Hendra duduk di tepi jendela. Menikmati sisa semilir angin di sore yang mendung. Rintik-rintik hujan jatuh di tanah pekarangan rumah, membuatnya basah, dan jendela ikut berembun. Tangannya yang tak lagi kekar meraba kaca jendela yang basah dan berembun. Ia menyentuhnya, membuat sebuah garis berbentuk ekspresi senyum. Dua buah mata, dengan satu garis melengkung. Lalu dirinya sendiri ikut tersenyum. Senyum lirih yang terkesan di paksakan. Pada akhirnya, garis yang membuat lengkungan mata itu meleleh, jatuh seperti air mata. Dan entah mengapa, ia ingin menangis saat itu juga. Persis seperti ekspresi wajah yang ia gambar dari butiran embun di jendela. Hendra melepas kaca matanya, menghapus air mata yang kian lama kian deras. Rindu itu baru sekarang terasa ketika putrinya sudah pergi bebera

