pernah bilang ya?” “Ya iya sih, cuma gue belum percaya aja,” balas Reina mengedikkan bahunya acuh. “Kita makan dulu yuk,” ajak Bima tak ingin membahas pembicaraan itu lagi. “Gue gak bisa, kita pulang aja.” “Loh jangan gitu dong, kamu dari tadi belum makan loh.” “Gue gak bisa Bim.” “Ya udah anggap aja ini sebagai imbalan karna aku tadi udah bersedia kaosnya basah gara-gara kamu,” ucap Bima. “Imbalan? Katanya tadi gak papa,” protes Reina kesal. “Itu tadi sebelum kamu nolak ajakan aku,” balas Bima diiringi senyum manisnya. Reina menatap Bima geram. “Gue benar-benar gak bisa Bim, gue udah terlalu lama ninggalin Zidan, gak enak juga sama Lala. Lagian gimana gue bisa makan kalau gue sendiri gak tau anak gue udah makan atau enggak,” Reina mencoba memberi Bima pengertian. “Ya udah kalau gitu kita beli makanan aja terus nanti makannya sekalian sama Zidan, gimana?” Saran Bima. “Yaudah deh terserah lo aja,” balas Reina pasrah.  Bima pun akhirnya melajukan mobilnya mencari makanan. Rasanya Bima juga rindu pada bocah yang menggemaskan itu. *** Reina menekan beberapa password apartemen sahabatnya itu, sementara Bima berdiri di belakang Reina sembari membawa beberapa kantong plastik berisi makanan. “Lo itu mau makan atau mau bikin selamatan sih? Makanan yang lo beli itu banyak banget,” ucap Reina saat pintu apartemen itu terbuka. Reina tak habis pikir bagaimana bisa Bima membeli makanan sebanyak itu. “Aku kan gak tau kamu sama Zidan suka makan apa, soalnya tadi kamu bilang terserah aja. Makanya aku beli beberapa biar kamu sama Zidan bisa milih sendiri,” balas Bima. Bima mengikuti Reina memasuki apartemen. “Mommy, daddy,” mata Zidan langsung tampak berbinar saat melihat Reina dan Bima datang. Reina tersenyum hangat menatap putranya yang tampak asik bermain dengan berbagai mainan yang terdapat di box mainannya. “Daddy,” Zidan berlari menghampiri Bima dan langsung memeluk kaki Bima sembari mendongakkan wajahnya menatap Bima. Bima yang gemas langsung meletakkan kantong makanan yang ia bawa lalu membawa Zidan dalam gendongannya. “Zidan kangen daddy,” ucap Zidan lirih. Zidan memeluk leher Bima dan menelusupkan wajahnya di leher Bima. Bima tersenyum lembut sembari mengelus rambut Zidan. Bima tak menyangka bahwa Zidan akan sebegitu rindunya pada dirinya. Namun disisi lain Bima merasa bersalah sudah mengaku sebagai Daddy dari Zidan. Ia merasa tak tega bila suatu hari nanti Zidan paham dan merasa kecewa. “Zidan gak sayang mommy lagi ya? Kok malah samperi daddy, bukan mommy,” Reina mencebikkan bibirnya memasang wajah cemberutnya. Zidan bangkit dari posisinya dan beralih menatap Reina. “Maaf mommy,” ucap Zidan lembut mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi Reina. Reina kembali menyunggingkan senyumnya melihat tingkah putranya itu. “Duh keluarga bahagia,” sahutan seseorang itu membuat Bima dan Reina menoleh ke asal suara. Reina menatap geram sahabatnya itu sementara Lala hanya menunjukkan cengiran tanpa dosanya. “Makan dulu yuk, ikut sekalian ya La,” ajak Bima yang langsung mendapat anggukan dari Lala. Reina memutar bola matanya malas. Sahabatnya itu sama sekali tak ada basa-basinya. Akhirnya mereka pun menghabiskan makanannya bersama diiringi obrolan kecil. Bima dan Lala lah yang mendominasi karna Reina hanya memosisikan dirinya sebagai pendengar. Setelah makan mereka tampak duduk di ruang santai, namun Lala sudah berlalu ke kamarnya sementara Zidan tampak sudah kembali asyik dengan mainannya.  “Ada yang mau kamu ceritai sama aku?” Tanya Bima mengalihkan pandangan Reina yang sedari tadi memperhatikan putranya. Reina menghela nafas sejenak. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ABima. Haruskah ia menceritakan semuanya pada Bima? “Kalau kamu belum siap gak papa kok. Kamu bisa cerita sama aku kapan aja,” ucap Bima tulus. Reina tersenyum kecil mendengar ucapan Bima. Untuk pertama kalinya Bima melihat Reina tersenyum padanya, walaupun hanya senyuman kecil namun entah kenapa mampu membuat darah Reina terasa berdesir. “Aku boleh minta sesuatu gak?” Tanya Bima membuat reina menatapnya heran. “Apa?” “Jangan pelit-pelit senyum sama aku. Aku suka liat senyum kamu,” ucap Bima lembut diiringi senyumnya. Reina meremas bagian sofa yang kini sedang ia pegang merasakan pipinya memanas. Reina merutuki dirinya bila pipinya benar-benar bersemu.  “Ih apaan sih,” balas Reina yang malah terdengar seperti rengekan manja. Bima tertawa geli melihat ekspresi Reina. “Besok mau jalan sama aku gak?” Tanya Bima. Reina sedikit kaget mendengar ajakan Bima. “Ke mana?” “Ya ke mana aja, tapi jangan lupa bawa kanvas sama peralatan melukis kamu,” ucap Bima lagi yang makin membuat Reina heran. “Tapi aku harap besok kamu bisa jadi diri kamu sendiri,” lagi dan lagi ucapan Bima tak dapat Reina mengerti. Jadi diri sendiri? Apa maksudnya? “Besok aku jemput jam 10 pagi ya.” Tanpa mendengar balasan dari Reina, Bima bangkit dari duduknya menghampiri Zidan. “Hai jagoan,” sapa Bima. Zidan beralih dari mainannya menatap Bima. “Daddy pergi dulu ya.” “Daddy mau ke mana?” “Mau kerja dong,” Bima tertawa kecil setelah menjawab. Bima merasa dirinya cukup konyol memberi alasan yang selalu sama pada Zidan. “Tapi daddy bakal ketemu Zidan lagi kan?” Tanya Zidan dengan wajah memelas. Bima langsung mengangguk kemudian mengacak pelan rambut Zidan. Setelah itu Bima kembali menghampiri Reina. “Aku pulang ya,” pamit Bima. Reina mengangguk kecil kemudian bangkit dari duduknya untuk mengantarkan Bima ke ambang pintu. “Jangan lupa besok jam 10,” ucap Bima mengingatkan.  Reina mengangguk kecil kemudian membiarkan Bima berlalu keluar dari apartemennya. Sebenarnya Reina penasaran ke mana Bima akan membawanya. Ia harus bersabar menunggu sampai besok untuk menemukan jawabannya. *** Bima mematikan mesin mobilnya saat mobil yang ia kendarai sudah terparkir sempurna di garasi mobilnya. Garasi yang bisa dibilang cukup besar dengan berbagai macam jenis dan merek mobil. Bima keluar dari mobil, namun saat ia hendak menutup pintu mobil pandangannya terhenti pada sesuatu yang berada di kursi bagian belakang mobilnya yang membuatnya kembali memasuki mobil. Bima mengambil barang itu. Setelah memperhatikannya sejenak dan mencoba mengingat, Bima baru menyadari bahwa benda berbentuk persegi panjang dengan ukuran cukup besar yang dibungkus itu adalah benda yang diambil Reina dari satpam di kantor tempat ia bertemu dengan Reina. Walaupun merasa penasaran dengan isinya, namun Bima menyadari bukan haknya untuk tahu. Akhirnya Bima meletakkan kembali benda itu di tempat semula. Bima berencana untuk mengembalikannya saat besok ia menjemput Reina. Bima kemudian bergegas keluar dari mobilnya. Di perjalanan memasuki rumah, seulas senyuman tercipta dari bibirnya yang berwarna merah alami karna tak pernah merokok itu. Entah apa yang membuat pria tampan itu tersenyum, apa karna membayangkan seseorang yang baru ia temui? “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Bima menoleh pada kakaknya yang sedang duduk di ruang santai sembari membolak-balikkan majalahnya. Bima berjalan menghampiri kakaknya. “Perasaan tadi kakak cuma minta tolong kamu nganterin file ke kantor rekan kerja mas Aldo. Kenapa lama Bim?” Tanya Alya menutup majalahnya dan kini beralih menatap adiknya. “Tadi ada urusan di bandara kak, terus ada urusan lain juga.” “Urusan apa urusan?” Tanya Alya dengan nada menggoda adiknya itu membuat Bima tersenyum. “Kamu mah senyum muluk. Kapan bawa cewek ke rumah? Kakak kan juga kepingin kenalan.” “Apaan sih kak.” “Kok apaan, eh dengerin kakak ya. Nunggu apa lagi sih? Umur kamu udah cukup, dan kamu udah sangat amat mapan. Jangan kelamaan Bim, kakak kan juga mau dapat keponakan dari kamu,” ucap Alya memberi adiknya pengertian. Bima menggaruk tengkuknya yang tak gatal membuat Alya terkekeh. Pemandangan yang sangat biasa jika ia membahas tentang ini pada adiknya itu. “Bunda sama Nana mana kak?” Tanya Bima. Alya menggeleng pelan, sudah bisa di duga kalau adiknya itu akan mengalihkan pembicaraan. “Lagi ke supermarket depan. Kamu tau sendiri kalau bunda kita itu suka banget jajanin cucunya,” balas Alya. Bima mengangguk paham membenarkan ucapan Alya. “Ya udah aku ke kamar dulu ya kak, mau mandi,” ucap Bima. Setelah mendapat anggukan dari kakaknya kemudian berlalu ke kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN