Bag. 12 : Salah Langkah

1881 Kata
*** "Prill, gue pengen lo jelasin sejelas-jelasnya. Sebenarnya ada apa?" Ghita bertanya dengan suara selembut mungkin. Di kamar hanya ada April dan Ghita. Sedangkan Mario masih menunggu di ruang tamu. Selagi mengatur emosinya agar tetap stabil. Jujur saja, Mario masih tak menyangka, ia memiliki teman sebejat dan sebangsat Arion. Kelakuan yang sama sekali nggak pernah ia duga sejak mereka duduk di bangku SMP. Yang ia tau, Arion nggak begitu nakal. Senakal-nakalnya, ia hanya iseng menjadi Playboy sekolah dan paling parahnya Minum alkohol. Tapi, untuk menyentuh n*****a dan main perempuan. Mario tidak pernah sangka. Sudah berapa lama rupanya Mario mengenal Arion? Bahkan Arion sudah Mario anggap seperti pacar setia-nya. Sama sekali Mario nggak pernah menyangka kalau Arion sampai tidur dengan perempuan. Mario paling benci type cowok seperti itu. Seperti Mario membenci Ayahnya. Itu masa lalu. Kalau bukan karena 'itu' Mario nggak mungkin lahir, juga. "Prill.. jawab?" Ghita mengulang pertanyaannya. "Nggak ada apa-apa." April menjawabnya dengan intonasi setenang mungkin. "Gue sama Mario udah tau. Jadi jangan sembunyiin apapun lagi." "Tau apa? Orang nggak ada apa-apa, kok." April tertawa gugup. "Lo hamil, kan? Ayahnya Arion, kan?" Deg. April diam. Nyatanya memang benar, sebisa apapun ia menutupinya itu akan terbongkar. Ketakutan yang pertama kini benar-benar terjadi. Dan April yakin, kalau ketakutan selanjutnya juga akan terkuak perlahan-lahan. "Prill.." April mengangkat wajahnya. "Ya?" "Jujur. Lo hampir aja keguguran tadi." April terkejut bukan main. Rencananya berhasil, Pikirnya. Ia berhasil melenyapkan janinnya. Dan itu artinya, Arion akan berhenti menjaga jarak dengannya. Semuanya akan baik-baik saja, setelah bayi itu benar-benar lenyap. "Serius?" Wajahnya antusias. "Gue berhasil-" "Hampir." Ghita menginterupsi. "Iya, cuma hampir. Dan nyatanya, bayi lo masih ada. Dan udah jadi tanggung jawab kalian untuk ngerawat dan nerima resikonya." "Apa?!" "Bayi itu masih tetep ada, Prill. Sekarang yang gue tanya, siapa Ayahnya?" "..." "Prill jawab.." "Ayahnya Arion! Dan gue bingung harus ngapain lagi. Arion nggak pernah mau nerima bayinya! Gue benci sama bayi ini! Dia yang ngebuat Arion jadi benci sama gue.. Dia yang ngebuat-" "Ngebuat lo sadar, bahwa ini kesalahan kalian berdua!" Di tampar dengan verbal seperti itu membuat April langsung tercengang. Ia kalah. Dan itu faktanya, kalau ia benar-benar kalah dengan dunia yang selama ini menghimpitnya. April merasa sendirian menghadapi semuanya. Arion mungkin bisa lari, tapi April tidak. Kemana pun ia lari, perut buncitnya akan tetap ikut. "Terus gue harus apa?" Tanpa dirasa, air mata itu terus menetes. April bukan perempuan yang kuat. April bukan orang yang pandai menyembunyikan air matanya. Ghita menghela nafas. "Lo harus pertahanin itu." "Gue juga maunya gitu. Gue nggak bisa kalau harus ngebunuh apa yang ada di perut gue sekarang. Tapi, kelakuan Arion yang maksa gue buat ngelakuin ini. Asal lo tau, Ghit! Gue ngerasa sendiri. Arion cuma bisa bilang, tapi nggak bisa ngejalanin. Nyatanya, gue yang hadapin ini sendiri!" "Lo nggak sendiri. Ada gue. Ada Mario. Gue bakal bantu sebisa gue. Begitu juga Mario." "Tetep aja. Bayi ini aib." "Lo udah berbuat, maka lo yang harus bertanggung jawab. Lebih baik, lo jaga hubungan lo sama Arion. Yakinin dia untuk tanggung jawab!" "Ada Tamara." Seketika Ghita memasang wajah waspada. "Kenapa sama Tamara?" "Gue curiga-Eng, bukan, bukan curiga juga, sih. Gue cuma takut.. Takut kalau seandainya Tamara bakal jadi orang ketiga-Oh! Tapi, itu cuma ketakutan. Cuma ketakutan yang nggak bakal pernah terjadi." "Segala sesuatunya itu bisa aja terjadi. Lo nggak bakal pernah tau apa yang bakal terjadi besok, lusa, minggu depan, atau bulan depan. Maka dari itu, lo harus waspada. Karna kita nggak pernah bisa menghentikan waktu, atau memutarnya kembali ke masa lalu." April tersenyum kecut. "Seandainya bisa.. gue pengen balik ke masa lalu. Meskipun orang bilang, kembali ke masa lalu malah bakal menimbulkan luka baru. Tapi, seenggaknya itu lebih baik daripada sekarang." "Terserah apa prinsip lo Prill. Yang penting, jaga apa yang ada di tubuh lo saat ini. Hati, pikiran, nurani, juga.. bayi itu." April tersenyum lembut. Setindaknya jauh lebih baik. Tangannya langsung meraih bahu Ghita, mendekapnya erat-erat. "Thanks, Ghit." *** Ghita membawa sebotol obat merah dan perlengkapan yang biasa ada di kotak P3K untuk membersihkan luka di wajah Mario. Lukanya mungkin tidak separah saat ia melihat Arion tadi, tapi, sekecil apapun luka tetaplah menyakitkan. "Thanks." Ghita melumuri kapasnya dengan Obat Merah. "Untuk apa?" "Untuk lo, karena udah ngebantu April." Mario tersenyum lembut. Namun seketika senyumnya pudar dan meringis ketika kapas mengenai ujung bibirnya. "Ohh sama-t*i! Sakit! Gilaa!" Geregatan, Ghita menekan kapasnya pada permukaan kulit Mario yang terluka. "Udah tahan aja kali, jamban!" "Lo, tuh jamban! Sakit, gilaa!! "Iya, gue jambannya, lo air comberannya! Bangke!" Ghita nyosor, lalu meletakkan kapas pada plastik sampah. "By the way, Thanks." "Gue juga, Thanks." Ghita menaikkan alisnya, "Buat Apa?" "Buat lo karna udah ngobatin gue." "Hehe. Gue nggak ngira, kalau ternyata Mario si banci comberan juga bisa gentle kaya cowok beneran!" "Ya kali, gua cowok jadi-jadian! Sebanci-bancinya cowok, dia selalu punya naluri. Dan banci yang beneran, ya si b*****t, Arion!!!" "Udah, ah! Bahas Arion mulu! Ntar kasian kupingnya panas di omongin terus. Eh, by the way, April udah ngaku, kalau Arion itu Ayahnya. Terus kita harus gimana?" Mario berdecih. "Jauhin April dari Arion!" Seketika itu juga, Ghita menepuk punggung Mario sekuat mungkin. "Ih b**o, ya lo! Arion kan bapaknya! Dia harusnya tanggung jawab lah! Masa depan April ancur, kalau nggak ada yang tanggung jawab buat bayinya." "Ya bodo amat. Mau Arion jauh atau deket sama April, itu sama aja! Masa depan April tetep ancur. Emang dasar udah kaya t*i Arion nya!" "Terus, emangnya lo mau tanggung jawab buat bayinya April?" Mario terkekeh. "Enggak ah! Gue mah maunya tanggung jawab buat bayi elo aja, nanti. Hehe." "Biadab! Gue nggak bercanda, ya!!" Sungut Ghita. "Iyaa, Iyaa! Ya kita, lah yang tanggung jawab! Gue mah nggak akan pernah percaya sama Arion lagi." *** Mario dan Ghita langsung mejeng di bangku April ketika bell istirahat berbunyi. Dua orang itu langsung menyuguhkan semangkuk bakso dan Jus Mangga di mejanya. April langsung tercengang, padahal ia baru selesai membereskan bukunya. "Apaan, nih?" April menatap hidangan satu persatu penuh minat. "Udah, makan aja, mak!" Mario menginterupsi. "Mak?" "Iyaa, Emak. Makan aja, Mak! Ngga usah banyak mulut! Emak-emak yang lagi halim harus makan makanan yang mengandung banyak vitamin dan nutrisi. Oke?" "Cocot ae." April hanya tersenyum kecil. Lalu menarik mangkuk bakso yang sejak tadi menggoda itu untuk mendekat. Kegiatan makannya berhenti ketika tiba-tiba seorang cowok masuk ke kelas mereka. Sedikit membuat Mario, Ghita dan April berhenti berbicara ngalor ngidul sejenak. "Prill? Lo nggak papa? Kemarin di rumah sakit kenapa?" Arion bertanya secara spontan. Dan secara spontan pula, Mario menghalangi tubuh Arion untuk bergabung. "Weiss!! Mau kemana, nyet?!" "Minggir." "Nggak!" "Minggir!" "Enggak!" Mario tetap bertahan. "Lo belom puas ngehajar gue kemaren?! Hah? Lo nggak liat? Gue udah babak belur begini? Lo nggak-" "Lo harusnya bersyukur. Gua kira lo udah mati." "b*****t lo!" "Lo tuh b*****t!!" Mario tak kalah berteriak. Seisi kelas langsung mengalihkan mata mereka pada kedua cowok populer yang sedang berdebat. Saling menyimpan tanda tanya, ada apa gerangan dua sahabat sejak SMP ini hingga terlibat percekcokan. "Kenapa diem? Nggak bisa nolak kalau lo itu cowok bang-sat?!" Mario melanjutkan argumennya, ketika melihat Arion diam saja. Dan rupanya Arion memilih tetap diam. Mengaku kalah dengan perang verbalnya bersama Mario. Cowok itu menatap April yang masih tercenung balik menatapnya. "Lah? b*****t, kok teriak b*****t. Cowok b***t mah tetap b***t, kali ya?" Sindir Mario. Seketika itu juga Arion langsung mengangkat kerah kemeja Mario tinggi-tinggi. Mukanya memerah menahan amarah. "Anj*ng! Lo bisa woles nggak?! Hah? Lo dari kemaren ngajak ribut mulu!!" "Nyatanya emang begitu! Kalau lo nggak b***t, April nggak mungkin sampe-" "Arion ayo! Kita ngomongnya diluar aja!" April spontan langsung menarik Arion keluar kelas. Sepeninggalan Arion dan April. Ghita langsung mengumpat habis-habisan. "Mati lo! Lo hampir aja keceplosan! Udah berapa kali gue bilang, atur emosi lo, Mario!" "Ya lo juga sih, nggak ngingetin gue. Gue, kan khilaf! Manusiawi kali!" "Ngeles mulu, lo." *** Di koridor dekat perpustakaan. Merupakan koridor yang paling sepi. Hanya dilintasi beberapa anak yang hendak ke perpustakaan. Selebihnya, jarang sekali orang lewat koridor ini. Dan disinilah mereka sekarang. Berdiri saling berhadapan. Saling bertatapan satu sama lain. Namun, belum ada satu pun yang membuka kata. "Aku sayang kamu." Tiba-tiba Arion berkata demikian. Membuat April menghela nafas. "Maaf." "Untuk apa?" "Karena nggak berhasil gugurin bayi ini." Arion langsung menyentuh perut April menatapnya nanar. Yang ia tau, perut ini juga yang perlahan akan membongkar semua apa yang selama ini ia tutupi. Kesalahan fatal yang pernah ia buat, dan seumur hidup, Arion sudah berjanji, tidak akan mengulanginya lagi, dengan siapa pun. "Jangan. Jangan pernah gugurin. Karna aku nggak pernah minta. Kalau kamu ngelakuin itu, mungkin aku bakal kehilangan kamu. Karna itu bahaya. Bukan perkara gampang, Prill. Kita jaga sama-sama." "Kamu cuma bisa bilang doang, Ar!" Perlahan mata April mulai memanas. "Aku janji." "Aku takut." "Itu cuma ketakutan. Ketakutan yang nggak bakal pernah terjadi." Entah sudah ke berapa kalinya Arion mengatakan kalimat ini. "Jangan pernah tinggalin aku. Kalau kamu pergi, itu artinya aku bakal hadapin ini semua sendirian." "Nggak akan pernah." Detik selanjutnya, Arion langsung menarik April kedalam pelukannya. Entah mengapa ia juga merasakan hal yang sama ketika ia mencium Tamara sore itu. Perasaan yang sama-sama ia rasakan pada orang yang berbeda. Disisi lain, Arion merasa kembali melengkapi bagian yang hilang. Disisi yang lain juga, Arion merasa telah mendustai seseorang. Dan disisi yang lain, seseorang sedang tercengang, sambil menutup mulut rapat-rapat berusaha menahan tangisan. Di balik pintu perpustakaan. Tamara bersembunyi. Menguping apa yang Arion dan April bicarakan. Tadinya, ia hanya berniat meminjam Buku lalu keluar. Namun, begitu melihat April menyeret Arion di tengah koridor. Tamara memilih diam di tempat. Tamara bukan orang yang bodoh tentunya. Ia juga bisa menarik kesimpulan. Dan kesimpulan yang ia tarik begitu mengejutkan, namun juga menyakitkan. Kesimpulan bahwa; "April hamil? Nggak mungkin.." Gumamnya, namun air matanya terlanjur menetes. Isakannya sulit di tahan. April hamil? Dia bahkan udah hamil sebelum gue 'tidur'. Jadi, ini artinya gue salah langkah. Salah yang benar-benar salah! Tamara salah langkah. Bukan ini rencanannya. Sama sekali tidak seperti apa yang ia rencanakan. *** From : Mara XII IPS Gw tunggu di rooftop. penting! Arion langsung mendengus setelah membaca sms itu. Ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk menghampiri kelas April. Cowok itu berbelok ke arah kanan. Lalu menaikki beberapa anak tangga untuk mencapai rooftop. "Kenapa, Mar?" Tanya Arion, sesampainya disana. Tamara yang berdiri memunggungi Arion langsung memutar tubuhnya, menghadap cowok itu dengan mantab. "Arion, kalau gue hamil? Gimana?" Apa? Apa katanya? Arion bahkan masih sulit mencerna kata sederhana tersebut. Ia harus terdiam beberapa detik, sampai sel-sel dalam otaknya tersambung dan mulai mencerna. "Apa kata lo?!" "Gue hamil." "Hamil?! Sama siapa?!!" Arion langsung menaikkan nada bicaranya. "Elo, Ar! Elo!!" "Gue?!" "Kita udah pernah tidur! Lo nggak inget?!" "Enggak!! Nggak sama sekali! Lo ngibul! Gue nggak pernah ngerasa tidur sama lo!" Tamara terdiam. Namun tangisnya langsung pecah. Tentu aja lo nggak inget, karena disini lo di jebak. "Kita pernah. Lo mabuk. Lo ke rumah gue. Dan kejadian. Masih nggak inget!" "Enggak! Lo ngejebak gue, Mar!" "E-enggak! Gue nggak ngejebak ini murni kecelakaan! Kita dalam keadaan mabuk! Dan mau nggak mau, lo harus tetep tanggung jawab, Ar!" "Itu bukan anak gue!" Arion menjambak rambutnya frustasi. "Tentu ini anak lo! Lo Ayahnya!" "Gimana gue bisa tau kalau gue adalah Ayahnya?! Lo juga pernah ngalamin ini sama cowok lain. Bisa jadi, itu bukan anak gue!" Plakk! Untuk pertama kalinya, Tamara menampar Arion. Dan rasanya menyakitkan. Bagi Tamara, juga bagi Arion. "Maksud lo apa?! Hah? Lo ngira gue cewek apaan?!" "Kalau gitu gugurin." Arion mulai menampakkan wajah gila. Frustasi. "Nggak!" "Kenapa?! Kenapa nggak bisa? Lo pernah gugurin bayi, kan? Lo pasti bisa! Gugurin dia! Karna GUE NGGAK MUNGKIN BISA JADI AYAHNYAA!!!" Teriakan Arion membuat Tamara berjengit. Arion benar-benar frustasi. Bagaimana mungkin, ia mengulang kesalahan yang sama?! "Gue nggak bakal pernah! Gue bakal tetep pertahanin janin ini. Meskipun masa depan gue ancur nantinya, nggak peduli segimana ancurnya gue, yang penting gue bisa dapetin lo, Ar!" Tamara mulai mendekat. Namun Arion menarik diri. "Prioritas gue sekarang adalah lo! Arion!" "Nggak bisa! Kita nggak pernah bisa." "Bisa!! Lo bilang lo suka, kan sama gue? Lo cium gue kemarin, apa?! Itu artinya lo udah suka sama gue." "Itu semua spontan, Mar! Gue mungkin-" "Mungkin apa?!" "Mungkin lagi bipolar. Gue nggak ngerti. Gue nggak ngerti sama diri gue sendiri." Arion meremas rambutnya lagi, menjambaknya frustasi. Nafasnya memburu, dan jantungnya berdegup kencang. "Intinya gue nggak bakal gugurin bayi ini. Karna ini sewaktu-waktu bisa jadi senjata gue untuk bikin lo bisa balik ke gue." Setelah itu, Tamara pergi. Meninggalkan Arion sendirian yang masih mematung. Karena mengamuk, Arion menendangi beberapa pot bunga yang ada di rooftop. "Anj*ng! Cewek sialan!! Cewek biadab!!!" *** Setelah sampai di anak tangga terakhir. Tamara merosot. Duduk disana. Sumpah demi apapun, ia tak bermaksud berkata seperti itu. Ia hanya mencoba akan jadi apa jika Arion tau, kalau ia nanti hamil? Tamara masih tak yakin. Yang pasti, entah sejak kapan, Tamara punya ambisi untuk menghalalkan segala cara agar Arion bisa menjadi miliknya, sekalipun masa depan menjadi taruhannya. Berharap Arion bisa menjadi pengganti si dia yang lenyap di makan masa lalu. Masa lalu Tamara. Tapi, semuanya langsung ciut seketika. Mengetahui fakta, bahwa April juga sedang mengalami kesalahan yang sama. Pertanyaanya, siapa yang akan di pilih Arion? Dia atau April? Tamara benar-benar salah langkah. . . (TBC)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN