"Geser sini dong keripiknya!"
Dengan sedikit dengusan ringan, Mario menarik toples keripik kentang dengan kaki, karena tangannya sendiri sedang berkutat dengan JoyStick dan mata terpancang pada Layar.
"Ini makanan, lah gila! Sopan dikit, kek pake tangan!" Gerutu Ghita, sambil berusaha membuka tutup toples.
Mario mengacak-acak rambutnya frustasi. "Argh! t*i! Kalah, kan?! Lo sih b**o!"
"Apaan, sih? Gak jelas!"
"Udah jangan banyak bacot lah! Kena kura-kura, kan gue jadinya!"
"Alah! Lagak lo! Cuma main Mario Bross aja rimbil! Nggak kece tau, nggak?" Omel Ghita. "Cowok tuh mainannya, Gta, Point Blank, Guittar Hero! Nggak kaya lo! Bisanya main The Sims sama Mario!"
"Alah e*k!" Mario menggertak dengan melempar kumpulan koleksi DVD ke tubuh Ghita. Campur-campur, sih. Beberapa ada koleksi Ps3 dan Film-Film...
"Apaan, nih!" Ghita menjerit ketika melihat Cover Film yang sedikit mencolok diantara DVD lainnya. "Jijik banget, sih lo!"
Mario langsung mengerjap dan buru-buru merebut DVD di tangan Ghita dengan kilat. "Punya temen gua itu! Sini, ah!"
"Ih. Mario.. diam-diam ternyataa.." Ghita melemparkan tatapan mengintimindasi.
"Heh! Cowok tuh wajar nyimpen koleksi kaya gini! Kali-kali, ya kan? Fenomena langka gitu.."
Ghita bergidik. "Ya kali, Cowok tontonannya Berbi! Mikir, kek! Siapa juga temen lo yang mau minjemin kaset Berbi kek gini?"
"Tetangga sebelah! Anak cewek lima taunan!"
"Lo? Sampe minjem kaset Berbi ke anak kecil? Ih, ilfeel deh gue."
"Lo tau? Ya gengsi kali, gue ke Toko Film buat beli kaset Berbi!"
"Ya terus lo nggak gengsi gitu? Nonton Berbi? Jijik deh, Mas."
Mario menyeringai. "Masa kecil lo kaya gimana, sih? Sampe nggak pernah nonton Berbi?"
"Gue, sih ogah nonton film anak alay gini!" Kata Ghita, dengan ekspresi sok jual mahal-nya.
"Lagak lo sejuta! Lo tau apa alesan gue sampe nekat nonton ginian?" Mario menaikkan sebelah alis, sebelum menunjuk satu tokoh dalam Cover DVD. "Nih! Gue sepupuan sama dia."
"Lo? Sodaraan sama Barbie Ken? Oemji hellow..!!" Ghita memutar bola matanya.
"Iya, lah! Tepatnya, sodara kembar! Jadi, gue sebagai kembaran yang baik, nonton semua filmnya dia. Secara, dia kan artis gitu se-Hollywood! Keberuntungan banget gitu, gue bisa sodaraan sama artis."
"Garing." Ghita mencibir. Mario langsung mencubit hidung Ghita hingga matanya berair karena perih. "Anjir! Sakitt.. sakit...!!"
"Bodo." Mario semakin gemas karena tangan Ghita yang tak bisa diam, hingga cowok itu kesulitan untuk meredam amukan perempuan yang sedang ia candai habis-habisan.
Gurauan itu mereda ketika ponsel Mario berdering di sebelahnya. "Geli! Ih! t*i lo!"
"Bentar! Ambilin handphone gue dong!"
Ghita meraba sekitar, dan langsung memberikan benda itu pada pemiliknya. "Nih. Sms dari siapa, tuh?"
Mario terdiam, membaca pesan dengan penuh konsentrasi.
Arion Gilaa : Gw nyusul April ke Bandung.. Mau liat pertunjukannya?
Mario langsung berdecak. "Si kambing! Arion nyusul April, masa?!"
Ghita langsung ikut berjengit. "Serius lo?! Kita berangkat sekarang deh!"
"Yakin lo?! Kita masih pake seragam ini! Belom mandi juga!"
"Ntar April di apa-apain gimana?!"
"Yaudah deh, ayok!"
Dari awal, Ghita dan Mario memang berencana menengok April dan baru akan berangkat ke Bandung setelah pulang sekolah. Dengan segala persiapan tentunya. Tapi, mereka terus saja mengulur waktu; dengan main PS juga Streaming YouTube dan melakukan hal-hal kecil yang spele.
Tapi dengan keadaan genting seperti ini, Ghita langsung memasukkan tas besar ke dalam jok belakang mobil Mario dengan kilat. Tas yang sudah ia persiapkan—berisi pakaiannya sendiri dan alat-alat kecil—sejak berangkat sekolah tadi dan ia titipkan di rumah Mario supaya nggak ribet lagi.
***
Arion tersenyum iblis ketika melihat mobil hitam metalik meluncur keluar dari pekarangan rumah. Dalam kurun waktu lima belas menit, Mario memang langsung tancap gas. Agak beruntung memiliki teman yang waspada tapi juga bodoh seperti mereka.
Sms yang sedikit dengan bumbu ancaman langsung membuat mereka nggak ragu-ragu untuk berangkat keluar kota demi sahabatnya. Ide yang Arion gunakan memang cukup sadis dan.. canggih.
Arion mungkin nggak tau, dimana tepatnya April ada di Bandung. Tapi, Mario dan Ghita tau, dan tidak mungkin memberitau Arion. Maka dari itu, Arion yang akan memancingnya keluar kandang, menunjukkan dimana tepatnya April tinggal.
Motornya langsung ia tancap, mengikuti mobil yang sudah berjalan di depannya. Sengaja. Arion pergi menggunakan Motor Ninja-nya untuk menyamarkan jejak.
***
April membaca halaman terakhir di Novel yang ia baru beli siang tadi. Kepalanya terasa pusing karena membaca setengah isi buku terakhir sekaligus. Novel yang pernah ia baca setengah isi pertama, waktu dulu. Ingat sekali, Arion yang memberikan untuknya. Arion tau betul, kecintaan April dengan novel fiksi yang mengisahkan kisah cinta dengan akhir yang bahagia.
Sayangnya, semuanya nggak semudah dalam kisah-kisah yang ia baca.
Baru tiga hari April berada di Bandung. Tapi rasanya sudah bertahun-tahun. Dan waktu memang terasa begitu lama jika di tunggu.
Iya, April menunggu, kapan ia bisa kembali lagi ke Jakarta. Bertemu Papa.
Bagaimana kabar Papa disana?
Siapa yang menemaninya makan?
Siapa yang menemaninya mengobrol di Sore hari?
Siapa yang membuatkan kopi Paginya?
Dan siapa lagi kalau bukan.. April?
Ada sejuta pertanyaan yang bersarang di otaknya. Tapi hanya satu dan sekian juta pertanyaan yang ingin ia ungkapkan; mengapa hidupnya begitu sulit?
Itu saja.
Dan April sendiri sudah tau jawabannya. Karena takdir.
Perempuan itu menyelipkan anak rambut ke belakang telinga dan menutup novelnya. Covernya terlihat mengkilap, karena masih baru. April memilih untuk membeli lagi Novel itu karena belum selesai membaca, dan sialnya Novel tersebut tertinggal di Jakarta.
Bandung mungkin lebih nyaman dari Jakarta. Tidak begitu macet dengan spot-spot mewah yang belum ia kunjungi sebelumnya. Dan ia baru mengunjungi satu tempat, itu juga karena di anggap paling dekat dengan rumah Mbak Salma.
Taman di sekitar Alun-Alun Bandung. April duduk di salah satu meja dan kursi bercat merah yang berposisi di dekat Perpustakaan. Belum menjadi sebuah Perpustakaan, sih. Karena masih berupa bangunan setengah jadi dengan desain gedung yang cukup mewah. Hanya di dalam ruangannya saja belum di selesaikan. Sedangkan sisi luar gedung bisa di katakan hampi selesai.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 Sore. Dan April masih belum mau beranjak. Ia mengeluarkan earphone dari dalam tas dan memasangnya di telinga. Ia melayangkan pandangannya pada sekumpulan anak-anak yang bermain bola di rumput sintetis. Mereka tertawa seperti tanpa beban yang sulit hinggap di kepalanya.
Juga seorang perempuan muda yang sedang membimbing anaknya berjalan dan menapakkan kaki di rumput buatan itu mengingatkannya akan sesuatu.
Mungkin ia juga akan begitu.
Karena bagaimana pun juga. Sebentar lagi April akan berubah menjadi seperti mereka.
Sendiri? Mungkin.
***
Mobilnya baru memasuki Kota Bandung sekitar pukul 5 lebih sepuluh menit dan sekarang Mario sedang mengemudi menuju rumah Mbak Salma. Perjalanan yang panjang, sekitar hampir memakan waktu 5 jam dengan kebut-kebutan. Cowok itu melonggarkan dasi sekolah yang terasa mencekik.
Ia menoleh ke arah Ghita yang ternyata sedang tertidur di samping jok.
"Alah! Molor lagi lo!" Mario menepikan mobilnya sejenak di dekat Halte Alun-Alun. Kebetulan di depannya ada sebuah Bus Umum yang sedang parkir sambil menunggu penumpang.
"Bagun, heh!" Mario menoel hidung Ghita. "Banguun.. Justin Bieber posting foto telanjang di i********:!"
"Hoh?" Ghita melongo dengan mata setengah terbuka. Entah sugesti Mario benar-benar masuk ke otaknya, karena Ghita langsung mengangkat ponselnya yang tadi di simpan di atas paha dan langsung menyentuh Ikon i********:. "Serius?"
"Halah, giliran IG aja lo kaya orang kesetanan." Mario berdecak. "Gantian dong! Lo yang supir! Pegel gila badan gue."
Ghita mengucek matanya, dan mencoba untuk beralih perhatian dari ponselnya karena ia pikir Mario hanya bercanda. "Aduh, Yo! Udah deket lo tinggal maju dikit ke persimpangan, ntar ada pemukiman gitu."
"Ogah ah! Gantian, kek! Lo enak molor sengiler-ngilernya! Lah gue?"
"Mager nyupir ah!" Ghita mengangkat bahu acuh.
"Cepetan deeeehh.. nggak usah banyak lelet. Tinggal tukeran tempat duduk aja!"
"Nggak."
"Cepet, Ghitong!"
"Lo ngeledekin nama gue, gue makin nggak mau."
"Lo minta di cium ya?!" Mario setengah berteriak.
***
"Lah, ngapain berhenti sih tuh anak dua!"
Di belakang Arion menggerutu karena Mobil Mario berhenti di Halte. Arion juga cukup merasakan lelahnya menempuh perjalanan ke Bandung, apalagi harus kejar-kejaran untuk mengikuti mobil Mario dan sesekali kehilangan jejak.
Mukannya di palingkan ke sembarang arah, ketika Ghita keluar dari badan mobil dan bertukar tempat duduk dengan Mario. Bisa saja mereka berdua mengenali tubuhnya.
Tapi, Entah keberuntungan apa yang membuat mata Arion begitu teliti hingga secara kilat menangkap wajah Arion di sekian banyaknya orang yang berlalu lalang dan bangunan yang menghalangi pemandangan.
"April bukan, sih?" Arion menyipitkan matanya. "Eh? Bukan, deh."
"Kok kaya April sih?"
"Anjir! Emang dia." Arion langsung kembali menancap gas. Kali ini ia tak butuh siapapun sebagai penuntun jalan. Arion benar-benar yakin bahwa itu adalah April.
Cowok itu mencari tempat parkir terdekat dan turun dari motor dengan membawa helm di tangannya. Untuk pertama kalinya Arion ke tempat ini, tapi ia tak mau memperhatikan secara detail. Karena yang menjadi sasaran utamanya adalah seorang perempuan yang duduk di kursi bercat merah dengan Dress biru langit selutut dan rambut terurai.
Arion juga memerlukan strategi sebelum mendekat. Jangan sampai April malah kabur karena tau cowok itu mendekatinya. Sia-sia saja perjalanan panjangnya tadi?
Cowok itu mengambil tempat duduk kosong yang kebetulan ada di belakang kursi April. Hanya berbeda beberapa meja kursi, yang penting sekarang Arion sudah cukup dekat dengan gadisnya.
Arion merapikan rambutnya dengan bantuan kaca helm. Sebelum cowok itu membuka ponsel dan menelpon April. Meskipun tau, April benar-benar dekat.
***
April mengerjap dan langsung melepas earphone ketika merasakan ponselnya bergetar di meja. Di cabutnya jack earphone dan melihat Caller ID.
Calling..
"Jangan Diangkat, Orang Gila."
+6281852753544
Tanpa minat April meletakan kembali ponselnya. Membiarkannya begitu saja tanpa berniat untuk me-reject panggilan. Hanya memperhatikan layar ponsel sampai Arion berhenti menghubunginnya.
Dalam hati, April juga berpikir.. Untuk apa Arion menelfonnya? Mereka sudah cukup lama lost contact dan tak pernah menghubungi lagi satu sama lain. Kecuali hanya untuk menyimpan nomor telepon di kontak, bukan masalah.
Panggilannya berhenti. Dan satu pesan singkat langsung masuk ke ponselnya.
From : Jangan Diangkat, Orang Gila
Jawab dong telfonnya, jgn di liatin doang:')
April membulatkan matanya. Sel-sel otaknya langsung terhubung dan mencerna baik-baik pesan singkat yang di kirimkan Arion. Tau dari mana? Kalau April hanya memperhatikan layar ponselnya?
April menoleh ke sekitar memperhatikan tiap wajah yang mungkin akan ia kenali. Sampai satu pesan berikutnya masuk.
From : Jangan Diangkat, Orang Gila
Jangan cuma tengak-tengok, bales sms gue dong..
Dengan helaan nafas ringan. April membalas pesan Arion walaupun jantungnya berdegup.
April : Lo dimana?
Jangan Diangkat,
Orang Gila : Di rumah:)
April : Oh
Jangan Diangkat,
Orang Gila : Gw boleh nyusul ga?
April : No.
Jangan Diangkat,
Orang Gila : Balik belakang dong. Gue di Bandung kok♥
Seriously?
Refleks, April memutar tubuhnya ke belakang. Dan jantungnya seakan ingin melompat dari tempatnya ketika melihat Arion melambaikan tangan dengan senyum yang... cukup manis.
Cowok itu memeluk Helm di tangannya. Dan April berkesimpulan bahwa Arion mengendarai motor ke Bandung. Perjalanan yang mungkin nggak dekat dan Nggak mungkin juga Arion ngojek?
April memalingkan wajahnya lagi. Tangannya meraba pipi sendiri ketika merasakan hangat dan ia rasa pipinya memerah. Dulu hal ini yang paling ia inginkan bila seandainya mereka lulus nanti, April akan LDR-an dengan Arion.
Cowok itu nggak main-main untuk menerobos keluar dari Jakarta hanya untuk menyusulnya ke Bandung.
Satu hal yang membuat April tersenyum. Karena ia merasa sangat special.
Di saat-saat seperti ini, Pikiran buruk tentang masa lalunya dan sesuatu yang membawanya ke kota ini melintas di benak April. Membuat senyumnya luntur dan memilih untuk bangkit berdiri.
Sayangnya, tangan kekar Arion keburu menahannya untuk kembali duduk di tempat. "Tunggu."
"Gue pernah bilang, kan? Jangan pernah temuin gue lagi. " Kata April, dengan nada sedingin Es.
"Jahat banget, sii.. lo tau? Badan gue pegel-pegel cuma buat nyusul lo ke Bandung, Gue sampe bela-belain kabur pas jam istirahat cuma buat stay di rumah Mario dan nguntit dia yang udah kaya mafia—"
"Dan nggak ada yang nyuruh lo buat ngelakuin itu." Potong April.
"Ada. Diri gue sendiri, pastinya."
"Lo nggak punya alasan."
"Ada. Lo, kan alasan gue buat nyusul kesini."
"Gue nggak nyuruh lo."
"Hati lo yang nyuruh. Kemarin hati lo ngetuk pintu hati gue dan nyuruh gue buat nyusulin lo. Ngerasa nggak? Kemarin hati lo ilang dari tempatnya?"
"Kata-kata lo kaya tai."
"Iya, orangnya juga kaya t*i, kan?" Arion tersenyum jahil. Dan Arion tau, April memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan senyum.
Cowok itu langsung memeluk pinggang ramping April dari pinggir. Memeluknya erat dan takkan membiarkannya lolos lagi. Untuk yang ke sekian kali dalam hidupnya.
April terdiam. Tak bergerak, juga tak menolak. Karena jujur sesuatu kecil seperti inilah yang ia inginkan. Entah sejak kapan April sendiri nggak merasakan hal ini lagi. Jantungnya yang berdegup kencang, Darahnya yang berdesir dan sesuatu lainnya yang mungkin tidak pernah lagi dirasakannya.
Jauh dalam hatinya, Gue kangen Arion?
April bahkan baru saja mengakuinnya. Leher perempuan itu merinding, ketika Arion meletakan kepalanya di lekukan bahunya.
"Gue minta maaf soal semuanya."
"Nggak." Kata April.
Arion mengangkat kepalanya. "Nggak? Nggak mau maafin gue maksudnya?"
"Ih b**o. Bukaan," April mencoba melepaskan pelukan Arion yang terasa erat dan menyesakkan.
"Jangan," Arion menginterupsi. "Biarin gini, gue udah mager." Lalu meletakkan lagi kepalanya di bahu April.
"Nggak. Harusnya gue yang minta maaf."
"Kenapa?"
"Gue nggak nyoba buat percaya sama lo."
"Gue nggak pantes di percaya, Prill.."
"Mungkin dulu Iya, dan sekarang.. mungkin harusnya gue belajar buat percaya lagi sama lo."
Arion tersenyum, meskipun ia tau, April nggak akan menyadari senyumnya. "Lo hanya cukup percaya, kalau gue sayang sama lo."
"Geli, Ih!" April bergidik. Namun dalam hatinya mensugesti bahwa ia benar-benar tersenyum.
***
Sudah sekitar lima belas menit yang lalu Ghita bertukar tempat duduk dengan Mario. Cowok itu tidur dengang kaki terangkat ke dashboard mobil dan telinga tersumpal earphone. Kepalanya geleng-geleng mengikuti alunan lagu dengan mata terpejam.
Seakan sebuah ada lampu kuning menyembul keluar kepala, Ghita menepikan mobilnya, membuat Mario juga sadar kalau perjalanannya telah usai.
"Kenapa berhenti? Udah sampe?" Tanya Mario, polos.
"Lo nyadar nggak, sih?" Ghita menolehkan kepalanya pada cowok itu. "Kalau kita ini b**o banget?"
"Kita? b**o? Lo aja kali, gue enggak!"
"Serius, deh! Kita berdua ini cuma di begoin doang sama Arion."
"Apaan, sih? Nggak ngerti."
Ghita menghela nafas, lalu mengusap wajahnya lelah. "Lo mikir nggak? Darimana Arion tau tempat tinggal April di Bandung? Secara, Bandung itu luas banget, dan Arion nggak mungkin secara detail tau dimana April tinggal."
"Bokap April kali, yang ngasih tau."
"Dan lo pikir, kita kebut-kebutan kaya tadi cuma gara-gara takut Arion udah nyampe di Bandung?! Lucu, deh."
"Iya, lucu kaya kamu." Mario tersenyum dengan memperlihatkan deretan giginya.
"Halah! Emang ngomong sama lo nggak pernah nyambung!" Ghita menggerutu, lalu kembali melajukan mobilnya.
"Ya udah, sihh.. Yang penting kita sekarang udah nyampe dengan selamat."
"Nyampe, sih nyampe.. coba kalau kita tadi mikir dulu, pasti berangkatnya santai banget.. Sambil traveling gitu.. nikmatin pemandangan kan asik.. kapan lagi coba?"
"Iya, nyantai, nyampenya dua hari kemudian.."
"Terserah lo, deh! Mana bau banget lagi badan gue, belum mandi dan masih pake seragam kaya gini! Ew!"
"Mau nyicipin Ketek gue nggak?" Mario menaikkan dua alisnya.
"Anjrit! Najis!!"
***
"Sebelah sini, dong." Arion merentangkan tangan yang satunya.
"Jauh banget, ya?" Tanya April, dengan tangannya sibuk memijat lengan Arion di bagian yang keram.
Arion memejamkan matanya rileks. Bahkan kelelahan itu kini sudah terbayar dengan sikap April yang mencair. Mereka sempat melakukan beberapa obrolan dan candaan yang berhasil membuat tawa April mengembang.
"Jauh banget, apalagi sampe harus ngikutin mobil Mario tuh udah kaya mafia gitu.. Kadang-kadang kehilangan jejak dan harus full konsentrasi."
"Mereka? Ikut kesini juga?"
"Iya, gue pancing, soalnya ngga mau ngasih tau lo dimana. Tapi, emang rencana mereka mau nyusul lo hari ini, kok."
"Terus, kok lo tau gue duduk disini?"
Arion tersenyum. Ia memukul d**a sendiri ringan. Tepatnya di bagian jantung dan hati. "Dia yang nunjukin."
April hanya terkekeh geli. "Lo masih pake baju seragam, ntar ganti baju di rumah mbak salma aja."
"Jangan! Ntar gue ketauan lagi kalau nyusulin elo."
April mengernyit. "Terus lo mau tidur dimana, nanti?"
"Gue nginep di Hotel, deh. Deket-deket sini ada, kan?"
"Banyak." April menyerigai. Lalu menyudahi pijatan ringannya. Ia melayangkan tatapannya ke sekitar. Semakin Sore, suasana mulai sepi. Kebetulan awan hitam menggumpal di atas langit, pertanda akan hujan dan tak sedikit orang memilih untuk pulang sebelum petang.
April berdeham sebelum melemparkan pertanyaan canggung yang sejak tadi tercekat di tenggorokannya. "Gimana sama.. Tamara?"
Arion menoleh, lalu menghembuskan nafas kasar. "Lo bisa, kan lupain itu? Lo cukup percayain itu semua ke gue. Dan yang lo cukup tau kalau gue cuma bakal perjuangin lo sama dia."
April mengerti maksud, dia.
Dia. Anak yang ada dalam kandungannya.
"Hmm." April mengangguk. Lalu entah bagaimana caranya, Perempuan itu memeluk Arion. Untuk mencoba mencari titik kepercayaan lagi disana.
Dan April menemukan itu ketika Arion membalas pelukannya dengan sangat erat.
***
Titik-titik air langsung terasa nyata begitu menyentuh kulit. Semua orang yang tadinya sedang menikmati suasana sore di Alun-Alun kota langsung sibuk mencari tempat pengungsian.
Awan hitam yang menggumpal tadi langsung menjatuhkan titik air yang begitu deras. April melindungi kepalanya dengan Tas, sedangkan Arion sendiri melindungi kepalanya sendiri dengan tangan. Meskipun tak berarti apa-apa.
Mereka memilih untuk berlari ke arah Halte. Hujan begitu deras hingga semua orang yang bermain di hamparan rumput sintetis memilih untuk berlindung ke teras Masjid.
"Gue anterin lo pulang, ya?" Arion menawarkan diri.
"Naik apa? Motor? Hujannya deras banget."
Suara April yang kecil tersamarkan karena hujan begitu berisik. "Hah? Enggak.. pake Bus ini aja. Kalau pake motor ntar kita hujan-hujanan, lagi."
"Terus motor lo gimana?"
"Gampang.."
April mengangguk, sambil merapikan rambutnya yang basah. "Bentar, rambut gue lepek banget lagi."
Arion tertawa kecil. Ia mengosok-gosok telapak tangannya supaya hangat, lalu menempelkannya di Pipinya. April berjengit ketika Arion juga menempelkan telapak tangan ke pipinya. "Biar anget." Katanya.
"Ish." April mencebikkan bibirnya. "Naik sekarang, deh."
Arion mengangguk lalu menggandeng tangan April untuk masuk ke dalam Badan Bus yang kebetulan sedang menunggu penumpang. Digenggamnya dengan erat supaya ia tak terpisah dengan April, mengingat banyak orang yang sama ikut menyerobot masuk ke dalam Bus.
Arion menoleh ke sekeliling. Hanya ada beberapa kursi kosong. Dan beberapa menit saja, kursi tersebut sudah terisi. Sebuah kursi terdekat langsung Arion hampiri sebelum ada yang menempati.
"Lo duduk situ." Arion menginterupsi. Ia meraih handgrip yang menggantung di langit-langit untuk menjaga keseimbangang.
"Lo gimana?" Tanya April. Sambil menggeser sedikit untuk mencari ruang. "Kita bisa berdua, sini."
"Enggak. Gue berdiri aja. Lo nggak liat?" Arion menunjuk sebuah poster yang menempel di kaca dengan dagunya.
Utamakan Kursi untuk :
[Manula] [Penyandang Cacat] [Ibu dengan Balita] dan [Ibu Hamil]
Ibu hamil.
Kata yang satu itu membuat April mengembangkan senyum entah untuk yang keberapa kali hari ini. Mungkin, April pernah lupa bagaimana caranya tertawa, namun sekarang tidak lagi.
Dan ia mulai di hadapkan pada rasa percaya.
***
Ghita mematikan mesin mobilnya, ketika sudah parkir di pekarangan rumah Mbak Salma. Wanita 20 tahunan itu, langsung menyambut Ghita dengan sapaan hangat.
"Ghita? Temennya April, ya?" Mbak Salma menerka-nerka.
"Kenal saya, nggak mbak?" Mario tiba-tiba muncul dari sisi mobil yang lain dengan gaya songong.
Mbak Salma tertawa kecil. "Duh, lupa saya, Mas.. tapi, temennya April juga, kan?"
"Lo, kan emang pantas terlupakan, Yo!" Ghita menepuk pundak Mario pelan. Ia beralih ke Jok belakang mobil untuk mengambil Tas. "Ini bantuin dong!"
***
Rumah Mbak Salma sangat sederhana. Terletak di Pemukiman yang tidak terlalu padat penduduk. Rumah dengan dua lantai yang di tinggali oleh Ibu dan Adiknya seorang. Dan sekarang ketambahan April, Ghita dan Mario. Menjadikan suasana cukup ramai.
Furniture dalam ruangannya juga hanya sedikit dan tidak mewah. Satu set Sofa empuk dan TV juga pajangan-pajangan kecil di ruang tamu. Etalase kaca yang memuat barang-barang luar kota juga foto keluarga dengan Frame sedang yang menjadi pembatas Ruang Makan.
Dapurnya sangat minimalis. Lengkap dengan wastafel dan dua kamar mandi. Sedangkan lantai atas adalah 2 kamar tamu dan 3 kamar tidur ada di lantai bawah.
Sebenarnya Mbak Salma sendiri nggak ada hubungan darah langsung dengan keluarga April. Arma tahun yang lalu, Ibu Mbak Salma; Bu Darmi adalah mantan pekerja di rumah April sejak puluhan tahun, bahkan sejak April masiu kecil dan Nyonya Rossa; Mama April masih ada.
Bu Darmi sekarang sudah pensiun dari tugasnya di Jakarta dan pulang ke Bandung. Papa sudah banyak membantu keluarganya hingga Bu Darmi begitu menerima April saat tinggal di Rumahnya. Terlebih Bu Darmi adalah orang yang merawat April sejak kecil. Juga ikut merasa terkejut mendengar kabar April yang seperti itu.
Dan Mbak Salma sendiri adalah anak sulung yang sekarang membuka warung kecil-kecilan di depan rumah. Itu juga sebagian di modali oleh Papa. Mereka sudah seperti keluarga.
"April kemana, Mbak?" Tanya Mario, ketika Mbak Salma menghidangkan Dua cangkir teh hangat di meja.
"Duh, dari tadi aku juga nungguin April. Katanya mau pergi sebentar cari angin, sambil mampir ke toko buku. tadi udah aku tawarin buat nganterin, tapi April sendiri nolak dan janji mau pulang Sore."
Mario mengerutkan dahi. "Tadi ada anak cowok yang dateng kesini nggak? seumuran kita?"
Mbak Salma menggeleng. "Nggak, kok. cuma kalian doang yang baru dateng."
"Terus, Arion serius nyusulin April nggak, sih?" Ghita setengah berbisik.
"Tau! coba gue telfon deh." Mario mengeluarkan ponselnya.
***
"Dingin, ya?" Arion terus menggosokkan kedua telapak tangannya.
Hatinya terenyuh ketika melihat April yang sama basahnya dan memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan, di tambah Dress yang ia gunakan dengan model lengan terbuka. Arion berinisiatif untuk melepas jaket yang ia gunakan, meskipun sudah terasa lembab karena sama basahnya, namun setidaknya masih bisa menambahkan rasa hangat.
"Lain kali, kalau pergi pake yang panjang-panjang." Katanya.
April langsung mengerjap, ketika Jaket Arion tersampir di kepalanya. Ya, Dikepala, bukan di bahunya seperti adegan dalam film-film. Cowok itu mengeratkannya supaya bisa menutupi kepala sampai bahu.
"Hujan rintik kaya gini bisa bikin kepala pusing."
***
April memeluk leher Arion erat, karena sekarang ia sedang dalam gendongan punggung cowok tersebut. Jarak dari jalan raya memasuki gang ke pemukiman cukup jauh sehingga April tak sanggup berjalan lagi, dengan badan lemas dan sepatu hak tingginya.
Ponselnya berdering dan ia cukup terkejut karena Caller ID menunjukkan nama Mario.
"Siapa yang telfon?" Tanya Arion.
"Um.. Mario. Menurut lo, angkat nggak?"
"Angkat aja," Arion menaikkan gendongan, ketika merasakan tubuh April merosot. "Eh, tapi, jangan bilang lo lagi sama gue, ya?"
April menarik nafas, sebelum menjawab panggilan dan menempelkan ponsel ke telinga. Sedikit kesulitan dengan posisi dalam gendongan punggung Arion seperti ini.
"H-hallo?"
"Lo dimana? Gue udah sampe bandung, nih!"
"Hmm. Udah di depan, kok. Ini lagi jalan di gang."
"Lo sama Arion nggak?"
April terdiam sejenak. Ia melihat ekspresi Arion dari pinggir. "Jangan bilang ada gue." Arion berisyarat.
"Eng.. Enggak. Sendiri, ini jalan kaki di gang kok, lo tunggu ya? Kenapa emang?"
"Hmm. Yaudah, Lagi hujan, nih. Ati-ati, atau gue jemput kesana?"
"Jangaan.. udah deket lagian."
***
"Apa katanya?" Tanya Arion.
"Cuma nanyain gue lagi sama lo atau enggak. Dan gue jawab, enggak."
"Bagus."
"Lo anterin gue sampe sini, aja. Motor lo, kan masih ketinggalan disana?"
"Itu urusan gampang."
"Rumah Mbak Salma udah deket, kok. Tinggal belok dikit."
"Belok dikit kemana?"
Kali ini suaranya bukan berasal dari Arion, melainkan dari seorang cowok berseragam sekolah yang sedang berdiri sambil menggenggam ponselnya.
"Mario?"
Mario mengambil langkah mendekat. Dan bersamaan dengan itu, April turun dari gendongan Arion. "Mana? Katanya nggak sama Arion? Ini mahkluk segede gini namanya bukan Arion?"
"Woy! Santai dong!" Sungut Arion.
"Apaan?! Punya nyali juga, ya lo nyusulin April kesini? Pake acara gendong-gendong kayak anak alay."