"Apa yang harus aku lakuin supaya Papa percaya?"
Hendra terdiam. Sungguh ingin sekali ia menitikkan air mata, atau menangis sambil berteriak seperti orang gila. Sejak tadi Pria itu hanya berputar-putar di dalam ruang tamu pada Pagi hari yang harusnya diisi dengan obrolan hangat seputar kepulangannya dari Dinas.
Hendra merasa bukan seorang Ayah sekaligus Ibu yang baik. Seharusnya ia menjaga Putri kecilnya. Kenapa bisa, April, anak perempuan yang selama ini ia cintai, ia besarkan dan ia didik bisa sampai melakukan hal yang melenceng norma? Apa yang salah dengan cara asuhnya?
Pria itu merasa menyesal karena terlalu fokus pada pekerjaan hingga tak pernah waspada dengan pergaulan anaknya. Yang ia tau, Arion anak baik-baik, dan sekarang? Mereka bahkan tidak pantas di sebut anak baik-baik lagi.
Hendra duduk dengan gelisah, ia mengusap wajahnya. "Apa yang bakal orang bilang nanti? Lama-lama mereka juga akan curiga! Papa bener-bener kecewa sama kamu!"
"Trust me, Dad. Semuanya bakal baik-baik aja. Selama lima bulan aku sembunyiin semuanya, tapi, nggak ada masalah apapun. Izinin aku tetep disini, Pa.. April pengen tetep bareng Papa."
"Mustahil. Papa bahkan sekarang mulai sulit untuk menerima kenyataan kalau anak Papa sekarang hamil di luar nikah."
"Pa.."
"Nggak, Prill.. Papa terlanjur kecewa sama kamu.." Hendra menarik nafas, dengan wajah memerah karena menahan emosi. Ayah mana yang tidak murka ketika seorang lelaki berani menyentuh anak gadisnya? "Lebih baik kamu pergi."
"Papa!"
"Pergi, Prill.. kamu pindah ke Bandung malam ini. Kamu bisa tinggal sama Mbak Salma disana."
"Pa, tapi kenapa cep—"
"Sekarang atau nggak sama sekali!!" Hendra menarik nafas. "Papa udah coba peduli sama kamu dengan bantu sembuyiin identitas kamu! Kalau kamu disini yang ada kamu dimaki-maki."
April mengerjap. Pindah ke Bandung? Malam ini?
Rasanya ia tak bisa membayangkan bagaimana suasana kota kembang itu. Ia akan merasa sangat asing. Pindah ke Bandung dengan membawa masa lalu kelam, dan dengan alasan menyembunyikan perut buncitnya dari orang-orang.
April berlari, memeluk Papanya begitu erat. Pelukan yang bisa jadi yang terakhir. Karena setelah itu Papa benar-benar tak ingin bersentuhan ringan lagi dengan anak perempuannya.
Hendra mengusap wajahnya. Mencoba menata hatinya agar lebih baik lagi. Menimbang-nimbang dan berpikir keras apakah keputusannya adalah yang terbaik.
***
April mengarahkan pandangannya pada lampu kota yang temaram. Mobilnya mulai memasuki Kota Kembang sekitar pukul 11 malam. Matanya sudah terlalu berat untuk ia paksakan terbuka. Namun, April tak ingin menutup mata.
Menutup mata hanya akan memutar memori masa lalu, lagi. Dan ia benci itu. Benci semuanya. Terkadang April ingin mengutuk diri sendiri, kenapa ia bisa melakukan hal ini? Kenapa juga ia bisa melakukan kesalahan yang paling ia hindari sejak kecil. Dan yang paling ia sesali adalah,.. kenapa ia bisa mengenal seorang Arion?
Ponselnya bergetar dan April mengalihkan perhatiannya. Sebuah pesan singkat masuk dari.. Ghita.
Ghita : You okay?
April menghela nafas sebelum menjawab.
April : Yeah. Gmn lo udh packing? Gutbay dulu dong sama rumah gw:)
Ghita : Iya, Yakali, gw harus tetep numpang di rumah lo. Sedangkan di rumah cuma ada bokap lo, t*i ya?
April : main dong kesini..
Ghita : Iya, pake Sukhoi, ya?
April : Pake gerobak syg;*
Ghita : Turun kasta dong gue:)
April : Doain yg terbaik buat gue ya?
Ghita : Sebenarnya ikut prihatin jg ya, tp biar jd pelajaran lo aja, utk nggak percaya sama cowok yang manis luarnya doang tapi asem dalemnya.
April : Setelah ini bakal sulit lg buat gue ngerancang masa depan, trauma nih gw;(
Ghita : Jgn gt dong syg:) masa lalu bukan penghambat untuk ngebuka masa depan.
Marioow : Jgn balik lagi, ya Prill:)
April : Dihh, kok anak curut disini sih?
Ghita : gw yg ajak gabung. Wkwk
Marioow : napa? Ga bolehh
April : No.
Marioow : o gt ya? Berani sama bapak?
April : Siapa bapak gw?
Marioow : eh lo kesannya kek anak ilang gitu, nyari2 bapak.
Marioow : eh lupa, lo kan di usir sm bapak lo kan ya? Hohoo:)
*April Ltc. meninggalkan obrolan*
Entah mengapa mood nya langsung turun. Ini bukan perihal perkataan Mario yang nyelekit, karena April sendiri sudah paham dengan watak cowok itu yang doyan candaan akut. Tapi, Mario mengingatkannya akan Papa. Rasa bersalah itu merutuk lagi. Menohok ke jantungnya hingga ia merasa kekurangan darah untuk pompa. Dadanya sesak dan pilu itu menusuk ke hidung dan otomatis matanya menjatuhkan buliran air.
Ponselnya di genggam erat-erat. Matanya tertutup untuk meminimalisir jatuhnya banyak air mata lagi. Wajahnya di tekuk agar siapapun tak tau bahwa April sedang meratap. Termasuk Sopirnya.
"Wah, Bandung bagus, Non." Seru Pak Sapto. Supirnya yang baru pertama kali ke Bandung. Pengetahuannya tentang kota Luar memang sangat minim. Bahkan Pak Sapto pun masih memerlukan GPS.
April menyeka air matanya. Diangkat wajahnya untuk menoleh ke kaca mobil dengan mata sembab. Temaram lampu kota di Bandung terasa sendu. Di tambah lagi suasana sepi khas tengah malam. Matanya sedikit takjub ketika mengitari Alun-Alun Bandung. Halte terpanjang di kota dengan Huruf-Huruf ter-eja yang mewakili tempat tersebut. Juga Masjid tinggi dengan dua menara kembar. Yang di bawahnya terdapat hamparan lapangan dengan rumput sintetis. Di sekitar putaran, terdapat kursi-kursi yang berpasangan untuk sekedar mengobrol atau duduk-duduk. Juga Taman yang di tata sedemikian rupa. Karena sepi, semuanya terlihat jelas.
Akan terlihat lebih menarik mungkin jika waktu Pagi dan Sore hari. Keinginannya di Bandung bukan hanya untuk memendam masa lalu kelam. Satu keinginan klise, yang ingin April wujudkan adalah; mengunjungi spot menarik di kota ini.
"Udah sampai, Non." Pak Sapto menginterupsi.
"Loh? Kok?"
"Iya, rumah Mbak Salma emang deket-deket sini." Pak Sapto tersenyum, suaranya terdengar khas seperti orang jawa. "Tuh, Non. Deket kalau mau ke situ."
"Hmm." April mengangguk. Mengerti dengan tempat mana yang Pak Sapto maksud.
Beberapa koper di keluarkan dari Bagasi mobil. Dan kini April berada di depan rumah mbak Salma. Memulai hidup barunya, lagi.
***
"Mar! Bangun, Mar!" Arion menepuk-nepuk pipi Tamara. Berharap perempuan yang tidur di sofa ini terbangun. Sekarang pukul 5 Pagi dan mereka masih butuh pergi ke sekolah.
"Enghh." Tamara melenggung. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya agar mendapat penglihatan yang lebih baik. Melihat Tamara sudah terbangun, Arion mendengus lalu kembali menghampiri cermin untuk mengikat dasinya.
"Jam berapa ini?" Tanya Tamara. Tubuhnya menggeliat diselingi tulangnya yang berderit. Suaranya parau, khas orang bangun tidur.
"Liat sendiri, tuh." Arion menunjuk jam dinding dengan dagunya. Setelah dasinya tersimpul rapi, cowok itu memakaikan topi snapback di kepala lalu mengambil tasnya.
"Nggak mau sarapan dulu? Gue buatin sandwich, deh." Tawar Tamara.
"Enggak. Udah telat?"
Tamara terkekeh jijik. "Menurut lo sekolah masuk jam 5 pagi?"
Arion mendengus, merasa kalah karena usahanya menghindari perempuan itu gagal. "Gue anterin lo pulang, deh. Lo nggak mau bolos, kan?"
"Ntar sopir gue nganterin seragam kesini, kok."
"Terus lo mau ngapa-ngapain disini?"
"Ngapa-ngapain apa, sih?! Ya gue cuma numpang mandi, numpang ngaca, numpang dandan doang kali!"
"Nggak, nggak! Pokoknya lo kudu pulang!" Arion tetap kukuh. Rasanya ingin sekali sepatu di tangannya di lemparkan pada perempuan di depannya. "Lo udah cukup tidur disini aja bikin gue nggak nyaman!"
"Emangnya gue tidur seranjang sama lo, ya? Gue tidur di sofa kali! Nggak usah sok jaim gitu deh! April mungkin udah ngelakuin hal yang lebih disini—"
"Jangan bawa April! Lo sama April, tuh beda!"
Tamara melotot tajam. "Beda apanya? Kita sama-sama perempuan, sama-sama suka sama lo, dan sama-sama ngandung anak lo!"
"Dia bukan anak gue!" Sanggah Arion.
"Anak yang mana?"
Pertanyaan Tamara yang satu itu, membuat Arion tertohok, seakan-akan Arion memiliki anak di setiap perut yang berbeda saking banyaknya. Itu Gila. Sangat Gila.
"Ya anak di perut lo lah!"
"Terus lo yakin banget kalau anak yang di perut April itu anak lo?!"
Arion terdiam. Ia tidak pernah terpikir kalau April berbohong. Bisa saja itu bayi orang lain? Bisa saja April mengada-ngada dan meminta pertanggung jawabannya sebagai seorang Pacar—Tunggu! Itu nggak mungkin!
Arion menepis kemungkinan buruk yang hinggap di otaknya.
"Karena April nggak punya masa lalu buruk kaya lo!" Arion tersenyum sinis. "Gue kenal April udah lama. Dia anak yang baik, polos, dan nggak kaya lo! Bukannya lo sendiri yang ungkapin tentang masa lalu lo?!"
"Dan itu yang bikin gue percaya sama April di bandingkan elo—"
"Anjir! Lo Arion!! Wtf! " Sebuah sepatu high heels langsung terlempar ke mukanya saat Arion belum menuntaskan kalimatnya sekalipun. Sepatu Tamara langsung di lemparkan ke muka cowok itu oleh pemiliknya langsung karena kesalnya.
Arion memilih untuk lari menenteng sepatunya keluar pintu apartemen. Sudah cukup perutnya kenyang karena kata-katanya yang ia pikir memuaskan. Arion menyeringai kecil. Karena kini ia berhasil membuat Tamara diam dan menutup mulut beberapa saat.
***
Tamara menghela nafas. Berusaha menetralkan emosinya yang berapi-api. Ia kalah telak. Perkataan Arion bukan hanya membuatnya kalah, namun juga terlalu menohok hatinya.
Niatnya, tengah malam kemarin Tamara datang ke apartemen Arion untuk meminta perhatian lebih. Supaya cowok itu lebih peduli. Boro-boro peduli, Tamara malah di suruh pulang kembali ke rumah karena datang tengah malam. Tapi, perempuan itu tak kehilangan alibi, dan bersikukuh ingin tetap di rumah Arion karena keluarganya sedang kacau.
Padahal, maksud Tamara datang tengah malam agar Arion tak menyuruhnya pulang.
Ide Gilanya itu tak berdampak apapun. Kecuali ia hanya di perbolehkan tidur di Sofa.
Tamara mengusap wajahnya dan menaikkan poninya ke atas kepala. Perempuan itu mendesah frustasi.
***
"Gimana kalau Weekend aja, yo?" Ghita menyenggol lengan Mario yang sedang memotong Somay dengan garpu agar menjadi potongan yang lebih kecil.
"Bandung sekarang bagus, jadi spot wisata yang unik gitu. Gue pengennya sambil main-main kesana. Mendingan Jum'at aja kita kesana abis pulang sekolah. Paling sorenya nyampe. Sabtu sama Minggu, kan libur?"
Ghita mengerutkan hidung, berpikir lebih dalam. "Ah! Ntar seninnya kecapekan! Lo emang nggak mau sekolah pas hari senin?"
Mario mengangkat bahu. "Nggak ah! Udah bolos aja, Biar nggak ikutan upacara! Eh atau enggak, Senin pagi aja kita pulang."
Ghita menyeringai sinis. "Ya, lo berasa kaya punya sekolah sendiri ya?"
Mario nyengir. Memperhatikan gigi putihnya yang rapi. Ghita berdecih. "Itu ada cabe di gigi lo."
"Ah masa sih?"
"Kalian ke Bandung ngapain?"
Ghita dan Mario langsung tertegun bersamaan. Tiba-tiba seorang cowok yang tadi duduk di depan meja makannya berbalik. Siapa sangka, bahwa cowok itu adalah Arion?
Pertanyaannya, seberapa banyak Arion mendengar semuanya?
Mario langsung tersulut lagi. Entah mengapa muka Arion sebegitu menjijikannya sampai Mario tak ingin melihat lagi. "Mau ketemu Prill—"
Ghita refleks menampar mulut Mario karena itu. "Mulut lo tuh, ya!" Desisnya pelan.
Arion menyeruput Jus Mangganya dengan sedotan. Menyisakan setengah di dalam Cup. Cowok itu terlihat santai. Padahal hatinya bergemuruh mendengar April ada di Bandung. "Prill? April?"
"Prisill maksudnya. Itu adiknya Mario yang sekolah di Bandung."
Mata Mario membulat. "Lo lupa? Dia, kan tau kalau gue anak tunggal?" Bisiknya.
Arion mengangkat sebelah Arionsnya. Menunggu alasan-alasan konyol dari kedua teman bodohnya.
"Adik sepupu maksudnya." Sanggah Ghita.
"Ooh." Arion manggut-manggut.
"Eh! Muka lo bonyok kenapa? Perasaan gue nggak ngegebukin lo kemaren?" Tanya Mario, melihat wajah Arion yang memar-memar.
"Iya! Lo nggak gebukin gue. Tapi bokapnya April yang gebukin gue."
"Kok gitu?" Mario menyeringai. "Kenapa? Lo baru aja ngaku, ya?"
"Menurut lo? Cuma bokap b**o yang nggak gebukin anak b*****t macam gue."
"Tuh nyadar." Mario menaikkan kedua alisnya dua kali.
"Ya udah lah. Masih mending gue nunjukin sisi gentleman gue. Sekarang, gue pengen tanya sama lo berdua, April dimana?"
Mario menaikkan bahu acuh. Sedangkan Ghita malah fokus pada Baksonya yang baru di antar. Ini masalah laki-laki, jadi Ghita nggak mau ambil pusing. "Ya di rumahnya lah!"
"Yakin di rumahnya?"
"Iya. Buktinya dia nggak sekolah!"
"Lo b**o, ya? Dia nggak sekolah karena emang udah keluar t***l!"
"Eh iya." Mario menggaruk tengkuknya. "Ya mana gue tau!!"
"Nanya sama lo emang nggak pernah dapet jawaban yang pasti—"
"Bener banget! Gue setuju! Oon sih dia." Ghita menyahut. Dengan mulut penuh oleh potongan bakso.
"Telen dulu..." Mario menginterupsi.
Sedangkan Arion hanya tertawa kecil. Lalu bangkit dari kursi. "Ya udah gue cabut!"
"Yaudah sono! Najis juga gue liat muka lo."
Entah mengapa kali ini Mario tidak sampai hati memaki Arion. Kupingnya terasa lebih dingin karena mendengar bahwa Arion mengaku di depan Ayahnya April. Ada perasaan lega karena itu. Dan juga bangga.
Karena nggak semua cowok berani melakukan hal itu.
***
.
(TBC)