*** "Arion?" Mara ngetuk meja pelan, membuat gue mengerjap untuk kedua kalinya akibat ngalamun. "Hp lo geter. Ada yang nelfon." "Oh?" Gue mengangkat alis, lalu melirik ponsel. Dan bener aja, ada telfon dari.. Rumah Sakit? "Hallo?" "..." "Iya, betul." "..." "Gimana, Dok? April udah bangun?!" . Arion menahan mati-matian pilu yang menusuk. Kakinya bergetar begitu menginjak rumput taman belakang rumah sakit. Lututnya lemas, ketika ia harus menghampiri seorang perempuan dengan rambut sepunggung yang duduk di kursi besi bercat putih itu. "Prill?" "Hh? Eh.. kamu, Ar.." Senyum April mengembang. Sampai membuat matanya menyipit karena saking semangatnya. "Liat, deh. Jagoan kita lagi bobo, ya?" April memeluk erat boneka bayi dengan kasih sayang layaknya seorang Ibu. "Ganteng, ya? Mirip

