Di tempat lain, Okta duduk sendiri menatap hamparan langit malam. Dan tak jauh dari sana Chacha bersama Riri dan Sally tengah menikmati pop mie. Claudya berjalan mendekati Okta sambil membawa dua gelas kopi.
“Mau kopi?” tawar Claudya membuat Okta menengok.
“Boleh, kebetulan sekali,” ujarnya seraya mengambil gelas berisi kopi dari tangan Claudya.
“Aku tidak melihat Dokter Dhika, kemana dia?” tanya Claudya saat Okta tengah menyeduh kopinya.
“Aku juga belum melihatnya, mungkin sibuk di klinik,” ujar Okta meminum kopi di tangannya.
Dari kejauhan Chacha memperhatikan mereka berdua dengan kesal.
“Oh iya, kamu ada hubungan sama Dokter Clarisa?” tanya Claudya.
“Pengennya sih ada, tapi sayang dia tidak menyukaiku,” ujar Okta menatap lurus ke depan.
“Masa sih ? Aku lihat dia juga menyukaimu,” ujar Claudya
“Oh ya?”
“Aku juga seorang wanita, aku bisa melihat dari matanya kalau dia juga menyimpan rasa padamu,” ujar Claudya membuat Okta tersenyum.
“Oh iya aku mau menanyakan sesuatu” tanya Claudya.
“tanya saja” ujar Okta menyeduh kopinya.
“Apa benar Dokter Thalita adalah wanita di masa lalunya Dokter Dhika?” tanya Claudya membuat Okta terdiam sesaat.
“Kenapa menanyakan itu?” tanya Okta.
“Aku hanya ingin memastikannya saja,” jawab Claudya seraya meminum kopi miliknya.
“Apa Dhika yang waktu itu menolakmu?” tanya Okta menatap Claudya membuat Claudya terkekeh.
“Kenapa bertanya begitu? Aku sungguh malu waktu itu curhat sama kamu,” kekeh Claudya.
“Tidak apa-apa, aku seneng bisa mendengarkan keluh kesah seseorang. Apalagi itu seorang perempuan,” ujar Okta terkekeh dan Claudyapun ikut tertawa.
“Dasar playboy, ternyata benar yah yang infotaiment itu beritakan. Seorang pengusaha muda yang sangat terkenal dengan sikap playboy nya,” kekeh Claudya.
“Itu cuma hoax,” kekeh Okta.
Keakraban keduanya tak luput dari pandangan Chacha yang terus menatap ke arah mereka berdua dengan kesal.
“Jadi benar tidak kalau Dokter Thalita pernah ada hubungan dengan Dokter Dhika?” tanya Claudya sangat penasaran.
“Kalau aku kasih tau jangan nangis yah,” goda Okta terkekeh.
“Tenang saja, sekarang tidak akan,” ujar Claudya.
“Iya, mereka dulu adalah pasangan kekasih. Bahkan sudah bertunangan, tetapi terjadi accident yang membuat keduanya berpisah begitu lama,” jelas Okta membuat Claudya terdiam sesaat.
“Kalau boleh tau, accident apa?” tanya Claudya semakin kepo.
“Aku tidak punya hak untuk menceritakannya, tanya saja ke Dhika langsung,” ujar Okta, membuat Claudya terdiam.
“Baiklah Dokter Claudya, aku harus pergi dan terima kasih kopinya,” ujar Okta tersenyum dan beranjak meninggalkan Claudya sendiri.
Baru tiga langkah, Okta menghentikan langkahnya karena beradu pandang dengan Chacha. Tetapi secepat kilat Chacha memalingkan pandangannya ke arah lain.
◄►
Dhika, Thalita, Okta, Chacha dan Khairul berangkat menuju TKP untuk langsung melakukan tindakan di tempat kejadian perkara. Mereka berangkat menggunakan mobil militer, hingga mereka sampai di sana. Semuanya mematung melihat kondisi sekitar. Hampir semua rumah dan beberapa bangunan ambruk, tanah jalananpun membelah, pepohonan tumbang, sampah dan bau amis berserakan di mana-mana. Gempa dan Tsunami yang melanda kota Banda Aceh benar-benar menghancurkan segalanya. Mobil berantakan di mana-mana, begitupun juga kendaraan roda dua. Banyak tentara di sana yang tengah melakukan olah TKP. Banyak korban yang di angkat menggunakan tandu, dan ada juga beberapa orang yang hanya luka-luka ringan dikumpulkan di sebuah tenda yang di bangun di sekitar sana. Chacha dan Thalita sampai meneteskan air matanya melihat keadaan di sini yang sangat mengkhawatirkan dan menyedihkan. Jeritan dan tangisan juga terdengar di sini, karena banyak korban yang meninggal dunia.
Semuanya langsung menyebar. Okta membantu beberapa tentara membawa korban dan memindahkan barang-barang. Sedangkan para Dokter langsung bertugas memeriksa kondisi korban.
Di tempat lain, Chacha terlihat tengah berjalan mendekati sebuah rumah yang depannya cukup hancur. Chacha mengintip dari jendela rumah dan terlihat seorang perempuan tergeletak di dalam sana dengan tubuhnya tertimpa lemari.
“Gimana cara buka pintunya?” gumam Chacha mencari sesuatu untuk membuka pintu. Chacha melihat balok kayu yang tak jauh dari sana, Serpihan dari rumah lain yang roboh. Chacha mengambil balok itu dan memukul pintu untuk membukanya tetapi naas, atap rumah di atas kepalanya roboh. Dan hampir saja mengenai kepala Chacha.
“Aaarrrghh !!” Chacha berteriak seraya menutup kepalanya sendiri dengan kedua tangannya, tetapi seseorang menarik Chacha untuk menjauh dari sana.
Bruk Bruk Bruk
Suara reruntuhan itu terdengar jelas membuat Chacha membuka matanya dan yang pertama Chacha lihat adalah langit biru. Chacha menengok ke arah sampingnya dimana Thalita juga terbaring di sana. Chacha bangun dan duduk di atas tanah.
“Lita, lu tidak apa-apa?” tanya Chacha khawatir dan melihat sebelah kaki Lita tertimpa kayu yang lumayan besar. Thalitapun terbangun dan meringis saat menggerakkan kakinya.
“Gue tidak apa-apa Cha, lu tidak apa-apa?” tanya Lita.
“Gue tidak apa-apa. Lita kaki lu,” ujar Chacha seraya mencoba menyingkirkan kayu itu yang terasa berat tetapi tak lama ada sepasang tangan lain yang membantu mengangkat kayu itu, Chacha menengok dan mendapatkan Okta ada di hadapannya.
“Lita lu tidak apa-apa kan?” tanya Okta.
“Gue baik-baik saja,” ujar Lita, berusaha berdiri di bantu Okta dan Chachapun ikut berdiri.
“Lita, kenapa lu lakuin ini? Kenapa lu harus nyelametin gue sih? Kan kaki lu jadi cedera,” ujar Chacha.
“Gue tidak mau sahabat gue terluka, bukankah sebagai sahabat harus saling melindungi,” ujar Lita tersenyum dan beranjak meninggalkan Chacha dan Okta yang masih mematung di tempatnya.
“Sa-sahabat?” gumam Chacha, tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipi. Chacha melihat ke arah Lita yang berjalan dengan pincang meninggalkan Chacha dan Okta.
“Dia bilang gue sahabatnya. Gue?” gumam Chacha.
Bayangan saat-saat mereka berempat masih bersama-sama. Kehebohan, kegilaan, keceriaan, tawa, canda saat mereka berempat bersama terbayang di benak Chacha. Membuat Chacha menangis terisak.
“Dia bilang gue sahabatnya? Dia masih menganggap gue sahabatnya setelah apa yang pernah gue lakuin..hikz” isak Chacha.
Lita, gue tidak mau lagi berteman dengan lu yang suka nusuk dari belakang. Gue tidak suka temenan sama cewek murahan seperti lu.
Dia tidak b******k Serli. Tetapi Lita yang b******k karena merebut kekasih sahabatnya sendiri.
Apa masih pantes lu gue sebut sebagai sahabat, hah? Lu sudah nusuk gue dari belakang.
Dengarkan baik-baik Lita, mulai sekarang gue sudah bukan sahabat lu lagi. Gue ogah bersahabat dengan cewek munafik dan suka nusuk dari belakang seperti lu.
Teriakan yang pernah Chacha ucapkan ke Lita terngiang begitu saja di telinga Chacha.
“Gue sudah menyakitinya, sangat menyakitinya. Gue selalu menuduh dan menghinanya, tetapi apa balasan dia ke gue?” Chacha menangis menatap ke arah Okta. “Dia mengorbankan keselamatannya demi gue, dan dia bilang ‘dia tidak mau sahabatnya terluka, bukankah sebagai sahabat harus saling melindungi’. Dia berkata seperti itu dan menyelamatkan sahabat seperti gue,” gumam Chacha semakin terisak. “Crocodile, gue benar-benar seorang sahabat yang sangat jahat. Hikzzz,,,” isak Chacha membuat Okta menarik Chacha kepelukannya.
“Dia masih menganggap gue sahabatnya, kenapa dia baik sekali? Kenapa dia mengorbankan keselamatannya demi gue, kenapa??? Hikzzz”
“Terkadang kita tidak sadar, seberapa tulusnya kasih sayang dari seorang sahabat. Lu beruntung Nela, harusnya lu bersyukur karena lu sudah mendapatkan seorang sahabat yang tulus menyayangi lu,” ujar Okta.
“Tapi kenapa gue? Gue sudah menyakiti dan melukai hatinya,, hikzz” Chacha semakin terisak dipelukan Okta.
◄►