Dhika melepaskan kemeja yang di gunakannya hingga bertelanjang d**a dan menahan luka tembak di punggung Angga tepat di dekat jantungnya untuk menghentikan pendarahannya. “Bertahanlah,” ucap Dhika. “Maafin gue Dhik,” ucap Angga membuat Dhika menatapnya. Mata Angga berkaca-kaca karena rasa sakit juga rasa sakit di dalam hatinya. “Pengorbanan inipun tak bisa menghapus dosa gue sama lu di masalalu. Luka yang gue torehkan di hidup lu dan Lita tak akan pernah bisa termaafkan,” serunya berusaha menahan rasa sakitnya hingga butiran keringat memenuhi pelipisnya sebesar biji jagung. “Apa maksud lu? gue dan Lita sudah memaafkan lu, itu adalah masalalu.” ucap Dhika. “Tidak, rasa bersalah itu masih terus menghantui gue.

