Bag. 9 : Menunggu

1483 Kata
"Gue mau ngambil air." Arion mengulang kalimatnya. Membuat Tamara berjengit kaget. Karena tak ada respon, cowok itu melenggang pergi ke dapur. "Ini airnya." Ujar Tamara, canggung. Setelah gelasnya dirasa terisi, Arion menenguknya disitu juga. Degupan jantung dan rasa aneh itu muncul begitu saja. Tapi Arion berusaha meyakinkan bahwa itu biasa saja. Kerongkongannya sedikit terasa lega sekarang. "Dapur lo bagus." Arionh-alih merespon, Tamara justru menaikkan sebelah alisnya, merasa aneh karena Arion tiba-tiba mengomentari desain interior dapurnya. Nggak penting, sih ya. Tapi meskipun begitu, Tamara hanya mengangguk canggung. "Iya. Nyokap gue yang ngasih ide." Arion manggut-manggut. Padahal di dalam otaknya ia mati-matian mencari bahan obrolan yang bermutu untuk di bicarakan. Serius, kejadian tadi murni tidak sengaja. Bagaimana bisa Arion berani mengintip seorang gadis yang sedang.. Lupakan. *** Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Satu setengah jam hanya di habiskan untuk menonton film action kesukaan Arion. Tadinya, Tamara hampir membuka buku sampai Arion tiba-tiba saja menarik koleksi DVD miliknya. "GILAAA!! BANYAK BANGET FILM ACTION PUNYA LO!!" Tamara terkekeh. "Umm, sebenarnya itu bukan punya gue—" "Yukk! Nonton!" Arion langsung memasukkan kepingan DVD tadi begitu saja pada player. Sepanjang durasi, Tamara hanya menatap layar itu kosong. Sedangkan Arion yang enerjik menikmati setiap alur konflik film tersebut. Film ini membuat Tamara mau tak mau mengingat seseorang. Orang yang hampir persis seperti orang yang sekarang ada di depannya. Diam-diam memberi harapan, lalu meninggalkannya begitu saja. Dia suka makan Seafood. Suka bermain basket di bawah terik matahari. Suka nonton film action, hingga membuat Tamara keliling kota untuk membeli semua Film Action yang pernah ada. Genre yang terkadang berakhir tragis. Banyak pertumpahan darah. Juga mengandung nilai perjuangan. Seperti perjalanan cintanya. Entah kenapa bisa, Tamara menemukan sisi itu kembali pada diri Arion. Membuatnya merasa Arion adalah si dia yang kedua. Tamara nggak pernah tau dimana dia sekarang. Apa dia udah melupakan Tamara begitu saja? "Filmnya udah tamat!" Arion berujar. Lalu mengeluarkan kepingan DVD dari dalam player dan mematikannya. Melihat Tamara masih tak bergeming juga, Arion mengibaskan tangannya ke depan wajah Tamara. "Oy! Filmnya udahan!" Tamara mengerjap. "Oh? Udah tamat, ya?" "Yuk! Kerjain PR nya!" Tanpa ada yang memulai, maka Arion membuka bukunya. Lalu diikuti oleh Tamara. Ada hingga 100 soal yang mereka kerjakan. Tidak tanggung-tanggung Ibu Gwen memberi 100 soal yang harus di diskusikan oleh teman sebangku. Agar adil, maka Tamara dan Arion membuat kesepakatan untuk mengerjakan masing-masing 50 soal. Padahal, seharusnya mereka mengerjakan 100 soal dengan jawaban yang sama, karena ini tugas diskusi. Tapi, antara Arion dan Tamara masih canggung untuk berbicara apalagi berdiskusi. "Lo kerjain nomor 1-50 gue sisanya." Arion menandai bagiannya. "Jadi, kamu ngerjain nomor 51 sampai 100, ya?" "Sip!" *** Arion melepaskan pulpen yang sejak tadi di genggamnya. Telapak tangannya berkeringan, dan otot pergelangan tangannya terasa menegang. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah pukul setengah 7 malam. Diluar sana langit mulai berubah keunguan. Tamara masih terus saja menulis di buku tulisnya, tanpa berhenti sejenak. Meski begitu, tulisannya masih terus rapi. Jauh berbeda dengan tulisan Arion yang makin kesini makin amburadul. "Udah sampe nomor berapa?" Tanya Arion. Tamara menghela nafas, ia menegakkan punggungnya karena terlalu lama merunduk. "Sampe nomor 39, kamu?" "Gue?" Arion melirik bukunya. "Gue baru sampe nomor 28." Tamara membulatkan matanya. "Dua jam setengah, kamu baru sampe nomor 28." "Ya itu, mah elo! Tau sendiri, gue paling nggak bisa ngerjain Geografi." Tamara menatap Arion prihatin. "Kerjain. Sebisa kamu." "Nggak usah ngeremehin gue." "Aku nggak ngeremehin kamu!" "Mulai, deh. Cewek sensinya." "Terserah, jadi kamu mau kerjain atau enggak?" "Tau." Tamara berdecih. Ia menggelengkan kepalanya lalu kembali menulis. Tanpa memperdulikan Arion yang terus memainkan pulpennya. Arma menit berlalu, akhirnya ia melanjutkan kegiatan menulisnya. Gerakan itu di sadari Tamara melalui sela-sela helai rambut yang terurai menutupi sebagian wajahnya. Lalu ia tersenyum. *** Arion baru sadar ketika ia merasakan ponselnya bergetar di dalam saku. Tanpa gesture apapun lagi, cowok itu mengambil ponselnya dan mengunlock screen. 81 Missed Call. 23 Unread Message. From : April. Arion merasa tercengang dan segera membuka rentetan pesan yang semuanya berasal dari April. April : -Arion udah selesai blm kerja kelompoknya? -Arion ntar kalau udh pulang nonton, ya? -Arion, jadi nonton nggak? -sibuk banget, ya? -Arion udah jam berapa ini? -Arion udah jam setengah 8, lo kok nggak ada di rumah? -Arion kapan balik? -Lo dimana? -Arion angkat telfon! -Arion angkat telfon gua. -Ahhh setaan!! -Arion -Arion -Arion -Arion gue capek.. -Arion asdfghjkl^"/"'?+*+*!/"/!?# -Arion bego.:)) -Arion kardus, Domba:)) -Gw pulang, deh. -I Love You:* Dalam hitungan detik, Arion langsung berdiri meninggalkan ruang tamu milik Tamara. Meninggalkan Tamara sendirian disana yang sedang menulis soal terakhir. Arion berdiri kelimpungan di depan teras yang lampunya remang. Cowok itu segera menelfon nomor yang sejak tadi tak terjawab telfonnya. "Prill.. Angkaaaatttttt..." *** April duduk di Kafetaria yang posisinya bersebrangan dengan gedung apartemen Arion. Pandangannya menerawang keluar kaca. Mengamati setiap mobil yang memasuki area parkir.  Namun, sejak jam 7 malam, tak ada Mobil Arion yang melewat. Sekarang sudah pukul 9 malam. Dan April cukup putus asa karena menunggu hampir dua jam. Tiket Nonton sudah hangus sejak setengah jam yang lalu. Ponselnya tergeletak di meja makan berdampingan dengan gelas Lemon Tea yang hampir kosong. Pandangannya kosong. Hampir melamun. Bahkan seperti orang yang tertidur dengan mata terbuka. April mengerjap ketika ia merasa ponselnya berdering. Matanya langsung berbinar dan buru-buru menggenggam ponselnya. Namun, entah sepintas pikiran apa yang membuat matanya kembali meredup dan memilih untuk langsung mencopot baterai ponsel seketika. *** "Anjritt! Nggak di angkat!" Arion mengerang frustasi. Kemudian melangkah masuk ke dalam ruang tamu dimana Tamara sedang membereskan bukunya karena sudah selesai mengerjakan tugasnya. "Mau kema—" "Gue balik. Gue janji, gue selesaiin ini di rumah." Arion mengemasin tas dan alat tulisnya. "Tapi—" "Please, Mar. Ini soal April. Cewek gua." "April kenapa?" "Dia kayanya nunggu gue. Oke, gue balik ya?" Bahkan belum sempat mulut Tamara terbuka untuk mengucapkan kalimat selama tinggal, Arion sudah menghilang duluan di balik pintu. Beberapa detik kemudian. Deru mobil terdengar dan lama kelamaan menyamar. Tamara menghela nafas, lalu menatap aroma parfume musk khas yang Arion gunakan begitu pekat dan masih tercium di sekitarnya. Aroma yang paling Tamara rindukan... karena mengingatkan ia akan seseorang. "Sebegitu pentingnya April buat lo, yaa.." Tamara bergumam, dan sepersekian sekon kemudian ia menutup mulutnya. Ihh, apaan, sih lo Mar! Jelas penting, lah! April, kan ceweknya Arion! Lo bukan siapa-siapanya dia. Kemudian, Tamara berpikir.. Ini perihal cinta segitiga. Layaknya segitiga pada umumnya, yang runcing di setiap sisinya dan tentu akan menyakiti ketiganya. Lalu gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan menyadari sesuatu. *** Udara segar dari air conditioner langsung menyejukkan hawa tubuh yang menyesakkan. Namun, tetap saja, di dalam hati Arion masih tetap merasa gelisah. Begitu ia masuk, Arion tak menemukan April. Padahal April sendiri juga bisa saja masuk ke dalam apartemennya, karena gadis itu sudah memiliki passcode. Cowok itu berusaha menghubunginya lagi, namun tak ada jawaban. Nomornya tidak aktif. Dan itu semakin membuat Arion cemas. Juga merasa bersalah. "Buku lo ketinggalan." Suara seorang gadis yang tiba-tiba membuat Arion menoleh ke belakamg—ke sumber suara. Tamara tiba-tiba berada di ambang pintu apartemennya. "Lo? Kok bisa disini?" Tamara berusaha sebisa mungkin mengatur nafasnya. "Gue ngikutin lo. Buku lo ketinggalan. Gimana  lo bisa mgerjain tugas, kalau gitu?" Arion terkekeh. "Hehe, Sorry. Makasih, ya." "Oke, gue balik, ya?" Tamara hampir memutar tubuhnya ketika tangan Arion justru menahan lengannya. "Eh? Lo yakin mau langsung pulang?" Arion menginterupsi. "I-iya." "Ini udah malem banget. Lo kesini cuma buat nganterin buku gue?" "Iya." "Masuk dulu, deh." Untuk sesaat Arion melupakan rasa cemasnya terhadap April. Mempersilahkan Tamara masuk dan mengajaknya minum Teh Jeruk nipis bersama. Sedikit menenangkan. Hanya berlangsung sekitar beberapa menit, untuk kemudian terdengar suara. "Gini, ya, Ar! Kelakuan lo!" Arion langsung menoleh ke sumber suara. Mendapati April dengan kuncir rambut yang sudah acak-acakan dan juga Dress yang tak indah lagi. Gadis itu berdiri di ambang pintu. Menunggu itu membosankan. Sama bosannya menunggu Arion pulang. Dan yang ia lihat adalah pemandangan yang menyesakkan. April langsung keluar dari Kafetaria ketika melihat mobil Arion memasuki Lobi. Namun, ternyata Arion pulang tidak sendirian,pikirnya. "April?" Arion langsung berdiri menghampiri gadis yang sedang berdiri dengan tatapan mata menyala. "Najis, lo!" "Prill, gue ngerjain tugas. Nggak ada apa-apa." "Basi!" Bahkan ketika Arion hendak meraba pipi April. Tangan April langsung menepisnya kasar. Gadis itu menghindari wajah Arion. Dan wajahnya justru di palingkan ke arah Tamara. Dengan tatapan tajam April itu membuat Tamara merasa tak nyaman. Ia langsung meletakkan cangkir teh yang belum sepenuhnya diminum. "Sorry. Gue pulang, ya." Tamara menunduk ketika melewati Arion. "Mar, ini udah malem lo yakin mau pulang?" "Iya—" "Pulang! Lo harus pulang! Ntar lo di ajak tidur lagi sama Arion!" Kata April, ketus. Deg. "Prill! Kok ngomongnya gitu, sih!" Arion langsung menyela dengan nada tinggi. Tamara memejamkan mata lalu menghela nafas. Kalimat yang April lontarkan tadi sedikit ambigu. Antara merendahkan Tamara, atau justru merendahkan Arion. "Gue pulang. Lo nggak perlu khawatir. Gue bawa mobil." Setelah itu, Tamara melenggang pergi. *** Arion mengajak April duduk di tepi ranjang. Atmosfer diantara mereka mulai terasa memanas. Setelah beberapa detik tak ada yang memulai berbicara. Arion berdeham. "Prill.." "...." "April! Aku ngomong sama kamu! Liat muka aku!" "No." "Prill! Mau lo apa, sih?!' April langsung menolehkan kepalanya. "Mau gue apa?! Harusnya gue yang tanya! Mau lo apa?" "Lo nggak dengerin gue—" "Ya lo pikir aja! Gue nunggu lo dari jam 7 sampe jam 9 Malem! Lo nggak pulang! Telfon nggak diangkat. Nggak ada kabar. Nunggu selama itu emang lo pikir kaya apa rasanya? Kaya t*i, Ar!" "Lo dengerin gue dulu—" "Terus begitu lo pulang lo bawa cewek. Apaan coba? Bawa cewek ke apartemen lo terus lo tidurin lagi, gitu?!" "April!" Arion hampir melayangkan tamparan tepat di depan wajah gadis itu. Tidak ada yang menahan, namun Arion sendiri yang menahan tangannya untuk tidak menyentuh April. Tangannya langsung mengepal, dan kembali turun. Arion mengusap wajahnya frustasi. "Apa?! Lo mau nampar gue? Harusnya gue yang nampar lo!" Plaakkk. Dan sekarang kini Arion yang merasakan pipinya perih. Cowok itu mulai tersulut emosi. Namun sebisa mungkin menahannya hingga tangannya mengepal kuat. Tidak. Arion paling nggak bisa memukul perempuan. "Lo ngerti apa yang lo omongin tadi?!" Tanya Arion, dengan mata yang tak kalah menyala. "Omongan yang mana?!" April tersenyum kecut. "Oh! Yang tentang fakta kalau lo suka ngajak tidur cewek?" "Aprill!!" "Apa?! Faktanya emang gitu, kan! Gue nggak tau apa mantan-mantan lo dulu pernah lo ajak tidur juga. Tapi nyatanya itu terjadi sama gue." *** . . (TBC)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN