Bag. 16 : Bullying

963 Kata
"Mati lo!! Bangsattt!!" Arion membenturkan tubuh Mario ke meja. Menarik kerah kemeja cowok itu hingga terangkat. Ghita semakin cemas karena  nyatanya tak bisa melakukan apa-apa. Sekali lagi ia hanya bisa berteriak pada teman-temannya dengan mata berkaca-kaca, tak tega melihat Mario sudah babak belur duluan, bahkan sebelum cowok itu menghajar Arion. "Woy! Kalian! Pisahin dong! Mana sikap cowok kaliaan?!! Please tolongin gue, kek! Tania! Rara! Panggil guru BK, Please!" Ghita memberanikan diri untuk maju memasuki area merah. "Arion! Mario! Berhentii!!" "Anj*ng lo bangsatt!!" Mario tak melawan, ia hanya menghindar. Tenaganya sudah habis duluan. Bhukk. Bhukk. Bhukk. "Arion!! Berhenti!!! Sumpah, ya! Lo emang nggak tau malu! Lo udah ham—" Plaakkk! Mendadak, Pipi Ghita terasa perih. Ujung bibirnya mengeluarkan darah walau hanya sedikit. Tamparan Arion begitu keras di kulit wajahnya yang lemas. "Berhenti ngomong itu, b***h!" "Anj*ng!!" Emosinya langsung tersulut begitu tau Ghita di tampar oleh Arion. "Cowok apaan lo b*****t?! Cowok anj*ng! Yaaa?! Hah?! Beraninya sama cewek doang lo!!" Entah kenapa Ghita jadi ingin menangis. Namun, ia memaksa untuk terus memisahkan mereka berdua. "Udah, Please gue nggak papa. Kalian berhentii.. Please.." Tapi Mario tak mendengar. Ia membanting tubuh Arion ke lantai, mengangkat kerah seragamnya menghantam perutnya hingga menjedorkan kepalanya ke Loker Siswa. "Mario!" Tubuh cowok itu langsung di tarik oleh seorang Pria berseragam dinas. "Sudah cukup! Kalian ini apa-apaan?!" "Ini peringatan terakhir gue! Jangan pernah ganggu April lagi!!" RIo menudingkan telunjuknya tepat di depan wajah Arion. "Makan tuh Tamaraa sampe b**o!" "Sudah cukup. Kalian berdua ikut saya ke Kantor!" Seru Pak Kasman, Guru Bimbingan Konseling. *** Kantin terasa sesak di lima menit pertama jam istirahat. Sebagian ada yang menghabiskan jajanannya di meja-meja kosong. Sebagian lagi ada yang membawa jajananya ke kelas. Karena merasa kantin sudah cukup penuh dan tak ada lagi meja yang kosong. Beruntungnya, Tamara mendapatkan satu kursi di antara puluhan kursi yang sudah sesak. Ia menyantap semangkuk bakso ekstra saus dan segelas Jus Apel.  Kegiatan makan awalnya anteng-anteng saja, sampai tiba-tiba entah siapa yang mulai. Seisi kantin langsung ramai memperbincangkan topik yang sedang hangat-hangatnya. "Eh, lo tau nggak Arion tonjok-tonjokan sama Mario? Gila! Asli mereka parah banget berantemnya. Arion sampe bonyok banget sumpah! Mario emosi banget tuh kayanya." "Serius? Gara-gara ngerebutin siapa? April?" "Nggak tau, deh! Mario sih udah pasti ngebela April. Mereka kan sahabat gitu ya? Padahal denger-denger Arion sama April udahan gara-gara ada PHO gitu." "Serius? Siapa? Ih, sayang banget mereka udah longlast sampe dua tahun. Endingnya April keluar sekolah tadi siang." "April keluar sekolah? Masa? Wah, gara-gara PHO tuh!" "Kayanya nggak sekonyol itu, deh! April keluar cuma gara-gara ada PHO. Yakali, dia kan banyak yang ngincer. Masa nggak bisa move on dari Arion, sih?" "Arion emang ganteng gakuna. April juga cakep sih, mereka serasi gitu. Sayang banget ada PHO." "Siapa emang? Cewek apa cowok? Kalau cowok bisa jadi Mario, tuh!" "Nggak! Mario, kan lagi ngincer Ghita. Lagian Mario itu sahabatan sama April. Belakangan ini ngemusuhin Arion katanya gara-gara Arion nya b*****t gitu. Nggak jelas deh pokoknya. PHO-nya cewek. Lo tau, Tamara anak kelas IPS?" Tamara menahan nafas begitu mendengar namanya disebut-sebut. Sebentar saja, untuk kali ini ia menahan diri. "Iya, ih! Mereka, kan pernah sebangku gitu.. sekarang udah pindah bangku, jadi misahin diri. Gue liat, sih kayanya Arion yang jaga jarak. Asal lo tau aja, Tamara itu nerdy. Ih sok jaim gitu." "Ih, rendahan banget selera Arion. Suka sama anak nerdy gitu. Ew—" Braakkkk!! Tamara menggebrak meja. Kupingnya terlanjur panas mendengar namanya di jelek-jelekan. Ia menghampiri beberapa orang yang duduk di belakang mejanya. Tak lupa membawa mangkuk baksonya. Meskipun nafsu makannya menghilang. "Gabung yaa.." Ujar Tamara, sambil tersenyum sinis. Mereka yang tadi membuat grup rumpi langsung menegang. Tamara menatap semua cewek-cewek Alay itu satu persatu. Terdiri dari lima orang yang sok cantik semua. Dan salah satu diantaranya; Resma. Teman sekelasnya. "Nggapapa lanjutin aja ngobrolnya." "Ih! Kok lo gabung disini, sih?!" Dengan berani, Resma menegur teman sekelasnya itu. Karena diantara yang lain, Resma juga paling benci dengan cewek satu ini sejak Tamara pindah ke kelasnya. "Kenapa nggak suka?!" "Ya nggak enak aja. Sana, kek! Nggak punya malu lo?" "Harusnya gue yang tanya sama lo, Emang lo punya malu? Ngomongin orang yang belum tentu seperti apa yang lo omongin." Resma terkekeh. "Yailaah. Udah jelas kali, ya?! Arion sama April putus, kan gara-gara elo! Nyadar dong, tampang nerdy aja belagu!" Tamara terkekeh geli. Apa katanya? Nerdy? No way. Secepat kilat, Tamara menyiramkan mangkuk bakso ekstra sausnya ke rambut Resma. Teman-temannya langsung memekik ketika melihat Resma perih karena kuah bakso. "Anjir! Duhh, mata gue!!! Mata gue perih!!" Resma berteriak disertai tangis. Sedangkan seluruh penghuni kantin langsung menatap intens ke arah Tamara. "Cewek gilaa!!" "s***p kali tu orang!" "b**o banget! Jelas perih lah! Itu bakso, man!" "Diem lo semua!" Tamara berteriak pada mereka semua yang berputar membuat sebuah lingkaran untuk mengerubunginya. Amarahnya sudah di luar batas hingga ia mengambil Jus Mangga, senjata terakhirnya. Tamara menyemburkan Jus Mangga pada orang terdekat yang ada di sekitarnya hingga tak ayal beberapa kena Imbasnya. *** "Mario! Lo gila! Arion hampir aja mampus tadi! Lo terlalu parah tonjokin dia! Asal lo tau sekarang dia di rujuk ke klinik." Ghita menggerutu ketika Mario keluar dari ruang BK. Mario memutar bola matanya sambil memegangi pipinya yang ngilu. "Lo sayang Arion?" "Apaan sih ngga nyambung!" "Ya abis, lo malah perhatiin keadaan Arion! Lo nggak liat? Ini akibat gue ngebelain lo!" "Gue, kan nggak minta di bela. Lagian, lo kenapa nggak bisa nahan amarah lo sih! Nafsuan mulu. Tempramen—" Cup. Kecupan singkat itu mendarat di bibir Ghita. Membuat ia langsung terpaku detik itu juga. Sedangkan Mario hanya tersenyum, meskipun mati-matian ia menahan detak jantungnya yang berdebar. Kecupan yang hanya berlangsung kurang dari satu detik. "Kenapa? Kaget?" Mario memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Jika seperti ini, Mario tampak jangkung. Terkadang Ghita sendiri masih nggak yakin, sebenarnya Mario ini laki-laki seperti apa. Mario kadang kaya orang b**o, nyebelin, ngeselin, nyusahin, i***t, banci. Tapi kadang.. sifatnya itu bisa saja tertutupi dengan sikap gentle-nya. Dan itu yang membuat Ghita seringkali memandang Mario berbeda dari yang lain. Ghita menutupi mulutnya dengan kelima jari, saat Mario mencondongkan lagi tubuhnya. Seakan ia sudah tau, apa yang akan di lakukan cowok di depannya. Matanya membulat ketika kecupan itu mendarat di tempat yang berbeda. Pipinya. "Obatin luka lo." Katanya, sebelum akhirnya melenggang pergi melewati koridor. Ghita menurunkan kelima jarinya. Meraba area bibir yang menyisakan bercak darah. Tak menyangka tamparan Arion begitu keras hingga membuatnya terluka. Namun, melihat Mario yang rela masuk ruang BK hanya untuk membalas tamparan Arion, membuatnya merasa.. tamparan itu tidak terasa sakit sama sekali. *** . . (TBC)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN