Begitu langkah pertama Arion masuk kelas. Ia langsung menghampiri meja Anton. Cowok nerdy yang emang korban bully kelas. Ada sedikit alasan kenapa ia langsung menghampiri meja Anton. Tamara sudah ada di meja ketika Arion datang, gadis itu menatapnya intens, namun Arion menanggapinya dengan decihan. Itu semua cuma tipu-tipu belaka, karena Arion tau sikap aslinya.
"Pindah." Arion langsung menodong Anton yang sedang membaca buku dengan kacamata minusnya.
"Kemana?"
"Kesono!" Arion menunjuk mejanya dengan dagu. "Sama dia."
"Kenapa?"
Arion langsung menarik seragam Anton untuk minggir. "Udah sana cepetan! Nggak usah banyak mulut, lah!"
Anton langsung bergetar, sesegera mungkin ia membereskan alat tulisnya dan pindah ke tempat duduk Arion bersama Tamara. Menyadari seseorang yang berbeda kini duduk di sebelahnya membuat Tamara mengalihkan perhatiannya. Lalu ia menghela nafas pasrah.
Bahkan lo belum tau, gue beneran hamil atau enggak, lo udah ngebenci gue. Apalagi kalau seandainya gue beneran hamil?
Di tempat duduk barunya. Arion langsung menelungkupkan kepala pada permukaan meja. Berpikir keras-keras untuk menemukan jalan keluar atas masalahnya yang kian rumit.
April hamil.
Tamara hamil.
Dan Arion adalah Ayah dari kedua janin yang ada pada dua orang yang berbeda. Arion bahkan ingin menertawakan dirinya sendiri. Baru kelas 12 SMA ia sudah memulai sistem Poligami. Argh!
Entah kenapa pikirannya memutar kembali memori sore itu. Entah insting darimana, Arion tiba-tiba saja mencium Tamara. Setelah itu, mereka sempat nonton Film Action di Bioskop sampai jam 5 Sore. Setelahnya ia pulang ke rumah Tamara karena gadis itu bilang memiliki sesuatu untuk di perlihatkan. Entah Arion lupa kelanjutannya, yang pasti mereka meminum beberapa botol Alkohol. Lalu lupa apa yang terjadi. Dan yang ia ingat, ia terbangun karena Mario menelfonnya beberapa kali, itu pun, yang ia ingat, ia terbangun di kamarnya sendiri. Bukan di kamar Tamara. Dan tak sedikit pun menyadari kalau Tamara ada disana juga.
"Iblis!" Gue di jebak.
***
Dua minggu kemudian..
Tamara bediri di depan wastafel rumahnya. Ia meremas-remas bungkus testpack. Sedangkan segelas urine telah ia taruh di sisi wastafel. Tinggal menunggu keberaniannya saja mencelupkan testpack tersebut pada urinenya.
Ia membuka kemasannya, lalu mencelupkan benda pipih itu kesana. Tamara memejamkan mata rapat-rapat. Berdoa supaya hasilnya negatif. Karena jika negatif, Tamara berjanji tidak akan mengganggu hubungan Arion lagi. Iya, janji.
Entahlah. Itu hanya sekedar ambisi. Ia hanya ingin kembali bersama sosok si dia. Masa lalu Tamara. Dan alasan kenapa ia memilih Arion karena, cowok itu memiliki karakter yang persis sekali mirip dengan si dia. Membuat Tamara merasa bahwa dia ada bersamanya, di dekatnya. Tamara kira, April tidak menanggung beban yang sama, jadi ia akan dengan mudah merebut Arion. Namun nyatanya..
Deg.
Tamara membuka matanya. Lalu menarik testpack dari dalam gelas. Melihat ada berapa garis yang tertera.
Positive.
Seketika itu pula lututnya lemas. Ia langsung merosot dan terduduk lemas di pinggir wastafel. Salah langkah. Iya, Tamara sudah salah mengambil langkah.
***
"Gue udah berapa kali bilang sama lo! Gugurin, Mar! Bukannya lo pernah? Lo bisa, kan?" Arion berusaha mengecilkan suaranya. Menghindari tatapan aneh para pengunjung Kafe.
"Nggak bisa, Ar! Gue takut."
"Kenapa takut? Buktinya dulu lo nggak takut! Dan berhasil, kan gugurin bayinya?"
"Gue takut! Karna asal lo tau aja, nyawa gue bisa ikut kebawa!"
"Terus gue harus apa?" Arion mulai frustasi. Ia sudah berusaha menjaga jarak dengan Tamara. Sudah cukup Arion bermain api di belakang April. Kali ini, ia ingin fokus pada komitmennya.
"Lo harus tanggung jawab!"
"Buat bayi yang bukan darah daging gue? No!"
"Ini bayi lo! Berapa kali gue harus bilang kalau in bayi lo! Lo masih nggak percaya?"
"Bahkan gue nggak percaya, kalau lo bener-bener hamil."
"Ini." Tamara menyerahkan benda pipih panjang yang ia gunakan untuk bereksprerimen tadi pagi. "Lo bisa liat kan? Kalau itu positive!"
"Iya, emang positif. Tapi gue tetep nggak mau tanggung jawab. Karena disini posisi gue adalah di jebak. Lo yang buat jebakan! Maka lo yang harus tanggung!" Setelah itu Arion bangkit dari kursinya, berjalan mengitari meja-meja pengunjung Kafe lalu keluar.
Tamara menghentak-hentakan kakinya di bawah meja. Ia mengusap wajahnya frustasi. Bagaimana jadinya sekarang?
***
Tamara mencegat April di koridor perpustakaan begitu gadis itu melintas sambil membawa beberapa Buku Paket Biologi. Dan kelihatannya, gadis itu butuh bantuan.
Tenang, Tamara. Jangan gugup. Pura-pura nggak tau, kalau April hamil. Dan lo hanya perlu jelasin kalau lo juga ngandung anak Arion.
Tamara memotivasi diri sendiri. Meskipun Tamara tau, April akan terluka. "Prill, butuh bantuan?"
April menoleh kesamping, mendapati Tamara langsung begitu saja mengalihkan beberapa Buku Paket itu ke tangannya. Meskipun sedikit gugup, namun April memaksakan senyum terbaiknya. "Thanks."
"It's okay. By the way, gue butuh bicara sama lo. Di atap sekolah gimana?"
"Oke."
***
Dan disinilah mereka sekarang. Berdiri saling menatap satu sama lain. Di atas rooftop. April melihat raut wajah Tamara yang berubah pias, lalu layu, dan akhirnya gadis itu menangis di depannya.
"Mar? Are you okay?" Tanya April iba, sambil mengelus pundak Tamara.
"Yeah. Lo nggak perlu khawatir. Gur cuma mau bilang sesuatu." Tamara mengangkat wajahnya, menghapus sisa air matanya.
Tangisnya bukan hanya akting. Tapi ia menangis karena benar-benar merasa telah terjebak di jurang kesalahan. Tak ada yang mampu menolongnya keluar. Dan akhirnya ia di mangsa oleh rasa bersalah itu sendiri. Ia merasa telah memperburuk keadaan. Bukan Arion yang ia dapat, melainkan rasa benci, kecewa dan sebuah kesalahan, ia justru malah menambah kembali korban. Ya, April.
"Bilang aja.. cerita sama gue kalau ada masalah."
"Gue..." Tamara memejamkan matanya, ia benar-benar tak siap.
Kalau saja Arion mendengarnya, mempercayainya bahwa yang ia kandung adalah bayinya. Mungkin ia tidak akan nekat berbicara ini semua pada April. Arion mungkin tidak akan pernah mendengarnya lagi. Tapi, April mungkin akan bersikap sebaliknya.
"Gue hamil, anak Arion."
Deg.
Deg.
Deg.
Deg.
Berapa palu langsung menghantam jantung April sekaligus. Lututnya lemas dan dadanya terasa menyempit. Mulutnya tak bisa berkata lagi. Dan sel-sel dalam otaknya langsung berhenti bekerja. Matanya terasa memanas. Perih dan perlahan mengabur.
"A-apa?"
"Gue hamil. Prill.. gue harus gimanaa?" Tamara perlahan merosot lagi, berjongkok di hadapan April menangis sejadi-jadinya.
"Lo—ha-hamil?" April tertawa getir "Gimana bisaa?!"
"Maafin gue, Prill.. I'm so sorry.. Maafin gue.. Maaf... tapi Arion nggak pernah mau dengerin gue."
Disusul beberapa detik kemudian. Tangisan April pecah. Ia menutup mulutnya agar berhentu terisak dan berusaha kuat. Ketakutannya benar-benar terjadi. Ketakutan yang mana lagi yang akan menjadi kenyataan nantinya?
Arion meninggalkannya?
Bagaimana mungkin?
"Kenapa lo bisa ngelakuin itu sama gue, Mar?!!!" April berteriak, hingga suaranya menggema di langit.
"Gue minta—maaf.." Tamara memegangi ujung rok April. Masih berlutut di bawahnya.
Dalam waktu yang sama. April ikut merosot. Sama-sama berjongkok agar menyamai Tamara. Dua gadis itu bersikeras untuk berani menatap satu sama lain.
"Gimana bisa?!! Hah?"
"Gue minta maaf.. Sumpah.. gue minta maaf, Prill.."
"Apa gue terlalu jahat buat lo? Kenapa lo tega ngelakuin itu? Kenapa lo berani main di belakang gue? Jawab!!"
"Gue minta maaf—"
"Nggak cukup untuk minta maaf! KARNA ASAL LO TAU!! GUE JUGA SAMA NASIBNYA KAYA LO!!"
"Please, maaf.."
April menarik poninya kebelakangang, lalu mengusap wajahnya frustasi. "Terus gimana sama gue?"
"Seenggaknya lo masih punya Mario sama Ghita, Prill. Dan gue benar-benar sendiri.."
"Jadi maksud lo apa?"
***
Detik itu pula April turun dari rooftop dengan langkah memburu. Berlari sekuat kakinya menuju taman belakang sekolah. Pelariannya. Selama ini yang ia takutkan benar terjadi. Arion salah, ketakutan itu bukan tidak akan pernah terjadi. Tapi justru, ketakutan itu akan terjadi. Dan kini sudah terjadi.
April tak tau harus berbuat apa. Disisi lain ia tidak ingin melepaskan Arion. Tapi, ia juga tidak bisa membiarkan Tamara menjadi masa bodoh.
"Prill?"
Dan orang yang ia tunggu pun datang. Arion berdiri di depannya dengan wajah nanar.
"Prill, kamu kenap—"
Plaakk!!
"Prill, Apaan—"
Plakk!
"Lo kok nampar—"
Plakk!!
"Jelasin sama gue—"
Plakk!!
"Diem!" Arion menahan tangan April yang mungkin akan mendarat lagi di pipinya. Cowok itu mencengkram erat tangan April. "Jelasin sama gue!!"
"Lo cowok b*****t!!!" April langsung memukul d**a Arion. Memukulnya keras-keras hingga April merasa puas. Kesal, kecewa, marah menjadi satu dalam hatinya. Ia memukul Arion terus-terusan. Tapi Arion tak melawan. Ia diam. Membiarkan April melakukannya.
Arion memeluknya. Lebih tepatnya, cowok itu memaksa untuk memeluk tubuh mungil gadis yang tak berhenti memukulnya meski sudah ia redam dengan pelukan.
"Gimana mungkin lo ngelakuin kesalahan yang sama ke Mara? Hah?!" April terus memukul d**a bidang Arion. Meskipun ia tak bisa berusaha lepas dari pelukannya.
Namun, kalimat tadi berhasil membuat Arion melonggarkan pelukannya. Cowok itu diam. Tak bergeming. "Mara—bilang apa sama lo?"
"Apa gue nggak cukup buat lo?!! Apa lo kurang puas ngerusak masa depan orang?! Kenapa lo harus rusak masa depan Mara juga?! Lo b***t Arion!!!! Gue benci sama lo!!"
"Dengerin gue—"
"Sebegitu sulitnya lo untuk nahan nafsu lo? Apa gue nggak cukup? Hah?! Mau sejauh apa lagi?! Lo udah ngerusak hidup gue! Lo juga ngerusak hidup Mara?! Siapa lagi yang bakal lo rusak! Ghita? Clara? Teressa? Atau siapa?! Hah?!"
"Cukup Prill! Lo nggak tau di sini gue posisinya di jeb—"
"b*****t! t*i! Gue nggak mau berurusan lagi sama lo! Idup lo emang penuh mulut! Cuma ngomong dan ngasih harapan! Nyatanya lo sama kaya cowok b*****t lain! Nggak pernah bisa jaga kepercayaan orang lain!"
"Prill—"
"Gue nyesel. Gue nyesel kenapa gue bisa cinta sama lo! Kenapa gue bisa percaya sama kata-kata t*i lo! Gue nyesel.. pernah kenal lo sebelumnya."
"Prill! Dengerin—"
"Mulai besok dan seterusnya. Jangan harap lo bisa nyentuh gue lagi! Jangan harap lo bisa ketemu sama bayi ini! Gue bisa sendiri!! Kenyataannya, lo ada di samping gue pun nggak memperngaruhi apa-apa. Keberadaan lo nggak ada artinya buat gue. Lo ada atau enggak, itu sama aja!! Gue tetep ngerasa sendirian."
Arion menarik tangan April, tapi dengan kilat, gadis itu menepisnya. "Gue harap lo nggak ngecewain Tamara! Cukup gue aja yang sakit disini. Jangan lakuin hal yang sama ke Tamara! Karna dia cuma punya lo!"
"Prill.. apa lo nggak bisa dengerin gue—"
"Jangan khawatirin gue. Gue cukup bisa ngejalanin ini semua. Tanpa lo sekalipun!"
Kalimat terakhir itu langsung menghujam Arion ke dasar jurang, merasa di tampar ratusan kali, meskipun ia hanya mendapat tamparan beberapa kali. April berjalan dengan tangis sesegukan. Ia berusaha meyakinkan diri kalau ia akan kuat nantinya.
Setelah berjalan beberapa langkah. Dirasakannya sebuah tangan melingkar di pinggang April. Punggungnya hangat, dan bahunya terasa berat karena Arion menyandarkan kepalanya di sana. Sekuat mungkin April berusah melepas pelukan itu. Namun, semakin ia berusaha, itu semakin kuat.
"Izinin gue meluk lo untuk terakhir kalinya. Sebelum lo bener-bener menjauh."
Arion memejamkan matanya. Berusaha untuk tidak menangis. Dia laki-laki. dia bahkan sudah hampir menjadi seorang Ayah. Arion menyembunyikan wajahnya di lekukan leher April. Dan ia bisa merasakan kehancuran itu. Bisa merasakan bagaimana April berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya. Namun gagal. Pada akhirnya, perempuan memang lemah. Perempuan tak bisa melawan fakta bahwa perempuan tak bisa menahan pilu. Perempuan tetaplah perempuan. Hatinya terlalu lunak untuk di sakiti. Terlalu lembek untuk di lukai. Dan April pun begitu.
"Maafin aku dan.. janji, untuk jaga bayi ini untuk aku."
Dirakannya, April mengangguk samar.
***
.
.
(TBC)