"Jangan lupa, tugas kelompok besok kumpulkan secepatnya!" Suara Ibu Gwen melengking ke penjuru kelas.
Kemudian, Ibu bertubuh mungil tersebut menata beberapa Buku dan berkas-berkas bahan ajar yang berantakan di meja. Sedetik kemudian, ia berjalan keluar kelas setelah terdengar bunyi Bell Pulang menyeru.
"Ahh. Si Babon ngapain ngasih tugas segala, sih!!" Arion mengacak-acak rambutnya frustasi.
Tamara menyembunyikan wajahnya dalam-dalam. "Eng.., kalau gitu, kita selesain sekarang aja Tugasnya supaya nggak numpuk."
Arion yang mendengar suara lembut itu langsung menoleh ke kiri. "Sekarang? Mabok lo? Nggak ah!"
Bukan tanpa alasan Arion menolak tugas dari Ibu Gwen. Pasalnya, ini adalah tugas Geografi—pelajaran yang paling Arion ogah-in dari kelas 10. Kenapa pelajaran yang sulit itu harus di gurui sama guru yang sama sulitnya. Sulit ngasih pengertian. Sulit ngasih kemudahan. Dan sulit di percaya, kenapa guru model begitu masih ada aja di muka bumi.
"Terus, kamu maunya gimana? Kita kerjain di sekolah aja?"
Arion melepas dasi sekolah yang terasa mencekik. Tangannya kemudian melepas satu kancing seragam di bagian atas. Gesture yang biasa saja, Namun langsung membuat mata Tamara terpejam kuat.
"Di rumah lo aja kalau gitu. Gue nggak boleh bawa cewek ke rumah." Ujar Arion. "Kecuali April."
Siapapun tau, semua itu bohong. Tidak ada yang melarang Arion bawa teman perempuan ke apartemennya. Kalau pun ada yang melarang, tentu saja April tidak akan seperti sekarang. Nyatanya, Mama dan Papa Arion adalah workaholic termasuk kedalam orang-orang yang cinta pekerjaan. Saking mencintai pekerjaannya sampai tak memperhatikan kelakuan anak tunggalnya.
Tamara menunjuk diri sendiri. "Di—rumah—gue?"
"Iya." Arion mengangguk. "Kenapa? Nggak boleh bawa cowok, ya? Oh, kalau gitu. Kita kerjain di Kafe aja. Anywhere. Asal jangan di sekolah."
Tamara menggeleng kaku. "Oh—oh, bukan gitu. B-boleh kok. Lo kerumah gue aja. Ntar gue sms, deh alamatnya."
"Sip." Arion berdiri, beranjak dari kursinya. "Jam 2 ya."
Tamara mengangguk. Entah apa penyebabnya, dua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.
***
"Arion, kita mampir ke Restoran Seafood yang waktu itu lagi, ya? aku pengen makan disitu lagi." Cetus April, sambil memasangkan earphone ke telingannya.
Arion masih fokus ke jalanan. Tak terlalu sadar April sedang berbicara padanya.
"Arion! Lo denger gue nggak, sih?!"
Untuk kemudian, Arion menoleh dengan ekspresi waspada. "Ah? Apa?"
"Ga jadi." April menambah volume suara lagunya. Dan Arion hanya tersenyum tipis melihatnya.
Cowok itu menghela nafas, ketika melihat lampu lalu lintas berubah merah. "Prill.."
Yang di panggil hanya diam. Matanya lurus kedepan dengan tangan disilangkan di bawah d**a. Menandakan kalau April dalam mood yang kurang baik sekarang.
"April.. aku ngomong, nih."
"Peduli lo! Mau ngomong apa engga! Gue ga denger. Gue ngomong aja lo ngga dengerin." Ketus April.
Arion menyeringai geli. Dengan cepat ditariknya earphone yang menempel di telinga April. "Aku bisa galau, kalau kamu ngambekan mulu."
"Bodo."
"Oke, oke. Kamu maunya apa?"
April menelan ludahnya, berusaha menyampingkan rasa gengsi dan mengutamakan perutnya yang sejak tadi sudah demo habis-habisan. "Makan."
"Oke, kita puter balik kesana. Ke Restoran Seafood kemaren."
"Jangan!"
"Why?"
"Ke McD aja, yang deket."
Arion yang mendengar itu hanya tersenyum sekilas. Lalu melirik ke traffic light yang sudah berubah hijau.
***
April mencolek daging ke saus, sebelum memasukkannya ke dalam mulut. Entah apa yang mengubah nafsu makannya, mungkin karena efek kesal di mobil tadi yang membuat April tak nafsu lagi makan Seafood.
Lama-lama, April juga risih melihat Arion yang terus terusan melirik jam tangan. Seperti ada sesuatu yang penting, tapi agak sulit di lafalkannya. "Kenapa, sih? Ada urusan."
"Hah?" Arion menyahut, lalu menyabet Cola di depannya.
"Ada urusan?"
"Eng, itu.. aku ada janji kerja kelompok. Jam dua. Arma belas menit lagi."
April menuangkan kembali saus tomat ke piring, mencoleknya lagi dengan daging dan memasukkannya ke mulut. "Ah! Biasanya juga kamu ngaret. Nggak datang juga woles aja. Nggak pernah seserius ini kalau ada tugas."
Arion menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal. "Ini beda orang."
"Siapa, emang?"
"Mara. Aku sekelompok sama dia."
Deg.
April menghentikan aktifitas makannya. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam sana. Membuat segalanya jadi terasa tidak enak. April mendorong kursi kebelakang lalu bangkit.
"Mau kemana?" Tanya Arion.
"Cuci tangan."
"Kok nggak di habisin? Ayamnya masih banyak."
"Udah ga nafsu." Katanya, lalu melenggang pergi.
Arion yang tau April sedang sensitif hanya menghela nafas. Lalu berdecak. "Yeee, mubazir banget jadi cewek. Gue yang bayarin pula. Abis duit gue kalau gini terus mah"
Tanpa melihat apapun, Arion mencubit daging Ayam yang masih tersisa di piring April lalu memasukan ke dalam mulut setelah mencoleknya dengan saus.
Dengan ogah-ogahan Arion merogoh ponselnya di saku ketika benda itu dirasa bergetar.
1 Unread message.
+6283953042806
Jalan Cendrawasih, No. 10. Komplek Mekar Anggrek. Jakarta.
Ditunggu yaa:) On time.
Arion mengetikkan balasan sesegera mungkin sebelum ia tertangkap basah oleh April.
To : +6283953042806
Iyoo.. gue lg nganter doi makan di McD.
"Siapa?! Mara?!" Suara ketus itu hampir saja membuat Arion menjatuhkan ponselnya.
"Dih. Bikin kaget aja! Yuk pulang." Arion bangkit, lalu menggandeng April untuk segera keluar.
"Tapi itu Ayamnya..."
Arion tak peduli. "Udah, ah! Tadi bilangnya udah ngga nafsu."
"Tapi aku tadi bohong."
"Udah aku colek ayamnya. Udah buruan ayok pulang!" Arion terus saja menarik April sampai ke dalam mobil.
***
"Kamu jadi kerja kelompok di rumah Mara?" Tanya April.
"Iya, lah jadi. Aku udah terlanjur bilang. Ntar dia nunggu."
"Sampe jam berapa?"
Arion melirik jam nya sekilas. "Nggak tau, sampai selesai aja. Kamu maunya aku pulang jam berapa?"
April menarik nafas. "Jam 7 gimana? Paling malem."
"Oke. Jam 7 aku pulang." Arion tersenyum mengacak-acak rambut April ringan.
"Janji, ya?"
"Iyaa.." Arion menghentikan laju mobilnya ketika sampai tepat di depan rumah April. "Udah sampai."
"Oke. Aku pegang janji kamu." April melepas sealtbeat. Lalu tersenyum pada Arion. Bagaimana pun ia harus percaya. "Aku duluan, ya? Hati-hati."
Namun belum sepenuhnya keluar dari pintu mobil, Tangannya kembali ditarik dan kembali duduk di mobil. Nafasnya tertahan ketika ujung hidungnya bersentuhan dengan ujung hidung Arion.
"K-kamu mau apa?"
"Mau buat kamu percaya. Kalau aku nggak kemana-mana."
"Tapi aku—"
Satu kecupan yang hanya berlangsung beberapa detik berhasil mendarat di bibir April, membungkam bibirnya agar berhenti bicara.
***
Arion mengecek kembali ponselnya. Meyakinkan alamat yang ia tuju itu benar.
To : +6283953042806
Gw di depan, lo keluar coba.
Tak ada balasan. Namun, seorang gadis mengetuk kaca mobilnya membuat Arion langsung memasukkan kembali ponselnya ke saku.
"Itu rumah aku." Ujar Tamara, padahal Arion tak bertanya.
Arion hanya mengangguk kaku, setelah ia sepenuhnya keluar dari mobil sambil mengendong tas hitam di punggung.
Manik matanya tak bisa lepas dari lingkungan sekitar. Overall, Arion cukup suka model rumah minimalis milik Tamara. Rumah yang terkesan sederhana, berlantai dua dengan cat abu-abu. Begitu rapi dan sejuk. Di sekelilingnya terdapat pagar besi yang tidak terlalu tinggi, bercat putih. Halamannya dihiasi dengan rumput pendek dan beberapa patung air mancur dan kolam yang di dalamnya terdapat beberapa ikan hias.
Begitu masuk, Aroma bunga lili langsung masuk ke indera penciumannya. Ternyata, Bunga Arli ada di sekitar sini. Arion di persilahkan duduk di ruang tamu yang cukup memiliki desain interior berkelas. Satu set sofa berwarna krem dan dindingnya di pajang foto-foto keluarga dengan bingkai besar.
"Nyokap sama bokap lo kemana?" Tanya Arion, ketika mendudukan bokongnya di sofa.
"Kerja. Pulangnya Sore. Kalau ada lembur biasanya pulang malem juga." Ujar Tamara, lalu menyuguhkan setoples Biskuit dan sepotong tiramisu di Meja, disusul dengan segelas air putih dingin. "Maaf, yaa. Cuma air putih. Lo suka kopi?"
"Gapapa, ngga terlalu suka kopi juga, kok. Thanks."
Tamara mengangguk, lalu duduk kalem di depan Arion. "Kamu masih pake seragam? Belum pulang ke rumah? Aku kira tadi kamu pulang ke rumah sekalian."
Arion tersenyum. "April ngajak makan dulu. Tadinya, gue mau langsung pulang tapi takut lo nunggu."
"Ohhehe." Tamara tersenyum seadanya. Sebisa mungkin terlihat biasa saja. "Aku juga masih pake seragam, kalau gitu aku ganti baju dulu, ya."
"Ya, Silahkan." Arion meneguk segelas air putih dingin yang sejak tadi menggoda.
"Kalau mau ngambil air atau cemilan lain, ambil aja di dapur."
"Sip."
***
Hampir lima menit Arion memainkan bibir gelas yang hampir setengahnya kosong. Biskuit dan Tiramisu-nya sama sekali tak tersentuh. Arion kemudian meneguk sisa air sampai habis kemudian memberanikan diri berjalan ke dapur milik Tamara.
Lantainya terbuat dari marmer. Sejauh ini, rumah Tamara cukup nyaman menurut Arion. Ketika melewati ruang keluarga, ada tangga yang meliuk ke lantai atas. Sampai kakinya terhenti di depan kamar yang pintunya terbuka sedikit. Membuat sedikit celah untuk bisa Arion lihat di dalamnya.
Rupanya, seorang perempuan mengenakan kaus dalaman putih polos sedang merapikan rambutnya. Bodohnya, Arion berdiam diri disana.
Tamara. Sedang mengurai rambutnya hingga jatuh sampai punggung. Gadis itu sedang mengganti baju seragam dengan kaus berwarna kuning. Arion baru tau, kalau... Tamara begitu cantik dengan rambut terurai seperti itu.
Sadar akan apa yang dilihatnya salah. Arion memutar tubuhnya, namun tidak pindah tempat sesenti pun dari depan kamar Tamara.
Gue liat apaan tadi?! Fix, inget! Gua udah punya April.
"Arion?! Kok lo ada di—"
"Lo salah! Gue mau ambil air." Arion langsung sigap menginterupsi. "Iya, ambil air. Gue haus."
.
.
.
(TBC)