Bag. 7 : Sekolah

1407 Kata
Arion keluar dari mobil, lalu mengitarinya untuk mencapai pintu sebelahnya. Seperti seorang tuan Putri, April keluar dari mobil Arion setelah laki-laki itu membuka pintunya. Sadar akan sikap Arion yang berlebihan, April terkekeh geli. "Ciee, di bukain." "Di bukain apanya?" Arion mengunci mobilnya, hingga terdengar bunyi beep. Lalu menyamai langkah April yang sudah berjalan lebih awal beberapa meter sambil menggendong ranselnya. "Ngga jadi. Ah!" Ketus April, sebal. "Mulai deh sensinya." Tanpa menunggu jawaban April, cowok itu langsung merangkul tubuh mungil April erat-erat keluar dari area parkir. Mereka berjalan beriringan saling merangkul. Sesekali Arion mengacak-acak pucuk kepala gadis dalam rangkulannya. Dengan posisi mereka yang seperti itu, tentu saja mengundang perhatian seluruh kalangan murid sekolah. Beberapa murid terkadang menyapa mereka dengan sapaan hangat. Hingga pada persimpangan koridor, Arion terpaksa melepas rangkulannya karena April sudah sampai di kelasnya. "Aku duluan, ya?" "Sip!" "Jangan gatelan!" Tiba-tiba April mencetuskan kata yang sedikit 'aneh' Arion mengangkat kedua alisnya, sebelum akhirnya ia mengangguk kaku. Setelah sama-sama melambaikan tangan. Arion kembali melangkah, berbelok ke Koridor kelas IPS sambil membaca notifikasi di ponselnya. Brukk! Ceroboh, saking terlalu fokusnya pada ponsel. Arion menabrak seseorang hingga beberapa Buku yang dibawanya jatuh ke lantai. Rambut panjangnya hitam menjuntai kebawah, menutupi sebagian wajahnya ketika menunduk memunguti buku yang tadi terjatuh. Arion membantu perempuan itu membawa bukunya beberapa, "Sorry." Perempuan itu mengangguk samar, tanpa berkata-kata lagi, ia segera berjalan meninggalkan Arion yang masih diam dengan seribu tanda tanya. Dia kenapa? Selow aja kali. Sedetik kemudian, Arion menghela nafas. Rupanya, ia baru sadar, bahwa ponselnya juga ikut terjatuh. "Yeehh, bebep gue ikut jatoh kan?" Gumamnya, sambil memunguti perangkat ponsel yang terpisah dari covernya. Setelah memasang kembali ponselnya. Arion memunguti sebuah buku yang di sampul rapi. Ia harus kembali berjongkok untuk memungut bukunya. Setelah dibalik, disana tertulis sebuah nama. Punya perempuan tadi bukan, sih? ~ "Mario! Siniin pulpen gue!" Ghita berusaha sebisanya untuk meraih pulpen yang di pegang Mario tinggi-tinggi. "Minjem bentar ah! Ribet lu!" "Gamau, ya! Najis ih! Lo kan suka gigit-gigit pulpen gitu. Ntar pulpen gue digigit-gigit juga lagi! Siniin ah!" Ghita sampai harus berdiri dari kursi untuk meraih tangan Mario yang terangkat. "Buset! Kaya gue kurang makan aja! Nggak lah!" "Ya udah sii.. siniin ah!" "Pinjem bentar! Kaya lo ngga punya pulpen lagi aja!" "Yakali. Lo sendiri kenapa pinjem-pinjem pulpen orang?!" "Tempat pensil gue ketinggalan." "Kaya anak TK ketinggalan mulu." "LO MINTA DI CIUM YAA?!! TIMBANG PINJEM PULPEN AJA RIBET BANGET DEHH!!" Tak ada yang sadar, bahkan Mario sendiri juga tak sadar, kalau seisi kelas langsung memperhatikan keduanya setelah apa yang Mario katakan dengan intonasi yang cukup keras itu. April yang sedang terdiam sambil mendengarkan musik ikut menoleh saking kerasnya suara Mario. "Lo ngomong apa barusan?" Ghita yang mulai sadar kemana arah pembicaraan ini langsung terdiam kikuk. Gondok dan Skak mat banget, lah. "Ya udah ambil aja pulpennya! Bawa pulang sekalian." Mario juga ikut terdiam. Menyadari puluhan pasang mata menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit di artikan. "Apa sih?" "Lo ngomong apa barusan?" April mengulang pertanyaan yang sama. "Timbang pinjem pulpen doang ribet. Itu, tuh si Ghita!" "Bukan, yang sebelumnya." Dahi Mario mengerut. Setelah beberapa detik matanya membulat karena sadar akan sesuatu. "Astaganaga!!" Setelah itu April terkekeh. Ia memutar kembali badannya ke depan—ke arah mejanya sendiri. April sendiri nggak bisa bayangin; bagaimana jika seandainya ia punya anak seperti Mario dan Ghita—yang hampir setiap hari ribut nggak keruan. April buru-buru menepis pikiran konyol itu lalu reflek menyentuh perutnya sendiri. Sekarang ini, April benar-benar menaruh harapan pada Arion. ~ Kelas yang tadinya berisiki berubah hening seketika ketika Ibu Maria masuk sambil membawa beberapa bahan ajaran. Semua wajah langsung berubah bingung ketika beberapa detik kemudian muncul seorang perempuan dari ambang pintu. Ibu Maria tersenyum, sambil menuntun perempuan yang masih terlihat canggung itu masuk ke kelas. "Kita kedatangan teman baru di kelas." Serunya, membuat semua perhatian langsung tertuju padanya. "Ayo, perkenalkan diri kamu." "Umm, nama saya.. Tamara, kalian bisa panggil saya... Mara. Semoga, kalian bisa menerima saya sebagai teman kalian. Terimakasih." Arion mengerutkan dahinya, Tamara. Tamara. Tamara. Ia berusaha menyamakan nama yang gadis tadi ucapkan dengan yang di buku. Sama. Itu artinya, yang ia tabrak tadi adalah murid baru. Dan yang lebih penting adalah; itu artinya Buku ini milik si murid baru itu. "Baik, kamu bisa duduk dengan..." Ibu Maria menyisir pandang dengan kacamata plus yang bertengger di hidungnya. "Oh, Arion." Ternyata, ada yang lebih penting dari yang lebih penting. Anak baru itu duduk bersebelahan dengan Arion? "Sama gue?" Arion menunjuk dirinya sendiri tak percaya. Kursi kosong di sebelahnya yang ia kira membawa keberuntungan—karena ia bisa mendapatkan ruang lebih—justru sekarang malah membuatnya... *** Mario dan Ghita sedikit berlari kecil menghampiri April yang sejak pelajaran kedua menelungkupkan kepalanya ke meja. Keduanya sama-sama tau, April tidak tertidur. Ghita duduk di tempatnya—disamping April sambil meminum bubble tea, dan terkadang mengaduk-aduk minuman tersebut, mengamati bubble yang menari-nari dalam cup sedang. Mario mengerutkan dahi bingung, tapi tidak terlalu mempermasalahkan kelakuan Ghita yang aneh banget itu. Cowok itu menarik kursi yang mana saja agar bisa ikut nimbrung dengan sahabatnya sejak SMP ini. "Prill." Mario memukul kepala April dengan pulpen, tangan yang satunya memegang sandwich cokelat. "Ish! Mario! Jangan gitu! Sakit!" Ghita menyingkirkan tangan Mario. "Nggak lembut banget ngebangunin orang." Ghita tau caranya. Ia mengusap rambut April pelan, mencabut perlahan earphone yang masih menempel di telingannya. Dan perlakuan itu membuat Mario melemparkan tatapan jijiknya. "Yee, kebo dibangunin kayak gitu mah ngga bangun-bangun." Enggan memperhatikan, Mario lebih ingin mengunyah potongan sandwich cokelat terakhirnya. "Berasa sleeping beauty ya di gituin?" "Bacot." Ghita mencibir. Hingga beberapa detik kemudian. April mengangkat kepalanya. Matanya kemerahan khas orang bangun tidur. "Ada apa?" Ghita langsung membulatkan matanya melihat April bangun, namun dahinya mulai mengerut. "Btw, kok lo suka banget tidur, sekarang? Suka minta makanan yang aneh-aneh lagi, jadi malesan sekarang. Beda deh lo pokoknya." "Iya, jadi mirip emak-emak bunting." Cetua Mario. April tertegun. Apakah perubahannya begitu kentara? Tidak. Jangan sampai kedua temannya tau. Cukup April, Arion dan Tuhan saja yang tau. "Ihh apa, sih!" April terkekeh kaku. "Udah cepet ngomong ada apaan? Kayanya ada hot news banget yang kudu gue tau." "Emang ada hot news! Lo ngga tau?" Ghita sumringah. "Kalau gue tau gue ga bakal nanya." "Ada murid baru masuk kelas IPS!" Ghita mengatakannya dengan intonasi yang cukup.. wow. "Kelasnya Arion tepatnya." Sahut Mario. April tertegun, "So?" "Ihh! Muridnya cewek, gila! Dia duduk sebangku sama Arion lagi!" Ghita setengah menjerit ketika sampai pada kalimat ini. April hanya menghela nafas. "Ya udah." "Dih? Lo nggak mau nengokin? Entar cowok lo di embat sama murid baru itu loh." Kata Mario sambil menaikkan sebelah alisnya. Untuk beberapa menit. April duduk diam pada tempatnya. Hingga, entahlah.. apa yang mendorong hatinya untuk menemui Arion di kelasnya. "Mau kemana?" Tanya Ghita "Paling mau nengokin Arion." Cetus Mario dan hanya di balas tatapan risih dari April. "Enggak! Iphone gue ada di Arion." April setengah berbohong. Walau kenyataannya memang benar. Tapi, sebenarnya April juga bisa mengambil iPhonenya setelah pulang sekolah nanti. ~ Dan benar saja, Arion ada disana. Sedang berbincang ringan dengan seorang gadis yang bisa di bilang... cukup cantik untuk April akui. April berusaha menyembunyikan api cemburu yang masih berkobar dalam hatinya. Tapi, April sangat mempercayain Arion sekarang. Tetap mensugesti bahwa ketakutannya tidak akan terjadi. Itu cuma ketakutan. Lagipula, Perempuan ini tidak terlalu menarik. :) Arion mengerjapkan matanya ketika menyadari bangku di depannya berderit. April duduk di bangku Keysha, teman kelasnya. Dan sekarang wajahnya menatap Arion dan Tamara bergantian. "Eh, elo Prill." Arion sedikit bingung bagaimana mengatur situasi. Sedangkan Tamara, yang duduk di sebelahnya semakin gelagapan. Karena ia tidak mau mencari masalah dengan perempuan manapun di sekolah ini. "Nggak usah gitu, Ar! Slow.. aku cuma mau ngambil iPhone-ku.. ada di kamu, kan?" April menampilkan senyum terbaiknya. Arion buru-buru merogoh tas nya, lalu memberikan ponsel April yang di balut silikon bening berwarna pink. "Nih, Ntar pulangnya gue tunggu di depan kelas kaya biasa." "Sip!" April tersenyum, memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Oh, ya! By the way, gue April." Tamara yang tadinya gugup sedikit tenang ketika melihat tangan April terulur dengan ramah. "Tamara, kamu bisa panggil, Mara." "Oh, Oke. Mara gue duluan ya?" "Oke." Setelah beberapa detik April hampir sampai di ambang pintu kelas IPS. Arion menyusulnya. Menyamai langkah April yang sedikit memburu. "Prill, sayang.." April menoleh. Lalu tersenyum. Arion menariknya keluar kelas. Mengajaknya bersandar di dinding luar kelas. "Lo jangan marah." April terkekeh. "Hei, Siapa yang marah?" "Lo ngga envy?" "Berharap banget ya? Aku Envy?" "Ih! Ya enggak, sih. Tapi.. itu artinya, lo ngga sayang gue dong?" "Nggak semuanya berpendapat, kalau cemburu itu tanda sayang." Arion menaikkan alisnya, "Berarti lo nggak sayang?" April tersenyum jahil. "Iya, nggak sama sekali. Hehe." "Dih! Perempuan apaan lu?" "Perempuan cantik!" "Perempuan cantik kepunyaan siapa?" "Kepunyaan Papa." April mulai melangkah mundur dengan senyum menggoda. "Perempuan cantik pacarnya siapa?" April terus melangkah mundur, senyumnya semakin menggoda. Membuat Arion geregetan ingin mengejarnya. "Pacaranya siapa? Ih, sorry, ya! Gue mah ngga punya pacar!" "Dih! Gitu, ya kamu sekarang!" Arion menyeringai kecil, lalu melangkah maju menghapiri tubuh mungil perempuan tadi yang terus melangkah mundur. Tanpa di duga, April merasakan tubuhnya terangkat ke atas. Arion menggendongnya di bahu, seperti karung beras. Sedangkan Arion terus membawa tubuh mungil itu melewati setiap koridor. Tak pernah peduli dengan tatapan cemburu, tatapan aneh dari para teman-teman dan adik kelasnya. Mereka semua sudah tau. Arion siapa. April siapa. "Arion~! Turunin nggak?!" "Makin berat aja lo, Prill!" "Ih, nggak inget?" April mendekatkan mulutnya di telinga Arion untuk sedikit berbisik, "ada baby di perutku." ~ Setelah menurunkan April tepat di depan kelas IPA. Arion kembali ke tempatnya—ke kelas IPS setelah mengobrol sedikit dengan Tim Basket dan teman-temannya di sepanjang koridor. Bisa di bayangkan, Arion memiliki teman yang banyak. Cowok itu bersahabat dengan siapa saja. Membuat salah satu mata seorang perempuan itu diam-diam mengaguminya. "Tadi itu cewek kamu, ya?" Tamara bertanya setelah Arion duduk di kursi dengan nafas sedikit terengah. "Hehe, Iya. Kenapa?" Tamara mengangguk samar. "Nggak ada. Cuma, kalian pacaranya selow banget ya? Kaya di bawa enjoy." "Iyaa, kadang hubungan yang terlalu serius malah jadi cepet putus." ~ . . (TBC)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN