Mobil sport hitam mulai memasuki pekarangan rumah sekitar pukul 10 malam. Disusul dengan keluarnya seorang gadis dari dalamnya.
April melepas sealtbeat sebelum keluar dari mobil. "Aku pulang, ya.. Thanks buat hari ini."
Arion mengulas senyum, menggenggam tangan April seakan menahannya keluar. "Aku janji. Kita bakal hadapi ini sama-sama."
"Aku selalu pegang janji kamu." April kemudian keluar hendak menutup pintu mobil.
"Jaga pola makan. Ada anak kita di dalem sana." Arion menjulurkan kepalanya dari balik kaca mobil.
April menoleh kebelakang, lalu melambaikan tangan. Suara deru mobil di malam hari begitu jelas, hingga samar-samar mulai tak terdengar.
Ketika membuka knop pintu, April mendapati Ghita sedang sibuk mengangkat telepon. Tanpa peduli, April segera melangkahkan kakinya menuju tangga yang meliuk ke lantai dua.
"Prill! Sini!" Suara desissan Ghita, membuat April mengurungkan niatnya ketika baru sampai di anak tangga ketiga.
April menaikkan alisnya, seolah mengucapkan kata, Apa?
"Papa lo nelepon! Mau ngomong katanya.." Desisnya lagi, sambil menyodorkan gagang telepon.
Tiba-tiba bayang-bayang Papa malang melintang di benaknya, seperti sebuah mimpi buruk.
Papa.
Papa.
Papa.
Papa.
"Ehh, Ilaahh.. malah bengong! Ini bokap lo nunggu.." Ghita geregetan, langsung menempelkan gagang telepon pada telinga April.
April sangat gugup sekarang. Seakan tidak mau berbicara dengan Papa, untuk saat ini. Padahal, dua bulan terakhir, April sangat mengharapkan telepon rumah berdering dengan suara berat Papa.
"April.."
Ada jeda sebentar, April menghela nafas. "I-iya, Pa?"
Suara tegas yang sudah jarang melengking di telinganya. April rindu itu.
"Kamu apa kabar? Gimana sekolahnya?"
"B-baik, Pa. Soal sekolah... ya, gitu. Biasa aja, nggak ada apa-apa, kok. Cuma, sebentar lagi, kan April mau Ujian Nasional, jadi suka pulang sore, gitu.."
"Belajar yang rajin yaa.. Biar jadi anak kebanggaan Papa."
Kalimat yang sarat akan amanat itu berhasil membuat hati April mencelus. Seperti ada puluhan palu godam yang bersamaan memukul dadanya. Sesak. Sakit.
Bahkan, April udah nggak mungkin jadi anak kebanggan Papa. Tambah April, dalam hati.
Hening.
"Prill.. kamu nggak apa-apa,kan? Kok diam?"
April mengerjapkan matanya, "I-iya, Pa. Kenapa?"
"Maaf, Papa nggak jadi pulang minggu depan. Tugas Papa di Batam masih banyak, mungkin sekitar empat atau lima bulan lagi. Tapi, Pasti Papa pulang, kok."
April mengangguk, sambil memejamkan mata pasrah. Entah ini kabar baik atau justru kabar buruk. "Oke."
Singkat. Karena April tidak tau harus menjawab apa.
"Maafin, Papa. Papa sayang kamu."
"Yaa, me too."
Setalah itu, Panggilan di akhiri secara sepihak.
~
April terbangun ketika jam menunjukkan pukul 2 Pagi. Keringat dingin langsung bercucuran dan sejak tadi hatinya gelisah. April menoleh kesamping, mendapati Ghita sedang tertidur pulas.
Perutnya sangat lapar. Menginginkan sesuatu yang bisa mengisi perut sekarang juga.
Sate.
Iya, sate.
"Ghit.. bangun.." rengek April.
Ghita melengguh, memutar tubuhnya, "Apa, sihhh? Jangan ganggu kek.."
"Beli sate, Yukk.. Serius deh gue laper.."
"Malem-malem begini mana ada yang jual, sih Prill? Lagian lo aneh-aneh aja, deh."
"Kita coba ke depan. yukkkk.."
"Kagak, ahh! Lo nyari celaka aja! Ntar kalau ada begal gimana?"
"Kita naik mobil.. bukan naik motor."
"Gamau! Males. Tidur, gih! Ntar lapernya juga hilang.."
"Gabisa tidur."
"Yaudah, Satenya beli pake Delivery aja, Elaaahh.."
"Ya, lo mikir lah Ghit! Tukang sate mana pake Delivery? Mimpi lo!"
"Gue ngantuk! Lo tidur sanaa!"
"Gue bilang ngga bisa tidur!"
"Ya udah! Mati aja sono!"
"t*i, lo!"
Putus asa, April mengacak rambutnya frustasi. Ghita justru memunggunginya dengan selimut yang dinaikkan sebatas leher. April mengambil ponselnya di nakas, menghubungi seseorang.
~
TV dibiarkan menyala, dengan lampu padam. Tadinya, Arion berniat menonton acara Uji Nyali. Namun, pada akhirnya, ia juga mendengkur.
Suara ponselnya langsung menusuk telinga. Membuat Arion meraba-raba sekitar karena malas membuka mata. Tanpa melihat Caller ID terlebih dahulu Cowok itu langsung mengangkat telepon.
"Hallo?" Kata Arion, dengan suara khas bangun tidur.
"Kamu belum tidur, kan?"
"Belom.. lagi nonton TV, kok." Siapapun tau, kalau Arion sedang berbohong.
"Serius, belum?"
Suaranya begitu familiar, sehingga Arion menjauhkan ponsel dari telingannya. Mengerjap-ngerjapkan mata guna melihat siapa gerangan yang menelepon dini hari seperti ini.
Begitu melihat nama April tertera disana, Arion langsung berjengit, mendudukan tubuhnya meskipun mata sulit di ajak bekerja sama.
"Iya. Belum, kok! Kenapa, sayang?"
"Kamu mau anterin Sate ke rumah aku nggak? Aku laper. Ghita nggak mau nganterin."
Arion membulatkan matanya. Melirik jam weker di nakas. "Jam segini? Seriusan? Mana ada yang juaaal?"
"Ya, kamu cari, kek!" Suara April melengking, khas Ibu-ibu yang sedang dalam masa PMS. Dari seberang sana, Arion dapat mendengar April menghela nafas, "Lagian yang minta bukan aku."
Oh. Arion mengerti. "Oke. Ya udah, kamu tunggu disana."
"Oke. Sate kambing, yaa.. Pake lontong, satu bungkus aja,"
"Iyaa.."
***
April mengangkat ponselnya begitu berdering. Tertera nama Arion disana, membuatnya tersenyum senang.
"Hallo? Gimana? Udah dapet satenya?"
"Udah, aku udah di depan gerbang rumah kamu sekarang. Tengok jendela, deh."
Begitu mendengarnya, April langsung turun dari ranjang menuju jendela kamar, menyingkap tirainya sedikit. Benar saja, Arion ada disana dengan bungkusan kecil di tangan kanan, dan tangan kirinya memegang ponsel.
April melambaikan tangannya, sebagai kode. Dengan cekatan, April mematikan panggilan, melangkah ke arah tangga dan buru-buru menemui cowok itu.
"Thankyou.. kamu baik, deh. Hehe." April terkekeh, melongok isi bungkusan penuh minat.
"Kapan, sih gua nggak baik."
April hanya tersenyum. Lalu mengajak Arion duduk di kursi Teras rumahnya. Hawa khas pagi hari langsung terasa. Udara segar mulai bisa terhirup hidung. Dingin cukup menusuk tulang, karena April hanya memakai piyama motif boneka.
"Kamu nyari dimana?" Tanya April, sambil mengambil tusuk sate kedua.
"Jauh. Jauhhhh. Bangett.."
"Lebay. Jadi, ini ikhlas atau engga?" April menatap Arion intens.
"Ikhlas, kok.. Ikhlas. Kan buat dia juga." Arion mengelus perut April.
Perutnya masih rata, belum terlalu kentara kalau April sedang mengandung. Namun, janin tetaplah janin. Mahkluk Tuhan yang lambat laun akan terus berkembang, membesar dan memberi tahu semua orang.
April mengunyah tusuk sate kesekian. Mengambil potongan dagingnya satu, lalu menyuapkan ke mulut Arion. "Kalau Mamanya makan, Papanya juga harus makan."
Arion mengunyahnya bulat-bulat. Lalu begitu seterusnya, sampai April berhenti menyuapinya.
"Arion.." Panggil April, masih sibuk dengan tusuk sate.
"Hmm?"
"Aku takut."
"Takut kenapa?"
"Takut, gimana caraku ngasih tau semuanya? Papa.. juga Ghita.. lama-lama dia bakal terus tumbuh. Dan..." April menahan kalimatnya.
"Nggak perlu takut. Karena kita hadapi ini sama-sama. Yang perlu kita lakuin sekarang cuma jalani. Karena selebihnya Tuhan yang nentuin."
April tertegun. Menaruh tusuk sate yang sudah habis. Malam semakin dingin, dan April mengelus lengannya. "Kamu bener. Tapi, aku harap kamu selalu pegang janji kamu. Aku nggak tau, apa yang bakal aku lakuin kalau seandainya kamu kabur. Mungkin, hidupku udah berantakan sekarang."
"Itu cuma ketakutan kamu."
"Semoga, itu cuma jadi ketakutan."
Setelah beberapa detik, kembali hening. Arion melepas sweater tebal yang ia pakai, menyampirkannya ke pundak April. "Jangan sampe kedinginan.."
~
.
.
(TBC)