“Apa ada yang lucu?” tanya Dhika saat melihat Okta masuk ke dalam ruangannya.
“Ah wanita itu sungguh menggemaskan,” seru Okta tersenyum penuh arti seraya mengambil duduk di atas sofa yang ada di ruangan Dhika.
“Nela lagi?” seru Dhika mengikuti Okta duduk di sofa dengan membawa dua botol minuman kaleng dan menyimpannya di dekat Okta.
“Iya siapa lagi. My sweet enemy,” seru Okta.
“Ck, lebay.”
Okta mengambil minumannya dan membuka tutupnya. Kemudian ia meneguknya cukup banyak.
“Gimana kerjaan lu?” tanya Dhika.
“Ah semuanya lancar. Gue yakin cepat atau lambat investor dari perusahaan sana akan jadi milik gue,” seru Okta penuh percaya diri.
“Awal yang baik,” seru Dhika.
“Gimana perkembangan hubungan lu dengan Lita?”
“Masih gitu-gitu aja,” jawab Dhika meneguk minumannya.
“Oh iya barusan gue liat Dokter Claudya menangis. Katanya lu tolak dia?” tanya Okta.
“Tidak. Gue hanya menjelaskan kalau gue hanya mencintai satu wanita dan tidak bisa mencintai wanita lain lagi,” ucap Dhika.” Gue tidak mau dia terus menaruh harapan sama gue. Sudah jelas gue hanya menginginkan Lita.”
“Yayaya, gue paham.”
◄►
Dhika dan Okta tengah nge-gym bersama, karena ini akhir pekan. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama untuk nge-gym. Dhika yang tengah melakukan pecdeck fly, sedangkan Okta tengah melakukan calf press. Keduanya saling berdampingan.
“Gimana perkembangan lu dan Lita?” tanya Okta.
“Begitu saja, tidak berubah. Tapi gue bisa merasakan kalau dia masih mencintai gue. Walaupun dia masih menahannya dan seakan menyembunyikan perasaannya sendiri,” ujar Dhika masih sibuk dengan aktivitasnya.
“Semuanya butuh proses, Dhik. Gue yakin dia masih mencintai lu, tapi rasa sakitnya juga masih ada. Lu harus terus berjuang buat ngambil hatinya kembali,” ujar Okta yang sibuk melakukan calf press.
“Iya”
Peluh sudah membanjiri wajah dan badan mereka berdua. Kaos yang mereka pakaipun sudah basah karena keringat.
Dhika selesai melakukan olahraganya dan segera merogoh botol aqua dan meminumnya. Saat ia tengah meminum air dalam botol aqua, terlihat di televisi berita hari ini.
Di televisi itu menayangkan berita tentang bencana alam. Telah terjadi gempa berkekuatan 9,3 Skala Richter dan disusul oleh tsunami yang menghantam Aceh, Pantai Barat Semenanjung, Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri langka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika. Gempa terjadi pada waktu tepatnya jam 7:58:53 WIB.
Dan saat itu juga handphone Dhika berbunyi dan menampilkan nama Om Hans di sana, segera Dhika tekan tombol hijau untuk mengangkatnya.
Setelah mematikan telephonenya, Dhika segera menyambar kunci mobilnya dan juga jaketnya.
“Mau kemana lu?” tanya Okta yang sudah berdiri di samping Dhika.
“Gue harus ke rumah sakit, ada hal penting katanya.” Ujar Dhika.
“Oke, Kalau begitu hati-hati di jalan,” ujar Okta seraya meminum minumannya.
“Sip” Dhikapun bergegas pergi.
Okta menatap televisi yang menayangkan berita gempa dan tsunami itu. Okta merasa ngeri melihat kondisi yang terekam oleh camera televisi.
◄►
Dhika dan beberapa Dokter dan Suster lainnya mendapat tugas yang cukup mulia. Mereka di utus untuk pergi ke Aceh. Dan disinilah Dhika sekarang tengah membereskan pakaiannya ke dalam tas ransel miliknya.
Tak lama Okta datang dengan sudah memakai tas ransel berukuran besar. Membuat Dhika mengernyitkan dahinya.
“Lu mau pindahan kemana?” tanya Dhika bingung melihat Okta.
“Ck, gue mau ikut lu ke tempat bencana alam,” ujar Okta.
“Kenapa? Ah gue tau, lu pengen ikut karena Chacha ikut kan?” ujar Dhika.
“Emang si Nela ikut?” tanya Okta mengernyitkan dahinya.
“Lu nggak tau?” tanya Dhika membuat Okta menggelengkan kepalanya.
“Nggak, orang gue ikut lu karena ingin jadi relawan dan ikut membantu,” ujar Okta santai seraya duduk di sisi ranjang.
“Berjiwa sosial juga lu,” ejek Dhika.
“Iyalah, gue bukan tipe orang yang tegaan. Gue merinding banget pas lihat beritanya, makanya gue tadi balik dulu ke Bandung dan bawa beberapa pakaian,” ujar Okta.
“Terus perusahaan lu gimana?” tanya Dhika.
“Ada si Andre asisten gue. Dia yang akan menghandle buat sementara,” ujar Okta santai membuat Dhika mengangguk paham dan kembali membereskan pakaiannya.
“Lu serius si Nela ikut?” tanya Okta penasaran.
“iya, gue serius,” ujar Dhika sibuk mengepak pakaiannya.
“Bagus deh, jadi bisa menyelam sambil minum air.”
“Dasar buaya,” ujar Dhika melempar handuk ke arah Okta membuat Okta semakin terkekeh.
◄►
Semuanya sudah berkumpul di bandara soekarno Hatta, tinggal menunggu kedatangan Dhika. Semuanya akan menaiki pesawat jet milik tentara militer yang akan sama-sama membantu korban bencana alam di Banda Aceh. Di sana sudah ada Dr. Thalita, Dr. Khairul, Dr. Reza, Dr. Claudya, Suster Meliana, Dr. Clarissa, Dr. Riri (asisten Clarissa), dan Sally (Suster Dr. Clarissa).
Tak lama Dhika muncul dengan Okta, membuat Chacha terpekik kaget dibuatnya.
“Hai semuanya,” sapa Okta yang memang sudah mengenal mereka semua.
“Kenapa dia ikut?” tanya Chacha kesal.
“Oh, ini pengusaha muda yang akan jadi relawan untuk membantu korban di sana. Dia akan membantu kita, kalian bebas meminta bantuan apapun padanya,” ujar Dhika.
“Apa kabar Pak Okta, lama tak melihat anda,” ujar Khairul
“Saya baik, Dr. Khairul,” jawab Okta tersenyum.
“Baiklah, mari kita berangkat,” ujar salah seorang tentara dan semuanya menaiki pesawat militer yang sudah berada di sana.
Chacha duduk berhadapan dengan Okta. Okta terlihat memalingkan wajahnya dari Chacha, sedangkan Chacha mencuri-curi pandang ke Okta.
Tak lama mereka sampai di tempat pengungsian. Semuanya turun dari dalam pesawat, dan beberapa tentara langsung berlari menghampiri dan membantu membawakan peralatan kesehatan dan beberapa obat-obatan yang sudah dipersiapkan. Dokter dan Suster perempuan langsung menuju klinik, sedangkan Dokter laki-laki termasuk Okta membantu mengangkat beberapa kardus berisi obat-obatan dan beberapa alat medis yang sudah dipersiapkan dari AMI hospital.
Chacha yang baru sampai di sekitar klinik, terdiam melihat pemandangan di hadapannya. Beberapa tenda besar yang terbuka berisikan korban dengan beberapa luka termasuk di dalam klinik dan ada juga yang sedang di angkat oleh para tentara menggunakan tandu. Tak jauh darisana beberapa tenda berisi para korban yang selamat dan tidak mengalami luka-luka.
“Dokter, barang-barang anda bisa di simpan di tenda sebelah sana,” sahut seorang tentara seraya menunjukkan tenda berukuran sedang berwarna putih.
Semuanya berjalan menuju tenda itu. Di sana terdapat 3 tenda, dua tenda untuk istirahat dan satu tenda berisikan makanan dan alat memasak.
Selesai membereskan barang-barang, Dhika mengumpulkan semua Dokter dan Suster di depan tenda. Kecuali Okta yang sudah turun membantu para tentara mengangkat beberapa korban yang baru saja di selamatkan atau dibawa dari TKP.
◄►