Bag. 20 : Dia Yang Kembali

1091 Kata
Tamara terduduk di sisi ranjang. Matanya terpejam menahan tangis. Ponsel di tangannya di genggam erat-erat, seolah ingin benda itu remuk saja seperti hatinya. Terkadang menagis, bukan hanya karena sedih, tapi juga kesal. Beberapa jam ia memanggil nomor Arion hingga ratusan kalinya. Tak ada jawaban juga balasan. Sekarang, Tamara cuma takut, kalau Arion benar-benar pergi. "SIAALAAAAN!!" Praang. Suara benda yang pecah langsung terdengar ke penjuru kamar. Iphone yang ia genggam langsung di lemparkan begitu saja ke meja rias hingga membentur kaca dan langsung terpecah belah jatuh kelantai. Nafasnya naik turun seiring dengan nafsu yang berapi-api. Tamara menjambak rambutnya sendiri frustasi. Lalu terduduk di lantai yang dingin di tengah malam gulita. Lututnya lemas karena terlalu lama meredam emosi. *** "Mario! Lepasin!" April menghentakkan tangannya, mencoba melepaskan diri dari cengkraman tangan Mario. "Lo tuh apa-apaan, sih?" "Lo yang apa-apaan!" Tandas April. "Kenapa, sih? Nggak bisa liat orang seneng sedikiitt.. aja!" "Karena—" "Ya karena lo nggak bisa roman-roman kaya gue sama Arion, karena lo kejebak FriendZone sama Ghita, ya kan?! Basi tau nggak?! Najis!" "Apaan, sih? Kok bahas-bahas Ghita?!" "Itu Fakta! Lo suka sama Ghita, tapi nggak punya nyali buat bilang. Karena apa? Nyali lo curut!" "Eh? Lo mabok? Kok ngomongnya ngasal, sih mbak?!" "Kenapa, sih? Lo nggak biarin gue seneng dikit sama Arion. Jadi orang, tuh jangan nyebelin!" "Gue cuma berusaha ngelindungin lo, Prill!" "Ngelindungin?! Gue ngerasa nggak pernah terlindungi sama sekali. Lo cuma berusaha ngabisin Arion tanpa pernah nge-protect gue—" "Gue suka sama lo!" Kata Mario, dengan lantangnya, hingga membuat mulut April terkatup. "Bodo." April memutar tubuh, menenteng sepatunya di tengah jalan yang becek. Lalu, beberapa detik kemudian, sel dalam otaknya bekerja. "Apa lo bilang?" "Iya, gue suka sama lo! Apa perlu gue nembak lo sekarang terus cium lo?" "Apaan, sih lo nggak jelas!" Setelah itu hening. April kembali berjalan dengan kaki telanjang. Menyusuri gang yang becek sehabis hujan. Dalam hati jantungnya berdegup kencang karena mendengar sepatah kata yang Mario ucapkan. Mario yang tertinggal di belakang. Hanya bisa memandang punggung mungil perempuan yang berjalan di depannya. *** Arion mendorong pintu kamar hotelnya sambil meringis, karena merasakan ngilu di sekujur tubuhnya. Cowok itu terus menghapus bercak darah yang masih mengalir di sudut bibirnya. Selalu. Setiap kali cowok itu ketauan basah bersama April, maka tak segan-segan Pangeran Berjubah Hitam-nya langsung memukuli Arion habis-habisan. Siapa lagi? Kalau bukan Mario. Teman bodohnya. Arion merogoh saku. Mengeluarkan ponsel dan kunci motornya. Bahkan di tengah rasa ngilu dan denyutan, Arion harus berusaha konsentrasi menjemput motornya yang masih terparkir di Alun-Alun Kota. Sial banget, emang. Setelah beberapa menit mencuci muka dan berganti baju. Arion berbaring di ranjang dan mengambil ponselnya di nakas. Cowok itu berdecak tak keruan. "Rekor banget si Mara. Mau bikin Hp gue Error apa?" Beberapa detik setelah di aktifkan. Ratusan notifikasi langsung menyerbu. Pesan-pesan dari Tamara langsung masuk dengan cepat. 404 Missed Call, 357 Unread Message. From Tamara XII IPS. 5 Missed Call, 3 Unread Message. From Daniel. Dan Pesan dari orang kedua yang langsung Arion baca. Karena pesan dari Tamara segera ia hapus tanpa berminat membacanya. Paling omel-omelan doang, isinya. Pikir Arion. Semenjak perjalanannya ke Bandung. Arion memang sengaja menonaktifkan ponselnya. Ada beberapa alasan, termasuk tidak ingin Tamara menganggunya, menjadi salah satu alasan. Daniel : Lo dmn, Nyet? Katanya udh di Bandung? Daniel : Kasih alamat lo aja deh, ntar gw kesana. Arion tersenyum sejenak. Lalu mengetikan balasan berupa alamat Hotel dan nomor kamar dimana ia menginap. Satu menit kemudian ia mendapat balasan. Daniel : si t*i, gw juga lagi di depan Hotelnya, ketemuan di lobi yo. Arion : Sip. Setelah itu, Arion bersandar pada kepala ranjang. Kalau boleh bercerita, Daniel ini teman masa kecilnya dulu. Daniel sebenarnya lahir di Jakarta, sempat tinggal di sebelah rumahnya dan karena itu juga mereka berteman dekat. Daniel juga cukup mengenal Mario, hanya beberapa bulan karena cowok itu harus pindah ke Bandung untuk melanjutkan sekolah. *** "Pangling gue sama lo! Serius deh." Arion menyesap Kopi Hitamnya. Daniel hanya tertawa ringan sambil tetap fokus pada Layar Laptop. Mereka memilih langsung mengobrol di Kamar tempat Arion menginap agar lebih privasi. Daniel datang sambil membawa Laptop karena kebetulan sedang mengerjakan tugas dan hanya tinggal beberapa tahap lagi selesai. "Emang lo ke Bandung ngapain? Nggak ada sodara di Bandung juga, kan?" "Serah gue, lah!" "Mulai, deh. Nggak buka-bukaan lagi sama gue." Daniel mencibir. "Dah! Beres juga akhirnya." "Lagian, tugas di bawa-bawa." "Kan gue ngebet pengen ketemu elo, Nyet." "Gue sebenarnya ke Bandung mau nyelesain masalah." Daniel menyandarkan punggunya ke kursi. Cowok itu mengangkat gelas berisi Kopi Hitam yang Arion hidangkan. Rasanya, mungkin kurang pas. Tapi, Daniel tetap menyesapnya. "Masalah apa? Kena n*****a? Geng Motor? Atau... lo mulai gabung sama sindikat begal, ye?" "Gigi Lo jongos! Nggak lah! Gilaa." Arion mencak-mencak sendiri. "Masalah sama cewek gue." "Oh, laku juga lo ternyata.." "Iya, dong. Cogan.." Arion menaikkan kedua alisnya dua kali. "Sedikit private, sih.. cuma, kadang masalah kalau di pendem sendiri bikin stress." "Ya udah, cerita dong.." Daniel mulai bertopang dagu di antara lututnya. Memperhatikan wajah Sahabatnya sejak lama dengan lekat-lekat. Dan cerita pun dimulai,  ketika Arion mulai berdeham. "Gue rasa, gue udah ngelakuin kesalahan paling fatal. Gue sayang sama cewek gue, saking sayangnya gue sampe terlalu hanyut hingga akhirnya dia.." Arion menarik nafas, ia semakin tegang ketika melihat perubahan raut wajah Daniel yang ambigu? "Hamil. Yah, dia hamil. Sebenarnya kita ada dalam pengaruh alkohol." Arion mengangkat bahu. "Dan semuanya ngalir gitu aja, hingga kesalahan ini merembet kemana-mana." "Lo.. bener-bener ngelakuin itu?" Tanya Daniel dengan nafas tertahan. "Iya. Dan gue bakal tanggung jawab. Sebisa mungkin gue bakal tanggung jawab. Yaa, mungkin emang dulu pernah terbesit pikiran untuk ngegugurin bayi itu, cuma gue pikir itu nggak akan ngerubah apapun." "Kenapa lo nggak berusaha kabur, seandainya lo bisa kabur." "Cuma cowok b*****t yang kabur setelah ngelakuin kesalahan fatal itu. Gue udah cukup b*****t ngehamilin cewek, dan makin jadi b******n seandainya gue kabur, meskipun gue bisa." Daniel tertawa miris. Hatinya terasa ngilu, karena cerita Arion memukulnya mundur ke masa lalu. "Gue adalah cowok b******n itu, Ar. Bahkan gue malu sama lo." "Maksud lo?" Daniel mengusap wajahnya. "Beberapa tahun lalu, gue juga ngelakuin kesalahan yang sama. Dan bodohnya, gue malah kabur. Gue ngerasa g****k segoblok-gobloknya." Arion tercekat. Disisi lain ia merasa beruntung, juga.. bangga karena ternyata ada orang yang lebih t*i dari pada dirinya sendiri. Dan dia adalah Daniel. Sahabatnya yang juga melakukan kesalahan yang sama. "Gue nggak ngerti lagi harus gimana, karena cewek gue makin gila-gilaan dan ngamuk di depan Keluarga gue. Semenjak itu gue kabur ke sisi lain kota Bandung dan dia pindah ke Jakarta." "Bayinya?" "Udah berhasil di gugurin. Tapi rasanya, kesalahan itu masih terus ngejar-ngejar gue seolah gue adalah mafia." Arion menghela nafas prihatin. "Kita sama. Dan sekarang gue ngerasa lebih beruntung." "Bandung punya cerita masa lalu gue, Ar. Dan tentu aja cewek gue juga nggak akan pernah ngelupain itu semua. Kita pacaran 4 Tahun, dan nggak mudah ngeilangin memori itu kecuali lo amnesia mendadak." "Hah. Sinting lo." Arion mengembangkan senyum. "Apa kabar cewek lo? Dia di Bandung juga?" Daniel mulai merubah ekspresi muramnya. Dia juga nggak bisa terus-terusan murung, karena nggak akan merubah apapun. "Iya, dia diasingin keluarganya karena.. gue." "Pesan gue, lo cuma harus pertahanin hubungan lo sama cewek itu, dan harus buat komitmen yang kuat. Jangan pernah selingkuh, karena lo sebenarnya udah jadi Bapak." Arion tersenyum kecil, Entahlah, karena gue juga ngelakuin hal yang sama ke cewek yang berbeda. *** . . (TBC)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN