Bag. 17 : Tetap Bertahan

858 Kata
April memaksakan senyumnya ketika mengantar Mario dan Ghita ke depan rumah. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lewat lima menit. Keduanya sudah rapi menggunakan seragam, namun wajah mereka masing-masing terlihat sendu. Disaat Ghita dan Mario bersiap pergi ke sekolah. April tetap stay di rumah, hanya mengenakan celana putih pendek sepaha dan kaus abu-abu yang kelonggaran. "Kita berangkat, ya? Lo baik-baik di rumah." Kata Ghita, gadis itu mencubit kedua pipi April gemas. "Baik-baik, jangan nyeleneh." Tegur Mario dan langsung di sambut wajah sungut April. "Apaan, sih?! Pagi-pagi ngajak ribut?!" "Sorry, Mom." "Ihh! t*i lo!" April mengangkat kakinya setengah untuk mencopot sandal dengan tampang geregetan. "Udah, udah deh! Ini anak dua." Ghita menengahi, sembari masuk ke dalam badan mobil. Mobil sport hitam metalik itu meluncur keluar area pekarangan rumah setelah Ghita memberi salam hangat pada April. *** Arion menekan pedal gas tanpa semangat. Arma belas menit berlalu, mobilnya di lajukan dengan kecepatan rendah. Hingga tak jarang beberapa mobil menyalipnya dari belakang. Harusnya ia berhenti di sekolah, tapi tidak untuk sekarang. Mobilnya hanya berputar-putar dari jalan yang sama. Dan sudah pukul setengah 8 akhirnya ia memilih menepikan mobilnya di sebuah rumah. *** April mengangkat semangkuk kecil es krim Vanilla dari dalam lemari Es. Ia berhenti di depan TV sambil menyuapkan Es Krim ke dalam mulut. Di depannya ada setoples biskuit Oreo yang bisa ia colek kapan saja. Ghita dan Mario teman yang pengertian—tau moodnya. Terlebih April tak hanya mengurus diri sendiri, tapi juga seorang malaikat kecil di dalam perutnya. Acara TV kali ini tidak membosankan. Menampilkan sebuah Variety Show yang kebetulan mengangkat tema Baby. Nalurinya keluar begitu saja. April memancangkan mata pada layar flat di depannya yang sedang menunjukkan teknik-teknik memandikan bayi. April mendesah ketika mendengar suara bell melengking ke penjuru ruangan. "Ish! Siapa sih?!" Langkahnya gontai ketika menghampiri ambang pintu. Pintu terbuka. Wajahnya menegang ketika tau siapa gerangan yang berdiri di depan pintu. Wajah yang paling ia takuti, wajah orang yang sangat ia cintai. "P-papa?" "Hai?" April membeku. Seakan sebuah batu besar menghantam wajahnya saat itu juga, membuatnya jatuh tersungkur hingga berdarah-darah, tapi kenyataannya ia masih berdiri disana, dengan tegak. Kakinya seakan sedang di tarik oleh akar kuat dari dalam tanah sehingga tak dapat bergerak lagi. Tapi kenyataannya, tak ada tumbuhan apapun. Semuanya hanya ilusi, sebagai penggambaran bagaimana tegangnya April. Perempuan itu mendadak mulas. Matanya mengerjap beberapa kali, memastikan sosok laki-laki di depannya adalah sungguhan. "Papa?" "Ya? Ini papa!" Pria itu melepaskan tangannya yang sejak tadi menggeret koper hitam. "Kenapa, sekarang?" "Kamu kaget? Ini Papa! It's a surprise!" "Hh?" "Papa punya banyak cerita tentang liburan sekaligus dinas Papa kemarin. Kayanya, udah lama banget Papa nggak ketemu tuan Puteri sampai pangling kalau sekarang agak... gendutan, ya?" April mengerjap sekali lagi, lalu menghambur pada sosok Pria di hadapannya. Entah mengapa pilu langsung menggebu di d**a. Rasa bersalah itu satu persatu runtuh seperti bongkahan batu besar yang berjatuhan di Gua. April merangkul pinggang Papanya dengan manja. Mati-matian ia menutupi apa yang semestinya tidak harus di ketahui Papa. *** "Pagi!" Suara itu langsung mengalihkan perhatian Papa sekaligus April ke ambang pintu. Seseorang berdiri membuat d**a April semakin bergetar. Rasanya seluruh organnya ingin menerobos ke luar begitu melihat Arion dengan seragam putih abu-abunya mengetuk pintu yang terbuka. "Arion?" April mengerutkan dahi. "Itu.. temen kamu? Kok, kamu nggak sekolah, nak?" April mendesah. "Sebentar, ya Pa. Aku nemuin dia dulu." Arion menegang begitu langkah April semakin mendekat. Mata April terlalu berkilat untuk Arion tatap sehingga cowok itu menghindari kontak matanya. "Sini lo." April menggeret tangan Arion hingga sampai gerbang. "Pergi." "Prill, gue.." "Pergi." "Dengerin dulu, sebentar aja.." "PERGI ALI!!" April menarik nafasnya. "Gue udah coba ngomong baik-baik sama lo, ya? Apa lo nggak bisa ngertiin keadaan gue sekarang?! Lo tau? Di dalem ada bokap gue!" Arion tersenyum getir. "Oke. Itu bagus." "M-maksud lo?" "Gini, kan cara lo? Lo menjauh seakan-akan gue adalah cowok b******k yang nggak tanggung jawab? Padahal, gue udah berusaha untuk tanggung jawab atas anak yang—" "Tutup mulut lo!" "Nggak!" Arion melangkah dengan labgkah yang menggebu. Emosinya sudah terlalu mendalam dan ia sudah tak bisa lagi menerima keadaan. Cowok itu melangkah masuk ke dalam rumah menemui seorang Pria yang sedang menyesap Kopi Paginya. "Pagi, Om!" "Arion!" April menarik tangan Arion, berusaha menjauhkan cowok itu dari Papanya. "Ya? Ada apa? Kalau dia mau bicara, ya biarin aja, Prill." "Paa.. nggak ada sesuatu yang penting untuk di bicarain." April mengelak, dengan senyum tipis. "Nggak penting menurut lo?! Ini soal gue dan Bayi yang ada di perut lo b**o!" Arion berteriak. Deg. Entah mengapa ada sesuatu yang besar menghantam ulu hatinya. Hendra berusaha mati-matian mencerna sepenggal kata yang di ucapkan anak lelaki di depannya secara singkat. Untuk beberapa saat ia merasa duduk di atas awan. Merasakan bagaimana bergemuruh hatinya seperti gemuruh ketika ia merasa seolah atap nya runtuh ke bawah dan pondasi rumahnya terjun ke Inti Bumi. Pada kenyataannya, Pria itu diam di tempat dengan tangan masih memegang cangkir dengan bergetar hingga membuat kopi di atasnya juga bergetar. "A-apa?" Arion menarik nafas. Ia mengerjap, merasa telah melakukan sesuatu paling bodoh tapi juga merasa lega. Toh ia juga akan mengakui ini, kan? Cowok itu mengambil langkah maju. Seakan darahnya di pompa dengan begitu cepat ke seluruh tubuh. Jantungnya berdegup kencang dan menggedor-gedor tulang rusuk karena saking tegangnya. "Saya yang menghamili anak anda." "Arion!!" April meremas seragam Arion. Menarik-narik kemeja putih itu karena tingkah bodohnya. Apalagi sekarang? "Apa?" "Saya ingin jujur. Kalau saya yang menghamili anak Om. Apa kurang jel—" Pyaaarr.. Cangkir putih berisi kopi panas itu terlempar begitu saja ke lantai. Menyisakan kepingan-kepingannya saja. Menggambarkan bagaimana hati Arion juga April sama berkepingnya ketika itu. "KURANG AJAR!!" Satu tamparan disusul dengan hantaman di bagian rahang langsung di terima Arion hingga ia terhuyung. Darah segar langsung keluar di bagian sudut bibirnya. Dan saat itu juga, seorang Pria menghajar habis anak muda di depannya. Memaki-maki Arion hingga seperti sampah masyarakat karena berani menyentuh anak gadisnya. . . (TBC)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN