Pagi-pagi sekali, Thalita tengah memeriksa kondisi pasien, dengan kakinya yang di gif. Semalaman Thalita sama sekali tidak bisa beristirahat. Dia menghabiskan waktunya sendirian di belakang tenda. Batinnya seakan tengah berperang untuk mengambil keputusan yang tepat. Selesai memeriksa, Thalita keluar tenda dan berpapasan dengan Chacha yang terlihat tengah menunggunya.
“Lita, gue ingin bicara,” ujar Chacha.
“Bicaralah,” ujar Thalita dengan santai.
“Ikut gue”
Chacha mengajak Thalita ke belakang tenda. Mereka berdua sudah berhadapan di belakang tenda. Thalita terlihat menunggu Chacha untuk berbicara. Tetapi tiba-tiba saja Chacha bersujud di hadapan kaki Thalita, membuat Lita mundur satu langkah karena kaget.
“Lita gue minta maaf,” isak Chacha semakin membuat Thalita kebingungan.
“Cha, lu ngapain sih?” ujar Thalita mencondongkan badannya merengkuh lengan Chacha untuk menariknya berdiri. “Minta maaf untuk apa? Cha bangun, gue tidak bisa jongkok. kaki gue sakit Cha” ujar Thalita dan akhirnya Chachapun berdiri dan langsung memeluk Lita.
“Maafin gue,, hikzzz” isak Chacha.
“Lu kenapa, Cha?” tanya Thalita bingung.
“Kenapa lu masih menganggap gue sebagai sahabat lu dengan apa yang sudah gue lakukan sama lu. Bahkan gue yang memutuskan persahabatan kita, gue yang nyakitin lu, hikzzz” isak Chacha, Thalita melepas pelukannya dan memegang kedua pundak Chacha.
“Denger, ingetkan kesepakatan kita dulu. Sampai sekarang gue masih mengingatnya dan gue tidak mungkin mematahkan silaturahmi kita yang sudah kita jaga selama kita duduk di bangku smp” ujar Thalita dengan senyumannya.
“Seperti yang sudah sering gue bilang, gue Sayang kalian. Gue sayang sahabat-sahabat gue dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun juga,” jelas Thalita membuat Chacha semakin menangis.
“Benar kata Serli, lu benar-benar malaikat Tha. Lu mempunyai hati yang sangat baik,” ujar Chacha.
“Gue tidak sebaik itu Cha, gue bahkan tidak bisa melakukan apapun. Mungkin gue akan di anggap jahat oleh seseorang,” ujar Thalita merenung.
“Baiklah, kita buka lembaran baru lagi,” ujar Chacha menghapus air matanya membuat Thalita mengangguk senang.
“Aku Clarisa Abshari Pratista, mau bersahabat denganku?” Chacha mengulurkan tangan kanannya dan langsung di sambut oleh Thalita.
“Aku Thalita putri, aku mau bersahabat denganmu,” ujar Thalita tersenyum.
“Sahabat selamanya.” ujar Chacha.
“Ya sahabat selamanya,” balas Thalita.
Dari kejauhan Dhika dan Okta memperhatikan mereka berdua dengan senyuman yang terukir di bibir mereka. “Gue seneng, satu persatu kebahagiaan Thalita berdatangan dan membuatnya kembali bahagia,” gumam Dhika.
“Iya lu bener” jawab Okta.
“Gue akan mengembalikan semua kebahagiaan Thalita,” ujar Dhika dengan yakin.
Chacha menolong pasien yang mengalami keguguran di bantu Thalita.
“Pendarahannya sangat banyak,” ujar Chacha. “Kita tidak mungkin menunda operasinya.”
“Kita lakukan operasinya di sini” ujar Thalita.
“Tapi, tidak ada peralatan apapun?” ujar Chacha.
“Kita pakai alat yang ada di sini, aku bawa beberapa alat operasi,” ujar Lita. “Kita butuh sinar matahari.”
Chacha dan Thalita membawa pasien ke tempat yang terdapat sinar matahari dan cukup bersih. Mereka bekerja sama melakukan operasi pada pasien yang mengalami keguguran.
“Kita harus menyelamatkan pasien, karena bayinya sudah meninggal,” ujar Chacha. Thalita membantu Chacha melakukan operasi pada rahim pasien.
Dhika yang baru saja melewat, dan melihat ke arah mereka berdua dengan melipat kedua tangannya di d**a. Di pandangnya Thalita yang menggunakan masker dan sibuk melakukan operasi. Dhika tersenyum kecil melihatnya.
‘Bahkan setelah mendapat penolakan darimu, hatiku tetap selalu tertuju padamu,’ batin Dhika.
“Dia malah cengengesan, gue curiga Dewa Amour tengah merasuki lu,” ejek Okta yang tiba-tiba saja ada di samping Dhika.
“Ck, lu ngapain sih ngikutin gue,” ujar Dhika.
“Siapa juga yang ngikutin lu, orang gue lagi ngeliatin Nenek Lampir gue,” ujar Okta membuat Dhika terkekeh.
“Belum kapok juga lu, setelah disiram kuah pop mie?” tanya Dhika.
“Gue bukan tipe cowok yang gampang menyerah,” ujar Okta dengan bangganya, membuat Dhika tersenyum.
Tak lama Thalita dan Chacha selesai melakukan operasi dan kini di telapak tangan Thalita ada seorang bayi yang belum terbentuk sempurna karena usia kandungannya baru 5 bulan.
Setelah melakukan penyelesaian terakhir operasi pasien, Chacha membawa pasien ke tenda kesehatan yang ada di sana dan mengatur infusan pasien.
Tak lama Dhika dan Okta datang, mereka berempat bersama-sama menguburkan bayi itu di sekitar sana. Ke empatnya hanya bisa terdiam memperhatikan makam kecil itu.
◄►
Setelah menghabiskan waktu selama tiga hari di tempat kejadian perkara. Semua Dokter sudah kembali ke pengungsian bersama beberapa korban yang selamat, cedera bahkan yang meninggal dunia. Kecuali Dhika dan Okta yang masih membantu tentara di sana bersama Dokter militer di sana. Korban yang menghilang masih sekitar 40% lagi. Beberapa tentara sudah melacak ke semua daerah dan menemukan tanda kalau ada sebuah bangunan yang diketahui adalah sebuah sekolah dasar. Didalamnya diketahui ada beberapa anak yang terperangkap. Dhika dan Okta memutuskan tetap tinggal untuk membantu para tentara.
Lita dan Chacha sampai di tempat pengungsian dan membantu membawa pasien kritis dengan brankar dan ada juga yang menggunakan tandu. Dokter Claudya menghampiri Lita dan Chacha.
“Dokter Lita, Dokter Dhika mana?” tanya Claudya.
‘Ada apa dia tanya-tanya Dhika?’ batin Thalita. “Apa ada pasien yang gawat darurat?” tanya Thalita.
“Tidak ada sih, hanya saja aku khawatir padanya,” ujar Claudya dengan santainya membuat Chacha melongo kaget.
“Khawatir? Apa saya tidak salah dengan Dokter Claudya. Anda mengkhawatirkan Dokter Dhika?” tanya Chacha sedikit sebal.
“Memang kenapa Dr. Clarissa? Apa ada yang salah mengkhawatirkan sesama rekan Dokternya?” tanya Claudya menantang.
“Dokter yang pergi ke sana kan bukan hanya Dokter Dhika, kenapa cuma mengkhawatirkan Dokter Dhika?” tanya Chacha.
“Iya aku tidak mungkin mengkhawatirkan dr. Khairul kan yang notabene nya sudah memiliki istri, dan aku juga tidak mungkin mengkhawatirkan kalian berdua. Aku masih normal. Jadi yang lebih tepat itu aku mengkhawatirkan Dokter Dhika yang masih single. Benarkan Dokter Lita,” ujar Claudya dengan sinis membuat Thalita merasa kesal.
“Itu namanya keganjenan, kalau khawatir sama rekan itu tidak memandang apapun juga,” ujar Chacha mulai terpancing emosi.
“Chacha cukup.” Thalita menahan lengan Chacha. “Kita tidak perlu meladeninya. Kalau kamu mengkhawatirkan Dokter Dhika, maka hubungi saja dia,” ujar Lita menarik Chacha pergi dengan kaki yang masih pincang.
“Lita, gue sebel sama tuh cewek, keganjenan banget sih dia. Udah tau Dhika itu cowok lu,” gerutu Chacha kesal.
“Dhika bukan cowok gue, dan dia berhak memilih siapapun. Termasuk Dokter Claudya,” ujar Thalita membuat Chacha terdiam membisu. “Jangan bahas masalah Dhika lagi di hadapan gue. Kita semua di sini hanya rekan kerja dan tidak lebih dari itu.”
Setelah mengatakan itu, Thalita berlalu pergi meninggalkan Chacha sendiri.
‘Tuh anak kapan sadarnya yah, kalau dia itu masih cinta sama Dhika,’ batin Chacha dan berlalu pergi menuju klinik.
◄►