Bab 1. Mimpi buruk
Bayangan itu kembali menghantui Vita.
Suara itu. Nada marah itu. Kalimat yang sampai sekarang masih tertanam jelas di kepalanya.
"Ibu nggak harus ngasih aku kuliah tentang rumah tangga, aku dan Vita baik-baik aja!"
"Ibu tahu kan, aku menikahi Vita karena keinginan ibu? Karena aku nggak sengaja nabrak orang tuanya dulu! Bahkan aku rela meninggalkan Indria yang sangat aku cintai demi Vita.”
"Aku udah tanggung jawab!”
Vita terbangun dengan napas tersengal. Dadanya naik turun cepat seolah baru saja berlari jauh. Keringat membasahi pelipis dan tengkuknya meski pendingin ruangan menyala sejak tadi malam.
Ia langsung duduk sambil memegangi d**a.
Lima tahun.
Sudah lima tahun berlalu, tapi mimpi itu masih datang.
Masih terasa nyata.
Masih menyakitkan.
"Mimpi itu lagi?"
Suara Rahma terdengar lembut dari ambang pintu kamar.
Perempuan itu berjalan mendekat sambil membawa segelas air dingin.
Vita menerimanya tanpa banyak bicara.
Kerongkongannya terasa kering. Dalam beberapa tegukan, air itu habis tak bersisa.
Rahma menghela napas pelan.
"Udah lima tahun berlalu, Vi. Mungkin saja dia sudah bahagia dengan kehidupannya."
Vita kembali merebahkan tubuhnya.
Satu tangan menutupi wajah, seakan dengan begitu ia bisa menyembunyikan rasa sesak yang kembali muncul.
"Dia pasti udah hidup dengan baik dan pastinya bahagia," gumamnya lirih. "Nggak kayak gue yang masih gini-gini aja."
Rahma duduk di tepi ranjang.
"Move on, Vi. Lo juga berhak bahagia."
Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar.
Dari Rahma.
Dari teman-teman lama.
Dari tetangga.
Bahkan dari dirinya sendiri.
Tapi kenyataannya tidak semudah itu.
Vita ingin move on.
Sungguh!
Ia ingin bangun pagi tanpa memikirkan masa lalu.
Ingin menjalani hidup tanpa dihantui rasa bersalah.
Ingin tersenyum tanpa harus berpura-pura.
Namun kenyataan tidak pernah semudah keinginan, sebab lima tahun lalu, Vita kehilangan segalanya dalam waktu yang bersamaan.
Orang tua.
Rumah.
Masa depan dan lelaki yang pernah ia cintai sepenuh hati.
Matanya perlahan terpejam.
Ingatan lama kembali berputar seperti film usang.
Hari itu seharusnya menjadi hari yang membahagiakan.
Ia baru saja menyelesaikan sidang skripsi.
Ayah dan ibunya bahkan berjanji akan mengajaknya makan malam untuk merayakan keberhasilannya. Namun sore itu sebuah telepon mengubah semuanya.
Kecelakaan.
Mobil yang ditumpangi kedua orang tuanya ditabrak sebuah SUV hitam.
Keduanya meninggal di tempat.
Dunia Vita runtuh dalam hitungan detik.
Ia masih ingat bagaimana dirinya menjerit histeris di rumah sakit.
Masih ingat bagaimana tubuh ayah dan ibunya terbujur kaku di ruang jenazah.
Masih ingat bagaimana ia berharap semua itu hanyalah mimpi buruk.
Tapi kenyataannya tidak dan di tengah kehancuran itu, hadir seorang lelaki bernama Ares Abimana..Pengemudi SUV yang menyebabkan kecelakaan tersebut.
Ares datang bersama ibunya.
Meminta maaf, menanggung semua biaya, bahkan membantu mengurus pemakaman.
Awalnya Vita membencinya.
Sangat membenci.
Setiap melihat wajah Ares, ia hanya teringat kedua orang tuanya.
Namun waktu berjalan.
Hari demi hari berlalu.
Ares terus datang.
Membantu tanpa diminta.
Menemani saat Vita harus menyelesaikan berbagai urusan yang ditinggalkan orang tuanya.
Lelaki itu tidak pernah mengeluh, tidak pernah marah meski sering mendapat tatapan dingin darinya dan perlahan, tanpa Vita sadari, kebencian itu berubah menjadi sesuatu yang lain.
Perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.
Cinta.
Rahma tentu tahu semuanya, karena ia adalah satu-satunya saksi perjalanan hidup Vita saat itu.
Saksi bagaimana Vita perlahan membuka hati.
Saksi bagaimana Ares berusaha menebus kesalahannya dan saksi bagaimana semuanya berakhir dengan tragis.
"Kamu masih cinta sama dia?"
Pertanyaan Rahma membuat Vita membuka mata. Ia menatap langit-langit kamar beberapa saat, lalu tersenyum pahit.
"Cinta?" Ia tertawa kecil.
"Entahlah."
Rahma mengangkat alis.
"Itu bukan jawaban."
Vita menghela napas panjang.
"Kalau gue masih cinta, kenapa gue nggak pernah nyari dia?"
"Karena lo takut."
Rahma melanjutkan.
"Lo takut kenyataannya nggak sesuai harapan."
Kalimat itu tepat mengenai sasaran.
Karena memang itulah yang selama ini ia rasakan.
Takut.
Sangat takut.
Takut mengetahui bahwa Ares sudah menikah lagi.
Takut melihatnya hidup bahagia bersama wanita lain.
Takut menyadari bahwa hanya dirinya yang masih terjebak di masa lalu.
Sementara Ares sudah melangkah jauh ke depan.
"Gue cuma capek, Mah." Suara Vita terdengar serak.
"Capek pura-pura baik-baik aja."
Rahma menggenggam tangannya.
"Lo nggak harus pura-pura."
"Gue kehilangan terlalu banyak."
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Lima tahun lalu gue kehilangan ayah, ibu, dan dia sekaligus."
Rahma tidak berkata apa-apa, membiarkan Vita meluapkan semua yang selama ini dipendam.
"Kadang aku bertanya-tanya."
"Apa?"
"Kalau waktu itu aku nggak dengar percakapan itu, mungkin semuanya bakal berbeda."
Dada Rahma ikut terasa sesak, Ia tahu percakapan mana yang dimaksud.
Percakapan yang menghancurkan Vita.
Percakapan yang membuatnya pergi tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk menjelaskan.
Vita menutup mata, air mata akhirnya jatuh membasahi pipi.
Lima tahun telah berlalu, namun luka itu masih ada, masih menganga dan yang paling menyedihkan, Vita bahkan tidak tahu bahwa di tempat lain, seseorang juga masih hidup dengan luka yang sama.
Seseorang yang selama lima tahun terakhir tidak pernah berhenti mencarinya.
Seseorang yang setiap malam masih menyimpan foto wanita itu di dompetnya.
Seseorang yang hingga hari ini belum mampu melupakan nama yang sama.
Luvita Maharani.