Selama diperjalanan keduanya saling diam dan sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing. Pangeran Xavier fokus menatap jalanan di depannya sedangkan Putri Moerae sibuk memperhatikan dan menatap takjub setiap detail perjalanan mereka.
“Ini di mana?” tanya Putri Moerae saat Pangeran Xavier menghentikan mobilnya di sebuah tempat yang sangat sepi.
Putri Moerae menoleh pada Pangeran Xavier yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Apa kau tidak akan menjawab pertanyaan ku?” tanya Putri Moerae pada Pangeran Xavier yang masih sibuk dengan dirinya sendiri.
“Puncak tertinggi Aston,” jawab Pangeran Xavier sambil menatap Putri Moerae.
Putri Moerae bergumam meminta Pangeran Xavier mengulang ucapannya.
“Puncak tertinggi Aston, dari tempat ini kau dapat melihat pemandangan kota Aston," ujar Pangeran Xavier menjelaskan.
“Benarkah?” tanya Putri Moerae dengan nada yang bersemangat.
“Apa wajahku terlihat berbohong?” tanya Pangeran Xavier membuat Putri Moerae bergumam lagi dengan mata yang dinaikkan ke atas seraya berpikir.
“Ayok keluar," sambung Pangeran Xavier cepat mengajak Putri Moerae. Dia yakin jika Putri Moerae sedang memikirkan jawaban yang akan membuatnya kesal.
Belum sempat Putri Moerae menjawab Pangeran Xavier, Pangeran Xavier sudah keluar lebih dulu dari mobilnya tanpa mendengar jawabannya.
“Dasar pria menyebalkan,” cerca Putri Moerae sambil menatap Pangeran Xavier yang berjalan di depan mobi dan berjalan ke arah pintu dimana dia berada.
“Ehmm?” kaget Putri Moerae saat Pangeran Xavier membukakan pintu untuk dirinya.
“Ayok turun," ajak Pangeran Xavier setelah membukakan pintu untuk Putri Moerae.
“Hmm, setidaknya dia gentle. Dia membukakan pintu untuk ku meski aku bukan wanitanya," ujar Putri Moerae dalam hati.
“Wah,” takjub Putri Moerae pada apa yang dilihatnya begitu dirinya keluar dari mobil milik Pangeran Xavier. “Kita bisa melihat Aston dari sini," sambung Putri Moerae dengan nada senang.
“Sepertinya aku sudah bilang begitu tadi,” ujar Pangeran Xavier pelan.
Meski mendengarnya, namun Putri Moerae memilih untuk mengabaikannya. Dia memilih untuk menatap pemandangan yang ada di depannya, pemandangan yang mungkin tak bisa dinikmatinya dikemudian hari.
“Pangeran.” Panggil Putri Moerae sopan.
“Ya.”
“Apa aku boleh melihat lebih dekat kesana?” tanya Putri Moerae sambil menunjuk ujung tebing.
“Kau tidak takut jatuh?” tanya Pangeran Xavier bertanya tanpa menjawab boleh atau tidaknya pada Putri Moerae.
“Makanya aku minta izin padamu dulu. Karna jika aku jatuh, kau yang akan disalahkan.” Ujar Putri Moerae polos sambil tersenyum cerah.
Pangeran Xavier menatap Putri Moerae dengan tatpan tajam, Pangeran Xavier tidak menyangka dalam otak anak dnegan umur 17 tahun bisa ada pemikiran yang sangat jahat berbanding terbalik dnegan wajahnya yang seperti malaikat.
“Maaf.” Ujar Pangeran Xavier saat Putri Moerae tetap setia menunggu jawaban atas boleh atau tidaknya dia berjalan mendekati ujung tebing.
“Untuk?” tanay Putri Moerae dengan wajah yang bingung.
“Aku akan mengangkat mu ke atas mobil supaya kau bisa melihat aston lebih jelas. Jadi kau tidak perlu mendekat kesana yang akan membuat mu jatuh lalu mengakibatkan aku yang di salahkan.” Ujar Pangeran Xavier menjelaskan tujuannya.
“Ahhh.” Ujar Putri Moerae sembari menganggukkan kepalanya sebagai tanda dia mengerti atas apa yang diucapakan Pangeran Xavier.
“Tapi wanita mu.” Sambung Putri Moerae dnegan nada yang tidak enak.
“Dia sedang tidak ada disini.” Ujar Pangeran Xavier enteng.
Putri Moerae merentangkan tangannya dengan perasaan sedikit ragu. Pangeran Xavier dnegan cepat mengangkat Putri Moerae naik ke atas mobilnya.
“Kapan kau debut Putri?” tanya Pangeran Xavier setelah dia duduk disebelah Putri Moerae dan bergabung melihat pemandangan kota Aston.
Bedanya, Putri Moerae terlalu fokus pada pandangan di depannya, sedangkan Pangeran Xavier fokus pada apa yang ada di sampingnya, yang tak lain dan tak bukan adalah Putri Moerae.
“Saat ini usia ku 20 tahun. Itu artinya 2 tahun lagi.” Ujar Putri Moerae.
“Hmm.” Gumam Pangeran Xavier sembari menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti.
“Mengapa kau bertanya itu? Apa kau berniat meminang ku?” tanya Putri Moerae tidak seriu dengan pertanyaannya.
“Kau ingin ku pinang?” tanya Pangeran Xavier kembali bertanya tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan Putri Moerae.
“Tentu saja tidak.” Ujar Putri Moerae tegas.
Pangeran Xavier menaikkan sebelah, baru kali ini ada wanita yang menoleknya bahkan sebelum dia benar-benar melamar.
“Aku sangat berharap bisa keluar dari istana. Menikah dengan putra mahkota seperti mu pasti akan membuat ku terkurung di istana.” Jelas Putri Moerae seakan mengerti jika dia sedang di tatap oleh Pangeran Xavier.
“Kau Putri yang aneh.” Ujar Pangeran Xavier membuat Putri Moerae tersenyum.
“Semua Putri berharap menjadi Putri mahkota dan kau malah ingin keluar dari istana.” Ujar Pangeran Xavier lagi.
“Aston terlihat bagus dari atas ini.” Ujar Putri Moerae sambil menatap pemandangan kota Aston yang terlihat sangat megah.
“Apa kau sedang mengalihkan pembicaraan?” tanya Pangeran Xavier.
Putri Moerae melihat Pangeran Xavier sekilas, lalu menatap lagi pemandangan Aston di depannya.
“Aku benci hidup dalam aturan.” Ujar Putri Moerae.
“Apa itu alasan kau kabur?” tanya Pangeran Xavier.
Putri Moerae menganggukkan kepalanya.
“Apa tempat yang kau sukai?” tanya Pangeran Xavier.
“Bumi.” Ujar Putri Moerae dengnan senyum manis di bibirnya.
“Bumi?” tanya Pangeran Xavier memastikan pendengarannya.
“Jangan bilang kau tidak tau?” tanya Putri Moerae dengan wajah kaget nya.
“Jelas aku tau, tapi kenapa dengan bumi?” ujar Pangeran Xavier.
“Apa yang istimewa dibumi?” tanya Pangeran Xavier yang tidak mengerti di mana letak istimewanya Bumi bagi seorang utri Moerae.
Putri Moerae mengangkat bahunya singkat. “ Aku hanya suka disana, disana alami. Tidak seperti disini atau pun ethiopia”
“Tap----.”
“Pandangan setiap orang berbeda, dan kau tidak bisa memaksa apa yang kau nilai sama dengan orang lain.” ujar Putri Moerae cepat memotong ucapan Pangeran Xavier.
Pangeran Xavier diam dengan mata yang masih menatap Putri Moerae.
“Apa kau menikmati hidup menjadi putra mahkota?” Tanya Putri Moerae sambil menoleh pada Pangeran Xavier.
“Ya tentu..” ujar Pangeran Xavier dengan nada mantap.
Putri Moerae menganggukkan kepalanya.
“Ahh iya.” Ujar Putri Moerae setelahnya.
“Apa?” tanya Pangeran Xavier.
“Aku penasaran..” ujar Putri Moerae.
“Tentang?” tanya Pangeran Moerae lagi.
“Apa kau benar-benar sedang bersama Bangsawan kelas 2?” tanya Putri Moerae dengan nada polos dan mata yang mengedip menunggu jawaban dari Pangeran Xavier.
“Pertanyaan mu tidak bermutu.” Ujar Pangeran Xavier setelah diam beberapa saat.
“Pertanyaan ku atau hubungan mu yang tidak bermutu?” tanay Putri Moerae lagi.
Pangeran Xavier menatap Putri Moerae sinis, Putri Moerae hanya membalasnya dengan tatapan sinis.
“Kau tidak perlu menjawab, aku sudah tau jawabannya.” Ujar Putri Moerae karna Pangeran Xavier tidak juga menjawab pertanyaannya.
“Jawaban apa?” tanay Pangeran Xavier dengan kedua alis yang menyatu tanda kebingungannya akan pernyataan Putri Moerae.
Putri Moerae hanya menggedikka bahunya singkat.
“Dasar aneh..”
“Bolehkah aku meminta mu untuk diam Pangeran? Aku ingin menikmati pemandangan ini.” Ujar Putri Moerae sambil menoleh pada pemandangan yang ada di depannya.
“Ya nikmati lah, aku juga tidak ingin bicara padamu lagi.” Ujar Pangeran Xavier. Putri Moerae menatapnya dengan senyum yang ramah.
Pangeran Xavier menghela nafas panjang. “Mengapa dia terlihat cantik saat tersenyum.” Ujar Pangeran Xavier dalam hati.
30 menit Putri Moerae hanya diam sambil melihat pemandangan aston yang ada dimatanya.
“Putri.” Panggil Pangeran Xavier.
“Yaa.”
“Kufikir kau tidur.” Ujar Pangeran Xavier asal.
“Hmm?”
“Kau hanya diam selama 30 menit Jadi kufikir kau tidur.” Ujar Pangeran Xavier.
“Bagaimana bisa aku tidur dengan pemandangan yang bagus?” tanya Putri Moerae.
Pangeran Xavier tersenyum miring.
“Apa kau tidak ada rencana untuk tinggal di aston?” tanay Pangeran Xavier membuat Putri Moerae menoleh cepat pada Pangeran Xavier.
“Apa kau sedang melamarku?” tanya Putri Moerae dengan nada yang sangat syok.
“Apa kau akan mempertimbang kan?” tanya Pangeran Xavier menanggapi kekagetan Putri Moerae.
“Tentu saja tidak..” ujar Putri Moerae.
“Waahh kau benar-benar Putri yang aneh.” Ujar Pangeran Xavier tak percaya dengan jawaban Putri Moerae.
“Kau sudah mengucapkan itu berkali-kali hari ini.” Ujar Putri Moerae mengingatkan Pangeran Xavier.
“Kepribadianmu berbeda dengan Putri fiona dan Putri lauren.” Ujar Pangeran Xavier.
“Kau mengenal mereka?” tanya Putrti Moerae.
“Tentu, selain cantik mereka Putri yang anggun, dan itu sangat bertolak belakang dengan mu.” Ujar Pangeran Xavier sambil tersenyum miring pada Putri Moerae.
“Terima kasih atas pujian mu.” Ujar Putri Moerae membalas senyuman Pangeran Xavier.
“Kufikir itu hinaan bukan pujian.” Ujar Pangeran Xavier dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Tidak bagiku.” Ujar Putri Moerae lalu Putri Moerae melompat turun dari mobil.
“Kau mau kemana?” tanya Pangeran Xavier.
“Aku lapar. Bisa kah kita mencari makan?” tanya Putri Moerae.
“Hmm?”
“Ini sudah jam ku untuk mendapat makanan.” Ujar Putri Moerae lagi.
Pangeran Xavier menatap Putri Moerae bingung.
“Aku ingin makan..” ujar Putri Moerae.
“Baiklah kita pulang.” Ujar Pangeran Xavier sambil melompat turun.
“Aku tidak ingin pulang aku hanya ingin makan.” Ujar Putri Moerae menolak ajakan Pangeran Xavier.
“Kita makan di istana.” Ujar Pangeran Xavier.
“Tidak, kita makan diluar istana.”
“Putri.”
“Kau harus menepat janji mu. Aku ingin keliling aston seharian.” Ujar Putri Moerae dengan wajah cemberut yang terlihat sangat lucu.
“Baiklah.” Ujar Pangeran Xavier. “Ayok.” Ajak Pangeran Xavier sambil mengulurkan tangannya. Putri Moerae langsung meraih tangan Pangeran Xavier.
“Cepatlah Pangeran aku harus mengisi perutku.” Ujar Putri Moerae dengan nada bersemangat.
“Kau mau ku isi apa di perutmu?” tanay Pangeran Xavier sambil menunduk menatap Putri Moeraae.
“Steak? Pasta? Pizza? Lasagna? Cheeseburger?” ujar Putri Moerae sambil tersenyum memikirkan isi pikirannya yang penuh dengan makanan.
“Kufikir kau ingin ku isi perutmu dengan anak.” Ujar Pangeran Xavier dengan nada tenang.
“Hya!! Apa kau gila?!!” pekik Putri Moerae.
Pangeran Xavier tertawa melihat ekspresi Putri Moerae. “Tenang lah Putri, aku hanya bercanda.” Ujar Pangeran Xavier.
“Lawakan mu terlalu dewasa.” Ujar Putri Moerae dengan nada kesal.
“Kau saja yang terlalu sensitif Putri. Tidak mungkin aku mengisinya dengan anak, aku masih sangat waras.” Ujar Pangeran Xavier menjelaskan.
“Aku tidak ingin menginap di penjara aston karna menghamili mu tanpa menikahimu terlebih dahulu. Walaupun sepertinya bunda menginginkan itu. Tapi tetap saja tidak mungkin ku lakukan.” Sambung Putri Moerae.
“Wanitaku lebih cantik dari mu.” Ujar Pangeran Xavier melanjutkan ucapannya.
“Benarkah wanita mu lebih cantik dari ku?” tanya Putri Moerae.
“Tentu saja.” Ujar Pangeran Xavier.
“Tapi Ratu bilang pada ku tidak ada wanita aston yang melebihi kecantikan ku.” Ujar Putri Moerae sambil mendongak menatap Pangeran Xavier.
“Apa kau sedang membela diri? Apa kau berharap menjadi Putri mahkota aston?” tanya Pangeran Xavier.
“Aku masih sangat waras untuk itu Pangeran.”
“Lalu mengapa kau menyebut dirimu lebih cantik Putri?” tanay Pangeran Xavier.
“Untuk menyadarkan mu.”
“Menyadarkan ku bahwa bunda lebih menginginkan kau untuk menjadi menantunya ketimbang wanitaku?” tanya Pangeran Xavier menggoda Putri Moerae.
“Sepertinya kau yang ingin menjadi kan ku Putri mahkota aston.” Ujar Putri Moerae.
Pangeran Xavier mengangkat bahunya singkat.
“Ku harap itu tidak akan terjadi Pangeran..” ujar Putri Moerae dengan nada serius.
“Kau berdoa saja pada tuhan, agar tidak membuat skenario hidup mu seperti itu Putri..” uajr Pangeran Xavier tak kalah serius dengan Putri Moerae.
===
==
=
Setelah berkeliling beberapa saat guna mencari restoran untuk Putri Moerae mengisi perutnya dengan makanan.
“Kau mau apa?” tanya Pangeran Xavier yang sedang menatap sekeliling restoran sambil tersenyum.
“Apapun, yang jelas aku ingin makan yang banyak.” Ujar Putri Moerae sambil tersenyum lebar.
“Baiklah tunggu sebentar.” Ujar Pangeran Xavier.
Putri Moerae menganggukkan kepalanya mengiyakan perintah Pangeran Xavier. Pangeran Xavier pergi memesan makanan, setelah selesai dia kembali duduk disebelah Putri Moerae.
“Mengapa kau duduk disebelah ku? Mengapa tidak disebrang ku?” tanya Putri Moerae.
“Supaya aku tidak melihat wajah mu saat makan.” Ujar Pangeran Xavier.
“Mengapa jika melihat wajahku?” tanya Putri Moerae sambil menatap Pangeran Xavier dengan wajah polos.
“Aku tidak sanggup melihatnya, kau terlalu jelek..” ujar Pangeran Xavier asal.
“Untung saja aku tidak pemakan manusi. Kalau tidak, sudah kutelan kau Pangeran.” Ujar Putri Moerae dengan nada kesal.
“Wajahmu tidak cocok untuk itu.”
“Terserah.. Apa makanan ku masih lama?” tanya Putri Moerae.
“Bersabar lah Putri.” Ujar Pangeran Xavier sambil manatap Putri Moerae.
“Baiklah..”
“Xavier?” panggil seseorang dengan nada yang lembut.
“Alicia? Mengapa kau disini?” tanya Pangeran Xavier setelah menatap orang yang menatap Orang yang memanggilnya.
Dia adalah Alicia Karenina, seorang Lady Bangsawan kelas 2 Aston. Wanita yang sedari tadi menjadi topik pembicaraan mereka.
“Bukankah aku yang seharusnya bertanya begitu? Kau makan di restoran dengan seorang wanita..” ujar Lady Alicia sambil menatap Pangeran Xavier dan Putri Moerae.
“Hmm alicia.. D-dia adalah-----.”
“Putri moerae dari kerajaan ethiopia.” Ujar Putri Moerae melanjutkan ucapan Pangeran Xavier yang sangat lama keluar dari mulut Putra Mahkota Aston tersebut.
Lady alicia melihat Putri Moerae sekilas lalu melihat Pangeran Xavier meminta penjelasan.
“Apa dia seorang Putri? Bukan kah tadi aku mengenal kan diri sebagai Putri? Seharusnya dia menjawab ku bukan mengacuhkan ku.” Batin Putri Moerae sambil emmanyunkan bibirnya.
“Bukankah Ethiopia adalah kerajaan terbesar setelah aston? Apa Ethiopia tidak memiliki pengaruh lagi sekarang?” tanya Putri Moerae dalam hati.
“Apa kau seorang Putri? Atau---.”
Lady Alicia hanya diam.
“Alicia aku bisa menjelaskan..” ujar Pangeran Xavier.
“Ahhh..” ucap Putri Moerae sambil menganggukkan kepalanya.
Lady Alicia melihat Putri Moerae yang kembali bersuara.
“Jadi dia Bangsawan kelas 2 pacar Pangeran Xavier. Berani sekali dia mengacuh kan ku dengan statusnya itu.” Kesal Putri Moerae dalam hati.
“Ak----.”
Ucapan lady alicia terpotong karena pelayan datang mengantarkan makanan Putri Moerae.
“Wahh makananku.” Ujar Putri Moerae senang saat menatap makanannya.
Lady Alicia menatap kesal Putri Moerae.
“Putri..” panggil Pangeran Xavier.
“Ya.” Jawab Putri Moerae sambil menatap Pangerean Xavier yang berada di sebelahnya..
“Kau makan lah dulu, aku akan bicara sebentar dengan-----.”
“Wanita mu?” tanya Putri Moerae memotong ucapan Pangeran Xavier.
Pangeran Xavier hanya diam.
“Lanjutkan lah, aku ingin makan makanan ku ini.” Sambung Putri Moerae.
“Kau tunggu disini, jangan kemana-mana. Aku tidak ingin keliling aston untuk mencarimu.” Ujar Pangeran Xavier memberi perintah.
“Dia sama saja seperti Felix.. Cerewet!” ujar Putri Moerae denagn nada pelan.
“Hmm?”
“Baik putra mahkota.” Ujar Putri Moerae dengan senyum yang terpaksa.
“Dasar Putri aneh..”
“Pergilah Pangeran buruk rupa!” ujar Putri Moerae mengusir Pangeran Xavier.
“Inget jangan pergi kemana pun.” Ujar Pangeran Xavier mengingatkan perintahnya sebelumnya.
Putri Moerae sama sekali tidak menimpali lagi. Dia lebih memilih untuk melahap makanan nya. Pangeran Xavier menarik lembut lady alicia keluar. Dua jam berlalu, Putri Moerae sudah menghabiskan makanannya. Tapi Pangeran Xavier sama sekali belum kembali.
“Dimana Pangeran buruk rupa itu?! Jangan bilang dia meninggalkan ku disini?” kesal Putri Moerae sambil melihat sekelilingnya. “Aku bahkan tidak tau jalan pulang.” Sambung Putri Moerae dengan wajah murung.
Bersambung.