Episode 8

1705 Kata
Seharian sudah semuanya sibuk mengurusi korban gempa yang terus berdatangan. Hingga saat ini korban yang meninggal mencapai 500 orang dan yang hilang sekitar 1000 orang. Semua Dokter masih sibuk mengurusi pasien hingga petang menjelang. Okta tengah duduk bersandar di sebuah truk militer sambil mengibas-ngibaskan kaosnya yang sudah basah karena keringat. “Di sini panas sekali,” gumamnya. Tiba-tiba saja seseorang menyodorkan sebotol aqua membuat Okta menengok dan Chacha berdiri di sana. “Jangan ke geeran dulu, gue baik sama lu karena pengen sekalian minta maaf soal yang kemarin gue nimpuk lu,” ujar Chacha. Okta meraih botol itu tanpa menjawab ucapan Chacha dan meminumnya, sebagian dia siramkan ke kepalanya dan mengibaskan rambutnya menghilangkan air yang ada di rambutnya.       “Ih Crocodile, basah muka gue!” keluh Chacha menghindari Okta. “Ah segar sekali,” gumam Okta. “Thanks yah Nela,” ujar Okta tersenyum manis. “Ya udah kalau gitu gue pergi.” Chacha beranjak hendak meninggalkan Okta tetapi Okta menahan lengan Chacha membuatnya tertarik dan menabrak d**a Okta. “Wajah lu kotor,” bisik Okta seraya mengusap pipi Chacha yang terlihat kotor membuat Chacha mematung di tempatnya. Matanya menatap wajah Okta dengan jarak yang sangat dekat. “Sudah selesai.” Okta melepas genggamannya pada Chacha. “Ayo kembali bekerja,” Okta berlalu pergi meninggalkan Chacha yang masih mematung di tempatnya. ◄►  Hari semakin larut, tetapi tidak ada yang menghentikan pekerjaannya. Para tentara yang tengah mencari korban di TKP terus berdatangan dengan membawa beberapa orang korban.  Semakin banyak korban yang datang, dan banyak juga korban yang meninggal. Semua Dokter sibuk bekerja, mereka bahkan belum sempat makan apapun. Saat Chacha sedang meneguk air dalam botol tiba-tiba saja Sally datang menghampiri Chacha. “Dokter Clarissa, ada pasien yang mengalami pendarahan di sana,” ujarnya dengan cemas dan ketakutan. Chacha bersama Sally berlari menuju pasien yang di maksud Sally tadi. Di sana sudah ada Riri yang tengah memasang alat infusan ke pasien. “Dokter, pendarahannya sangat parah” jelas Riri dan Chacha segera memeriksa pasien. “Ini bisa melakukan persalinan normal,” jelas Chacha. “Tetapi kita butuh penerangan yang cukup.” “Saya akan meminta bantuan ke tentara,” ujar Sally beranjak pergi. “Ibu, ini bagaimana bisa terjadi?” tanya Chacha. “Saya terguling saat berlari menuju lapangan,” ujar ibu yang terengah-engah menahan sakitnya. “Ini sudah bulan ke sembilan kehamilan saya.” “Sayang!!” seorang laki-laki datang mendekati ibu itu. “Mas, kamu selamat?” isaknya. “Iya Sayang, aku selamat. Bagaimana anak kita?” tanya laki-laki itu. “A-aku tidak tau,” ucapnya. Tak lama Okta datang bersama Sally dengan membawa lampu neon yang cukup besar untuk penerangan. “Crocodile, tolong sebelah sini,” ujar Chacha menunjuk di sampingnya dan tepat di hadapan bagian intim ibu yang terbaring itu. “Kenapa di situ sih Nela? Gue di sini saja,” ujar Okta menolaknya. “Gue butuh penerangannya di sini, bukan di sana,” ujar Chacha ngotot. “Gue tidak mau, gue nggak enak lah.” Okta merasa dirinya bukanlah pria m***m. “Crocodile cepat, jangan protes!” ujar Chacha mulai kesal. “Gue tidak mau!” ujar Okta masih dalam pendiriannya. Semua orang yang ada di sana menatap aneh ke arah mereka berdua. “Crocodile !!!” ujar Chacha kesal. “Gue nggak mau” ujar Okta dengan cuek. “Ini kapan akan di lakukan persalinannya? Istri saya sudah kesakitan!” pekik suami pasien dengan kesal membuat Okta dan Chacha terdiam. Okta akhirnya mengalah, dan memalingkan wajahnya ke arah lain seraya memegang alat penerangan itu. “Ibu, tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan melalui mulut. Tarik nafas dari hidung, keluarkan dari mulut. Seperti itu terus,” instruksi Chacha membuat ibu itu melakukannya. “Terus Bu, sedikit lagi.” Okta menatap wajah Chacha yang terlihat bersinar dengan peluh yang membanjiri dahinya. Tak lama bayipun keluar, tetapi dengan tubuh yang sangat kaku dan biru. Kedua tangan Chacha bergetar menggendong bayi kecil itu yang berjenis kelamin perempuan. “Dokter istri saya,” teriak suami pasien menyadarkan Chacha yang mematung kaku. Pasien terlihat sudah memejamkan matanya. Riri segera memeriksa kondisi pasien. “Dokter, pasien sudah tidak bernafas,” ujar Riri. Chacha mendadak menjadi lambat dan suara orang-orang di sekitarnya tidak terdengar sama sekali. Ini pertama kalinya Chacha membantu persalinan pasien, dimana anak dan ibunya meninggal bersamaan. Tubuh Chacha di tarik oleh seseorang, membuat Chacha berhadapan dengan seseorang yang tak lain adalah Okta. Okta mencengkram kedua pundak Chacha. “Sadar Nela, sadarlah!” ujar Okta menghentakkan bahu Chacha. “TIDAKKK!!!” teriakan seseorang menyadarkan Chacha membuat air mata Chacha mengalir membasahi pipinya. Tubuhnya bergetar hebat. “Dokter Clarissa, pasien meninggal karena kekurangan darah,” jelas Riri. Chacha menengok ke arah pasien yang tengah di peluk oleh suaminya sambil menangis. Dan Chacha kembali menatap bayi mungil di kedua tangannya. “A-aku gagal,” ujarnya bergetar. “Kamu sudah berusaha, Nela. Kamu sudah kerahkan yang terbaik untuk menolong mereka berdua,” ujar Okta. “Crocodile,, hikzz...hikzz… aku gagal,” isak Chacha membuat Okta menarik kepala Chacha ke d**a bidangnya. “Aku terlambat menyelamatkan mereka,,,hikzz” “Tidak, ini bukan salah kamu, Nela. Ini sudah takdir Tuhan,” bisik Okta mencium puncak kepala Chacha. Chacha semakin terisak di pelukan Okta, sedangkan kedua asisten Chacha membersihkan dan mengurus jenazah pasien. Chacha di bantu Okta membersihkan tubuh bayi yang masih di lumuri darah. Lalu sama-sama membaringkannya di samping tubuh ibunya. Suami dari pasien masih menangis di samping jenazah. “Maafkan saya, karena saya telah gagal,” ujar Chacha merasa menyesal. “Tidak apa-apa, Dokter. Ini sudah takdir Tuhan,” gumam laki-laki itu.  Okta masih setia merangkul Chacha yang terlihat lemas. Setelah memberi pesan ke asisten Chacha. Okta membawa Chacha ke tenda Dokter. “Duduk di sini, aku buatkan kopi dulu,” ujar Okta membuat Chacha mengangguk. Chacha masih menatap kosong ke depan, hatinya merasa sangat sakit menerima kegagalan untuk pertama kalinya. Bahkan tidak ada yang bisa di selamatkannya. “Jangan melamun Nela, nanti ke sambet nyonya kun kun lagi,” ujar Okta yang sudah duduk di samping Chacha membuat Chacha melirik ke arah Okta. “Nih minum” Okta menyodorkan segelas kopi dan Chacha menerimanya. “Semua manusia sudah di atur oleh sang pencipta, kapan mereka akan meninggal. Jadi jangan terlalu menyalahkan diri kamu sendiri.” “Gue bahkan tidak bisa menyelamatkan salah satunya,” gumam Chacha, air matanya kembali menetes membasahi pipi. “Jangan sedih, mungkin ini yang terbaik untuk mereka,” ujar Okta menghapus air mata Chacha. “Tumben lu baik banget sama gue?” ujar Chacha melihat ke arah Okta. “Gue kan memang selalu baik sama lu. Lu aja yang suka jahatin gue” ujar Okta merengut. “Habis lu nya nyebelin” keluh Chacha. “Tapi suka kan? Sampe nanyain gue ke si Dhika,” ujar Okta tersenyum lebar. “Dokter Dhika cerita?” tanya Chacha kaget membuat Okta mengangguk. “Ternyata ember juga,” gumam Chacha. “Bukan ember, tapi tidak akan pernah ada dusta di antara kami.” “Lebay” cibir Chacha. Mengalirlah cerita mereka berdua, mereka mulai akrab dan menghabiskan waktu bersama. ---- Di dalam tenda, terlihat Chacha dan Okta tengah membuat pop mie bersama. “Kalian?” tanya Thalita sedikit kaget melihat keduanya yang terlihat cukup dekat. “Eh ada Lita, mau pop mie?” tawar Okta membuat Lita mengangguk. “Aku hendak membuatnya,” ujar Lita. “Sekalian yah sama yang si Dhika. Dia belum makan dari tadi siang,” ujar Okta. “Suruh saja bikin sendiri,” jawab Lita dengan ketus. “Amal dikit Tha,” ujar Okta membuat Chacha menyenggol lengan Okta. “Kalian sejak kapan dekat? setau gue, di kampus dulu kalian bermusuhan,” tanya Thalita mengalihkan pembicaraan dan menatap curiga ke arah dua orang di hadapannya itu. “Kita tidak dekat kok, Tha. Kita hanya kenal saja,” ujar Chacha  seraya memasukkan bumbu ke dalam cup pop mie. “Segini kamu bilang tidak dekat?” protes Okta. “Iya” jawab Chacha cuek sambil membawa pop mienya.  “Gue makan duluan yah Lita,” ujar Chacha  beranjak meninggalkan Okta. “Dasar Nenek Lampir,” gerutu Okta mengikuti Chacha keluar dari tenda. “Jangan lupa buatkan juga untuk si Dhika yah Lita,” ujar Okta sebelum keluar. “Gue bukan baby sisternya,” ketus Lita seraya mengambil satu buah pop mie. --- Okta dan Chacha tengah duduk berdampingan di belakang tenda sambil menikmati pop mie milik mereka. “Kenapa barusan bilang kalau kita tidak terlalu dekat? Padahal kita sudah dekat,” ujar Okta. “Menurut gue sih nggak,” jawab Chacha cuek sambil memakan mienya.        “Jadi menurut lu, yang dekat itu bagaimana?” tanya Okta dan Chacha hanya mengedikkan bahunya. “Apa seperti ini.” Okta tiba-tiba saja menyentuh sudut bibir Chacha yang terdapat mie dengan bibirnya.  Chacha melotot sempurna dan menegang dengan apa yang Okta lakukan. Okta kembali menjauhkan bibirnya dari bibir Chacha. “Pedes,” ujar Okta santai, sedangkan wajah Chacha sudah memucat karena syok. “Ba-barusan a-apa yang lu lakuin?” gumam Chacha menyentuh bibirnya. “Ahhh,, Crocodile jelekkkkk!” teriak Chacha membuat Dhika yang baru keluar dari tenda melihat ke arah mereka. “Lu nodain gue!!” “Ck, berlebihan banget lu, Nel,” jawab Okta dengan santainya. “Berlebihan? Dasarrrrr buaya jelekkk,,,” ujar Chacha kesal. Chacha menyiramkan pop mie di tangannya ke kepala Okta. “Ahh Nelaa,, apa-apaan sih lu!” pekik Okta kaget dan merasa panas. “Nyebelin lu!” Chacha pergi meninggalkan Okta yang masih terdiam dengan kepala yang penuh dengan kuah dan mie dari pop mie milik Chacha. “Hahaha” Dhika tertawa sambil berjalan mendekati Okta. “Jangan tertawa!” ujar Okta kesal. “Ternyata si Chacha tidak segampang yang di kira yah,” ujar Dhika seraya duduk di tempat Chacha tadi sambil memakan pop mie yang dia pegang. “Tau ah,,  kepala gue udah kayak kuah baso saja,” gerutu Okta membersihkan kepalanya yang penuh mie dan kuah. “Tidak apa-apa, baso berbulu,” kekeh Dhika. “Ahh sialan dasar! Gue harus mandi kalau kayak gini,” gerutu Okta. “Sana mandi di sungai, kan di sana tempat lu,” ejek Dhika sambil menyeduh pop mienya “Isshhhh !!!” Okta beranjak meninggalkan Dhika dengan kesal. “Pasangan aneh,” gumam Dhika. ◄►
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN