Keesokan harinya Putri Moerae meminta izin pada Pangeran Felix untuk jalan-jalan di taman istana aston. Awalnya Pangeran Felix tidak mengizinkan tapi berkat jurus andalannya, akhirnya Pangeran Felix mengalah dan mengizinkan Putri Moerae untuk berkeliling istana aston.
“Lusinta," panggil Putri Moerae.
“Ya Putri,” jawab Lusinta sopan.
“Kita akan pulang besok bukan?” tanya Putri Moerae sambil menatap asistennya.
“Besok siang tepatnya Putri.”
“Setelah kembali ke Ethiopia urus kepergian ku ke bumi,” pinta Putri Moerae dengan nada suara yang lembut.
“Tap----
“Aku akan minta izin pada raja. Seharusnya dia mengizinkan, aku pulang sebelum waktunya pada perjalanan ku sebelumnya dan aku berperilaku baik selama di sini," ujar Putri Moerae memotong ucapan Lusinta.
“Baik Putri," ujar Lusinta menurut.
Setelahnya keduanya berjalan tanpa saling berbicara satu sama lain, sampai Lusinta memanggil Putri Moerae.
“Putri.”
“Ya?”
“Ku dengar Putri berdansa dengan putra mahkota Aston," ucap Lusinta berbicara mengenai malam acara Putri Helena.
Tadi malam saat pesta ulang tahun Putri Helena secara mengejutkan Putri Moerae tau jika pria kuda yang sempat berselisih tegang dengannya adalah seorang Putra Mahkota yang diisukan sedang mencari pendamping. Tak selesai sampai di situ, Putri Moerae kembali terkejut saat Putra Mahkota Aston itu datang menghampirinya dan mengajaknya untuk berdansa.
“Hmm ya,” ujar Putri Moerae membenarkan.
“Apakah dia tampan seperti rumor yang beredar?” tanya Lusinta menggoda Putri Moerae.
“Tidak, dia jelek sama seperti Felix," jawab Putri Moerae kembali mengingat wajah Pangeran Xavier.
“Sepertinya kau harus mengobati matamu Putri. Bagaimana bisa kau mengatakan pria tampan seperti ku jelek?” ujar seorang Pria yang muncul dihadapan mereka, dia adalah Pangeran Xavier.
Putri Moerae menghadapkan badannya pada Pangeran Xavier lalu tersenyum miring. “Dan pagi ini kau semakin jelek di mata ku Pangeran," sahut Putri Moerae dengan nada sopan dan senyum di bibirnya.
“Apakah kau asisten Putri ini?” tanya Pangeran Xavier sambil menatap Lusinta yang berada satu langkah dibelakang Putri Moerae.
“Y---ya Pangeran,” jawab Lusinta terbata-bata.
“Kau harus memeriksa matanya nanti saat kau kembali ke ethiopia, atau aku bisa mengenalkan seorang dokter untuknya," ujar Xavier dengan nada yang terlihat bercanda namun wajah serius.
Lusinta hanya diam, dia tidak tau harus menjawab apa. Jika dia menjawab iya maka dia akan ditelan hidup-hidup oleh Putrinya yang sedang menatap tajam Pangeran Xavier. Namun jika dia menjawab tidak, Pangeran tampan di depannya mungkin yang akan menelannya hidup-hidup.
“Pastikan dia mendapat mata yang baik nanti,” sambung Pangeran Xavier masih dengan wajah seriusnya.
“Bisakah kau hentikan omong kosong mu itu Pangeran?” tanya Putri Moerae malas menanggapi percakapan aneh Pangeran Xavier.
Pangeran Xavier hanya tersenyum miring. “Apa kau sudah siap Putri?” tanya Pangeran Xavier membuat Putri Moerae menoleh padanya dengan tatapan yang berbeda dengan sebelumnya, kali ini dia menatap Pangeran Xavier dengan tatapan yang berbinar.
“Apa kita akan pergi sekarang?” tanya Putri Moerae bersemangat.
“Tak apa jika kau ingin pergi kapan-kapan," balas Pangeran Xavier dengan senyum diakhir kalimat.
“Tidak! Aku ingin pergi sekarang," ujar Putri Moerae tegas.
“Putri,” panggil Lusinta.
“Bisakah kau bilang pada Felix jika aku pergi dengan Pangeran jelek ini. Ku yakin Felix tidak akan marah karena aku tidak pergi sendiri,” ujar Putri Moerae dengan mata yang menatap Lusinta penuh intimidasi.
“Dan aku juga tidak kabur kali ini, aku diajak oleh pria buruk rupa ini,” sambung Putri Moerae menegaskan tujuannya.
“Dasar Putri kabur,” ujar Xavier dengan nada pelan namun masih bisa terdengar oleh Putri Moerae.
“Diam lah Pangeran buruk rupa!” kesal Putri Moerae.
“Tap----
“Dia akan pergi bersama ku, aku akan memastikan jika dia tidak kabur dan aku juga akan mengutus asisten ku untuk bicara pada Felix," ujar Pangeran Xavier yang memotong ucapan Lusinta.
“Baik lah Putri," ujar Lusinta pasrah akhirnya mengizinkan Putri Moerae pergi bersama Pangeran Xavier.
“Aku pergi Lusinta” ujar Putri Moerae pamit sambil melambaikan tangannya kearah Lusinta yang sangat berat membiarkan Putrinya itu pergi tanpa dirinya.
“Hati-hati Putri,” ujar Lusinta seperti akan melepas anaknya pergi dengan prianya.
Setelah berpamitan Putri Moerae dan Pangeran Xavier berjalan berdampingan. Keduanya berjalan dengan jarak yang tak cukup dekat namun tak jauh.
“Apa dia benar asisten mu?” tanya Pangeran Xavier membuka percakapan.
“Ya."
“Orang-orang akan mengira jika dia seorang Putri seperti mu atau setidaknya Bangsawan dari cara mu memperlakukan nya," ujar Pangeran Xavier membuat Putri Moerae mendongak menatap dirinya.
“Apa cara ku memperlakukan nya salah?” tanya Putri Moerae dengan dahi yang mengerut heran.
“Tidak, tidak salah. Namun untuk seorang pelayan menurutku itu terlalu berlebihan,” jawab Pangeran Xavier membalas tatapan Putri Moerae.
“Sepertinya istana dan kerajaan bukanlah tempat yang sesuai untukku,” sahut Putri Moerae sembari mengalihkan tatapannya dari Pangeran Xavier.
“Maksud mu?” tanya Pangeran Xavier bingung.
“Semua keluarga ku selalu protes dengan cara ku memperlakukan asisten ku. Menurut mereka aku terlalu memperlakukannya seperti seorang teman dan itu terlalu berlebihan. Dan menurut mereka itu akan memicu hal buruk ke depannya," jawab Putri Moerae bercerita.
Pangeran Xavier menganggukkan kepalanya setuju dengan pemikiran keluarga Putri Moerae.
“Apa Raja James tidak marah akan hal itu?” tanya Pangeran Xavier penasaran.
“Tentu dia marah.” Ujar Putri Moerae cepat.
“Jadi apa yang kau lakukan, sehingga dia membiarkan mu melakukan hal itu?" tanya Pangeran Xavier.
“Membujuknya."
“Dengan cara?”
“Merengek setiap hari tanpa henti. Aku mengatakan pada Ayah jika aku lebih membutuhkan seorang teman ketimbang asisten yang seperti b***k," ujar Putri Moerae tulus.
“Dia menerima itu?” tanya Pangeran Xavier sangsi.
“Siapa yang bisa menolak ku, Raja sekalipun tidak akan sanggup menolak ku," jawab Putri Moerae percaya diri.
“Itu karena kau anaknya,” ujar Pangeran Xavier mencoba mengabaikan kenyataan jika memang tidak ada satu orang pun yang sanggup untuk menolak Putri Moerae.
“Tapi aku bukan anakmu.” Ujar Putri Moerae tiba-tiba.
“Aku tidak bilang itu aku.”
“Dan kau tak menolak permintaanku untuk keliling Aston hanya berdua dengan mu,” ujar Putri Moerae mencoba menyudutkan Pangeran Xavier.
“Itu karna aku sudah berjanji.”
“Ya, ya, ya, memang benar kau sudah berjanji. Namun sebelum kau berjanji kau juga sama sekali tidak menolak ku,” ujar Putri Moerae membuat Pangeran Xavier diam tak berkutik.
Dia sudah kalah telak dihadapan Putri kecil ini.
Pangeran Xavier tersenyum miring dan menatap Putri Moerae yang sedang berjalan dengan tatapan lurus ke depan.
“Bibir mu seraya menghipnotis orang ketika kau berbicara. Sehingga tidak ada yang bisa menolak permintaan mu Putri.” batin Pangeran Xavier.
“Kita akan naik apa?” tanya Putri Moerae menoleh pada Pangeran Xavier yang sedang menatapnya.
Pangeran Xavier mengalihkan tatapannya dengan cepat, tak ingin Putri Moerae menyadari jika dia sedang kalang kabut menghindari tatapan Putri Moerae.
“Tentu saja mobil.” Ujar Pangeran Xavier setelah berdeham pelan.
“Tidak bisa kah kita naik kuda?” tanya Putri Moerae.
“Apa kau gila? Kau ingin berkeliling Aston dengan kuda?” tanya Pangeran Xavier dengan tatapan mata tak percaya.
“Kelihatannya itu menyenangkan.” ujar Putri Moerae.
“Kau sungguh sudah gila. Aston luas Putri, tidak sekecil pacuan kuda.” Ujar Pangeran Xavier mencoba memberi gambaran pada Putri Moerae.
“Sayang sekali. Padahal aku ingin menaiki kuda mu yang ku sentuh kemarin.” ujar Putri Moerae dengan nada yang terdengar kecewa.
“Di dalam mimpi mu!” ujar Pangeran Xavier tegas. “Aku tak mengizinkan orang untuk menyentuhnya apalagi menaikinya.” Sambung Pangeran Xavier.
“Kau sangat pelit!” cerca Putri Moerae.
Pangeran Xavier tidak menimpali omongan Putri Moerae lagi. Karna ada mobil yang berhenti di depan mereka, mobil tersebut adalah mobil yang akan mereka kendarai untuk berkeliling Aston.
“Pangeran,” sapa Jonny, Asisten Pangeran Xavier.
“Biar aku yang menyetir,” ujar Pangeran Xavier dnegan anda tegas.
“Tapi Pangeran."
“Kau bisa mengikuti dengan mobil lain di belakang,” ujar Pangeran Xavier memotong ucapan Asistennya.
Putri Moerae yang berada di sebelah Pangeran Xavier menoleh dan menatap sinis Pangeran Xavier. Karna ucapan Pangeran Xavier barusan sama saja dengan melanggar perjanjian diantara mereka.
“Baik Pangeran.” ujar Jonny mengiyakan perintah Pangerannya.
Pangeran Xavier berjalan mendekat pada mobil dan membukakan pintu untuk Putri Moerae. “Silahkan masuk Putri," ujar Pangeran Xavier sopan dengan mata yang menatap Putri Moerae yang tengah menatapnya tajam.
“Kau tidak memenuhi janji mu!” kesal Putri Moerae.
“Masuklah, kita bicara di dalam," ujar Pangeran Xavier.
Putri Moerae bergeming di posisinya, tidak mau masuk dan masih menatap tajam Pangeran Xavier. Pangeran Xavier mendorong pelan badan Putri Moerae ke dalam mobil dan memastikan kepala Putri Moerae tidak terbentur.
“Ikutin aku dengan jarak aman, ingat untuk tidak terlalu dekat.” perintah Pangeran Xavier pada Jonny.
“Baik Pangeran.”
Pangeran Xavier sedikit berlari menuju pintu kemudi dan segera masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan sambutan tajam dari mata Putri Moerae.
“Apa kau marah?” tanya Pangeran Xavier.
“Apa aku berhak untuk marah?” tanya Putri Moerae.
“Hmm ya--- sebenarnya tidak.” ujar Pangeran Xavier sambil menatap Putri Moerae.
“Aku tidak marah padamu, aku hanya kesal jika orang berbohong pada ku," pungkas Putri Moerae.
Pangeran Xavier menganggukkan kepalanya.
"Tapi sesungguhnya aku ingin marah, tapi aku tau posisi mu. Maka dari itu aku hanya kesal,” ujar Putri Moerae menjelaskan panjang lebar tentang apa yang tengah dirasakannya saat ini.
“Maksud mu tau posisi ku?”
“Kau pria yang sudah memiliki wanita. Wajar kau tak ingin berjalan berdua dengan wanita lain, karna aku yakin kau tak ingin wanita mu cemburu jika mengetahui itu.” jawab Putri Moerae sambil tersenyum tipis pada Pangeran Xavier.
Pangeran Xavier diam tak menjawab, bukan karna dia tak mau, namun suaranya terasa tercekat saat ini.
“Dan juga dimana pun itu Putra Mahkota selalu diperlakukan begitu bukan? Tak bisa pergi tanpa asisten, bahkan aku yang hanya Putri tidak boleh keluar tanpa asisten.” Sambung Putri Moerae lagi.
“Alasan kedua yang kau sebutkan dapat ku terima dengan logika,” Ujar Pangeran Xavier membuat Putri Moerae menatap bingung Pangeran Xavier.
“Tenang saja dia hanya mengikuti kita dengan jarak aman.” Ujar Pangeran Xavier sebelum menghidupkan mesin mobilnya.
“Bisa kita mulai tour Aston nya? Aku sudah tidak sabar melihat Aston.” tanya Putri Moerae dengan wajah bersemangat.
“Tak perlu ku ingatkkan jika kau sedang di Aston saat ini bukan?” tanya Pangeran Xavier.
“Aku tau kau bukan Pangeran yang bodoh, jadi cepat lah jalan.” Kesal Putri Moerae.
“Dasar----
“Apa?" tanya Putri Moerae cepat sebelum Pangeran Xavier menyelesaikan ucapannya.
“Tidak ada," jawab Pangeran Xavier. "Apa ada tempat khusus yang ingin kau kunjungi?” tanya Pangeran Xavier setelahnya.
“Tidak. Aku tidak tau tempat apa saja yang ada di aston Bisakah kau membawa ku ke tempat yg menurutmu bagus.” Pinta Putri Moerae.
“Baiklah. Aku akan membawa mu ke tempat yang menurut ku bagus.” Ujar Pangeran Xavier sembari menjalankan mobilnya.
Putri Moerae tersenyum lebar saat Pangeran Xavier menjalankan mobilnya dan mulai membelah jalanan.
Pangeran Xavier tersenyum tipis melihat senyum Putri Moerae. “Cantik.” Puji Pangeran Xavier dalam hati. “Sudah jelas dia cantik, dia Putri bungsu Ethiopia.” Sambung Pangeran Xavier dalam hati.
Bersambung..