Dengan langkah menggebu, Arion kembali ke kelasnya sendiri. Tamara disana. Dengan wajah seolah tak berdosa. Arion langsung menyeret Tamara keluar kelas, ketika ia sampai disana. Tangannya di tarik kuat-kuat, hingga meninggalkan bekas kemerahan di pergelangan tangannya.
"Arion! Sakit!"
"Lo gila, Mar!"
"Apa?!"
"Lo—bilang sama April soal 'itu'?!"
Tamara terdiam untuk beberapa detik, menghindari kontak matanya dengan Arion. "Ya terus gue harus gimana? Lo nggak pernah dengerin gue. Gue bingung, Ar!"
"Gue udah bilang sama lo. Tutup mulut lo! Gugurin bayi ini, Mar!"
"Kenapa gue harus?! Kenapa gue harus gugurin bayi ini sementara lo nggak nyuruh April gugurin bayinya juga?!"
"Karena—"
"Karena lo lebih sayang April, di banding gue yang sama sekali nggak ada apa-apanya buat lo!" Tamara tersenyum kecut. "Bahkan gue udah tau jawabannya."
"Yah, itu dia lo tau. Lo pintar, Mar! Tapi, sayangnya lo nggak bisa manfaatin itu."
"Bagaimanapun lo menolak, lo tetep harus tanggung jawab!"
Arion mengerang. Wajahnya serius frustasi. "Mara!"
"Apa?! Nggak mau? Masih nggak mau ngakuin kalau ini anak lo?! It's Okay, gue bakal bilang ke semuanya tentang aib lo selama. Termasuk juga tentang April."
Tangannya langsung di cegat, ketika tubuh Tamara hampir berbalik meninggalkan. "Stop! Jangan bawa-bawa April dalam hal ini. Lo nggak ngerti, gue sama April udahan itu gara-gara lo! Dan asal lo tau—"
"Baguslah. Itu artinya, lo bisa fokus ke bayi yang ada di perut gue, sekarang? Ya, kan?" Tamara mengangkat bahu acuh, lalu melenggang pergi dengan gaya angkuhnya.
Dalam hati Arion mengerang. Bahkan ingin berteriak saat itu juga kalau tidak ingat tempat. Kehidupannya semakin rumit saja. Dan Arion benar-benar menyesali itu.
Disisi lain, ia harus mencoba memperbaiki hubungannya dengan April. Di sisi yang lainnya, ia juga harus berusaha untuk membuktikan kebohongan Tamara tentang bayi itu.
***
"Yang ini aja, Rasa Stroberi. Masa iya, April nggak suka?!" Mario menelusuri semua bagian s**u Ibu Hamil di minimarket.
Ghita menggigit bibir bawahnya kebingungan memilih s**u mana yang harus ia beli. "Ya gue mana tau selera susunya April."
"Ih, satu rumah masa nggak tau, sih?"
"Gue mana pernah liat April minum s**u! Ya udah yang Rasa Vanila, deh."
"Yakin?"
"Iya. Gue yakin dia suka rasa Vanila."
Dengan dengusan ringan, Mario mengambil salah satu s**u Ibu Hamil bermerk khusus. Sedangkan Ghita ngeluyur ke bagian lain. "Mau kemana, ih t*i!"
"Kesono bentar, mau beli Cokelat!"
"Tungguin, kek! Ntar nyangkanya gue beli s**u Ibu Hamil buat siapa.. Ntar kalau gue dikira punya pacar bunting gimana?"
"Paan, sih? Ganyambung!"
"Bego."
Dan selang beberapa detik, Ghita sudah hilang dari pandangannya. Mario masih diam di tempat, masih bingung memilih antara dua merek yang berbeda.
"Yang mana ya?" Ia membolak-balik kardusnya, mencari detail harga.
"Yang ini 54.300. Kalau yang ini 53.900. Beda 400—sayang juga, 400 perak—"
"Sorry." Seorang gadis berseragam almamater sama tiba-tiba menjulurkan tangan untuk mengambil s**u Ibu Hamil dengan merek yang sama. Namun bedanya, ia memilih antara dua rasa yang berbeda. Mario tercengang ketika melihat postur tubuhnya yang cukup familiar. "Mara?"
Merasa terpanggil Tamara menoleh. "Mario? Lagi ngapain?"
Mario buru-buru menyembunyikan kotak s**u di balik tubuhnya. "E-enggak. Lo sendiri kenapa beli itu?"
"Buat gue."
"Lo ha—"
"Sebentar yaa." Tamara tersenyum lunak. "Arion! Sini, deh."
Kupingnya langsung panas seketika. Darahnya perlahan naik ke ubun-ubun. Mario hampir meremas kotak s**u di balik tubuhnya ketika siluet Arion muncul di depan mata. Wajahnya tampak biasa saja. Meskipun sedikit kentara, kalau awalnya Arion cukup gugup melihat Mario ada disana.
"Menurut kamu, Rasa Cokelat atau Stroberi? Aku nggak suka Cokelat soalnya."
Arion terdiam. Pandangannya terlalu terpaku pada Mario. Mereka saling pandang. Sama-sama saling melempar tatapan tajam yang menusuk retina. Sampai Ghita datang membawa beberapa batang cokelat dengan wajah sama-sama tercengang. "Arion? Mara?!"
"Hai, Ghit. Lagi beli s**u buat April, ya?!" Tamara tersenyum ramah.
Mario langsung menurunkan Kotak s**u yang tadi di sembunyikan di balik punggungnya. Ia sengaja memperlihatkannya pada Arion. Namun ia juga sama-sama marah, karena atas insiden ini, ia menarik dua kesimpulan sekaligus.
Pertama, Tamara tau tentang kehamilan April.
Kedua, Tamara juga sedang mengandung dan kemungkinan besar adalah bayi Arion.
Ghita yang mengetahui signal-signal pertengkaran antara Mario dan Arion buru-buru mengalihkan perhatian. "Yo! Jadinya beli yang mana? Yang Prenagent atau Lactamil?"
"Gue beli dua-duanya." Mario langsung membawa dua kotak sekaligus dengan nafsu. Meninggalkan Arion dan Tamara dengan tatapan benci.
Dibalik itu, Tamara tersenyum puas. Berhasil menguak ke permukaan semua rahasia Arion pelan-pelan. Lalu ia memutar tubuhnya menghadap Arion yang tatapannya masih lurus ke siluet tubuh Mario dan Ghita. "Arion! Aku nanya sama kamu.."
Arion menolehkan kepalanya tanpa minat. Satu sisi ia ingin sekali marah, Namun, percuma juga, karena kemarahan itu takkan menutupi semuanya. "Ya mikir, kek! Kalau lo nggak suka cokelat, Ya pilih Stroberi, lah!"
Tamara hanya berdecak. Tiba-tiba Arion mengambil dua kotak s**u rasa Cokelat dan langsung di respon oleh tatapan bingung ala Tamara. "Kok beli yang cokelat juga? Aku, kan nggak suka—"
"Bukan buat lo." Setelah itu, Arion melenggang pergi menuju kasir. Tanpa peduli dengan Tamara yang masih mematung.
***
"Lo ngerti nggak yang Tamara bilang?" Mario sesekali menoleh pada Ghita yang duduk di sampingnya dengan tatapan lurus ke jalan raya.
Ghita menghela nafas. "Yang gue bingung, kenapa Tamara ada disana? Beli s**u Ibu Hamil sama Arion? Maksudnya apa coba?"
"Darimana Mara tau coba, kalau kita beli s**u buat April? Harusnya, dia nggak langsung nanya gitu. Lo mikir nggak, sih?"
Ghita manggut-manggut. "Menurut gue, Mara tau soal kehamilan April. Dan kalau seandainya Mara beneran hamil, kemungkinan besar itu ada hubungannya sama Arion."
"April emang nggak pernah cerita?!"
"Nggak sama sekali. Asal lo tau, April itu paling bisa nyembunyiin sesuatu. Dulu, sendal jepit gue aja di umpetin sama dia sampe seminggu baru gue temuin."
"Sama, Arion juga kaya gitu." Mario memulai nostalgia-nya.
"Ngumpetin sendal juga?"
"Iya, Arion dulu juga ngumpetin sendal gue, katanya di bawa burung ke sarangnya. Tapi gue nggak pernah nemu sendal gue di sarang burung pohon mana pun. Lo tau apa?"
"Apa?"
"Ternyata Arion ngumpetin sendal gue di dalem celananya."
"Hah? Jadi maksud lo—burung itu—Anjriittt!! Jijik ah!"
"HAHAHA. Serius, deh gue. Tapi itu dulu, waktu kita masih kelas satu SMP."
"Au ah!"
***
April menuruni anak tangga ke ruang tengah ketika mendengar ketukan pintu. Ketukannya hanya beberapa kali, kemudian menghilang. April mengintip sejenak lewat jendela siapa orang yang sedang berdiri di depan jendela.
Tak ada siapa-siapa.
Begitu pintu di buka, ia melihat Paper bag yang isinya dua kotak s**u Ibu Hamil di letakkan disana. Dahinya mengerenyit, April menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga, lalu membungkuk untuk mengambil bungkusan tadi.
Susu Ibu Hamil, rasa cokelat. "Dari siapa, nih?"
Dalam paperbag tersebut sebuah Memo kecil menyempil disana. Secarik kertas berwarna biru dengan tinta hitam di tulisi tulisan tangan yang cukup April kenal.
Dear, My Arttle Baby.
Minum susunya, jangan nakal sama Bunda. Baik-baik di dalem perut sana, ya. -Arion
Entah mengapa rasanya sangat pilu. Mati-matian April menahan air matanya agar tidak tumpah. Namun sulit. Perasaannya berkecamuk. Antara miris melihat nasibnya, Benci karena tau Arion yang mengirimnya, Namun merasa bersalah karena dengan begini April merasa begitu jahat.
"Thanks." Gumamnya. Terasa samar. Bahkan nyaris tak terdengar.
***
Mario membuka lemari makan. Biasanya disana ada berbagai persedian kopi, gula, teh dan macam-macam. Namun ketika ia ingin menyimpan Kotak s**u pembeliannya, ia melihat kotak s**u lain.
April yang kebetulan ada di dapur sedang memakan Pudding Stroberi langsung di lempari pertanyaan. "Prill, lo beli s**u juga?"
April terdiam. "I-iya. Gue beli."
"Ih demi apa t*i banget! Gue udah beli, nih! Rasa Vanila malah."
"Ih, kok Vanila, sih? Gue nggak suka Vanila, kali Yo!"
"Serius? Yahh.. Yahh.. Si Ghita kualat nih!"
"Kenapa emang sama Ghita?"
"Dia yang milih rasa Vanila! Mending kalau belinya pake duit dia sendiri, ini mah pake duit gue. Beli dua lagi! Arghh.. seratus ribu gue melayang sia-sia."
"Ya udah, sih. Ntar gue minum, kok.."
"t*i lu."
***
Mario menempatkan Buku Fisika di rak asalnya. Selesai sudah PR Sejarah yang akan di tagih Ibu Diana hari ini, setelah jam istirahat berakhir. Itu sebabnya, Mario mengorbankan dua puluh menit dari Jam istirahatnya untuk mengerjakan tugas dadakan tadi.
Tiba-tiba Tamara melintasi mejanya. Gadis itu hendak keluar dari perpustakaan sambil memeluk beberapa Buku. Mario langsung bangkit dan buru-buru mencegat Tamara setelah dengan rusuh membereskan alat tulisnya yang tercecer.
"Eh! Mar! Maraaa! Tunggu!"
"Ada apa?"
"Gue pengen nanya sesuatu sama lo."
Di koridor itu juga, Mario dan Tamara memojokkan diri. Menghindari seseorang yang bisa saja menguping.
"Kemarin, lo sama Arion kenapa bisa ada di Rak s**u Ibu Hamil?" Mario berusaha berbicara sehati-hati mungkin.
"Gue beli s**u. Buat gue sendiri."
Mario langsung membuka matanya lebar-lebar. "Lo—"
"Iya, gue hamil. Gue hamil anak Arion? Puas?"
Deg.
Entah mengapa, itu begitu membuat api dalam tubuh Mario kembali terpancing. Tangannya mengepal kuat. Ia sama-sama ingin memukul keduanya. Memukul Tamara, memukul Arion juga. Kedua orang yang kini masuk kedalam daftar orang yang paling Mario benci.
"Cowok b*****t!!"
"Stop, Mario! Gue harap lo nggak perlu cari Arion, atau gangguin dia, atau bahkan bunuh dia. April udah cukup beruntung punya pahlawan dimana-mana. Sedangkan gue? Gue cuma punya Arion. Gue cuma pingin lo berhenti ngurusin hidup gue, juga hidup Arion. Sekarang Arion udah nggak ada urusan sama April, kan? Itu artinya lo nggak ada urusan juga sama Arion. Lo di pihak April. Gue di pihak Arion. Kita udah punya kubu masing-masing. Jadi, Please. Biarin gue sama Arion ngelakuin apa yang semestinya kita berdua lakuin."
***
.
.
(TBC)