Bag. 5 : Yakin Cinta?

727 Kata
Tepat ketika Bell Pulang sekolah berbunyi, April sudah terlebih dahulu berada di depan kelas Arion. Beberapa teman laki-laki kelas 12 IPA terkadang menyapanya. Dan hanya di tanggapi dengan senyuman ramah. Maklum, Popular Girl. "Loh? Kamu nungguin ak--" Belum sempat Arion menyelesaikan kalimatnya, tangan April sudah terlebih dulu menarik tangannya. "Ikut aku sekarang! Kita nggak punya banyak waktu." ~ Dan disinilah mereka sekarang. Berdiri di atas rooftop sekolah. Sama-sama menghadap matahari yang hampir terbenam karena hari mulai sore. April memunggungi Arion ketika mereka berada disana. Arion sungguh-sungguh bingung sekarang. "Ada apa?" Tanyanya, lembut, lalu berdiri di samping April, ikut memandangi sorotan matahari. "Kamu sebenarnya sayang nggak, sama aku?" April bertanya, tanpa menolehkan kepalanya. Arion mengangkat alisnya, menolehkan kepala ke samping. "Kok, kamu nanya gitu?" "Jawab ajaa.." Kata April jengah. Wajah mereka yang sama-sama terkena sinar matahari sore sedikit menguning. Kedua mata mereka berubah kecokelatan. Sedangkan dari atas sana, mereka bisa melihat pemandangan kota yang padat di sore hari. ada jeda sejenak sebelum Arion menjawab, "Iya.. sayang, kok." "Kenapa jawabnya kaya ragu gitu? Sebenernya, kamu sayang sama aku nggak?" "Iya! Sayang. Bener-bener sayang, kalau engga, aku ngga akan ngelakuin apapun demi kamu." April menghela nafas panjang. Ia memutar tubuhnya menghadap Arion. Takut untuk menyatakan, Ragu untuk mengatakan sebuah Fakta yang nyaris membuatnya gila. "Kalau aku cacat, kamu masih mau jadi pacar aku?" Arion mengangkat alisnya, pertanyaan aneh yang belum pernah ia dengar. "Tentu." "Kalau tiba-tiba aku ketabrak mobil terus muka aku berubah, kamu masih mau tetep jadi cowok aku?" Rupanya, April sedang mengujinya, pikir Arion. "Iya." "Kalau aku--" "Stop! Nggak perlu di lanjutin. Segimana pun fisik kamu berubah, asal kamu tetap jadi diri kamu sendiri. Aku tetep sayang sama kamu. Yang penting adalah ini." Kata Arion, menunjuk bagian d**a April. Jangan salah fokus-____- "Kasih aku alasan, kenapa kamu masih tetep sayang sama aku!" Dengan enteng, Arion tersenyun mengacak-acak rambut April. "Bodoh! Sayang dan cinta itu nggak butuh alasan. Kalau sayang dan cinta itu beralasan.. itu namanya nggak tulus." "Emang kamu tulus?" "Iya. Tulus. Menurut kamu?" April menghela nafas lagi, lalu kembali memunggungi cowok di belakangnya. Air matanya mulai menggenang lagi. Bagaimana pun juga, ada sesuatu di dalam tubuhnya yang butuh sebuah pengakuan. "Kalau aku... hamil, apa kamu masih mau jadi pacar aku?" Tanyanya pelan, bahkan tidak terdengar, dan nyaris seperti gumaman. Hati Arion mencelus. Butuh hingga beberapa detik sebelum Arion merespon. "Apa? Tadi kamu bilang apa?" April membalikkan tubuhnya menampilkan wajahnya yang sudah kusut oleh air mata. Tangan mungilnya menggenggam lengan Arion. Berharap cowok di depannya ini tidak kabur, pergi, atau yang lebih parah lagi menjauhinya. Itu mimpi buruk. Dan jika terjadi, mungkin April akan merasa sendirian menghadapi dunia yang kejam ini. "Kamu kenapa?" "Kalau aku hamil... apa kamu masih tetep mau jadi pacar aku?" April mengulang kalimatnya lebih jelas. Entah mengapa kalimat sederhana itu mampu membuat Hatinya tersayat hebat, darah di dalam tubuhnya mengalir lebih deras, dan dan jantungnya berpacu cepat. Tubuh Arion mendadak dingin, seakan raganya berada disini, namun jiwanya melayang entah kemana. "Kamu... hamil?" Tanya Arion, dengan suara parau. Entah mengapa, tubuhnya semakin rapuh sekarang. Ditambah lagi mendengar isak tangis April yang semakin menggema. Tiba-tiba April menjerit. "Gue harus gimana sekarang?! Semuanya udah terjadi! Gue nyesel, Ar! Gue nyesel!!" April memukul d**a bidang Arion. Pukulannya cukup keras, namun d**a Arion tetap merasa kebas. Mati rasa. Otaknya masih mencerna kalimat April tadi. Kalimatnya lebih rumit dari sebuah puisi, lebih rumit dari rumus Fisika, lebih rumit dari rumus Matematika, dan lebih rumit dari rumus Kimia. Dengan tangan yang masih bergetar, Arion merengkuh tubuh mungil April. Membiarkan dadanya basah oleh air mata. "Ma-maafin gue. Gu-gue yang salah." Pukulannya semakin melemah. Dan isakan tangisnya semakin terasa. Arion mengecup pucuk kepala April, "Kita hadapi ini bareng-bareng." "Jangan pernah tinggalin gue, Ar! Lo harus janji.." "Y-ya, Gue janji." ~ Sedikit keberuntungan untuk April. Menyadari fakta bahwa ketakutannya tidak akan terjadi. Dan semoga tetap begitu. Ada sedikit rasa lega ketika mengetahui fakta kalau Arion masih mau bertanggung jawab, mengakui janin kecil di dalam perutnya. Pulang dari sekolah tadi, Arion meluncurkan mobilnya menuju Restoran di pinggir kota. Restoran yang cukup terkenal dengan seafood-nya. Juga kebetulan dekat dengan kedai Kopi. Bersama April tentunya. Ketika memasuki pintu restoran, aroma ikan bakar dan udang-udangan langsung menyambut hidungnya. April menghirup penuh minat. Dan singkat cerita, di Meja mereka kini sudah tersaji Ikan Lele Bakar jumbo dan Kepiting Rebus. Disisi-sisinya di temani oleh sambal dan rempah-rempah yang begitu menggoda. April langsung mencomot kedua hidangan tersebut secara bertahap. Mood makan kali ini cukup baik sepertinya. Sedangkan Arion hanya bertopang dagu sambil meniup Cappuccino Latte di depannya. "Makan yang banyak!" Kata Arion, sambil tersenyum. "Thank you, by the way. Papa yang baik!" April membalasnya dengan senyum menyeringai. Tangannya mencubit daging ikan lele, lalu memasukkannua kedalam mulut Arion. Dan dari sini, mereka terlihat memasang wajah tanpa beban. Seakan tidak ada masalah serius yang terjadi. Walaupun di dalam lubuk hati masing-masing, antara April dan Arion sama-sama merasakan kegelisahan. Percayalah, sebesar apa pun masalahnya, asal di hadapi bersama-sama tentu akan terasa ringan. ~ . . (TBC)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN