Bag. 15 : Everything Is (not) Okay

2195 Kata
*** April menghela nafas. Memandangi refleksi tubuhnya di cermin. Beberapa minggu ini, ia harus betah mengenakan Jacket tebal meskipun cuaca tidak dingin. Bagaimana pun juga, sesuai perhitungannya, kandungannya sudah memasuki bulan kelima. Perutnya lamat-lamat terlihat membuncit, meskipun masih belum kentara. Ia mengambil Jacket bulu berwarna abu-abu. Lalu mengenakkannya dengan setengah hati. Pintu di ketuk sekali. Terdengar Ghita memanggilnya pelan. "Prill. Udah siap? Jam setengah 7, nih." April mengangguk, meskipun ia tau Ghita tak bisa melihat anggukan ringkihnya. Perempuan itu mengambil tas-nya yang tergeletak di kasur, lalu melangkah keluar dengan menenteng sepatu yang ia ambil di rak. "Gerah, ya?" Ghita tersenyum miris. Memandangi April yang tengah berjongkok mengenakan sepatu. "Nggak, kok. Biasa aja." April menjawabnya dengan gelengan kepala. "Lo yakin, kalau pake jaket terus Guru nggak curiga." "Bilang aja sakit. Simple, kan?" Ghita mengangguk, meski tak sepenuhnya setuju. "Gimana sama Arion?" April yang sedang mengikat tali sepatunya langsung berhenti mendadak. Ia terdiam. Bukan tak bisa menjawab. Namun, dengan Ghita menyebut nama 'Arion', membuatnya mau tak mau terpukul mundur. Merasa menyerah, merasa tak yakin, merasa putus asa akan bisa menghadapi ini sendirian. Ghita yang merasa diamnya April karena ucapanya langsung meminta maaf. "Sori. Nggak maksud—" "It's okay, Ghit. Nggak perlu khawatirin itu. Selama gue masih punya lo dan Mario. Gue yakin, tanpa Arion pun gue bisa. Gue cuma butuh bersama kalian." April tersenyum lalu bangkit setelah simpul tali sepatunya selesai. "Ini cuma soal kalian, yang masih mau tetep sama gue atau—" "Janji. Gue bakal selalu di samping lo." Ghita menyela. Lalu menggamit tangan April untuk berjalan keluar. *** Pelajaran pertama diisi oleh Guru Matematika. Ibu Diana. Guru paling jeli matanya. Tak hanya jeli oleh angka-angka, namun matanya juga jeli mengawasi setiap anak muridnya. Sedikit pergerakan saja, Ibu Diana tak segan-segan melayangkan penghapus papan tulis pada kepala. Semua serentak langsung duduk ke bangku masing-masing, setelah mendengar derap sepatu menggema ke penjuru kelas. Guru dengan tubuh ramping itu masuk dengan beberapa berkas bahan ajar di pelukannya. Mario yang sedang bermain Kartu Remi langsung menyembunyikannya di kolong meja. "Selamat Pagi." "Pagi Bu.." Serentak semua murid menjawab, meskipun setengah hati. "Yang pake jaket. Lepas." Sindirnya. Tanpa melihat siapa saja yang mengenakan jacket di dalam kelas. Beberapa anak dengan enggan melepas jacketnya. Kecuali seorang perempuan yang duduk di sebelah Ghita. "Prill. Buka." Desisnya. "Berisik bego." April pura-pura fokus pada Buku Catatan, seolah perintah itu tak pernah di dengar sebelumnya. "Jangan pura-pura tidak mendengar! Yang pakai jaket, buka." Tegasnya, sekali lagi. April tetap acuh. Diam pada tempatnya. Padahal mati-matian ia menahan degupan jantung karena saking tegangnya. "April. Buka!" "Ehm. Saya.. sakit, Bu!" Ibu Diana diam untuk beberapa detik. Lalu, terdengar langkah sepatu berhak tingginya makin mendekat ke meja April, membuat ia meremas perutnya pelan. "Serius, Bu. Saya sakit—" "Saya nggak tanya kamu beneran serius sakit atau enggak. Saya cuma mau tanya, kamu sakit apa?" "Sakit..." April mengambil jeda waktu, berpikir berkali-kali untuk mencari jawaban yang tepat. "Sakit hati, Bu! Abis di tinggalin Arion!" Adrian berseru, dan langsung disambut tawa oleh seisi kelas. "Diem lu, gobl*k!" Mario langsung mencak-mencak sendiri. Membuat Adrian langsung menutup mulutnya. "Saya sakit..." April masih terus mengurus waktu, sampai tangan halus Ibu Diana akhirnya menempel di keningnya. "Nggak panas, tuh." Ibu Diana beralih pada tangan April memegang sekitar pergelangan tangannya. "Kamu nggak kenapa-napa, kenapa pakai jaket? Lepas!" "Tapi.." April menggigit bibir bawahnya, ia meremas jemari Ghita yang sama berkeringat. Lalu melepasnya. Atmosfer kelas berubah tegang. Sudah cukup kehadiran Ibu Diana di kelas membuat penguninya seperti dijajah. Sekarang di tambah lagi dengan acara interogasi April hanya karena matanya tak nyaman melihat satu siswa saja yang mengenakan jaket dari minggu ke minggu. April membuka jaketnya, tapi perenpuan itu menyimpannya di paha. Sebagai alibi untuk menutupi sekitaran perut. Karena seragamnya terlihat ketat karena perutnya sendiri. "Udah saya lepas, Bu." Cicitnya, bermaksud untuk mengusir Ibu Diana pelan-pelan, karena ia semakin memperhatikannya lekat. Perutnya kenapa? Pikir Ibu Diana. "Ikut saya ke UKS." Ibu Diana menginterupsi. Lalu April hanya mengekori dari belakang dengan setengah hati. Ketika mereka berdua keluar dari kelas, terdengar riuh suara dari dalam karena merasa merdeka malaikat mautnya keluar dari Jam Mata Pelajaran. *** "Coba jelaskan sama Ibu." Ibu Diana duduk di tepi ranjang UKS, besebrangan dengan April yang juga duduk di tepi ranjang UKS yang satunya. "Jelasin apa?" "Buka jaket kamu." April mendengus samar. Merasa di permainkan karena harus buka jaket terus. Sekali lagi, April meletakkannya di paha. "Sini." Ibu Diana menodongkan tangannya, matanya melirik jaket bulu berwarna abu-abu itu. "Buat apa?" April menegang. "Tenang. Saya nggak akan ambil. Saya punya sepuluh jaket yang kaya gitu." Mau tak mau April memberikannya pada Ibu bertubuh mungil di depannya. Ibu Diana tak pernah mengalihkan padangannya dari perut April. Ada secuil rasa curiga, ia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan. Ia berjalan ke kotak P3K untuk mengambil minyak kayu putih. Sebagai alibi, saja. "Tiduran." Titahnya, dingin. "Kenapa harus?" "Jangan keras kepala. Ibu mau cuma mau olesin minyak ke perut kamu." "Tapi.. saya bisa sendiri, kok." Ibu Diana menghela nafas. "Ibu lagi berusaha care, ya sama kamu.. jadi, tiduran.." April menegang, semakin menegang hingga ia merasakan tubuhnya bergetar. "Tapi saya nggak apa-apa, kok Bu. Nggak lagi masuk angin." "Tadi kamu bilang kamu sakit!" "S-sekarang udah engga, kok hehe." "Jangan permainkan saya, ya!" "Serius, udah baikkan, kok Bu!" "Jangan banyak omong. Cepet tiduran, dan naikkin baju kamu." April menutup matanya rapat. Aroma khas minyak kayu putih langsung terhirup begitu Ibu Diana menuangkannya ke telapak tangan. Dengan pelan, April menaikkan seragamnya. Setengah perut, dan tidak sampai d**a. Lagi pula, Ibu Diana ini perempuan, ia tentunya seorang Ibu. Nggak mungkin juga jadi c***l. Dahinya mengerenyit ketika melihat bujal April samar-samar seperti menonjol ke luar. Belum begitu menonjol, hanya hampir. Entah kenapa, ia mendadak pilu. Diana seperti terlempar ke masa lalu. Dimana ia mendapati anaknya juga pernah dalam masa-masa seperti ini. Diana mengolesi perut April, seolah pura-pura tak sadar. Ia merasakan perutnya sedikit keras. Pelan-pelan ia menekannya, untuk mengetest respon April. "Duh. Sakit, Bu." April meringis, saat merasa perutnya di tekan. "Sorry." Diana menutup botol minyak kayu putihnya. "April.." Panggilnya. April menurunkan seragamnya ke bawah. Lalu mengerutkan dahi mendengar namanya di panggil. "Iya, Bu?" "Kalau boleh, Ibu pengen bicara sesuatu sama kamu." Suaranya pelan sekali, tidak ada embel-embel Guru Killer, Guru Jutek, Guru Galak seperti yang di bicarakan anak-anak. April menatap manik mata Ibu Diana, seolah ia adalah sosok wanita biasa di depannya. Bukan Guru. "Kenapa?" Ibu Diana menarik nafas. Sungguh, jika seperti ini ia jadi ingat Diandra—anak perempuan tunggalnya, yang kini telah menikah—Kenangan masa lalu itu menghimpitnya lagi, menambahkan sesak yang lebih dalam lagi. Perasaan yang begitu hancur ketika mengetahui Diandra hamil. Dan parahnya, Ibunya sendiri yang pertama kali mengetahuinya. "Apa kamu.. h-hamil?" Suaranya sedikit ragu, namun akhirnya ia mengucapkannya juga. April menegang. Seperti tak dapat bergerak. Statis. Jantungnya berdegup kencang, dan ia merasa sekujur tubuhnya memanas. Matanya langsung terasa perih dan lama-lama mengabur dengan sendirinya. Nyatanya, April tak berhasil menyembunyikan fakta. "Eng-gak. Saya nggak hamil, Bu.. Saya—" "Jangan nangis. Hanya keluarkan apa yang ingin kamu keluarkan." Ibu Diana mencondongkan tubuhnya, perlahan, tangan mulusnya menyeka air mata anak muridnya. "Tapi.. saya nggak seperti yang Ibu pikirkan. Ini.." April semakin sesegukan menahan tangisnya. Bahkan tenggorokkannya sulit bersuara karena kalah dengan isakan keras. "Ini kecelakaan.. Demi apapun, Bu.. Ibu tolong percaya sama saya.." Diana merasakan matanya memanas. Ia memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan itu. Seperti inilah Diandra. Sama-sama mengelak ketika di todong. Ia merasa kembali berhadapan dengan anaknya lima tahun silam. Jauh sebelum angkatan April sekarang. "Bilang sama Ibu, siapa yang ngelakuin itu?" Suaranya semakin bergetar. April menggeleng. "Dia nggak sekolah disini, Bu." April mendongak, memperlihatkan matanya yang kemerahan dan pipinya yang basah. Tangannya meraih jemari Ibu Diana dengan bergetar. "Tolong, keluarkan saya aja, Bu.. saya udah nggak bisa bertahan di sekolah ini lagi." "Ibu nggak bisa bantu kamu. Tapi, ada baiknya kamu aja yang mengundurkan diri sebelum rumor macam-macam tersebar di sekolah ini." "Saya harus gimana?" April semakin terisak. Disaat seperti ini, bahkan ia harus menghadapinya sendirian. Ibu Diana dengan tangan terbuka menarik April dalam pelukannya. Aroma parfum citrus dan woods langsung menyerbak ke hidungnya, aroma khas Ibu Diana si Guru Galak yang sekarang April ketahui sisi lunaknya. Di balik bahu April, Diana meneteskan air matanya. Merasa menyesal karena dulu membiarkan Diandra keluar dengan rumor buruk. Diana terlalu kalut oleh amarah hingga ia tak peduli lagi dengan Diandra. Anak perempuan yang kini sudah hidup mapan dengan ayah dari bayinya waktu itu. Diana menyesal, kenapa tak melakukan hal yang sama ketika ia seharusnya menarik anaknya ke dalam pelukan, membelai rambutnya dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Sekalipun itu semua termasuk keteledoran anaknya sendiri. Kenapa ia tidak melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada April sekarang. Kenapa ia justru membiarkan cap bitchy itu melekat pada anak seorang Guru. Kenapa ia membiarkan Diandra keluar dengan jutaan kata-kata bully? Ingin sekali Diana menanyakan itu pada dirinya sendiri. Bukankah itu semua peran seorang Ibu? Membentengi anaknya, menjadi perisai dikala ratusan anak panah mencoba menusuk dari depan dan belakang? Ia bahkan tak melakukan itu semua. Diana lebih mementingkan reputasi. Sampai tak peduli betapa tersiksanya Diandra waktu itu. April menangis di bahunya, perlahan ia merasa telah mempunyai tumpangan baru. Punggungnya terasa di tepuk lembut. "It's okay. Semuanya akan baik-baik saja." "Ibu.. kenapa nangis?" April menarik diri. Sekali saja ia ingin melihat wajah ayu Ibu Diana yang di cap sebagai Guru paling gahar. Diana menghapus air matanya dengan Ibu jari. "Nggak papa. Ibu cuma.. merasa kamu seperti Diandra, anak Ibu yang sekarang udah lebih bahagia sama keluarganya." "Anak Ibu?" "Yah, Ibu dulu pernah punya anak seperti kamu, sama-sama melakukan kesalahan yang fatal, sampai harus di keluarin dari sekolah ini." "Ibu sekarang.. sama siapa?" Diana terkekeh. Meskipun raut wajahnya terlihat layu. "Seperti keliatannya? Ibu sendirian sekarang. Dari Diandra kecil, Ibu single parent—Duh, kenapa jadi Ibu yang cerita." April mengulas senyum, ia menghambur kembali ke bahu Diana. Memeluk pinggang ramping wanita itu dengan perasaan senyaman mungkin. Ia benar-benar merasa punya tumpuan sekarang. *** "Saya ingin mengundurkan diri dari sekolah ini." April menyatakan kalimat itu sekali lagi. Dan disinilah ia sekarang. Duduk di kursi panas ruangan Kepala Sekolah. Dua hari setelah moment di UKS, April mantab mengundurkan diri sebelum ada omongan macam-macam. Ghita dan Mario hanya bisa terduduk dengan wajah di tekuk di depan Ruangan Kepala Sekolah. Mereka merasa keputusan April ada benarnya, Namun, tentu saja, keberadaan April hanya akan menjadi kenangan di kelas. Pembicaraan berlangsung sekitar dua puluh menit sampai akhirnya April keluar dengan Ibu Diana di sampingnya. April menggendong Tas yang disodorkan Ghita. Jaketnya langsung di eratkan untuk menutupi perutnya. April memandangi mereka satu persatu. Mungkin ia bakal kangen Ghita yang cerewet, kangen Ghita yang suka gosip, kangen Ghita yang suka sok pinter, kangen Ghita dengan segala curhatannya. April juga bakal kangen Mario yang suka b**o sendiri, kangen Mario dengan gaya gentlenya, kangen Mario dengan banyolan garingnya, kangen Mario yang suka ngupil di kelas. Kangen semuanya. Dan tentu saja, April juga bakal kangen Ibu Diana. Pelukannya, Nasihatnya, semuanya. Perlahan air mata Ghita luluh begitu saja. Ia tak tahan menahan moment paling menyedihkan. Kelas akan terasa sepi tanpa April yang bawel, April yang kaya t*i abis, April yang suka molor di kelas, April yang males ngerjain PR, April yang ngocol nggak ketulungan. Semua akan kangen sosok Ratu-nya SMA Merdeka. Mantan-nya Arion. Popular Girl yang antibully. Ghita dan Mario mengerti, mereka masih tetap akan dekat dengan April karena mereka satu atap. Namun tetap saja, kelas adalah kelas, dan rumah adalah rumah. "Saya pamit dulu, ya?" April menghadapkan tubuhnya pada Ibu Diana. Kemudian ia memeluknya. Seerat mungkin, karena mereka sama sama tak tau kapan akan bertemu lagi. "Semuanya akan baik-baik aja, percaya sama Ibu." "Makasih banyak, Bu. Saya nggak pernah nyangka sisi lain dari Ibu. Ngerasa beruntung karena kenal Ibu. Makasih udah bantu saya keluar dari sekolah ini. Makasih, Udah jadi wali saya untuk pengunduran diri. Bahkan hal-hal sekecil apapun itu, saya bakal tetap ingat Ibu." "Sama-sama, jaga kesehatan dan jangan pernah berpikiran negatif soal bayinya." April merenggangkan pelukannya. Lalu ia menghadapkan tubuhnya ke arah Ghita yang Mario yang masih tetap mendampinginya meskipun sudah di ujung jurang. "Thanks, karena pernah jadi sahabat gue. Janji untuk terus ada sama gue, ya?" Dua orang itu langsung memeluk April bersamaan, pelukan ala teletubis itu berlangsung sekian detik. "Kita bakal kangen sosok lo Prill." *** Arion melangkah masuk ke kelas IPA. Tanpa tau malu, bahwa itu bukan kelasnya. Tentu saja, itu kelas April. Kabar simpang siur bahwa April mengundurkan diri siang ini. Masih ada satu mata pelajaran namun Arion langsung melarikan diri. "April mana?" Dengan tampang rusuh Arion langsung menyerobot masuk ke dalam kelas. Ia beralih pada loker siswa di paling belakang dan paling pojok di kelas. Ia mencari nama April, lalu membuka loker tersebut. Kosong. Barang-barangnya telah ia bawa pergi. "April mana? Jawab gue bangsatt!!" Teriaknya frustasi. Bahkan Mario ingin tertawa sendiri melihat Arion seperti orang gila. Kelas sedang tidak ada Guru karena rapat mendadak. Jika ada, Arion tidak akan nekat buat onar. Tidak ada yang bersuara kecuali Adrian yang emang biang ngoceh di kelas IPA. "Eh? Lo doi-nya April, kan ya? Harusnya lo tau lah! April, kan pindah b**o!" "Bacot lo! Gue nggak nanya sama lo!" Arion langsung menatap Adrian tajam, membuat cowok setengah feminim itu akhirnya tutup mulut. Mario yang merasa tersindir langsung menggebrak meja, membuat suasana menjadi tegang. "Mario! Jangan di ladenin!!" Ghita menarik tangan Mario untuk tidak menuruti emosinya. "Lo cewek mending diem aja!!" "Gue nggak bisa diem aja kalau lo nggak berubah, Yo! Arion itu kaya anak kecil! Kalau lo terus tonjokin Arion sampe mampus pun nggak bakal balikin keadaan! Lo cuma ngikutin nafsu lo doang!!" Ghita meremas kemeja Mario menahannya untuk tetap tinggal. Sayangnya, Arion sudah terlalu terpancing hingga ia menghampiri meja Mario. "Siapa yang lo bilang anak kecil, hah?" Mario langsung menepis tangan Arion sebelum ia menyentuh Ghita. "Minggir lo, Anj*ng!!" Dengan nafsu yang terlanjur membara, Mario mendorong Arion hingga tersudut di Loker Siswa. Menimbulkan suara nyaring yang khas. Beberapa murid perempuan langsung menjerit melihat Arion di dorong sebegitu kerasnya. Sedang murid laki-laki terus bersiul melihat the most wanted guy yang di kenal sebagai sahabat karib kini bertengkar hebat. "Kemana aja lo selama ini, hah?! Lo baru nyari April setelah lo udah nyakitin dia? Kenapa?! Ngerasa nyesel lo?!" Desis Mario, tepat di depan wajah Arion. "Diem lo, Nj*ng! Lo nggak tau apa-apa soal April!" "Gue tau!! Bahkan lebih tau dari pada lo!! Lo nggak lebih dari cowok b*****t yang bisanya cuma ikutin nafsu b***t lo doang!!" "Lo ngomong sekali lagi! Gue bener-bener bakal bunuh lo!" "Kenapa? Takut? Pada dasarnya emang fakta, kan?!" Mario menoleh ke teman-temannya seolah menunjukkan pada mereka bagaimana sisi buruk Arion. Bahkan belum sempat Mario berkata-kata. Arion sudah mendorongnya lagi. Mario di dorong hingga punggungnya membentur lantai kelas. Tak henti-hentinya Arion meninju wajah Mario sekalipun Mario tak melawan. Tak ada rasa kasihan sama sekali, karena nyatanya mereka bukan lagi kawan, melainkan lawan yang saling terkam. . . . (TBC)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN