Bag. 11 : Kiss Me

2470 Kata
*** April terus mengutuk dirinya sendiri. Kemarahannya tak beralasan, entah ia harus marah pada siapa. Pada Arion, Pada dirinya sendiri, atau pada.. bayi yang ada di dalam perutnya sekarang. "Bayi sialaan!!! Mati sana!! Matiii!!! Lo ngerusak hidup gue!! Ngerusak semuanya!! Kenapa sih lo masih aja idup! Bangsatt!!" April mengumpat, tak terkendali. Ia meninju perutnya sendiri berkali-kali. Berusaha menahan rasa sakit yang menggila. Tapi, rasa sakit itu tak seberapa di bandingkan rasa sakit yang ia rasakan di hatinya saat ini. "Mati lo!!" "Mati!!" "Mati sanaa!! Mampus!!" "Bayi sialaaan!!" "Arrghhh!!" Rasa sakit itu semakin bertambah parah, rasanya lebih sakit di banding apapun, perutnya ngilu setengah mati, hingga April tak mampu lagi menggerakkan tangannya untuk meninju perut sendiri. "Aww!! s**t!" "Arrgh!" *** Ghita merapikan poninya setelah mencuci tangan. Jari-jarinya terlumuri lem kertas yang begitu licin ketika tersiram air. Bukan tanpa alasan, kerta ulangannya tak sengaja di robek oleh Mario. Hingga  membuat Ghita harus berusaha menempel kembali sobekannya.Samar-samar telingannya mendengar suara rintihan, semakin lama semakin keras hingga akhirnya tak terdengar. Ghita membuka semua bilik toilet satu persatu, hingga sampai di paling ujung. Pintunya terkunci. Dengan seribu keberanian. Ghita meringkuk di depan pintu toilet yang bercelah di bagian bawahnya untuk mengintip apakan benar-benar ada orang di dalamnya. Setelah meringkukkan tubuhnya, dari bawah, Ghita bisa melihat sepasang sepatu. Ya! Ada orang di dalam. Kakinya putih mulus, dan Ghita kenal converse putih dengan tali berwarna biru muda itu. "April?!" "Iyaa!! April!" Ghita langsung bangkit seketika. Ia berusaha menggedor-gedor pintu. "Prill!! Bukaa pintunyaa!!" "Prill! Lo nggak papa?" "Prill! Bukaaa!!" Untuk kesekian kalinya, Ghita terpaksa meringkuk lagi, ia mengintip betis April yang tak bergerak sama sekali. Hingga beberapa detik kemudian dia menyadari sesuatu. "Darah?" Tetesan darah segar mengalir dari betis April. Membuat Ghita panik dan bertanya-tanya dalam waktu yang bersamaan. Sekuat tenaga, Ghita berlari ke kelas. Menghampiri Mario yang masih konsentrasi menyatukan sobekan kertas ulangan. "Mario!! April di toilet!" Teriakkan Ghita membuat seisi kelas mengalihkan perhatian ke mereka bedua. "Ya terus kenapa kalau April di toilet. Lagi boker kali." Mario menanggapinya dengan acuh tak acuh. "Ishh! b**o!" Geregetan, Ghita menggeret Mario habis-habisan. Seperti seekor kambing kurban. *** "April di dalem sini cepetan!! Kakinya berdarah!" Mario membulatkan matanya. "Berdarah?" "Aduh banyak mulut, deh lo! Dobrakk! April ada di dalem!!" "Kenapa gue? Arion mana? Dia, kan cowoknya!" "Sekarang bukan masalah siapa cowoknya! Tapi siapa yang ada di dalem, Mario!!" Mario terdiam. Saking geregetannya. Ghita memukul kepala Mario, meskipun ia tau, itu adalah perilaku yang tak beretika. "Cepet dobrak!! Banci banget, sih lo!" Sementara Mario berusaha mendobrak pintu toilet. Ghita melangkah keluar, menelepon seseorang yang mungkin sedang April butuhkan sekarang. "Angkat Arion.." *** Tamara naik ke atas rooftop sekolah. Tempat yang ia temukan beberapa minggu lalu untuk menyediri. Bagian paling tertinggi di gedung sekolah yang menyuguhi pemandangan jalan kota di bawahnya. Tempat ini digunakan sekolah untuk penyimpanan tanaman berpot. Juga beberapa tanaman lain. Gadis itu duduk di kursi putih panjang yang terbuat dari besi dan sudah sedikit berkarat. Setelah dirasa aman. Tamara mulai mengeluarkan bungkus rokok batang. Memposisikannya di mulut sebelum menyulut api di bagian ujungnya. Tamara bersandar pada kepala kursi. Keributan keluarganya semalam mau tak mau membuat Tamara stress lagi. Satu hal yang menjadi pelarian Tamara adalah; merokok. Kebiasaan sejak kelas 10. Dan kebiasaan yang membuat Tamara terpaksa harus di pindahkan. Meskipun bukan satu-satunya alasan yang kuat kenapa Tamara pindah sekolah. "Sendiri?" Suara berat itu spontan membuat Tamara langsung membuang rokoknya yang belun terbakar setengah. Ia langsung menggilasnya dengan sepatu, setelah tau siapa yang datang. "A-ali? Kok? Disini?" Arion terkekeh, lalu ikut duduk di sebelah Tamara. "Santai. Gue nggak gigit, kok." "Hmm." Tamara menggeser tubuhnya sedikit. Tapi, di tahan oleh Arion. Cowok itu menarik pinggangnya untuk mendekat. "Jangan gini, please." Tamara mencoba menyingkirkan tangan kekar Arion di pinggangnya. Merasa tak enak, namun juga merasa ada sesuatu yang membuatnya melayang. Tapi, tangan Arion semakin kuat menekan pinggangnya. "Bagi." Arion menaikkan alisnya. "Bagi apa?" "Rokok." Tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu, Arion langsung menarik bungkusnya dari saku seragam Tamara secara kilat. Setelah mengambil satu batang, ia melonggarkan tangannya di linggang Tamara. Arion menyulutnya dengan korek sendiri. Lalu mengembalikan bungkus rokok tadi pada pemiliknya. "Lo nggak ngerokok?" Tamara tercenung. "Eng-enggak." "Tenang aja, gue udah liat. Jadi santai aja." "Nggak, kok. Kalau lo mau, lo bisa ambil punya gue." Tamara menempelkan bungkus rokok tadi di telapak tangan Arion. "Gue harap lo tutup mulut." Arion berdecih. "Ternyata, cewek sekalem elo bisa aja ngelakuin hal yang enggak-enggak." Tamara tersenyum sinis. "Itu dia, gue nggak sebaik apa yang lo kira, kan?" "Hmm." Arion mengangguk, lalu mendongak untuk mengepulkan asap. "Mulai keliatan iblisnya." Tamara tak menyangkal. Karena memang Iya. Selama ini, ia menyembunyikan kelakuan aslinya demi mendapatkan reputasi anak baik di sekolah barunya. Tapi, usahanya juga gagal, seandainya Arion koar-koar nantinya. "Soal kemarin... lo jangan dengerin omongan April." "Omongan yang mana?" Arion mengela nafas, lalu membuang rokoknya dan menggilasnya dengan sepatu. Dia udah lupa rupanya. "Nggak. Lupain aja." Tamara tersenyum. "Soal lo yang suka ngajak tidur cewek?" Arion mendongak. Mengangkat wajahnya dan menunjukkan ekspresi tak percaya. Dan langsung membuat tawa Tamara perlahan lepas. "Nggak usah gitu kali ngeliatinnya. Gue juga pernah." Tamara terkekeh. "Pernah apa?" "Pernah di ajak tidur." "Lo?! Pernah?" Arion bahkan harus membulatkan matanya tak percaya. "Sama siapa?" "Cowok gue. Sampe itu kejadian." "Terus? Baby lo gimana?" "Gue gugurin." "Hah?!" Arion terdiam untuk beberapa saat. Nafasnya seakan tertahan. Arion masih belum percaya seorang Tamara bisa melakukan itu semua? Di balik Image nerdy yang selama ini menutupi sifat aslinya, ternyata Tamara lebih nakal. "Nyokap sama bokap lo?!" Tamara menggeleng. "Sebenarnya, nyokap sama bokap gue nggak pernah pulang ke rumah. Mereka sebenarnya udah cerai semenjak gue SMP. Nyokap gue kabur, dan Bokap gue ke Malaysia, nikah lagi sama perempuan lain." Arion terdiam, tak berniat menginterupsi, tapi memilih untuk mendengarkan. "Keluarga gue berantakan. Cowok gue juga kabur waktu tau gue hamil. Dan akhirnya, mulai sekarang gue hidup sendiri. Meskipun image cewek murahan itu nggak pernah hilang." Arion manggut-manggut, menatap wajah Tamara yang mulai pias. Jantungnya selalu berdegup kencang setiap pandangan mereka bertemu. Jujur saja, setiap malam Arion selalu menyangkal bahwa Arion suka sama Tamara. Tapi, semakin ia menyangkal jantungnya semakin berdegup lebih kencang. "Sekarang lo udah tau sisi kelam diri gue, kan? Kenyataannya, gue emang murah.." Arion tersenyum. "Yaa, lo emang murah, tapi gue suka." "..." "..." "..." Sedetik kemudian, Arion mencium Tamara tanpa ampun. Cowok itu menciumnya tanpa membiarkan Tamara kembali mengeluarkan kata-katanya. Arion mulai merasakan sesuatu yang bergetar di dalam lubuk hatinya semakin menggedor-gedor keluar. Dan Arion tau, bahwa Arion mulai jatuh cinta, lagi. *** Pintu terbuka. Mario bahkan tercengang ketika melihat darah yang kunjung mengalir melalui betis. Sumpah demi apapun! Mario takut darah. "April?!" Ghita langsung menjerit dan mencubit pinggang Mario. "Yo! Lo bawa April ke mobil jangan sampe ketauan guru!" "Sumpah demi apapun, Ghit! Gue takut darah! Darahnya April banyak banget! Dia PMS kali.. wajar, lah! Kita biarin aja!" "Anjrit sumpah!! b**o, ya lo!! April pendarahan! Gue nggak ngerti kenapa bisa kaya gitu." Ghita  mengerang frustasi. "Udahlah biarin aja! dia PMS nya lagi banyak-banyaknya kali.." "Banci, ya lo jadi cowok!!" "Gue bukan cowoknya! Arion, tuh cowoknya! Mana coba tuh babi!!" Mario mulai frustasi. "Sekarang, nggak usah ngarepin Arion! Setan banget emang itu cowok! Pokoknya kita harus bawa April ke rumah sakit sekarang.." "Ghitaaa, gue takut darah. Alergi gitu!" "Alah! Banyak bacot lo! Angkat cepettt! Kita lewat kebun belakang sekolah aja." Mau tak mau, Mario mengangkat tubuh April dengan nafas tertahan. Dari kecil, Mario paling takut darah. Rasanya Mario ingin muntah sekarang juga. Ghita melepas jacket biru muda yang setiap hari ia pakai—meskipun Guru berulang kali meminta Ghita melepasnya—jacketnya di sampirkan untuk menutup bagian rok April yang sudah ternoda oleh darah kental. Tak lupa juga, Ghita menyiram toilet dari bekas darah yang ada. Untuk menghilangkan jejak juga kecurigaan Satu tanda tanya muncul di benaknya. Dari mana semua darah ini berasal? Logikanya, menstruasi tidak akan mungkin sampai sebanyak ini. *** "Gue udah izin sama Guru piket!" Ghita masuk ke mobil dengan membawa tas April dan Mario terburu-buru. Setelahnya ia duduk di belakang menemani April yang semakin memucat. "Terus gimana? Dapet izin?!" Mario menoleh ke belakang sekilas. "Iyalah. Orang tinggal satu jam pelajaran terakhir. Buruan ngebut dikit, ih!" "Iyaa, Iyaa. Ini udah ngebut!" Ghita menangkup pipi April yang mulai dingin. Rasa cemas langsung mengerebungi dirinya. Ghita menelfon beberapa kali ke nomor Arion. Tapi, tak sekalipun ada jawaban. "Lo telfon Arion, gih! Cowok t*i dia mah. Udah tau April lagi kaya gini dianya kemana coba?" "Iyaa! Lo liat gue lagi nelfon siapa?!" Ghita menggerutu. "Gimana di angkat nggak?" Mario antusias. "Di angkat! Yang ngangkat cewek loh!" "Serius? Siapa? Apa katanya?" "Pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini. Cobalah beberapa saat lagi." Mario mendengus. "i***t lo! Lagi genting gini malah bercanda! Nggak lucu!!" "Yauda sii. Pinjem hp lo!!" *** Aroma antiseptik benar-benar membuat Mario frustasi. Cowok itu terus menutup hidungnya. Lain dengan Ghita yang justru menunggu seseorang keluar dari ruang perawatan. Sampai seorang pria berpakaian serba putih keluar. "Keluarga pasien, ada?" "Oh! Saya, dok!" "Maaf, tapi saya butuh bicara dengan keluarganya langsung." "Iya! Saya, Saya kakaknya." Ghita menyela dan langsung di hadiahi dengusan dari Mario. "'Kakak' pala lu!" Gumam Mario. "Sst! Diem!" "Oke, ikut ke ruangan saya." *** Dokter menatap Ghita dan Mario bergantian. Ditatap seperti itu, Ghita menyimpulkan bahwa; terjadi sesuatu yang serius pada April. Bisa jadi, sesuatu yang selama ini April sembunyikan dari mereka. "Saya sedikit ragu sebenarnya, mengingat April masih menggunakan seragam SMA. Tapi, saya harap, kalian merahasiakkannya dari teman-teman yang lain, demi Privasi juga Psikologis April sendiri." Mario mengerutkan dahi. Mulutnya hampir terbuka, namun mengatup lagi ketika Ghita mencuri pertanyaannya. "Emangnya April kenapa, dok?" "April hampir saja keguguran." "Keguguran?!" Antara Mario dan Ghita tercenung masing-masing. Keguguran? Bagaimana bisa? Sedangkan yang mereka ketahui, April tidak pernah mengandung. Ghita sendiri hampir tidak percaya, lalu ia mengerjapkan matanya dan barusadar bahwa ia menahan napas. "Kok? Keguguran?" Tanya Mario. "Ya, saya rasa usia kandungan April sendiri sudah hampir sekitar 13 minggu. Tapi, janinnya masih kuat. Kemungkinan, April tadi melakukan percobaan pengguguran." Mario menghela nafas panjang. Emosinya langsung memuncak sebagai seorang cowok. "Anj*ng! ALI!!!!" Dengan langkah memburu, Mario langsung bangkit meninggalkan ruangan Dokter sambil membanting pintu. "Mario!! Mau kemana?!" "Gua bakal bunuh dia, nyet! Lo nggak mikir!! Dia udah ngelakuin apa?! Lo pikir gua bisa terima! Cowok apaan dia?! Hah?!" Ghita menahan tangan Mario sekuat tenaga. "Tenangin diri lo! Ini rumah sakit, Yo! Lo emosi kaya gini nggak bakal nyelesain apa-apa!" "Peduli setan!! Gua bakal perhitungan sama diaa!! Keterlaluan Ghit! Lo nggak mikir, April kedepannya bakal gimana?! Ancurr!! Cuma gara-gara cowok b*****t kaya dia!!" "Yo!! Arion sayang sama April! Lo jangan nuduh kalau itu Arion yang ngelakuin Arion!!" "Sayang apaan?! Sayang p****t gua ya, iya!! Kalau dia sayang dia nggak bakal ngerusak! Perempuan itu di jaga! Bukan di rusak!! Terus kalau bukan Arion siapa?! Lo pikir April kenapa bisa sampe bunting? Di perkosa?!" Plakk. Tamparan itu mendarat begitu kuat di pipi Mario. Membuat Mario tersulut emosi semakin mendalam. "Jaga mulut lo!! Kita selesaiin ini baik-baik! Bukan pake emosi!! Lo cuma ngandelin ego lo sendiri! Lo nggak ngerti cerita sebenarnya! Cuma April yang tau, siapa Ayahnya!!" "Tanpa gua harus tau gimana cerita sebenarnya, gua udah bisa nebak, siapa tokoh utamanya." "Mario!! Dengerin gue!!" "Nggak, Ghit! Lo perempuan. Lo nggak bakal ngerti! Ini urusan cowok sama cowok!" Mario melepaskan tangan Ghita dengan gerakan kasar. Di lobby rumah sakit, dengan emosi yang sudah terlanjur tersulut, Mario menelfon Arion berkali-kali. Tak peduli apapun. Ia akan terus menelfon sampai ada jawaban. *** Arion terbangun ketika ponselnya berdering berkali-kali. Cowok itu mengusap wajahnya. Kandungan alkohol masih tersisa di tubuhnya, meski begitu, Arion cukup memiliki kesadaran penuh sampai bisa menjawab telfon tanpa melihat ID si pemanggil. "Hallo?!" "Kesini lo bangsatt!! Cepetan!!" Arion langsung menjauhkan ponsel dari telinga dan menatap Caller ID. "Mario?! Woles aja, woy! Gua ada telinga!" "Nggak usah banyak bacot lo! Ke rumah sakit sekarang!!" "Aneh lo!! Apaan sih—Arggh! i***t! Di matiin lagi!!" Arion melempar ponselnya ke nakas milik Tamara. Arion menepuk-nepuk kepalanya, agar rasa pening di kepalanya menghilang. Sudah berapa banyak alkohol yang ia minum? Arion lupa. Beberapa saat kemudian Arion, memakai seragam sekolahnya yang tercecer di lantai kamar Tamara. Lalu meninggalkan Tamara yang masih terlelap di ranjang. *** Arion menyalakan mesin mobil sambil mengecek ponselnya. Sedikit tercengang, karena banyak sekali panggilan tak terjawab juga sms yang masuk. Kebanyakan dari Ghita dan Mario. Tapi, dari Mario mendominasi. 126 missed call from Mario - XII IPA 80 missed call from Ghita - XII IPA 24 Unread message, Ghita, Mario. Mario : -Lo dimana, Ar? -Arion lo dimana? -Arion gua sama Ghita di Rumah Sakit -Arionikuuhh sayangzzz cepet kezinii!! -Cepet kesini my babi. -ALI! April DI RS! LO DIMANA!! -Arion! Cepetan! April di RS. -ALI!! Bales!! ANGKAT TELFON LO!! -Cepetan kesini! b*****t!! -Gw bunuh lo!! Sampe lo ga bener2 kesini! -Cowok gak tau diri!! Antara ingin tersenyum, namun juga bertanya-tanya setelah membaca sms dari Mario. Selanjutnya, ia membuka sms dari Ghita. Ghita : -Arion dimana? Gue di toilet! April gawat! -ALI! April KE KUNCI DI TOILET CEWEK! LO DIMANA! BANTUIN DOBRAKK!! -Lo dimana?! -Gua otw ke RS, lo dimana? -ALI ALI ALI ALI ALI!! ANGKAT TELFON!! -Arion cepet angkatt! Pulsa gw kritis! -Arion , kalau lo baca, cepet kesini; Rumah Sakit Harapan. Jl. Cendrawasih 23 Jakarta. Arion mengerutkan dahinya. Lalu tancap gas setelah tau kemana ia harus pergi. Disisi lain. Ia bertanya-tanya apa yang terjadi pada April? "Toilet? April? Rumah sakit? Kenapa sih? Heboh banget!" "Apa April kekunci di toilet terus masuk rumah sakit gara-gara habis nafas? Gak! Gak mungkin! Ya kali, di toilet kehabisan nafas?!" Sebisa mungkin Arion menyusun kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada April. Sejujurnya, ia mulai cemas. Tapi, sebisa mungkin juga, Arion berusaha tenang. *** Mario langsung menghampiri mobil silver itu, bahkan belum sampai ke parkiran. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Padahal ia sudah menunggu sejak pukul setengah lima sore. Baru saja Arion keluar dari dalam mobil. Dengan emosi yang berapi-api, Mario langsung menggeret kerah kemeja Arion. "Keluar lo! Keluar!!!" "Woy! Santai—" Bughk! Satu tinju langsung mendarat di bibir Arion. Membuat cowok itu langsung tersungkur di tanah. Mario terus saja memborbardir Arion dengan pukulan, tanpa memberikan Arion celah untuk melawan. "Mati aja, lo!!" "Mati!! Sialan!!" "Anj*ng! b*****t!!" Mario menginjak-injak perut Arion, tanpa peduli mereka pernah menjadi teman dan sahabat seperjuangan. "Mati! Lo! Najiss!!" "Haahhh!!!" Mario menghela nafas kasar. Lalu mencengkram kerah seragam Arion. "Bangun!! Bangun, lo!!!" Arion berusaha membuka matanya, meskipun ia merasakan perih dan ngilu dimana-mana. Matanya berusaha menatap wajah Mario dengan kecut. "Apa yang lo lakuin sama April?! Hah?!!!" Mario berteriak, tepat di depan wajahnya. Dengan kasar, Arion melepaskan cengkraman tangan Mario. Mendorong tubuh Mario hingga punggungnya terbentur mobil lain yang terparkir. "Maksud lo apaa!! Lo nggak jelas gini, nyet!! Lo gebukin gue maksudnya apa?!! Hah?!" "Karna lo pantes dapetin itu semuaaaa!!!" Bughkkk!! Kesekian kalinya, Mario berhasil membuat Arion kembali jatuh tersungkur di tanah parkiran. Seragamnya sudah kotor terkena tanah karena beberapa kali Mario menghantamnya hingga jatuh bangun. Namun Arion berusaha bangkit. Bughk!! Kini gantian Arion yang mendaratkan tinjunya di wajah Mario. Bukan sekali, namun berkali-kali. Atmosfer diantara mereka terlanjur memanas hingga keduanya sama sekali tak bisa menahan emosi masing-masing. Arion mendorong Mario hingga punggung dan tubuhnya membentur kap mobil Arion. Meninjunya disana hingga berdarah-darah. Sama seperti Mario meninju Arion, tadi. Sampai Mario berhasil membuat tinju Arion mereda dengan kata-kata. "Anj*ng!! Cowok macam apa lo?! Lo hamilin April, kan?!!! Jawab guaaa!!!" Mario mengguncang kerah kemeja Arion, membuat tubuhnya ikut terguncang. Seketika Arion terdiam, otot-ototnya menegang dan ia tak bisa menyangka, akhirnya teman dekatnya ini tau. "IYA!! Kenapa?!" "Bangsaatt!!!" Bughkkk!! Bughkk!! Mario mendorong Arion lagi. Memukulinya habis-habisan. Habis yang benar-benar habis. "Kenapa?! Kenapa kalau gue yang hamilin April?!" Bahkan di tengah pukulan bertubi-tubi Arion masih sempat mengoceh. "Mulut lo emang sampah, Ar!! Lo cowoknya harusnya jaga diaa!!" "Terus apa urusannya sama lo! Ini urusan gua sama April. Lo ngapa ikut campur? Hah?!" "Gue ngebela dia sebagai teman cowoknya! Gue laki-laki! Lo juga laki-laki, kan? Mana sikap gentleman lo? Nggak ada, kan?! Karena emang pada dasarnya lo bancii!!!" Arion berdecih. "Serius?! Atau emang lo syirik gara-gara gue bisa jadi cowoknya April? Sedangkan lo nggak bisa?!" Mario bahkan ingin tertawa mendengar pernyataan gila Arion. "Sinting lo, man! Gilaaaa!!! Nggak waras, ya lo?! Hah?!" "Kalau lo mau, ambil aja April!! Lo jadi cowoknya aja sana!! Lo pasti suka sama April juga, kan? Cuma kejebak Friendzone. Sedih banget idup lo!!" Arion memaki. "Heh! Lo mabok?! Lo Gila? Lo waras?! Gue nanya apa, lo jawabnya apa?! Sinting lo!! Nggak nyambung!!" Mario benar-benar ingin tertawa sekarang. "Ternyata bener, ya? Kalau punya temen cowok itu lebih enak dari pada punya pacar cowok tapi b******n kaya lo!!" "Hah! Terserah lo ngomong apa! Intinya, lo suka sama April tapi lo nggak bisa dapetin—" Bughk!! Bughkk!! Bughkk!! "Cowok gilaaa!! Cowok nggak waras!!" "Mario, Stop!!" Dirasakannya, sebuah tangan melingkar di pinggang Mario. Membuat cowok itu berhenti menghantam Arion. Ghita ada disana, memeluknya dari belakang. "Stop! Sampai lo bisa bunuh Arion, pun.. itu nggak bakal ngerubah apa-apa." Mario menghela nafas, ketika ia melihat April mendekati Arion yang sudah habis babak belur. "Jangan pegang dia, Prill! Dia nggak pantes buat lo!!" April mengangkat wajahnya, matanya menyala menatap Mario tajam. "Lo jahat, Yo! Lo apain Arion?!!" "Lo nggak perlu bela dia! Jijik tau nggak?! Cowok kaya dia emang pantes dapetin itu!" April masih tergopoh-gopoh menghampiri tubuh Arion yang melemas. "Arion lo nggak papa—" "Aprill.. mendingan kita balik! Mario bener." Ghita mengangkat tubuh April agar menjauh dari Arion. "Tapi Arion—" Mario menendang pinggang Arion yang masih tersungkur di tanah. "Biarin! Biar mati sekalian!" "Mario!! Nggak! Gue nggak ikut kalian. Gue harus obatin Arion dulu!" "Aprill! Gue bilang pulang, ya pulang! Dia bisa pulang sendiri!" *** . . (TBC)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN