Dan sepatah kalimat itu akhirnya meluncur. Ghita mengerjapkan matanya. Dan ia rasakan ada sebuah panggung istimewa di dalam dadanya. Detakan jantungnya semakin melebihi ritme dan tak terkendali. Perempuan itu menggigit bibir bawahnya. Salah tingkah. Grogi. Aneh dan ngerasa.. Ya, aneh aja. "G-gue juga su—" Mario langsung menarik rahangnya dan sepersekian detik kemudian ciuman itu terjadi. Cowok yang selama ini ia kenal nyeleneh dan konyol tidak bisa di pandang polos begitu saja. Mario kini sudah tumbuh menjadi seorang laki-laki seperti layaknya teman-teman sebayanya. Bukan lagi anak SMP kemarin sore yang ke lapangan untuk memarkirkan sepeda dan gemar ngupil. Ghita merasakan setiap detik dari ciuman itu. Meskipun ini bukan yang pertama kalinya bagi mereka. Tapi Ghita merasa Mario adalah

