Episode 11

1498 Kata
Di tempat kejadian perkara, Dhika bersama beberapa tentara memasuki gedung sekolah yang ambruk total. Dengan menggunakan mesin, membuat salah satu batu yang menutupi jalan masuknya terbuka.  Dhika bersama Okta dan tiga orang tentara yang salah satunya adalah Kapten tentara memasuki ke bagian yang paling dalam, curam dan bawah. Semuanya menyusuri jalanan yang penuh batu dan tumpukan bahan bangunan lainnya. “Tolongggggg !!!”  Terdengar samar-samar teriakan anak-anak. Dengan feeling yang kuat, Dhika dapat menemukan mereka. Mereka berada di dalam lubang yang cukup dalam terhalang oleh sebuah kaca besar yang sudah ditutupi oleh beberapa reruntuhan. Ketiga tentara bersama Dhika dan Okta membantu menyingkirkan semua yang ada di sana.  Batu, besi, kayu dan banyak lagi. Setelah berhasil mengangkat kaca besar yang menghalangi. Kini semuanya dapat melihat ada sekitar 10 anak di bawah sana bersama seorang perempuan dewasa yang memakai seragam PNS. “Tolong kami!” teriak sang guru. “Tolong murid saya, dia kehausan dan kehabisan nafas!” teriaknya lagi menunjukkan seorang anak perempuan yang berada di pelukannya. “Tunggu di situ, kami akan mengeluarkan kalian!” teriak Kapten. “Bawa tambang ke sini.” perintah Kapten dan tak lama seorang tentara datang dengan membawa tambang. “Saya ikut turun,” ujar Dhika. “Tidak bisa Dokter, ini sangat berbahaya,” ujar Kapten. “Tapi di bawah sana ada anak yang membutuhkan pertolongan saya,” ujar Dhika ngotot. “Baiklah, tapi hanya Dokter saja,” ujar Kapten dan turun bersama Dhika menggunakan tambang itu. Dhika yang memang sudah terbiasa memanjat dan turun tebing. Membuatnya tidak kesulitan untuk menuruni lubang yang cukup dalam itu. Setelah sampai di bawah, ia segera menolong anak yang pingsan itu. “Denyut nadinya lemah,” gumam Dhika memberikan selang oksigen kecil yang dia bawa. Sedangkan Kapten dan seorang tentara yang juga ikut turun membantu menaikan satu persatu anak-anak ke atas. Setelah sampai di atas, anak-anak langsung di giring keluar gedung itu. Sudah tujuh orang anak yang dibawa keluar gedung, Kini anak ke 8 yang berhasil di naikkan dan hendak dibawa keluar oleh Okta, tetapi tiba-tiba saja tanah bergetar dan bergerak hebat. “Gempa susulan! Berlindung!” teriak salah satu tentara.  Dan Okta langsung memeluk anak laki-laki yang dia pegang dan melindunginya di sudut yang lebih aman. Tetapi naas, beberapa atap runtuh kembali dan masuk ke dalam lubang itu dimana masih ada Dhika, Kapten, satu orang tentara, ibu guru dan dua orang anak. Bruk bruk Bruk “DHIKAAAAA !!!!” teriak Okta saat melihat lubangnya sudah di penuhi reruntuhan dan tertutup sempurna.  Tetapi gempa masih berlanjut, dan ada serpihan bangunan yang runtuh ke arah Okta. Okta langsung melindungi anak laki-laki itu dengan tubuhnya membuat serpihan batu itu mengenai kepala bagian belakang Okta membuatnya terjatuh dan pingsan. Darah segar keluar dari belakang kepalanya. “Paman! paman bangun,, hikzz” Anak itu terus menepuk pipi Okta yang pingsan. Gempa sudah berhenti dan membuat semua pintu keluar dari gedung itu tertutup rapat. Bukan hanya di sana. Gempa susulan juga sampai ke pengungsian, tetapi tidak separah di TKP. Di pengungsian hanya beberapa barang berjatuhan dan ada tenda yang ambruk. Semuanya heboh dan menyebut asma Allah SWT. Para Dokter yang berada di dalam klinik ada yang berlari keluar ada yang bertahan mencoba melindungi pasien mereka. Termasuk Thalita dan beberapa Dokter dari AMI Hospital. “Gempanya sudah selesai,” ujar Reza saat tengah mencoba melindungi pasien kritis yang tidak sadarkan diri. “Sepertinya sudah berhenti,” ujar Thalita. “Untunglah tidak sampai parah,” ujar Suster Meliana dan kembali membereskan beberapa barang yang sempat berjatuhan ke lantai. Thalita hendak memungut botol obat yang jatuh tetapi sesaat dadanya sakit. “Ahh,,,  kenapa ini,” ringis Lita memegang dadanya sendiri. Saat kembali berdiri, Lita melihat bayangan Dhika di hadapannya. “Dhika?” gumam Lita dan langsung melotot sempurna mengingat Dhika masih berada di TKP.  Thalita berlari sekuat tenaga dengan kaki yang pincang ke arah tenda pusat. Chacha yang melihat Lita, segera mengejar Lita karena kaget. “Pak,,,” ujar Lita saat sampai di tenda tentara membuat ke lima orang tentara yang ada di sana menengok ke arah Thalita dengan ekspresi murung membuat Lita semakin bertanya-tanya. Chacha datang bersama Claudya yang juga mengikuti. “Apa yang terjadi Pak? Apa yang terjadi di TKP?” tanya Thalita tak sabar, matanya sudah merah menahan tangisnya. “Sekolah yang sedang di evaluasi mereka kembali ambruk dan di dalamnya masih ada tiga orang rekan tentara kami, Kapten, Pak Oktavio,” ujar salah seorang tentara membuat Chacha menutup mulut dengan tangannya tak percaya. “Dan Dokter Dhika.” Deg Thalita mundur satu langkah, dengan tatapan kosong ke depan. “Crocodile jawab,, Crocodile jelek jawab gue!” Chacha menghubungi Okta menggunakan alat komunikasi militer. “Jawab gue i***t!” bentak Chacha sambil menangis tetapi hanya suara berisik tak jelas.  “Dokter Dhika, jawab aku, Dokter!” ujar Claudya membuat Lita mematung mendengarnya. Mengetahui Okta tidak menjawabnya membuat jantung Chacha berdebar kencang. “Crocodile…” gumamnya memejamkan matanya hingga air matanya jatuh membasahi pipinya.  Chacha menangisi Okta di dalam tenda seorang diri. “Crocodile bodoh, kenapa pergi. Bahkan gue belum memberikan jawaban kedekatan kita,,hikzzz” isak Chacha. “Bukankah, seorang reptil tidak pernah mati. Kenapa kamu kayak gini? Kenapa kamu lakuin ini sama aku,, hikzzz.” Tissue sudah bertebaran di mana-mana. “Kenapa kamu buat aku sakit hati? Kenapa kamu lakuin ini sih Crocodile…hikzzz” ◄► Thalita berjalan menuju tenda dapur untuk membuat kopi dan ternyata di sana sudah ada Chacha tengah duduk sambil memegang segelas mug berisi kopi dengan pandangan kosong kedepan. “Cha,” panggil Lita menyentuh tangan Chacha seraya duduk di hadapan Chacha. “Ah ya, kenapa Tha?” tanya Chacha menghapus air matanya sendiri yang entah sejak kapan sudah luruh. “Apa lu mencintai Okta?” tanya Lita. “Gue…” Chacha terdiam sesaat.  “Entahlah,” tambah Chacha tersenyum masam. “Jujur saja, lu terlihat sangat terpukul,” ujar Lita. “Entah ini cinta atau bukan, gue terlalu takut untuk secepat ini menyimpulkan ini cinta. Tapi yang jelas, gue sangat mengkhawatirkannya. Gue tidak ingin kehilangan dia,” ujar Chacha berkaca-kaca. “Gue yakin mereka akan baik-baik saja,” ujar Lita tersenyum seraya menyentuh tangan Chacha. “Gue berharap seperti itu, tapi mendengar informasi tadi kalau mereka terkurung di dalam gedung sekolah, membuat gue tidak bisa berpikir positive. Ini sudah dua hari mereka menghilang,” ujar Chacha. “Iya lu memang benar, tapi gue yakin. Dhika tidak akan meninggalkan gue dengan cara seperti ini,” gumam Lita menyeduh kopi yang sudah dia buat. Chacha menatap ke arah Thalita, dengan tatapan yang sulit di artikan. Keduanya terpekik saat mendengar suara deru mobil yang terdengar. Keduanya saling pandang dan berlalu keluar tenda. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, dua buah mobil militer datang yang dari TKP. Beberapa orang berpakaian hijau loreng itu turun dengan membawa beberapa orang yang terluka dengan menggunakan tandu. Banyak anak-anak yang turun dari mobil itu juga, semua Dokter menyambut dan melihat ke arah mereka. Thalita terus melihat ke arah mereka yang baru saja datang. Tak lama, turunlah 2 orang laki-laki yang tidak memakai pakaian loreng. Semua Dokter dan Suster yang melihatnya terlihat sangat bahagia dan bersyukur. Sosok itu semakin dekat dan Chacha mampu melihat siapa orang itu. Seketika tubuhnya menegang dan rasa lega di dalam hatinya saat melihat sosok yang ia rindukan dan khawatirkan. Chacha langsung berjalan cepat mendekati seseorang itu. “Crocodile !!!” Chacha sudah berada di hadapan seseorang yang tak lain adalah Okta. Okta terlihat memakai perban di bagian kepalanya. Tanpa aba-aba, Chacha langsung memeluk Okta. “Dasar Crocodile jelek, bau, nyebelin! Kenapa membuat gue takut.” Chacha menangis meraung-raung sambil memukul punggung Okta pelan membuat Okta yang awalnya bingung jadi terkekeh senang. “Astaga Nela, sebegitu khawatirnya lu sama gue,” ujar Okta santai dan membalas pelukan Chacha. “Dasar i***t, bagaimana aku tidak khawatir, hah? Dasar bodoh!” isak Chacha membuat Okta memeluk Chacha dengan sangat erat. “Jangan bicara apapun lagi, ayo beristirahatlah.” Chacha melepas pelukannya dan menarik tangan Okta membawanya menuju tenda. Dhika hanya tersenyum kecil melihat Okta dan Chacha.           --- Di tenda Dokter, Chacha tengah menggantikan perban di kepala Okta. “Apa lu  sangat ketakutan saat tau gue menghilang?” tanya Okta menatap wajah Chacha yang sangat dekat. “Diamlah, gue sedang mengobati luka lu.” “Apa setakut itu?” tanya Okta lembut memegang tangan Chacha, membuat Chacha mengalihkan pandangannya dari luka di kepala Okta ke manik mata milik Okta. “Apa setakut itu, Nela?” tanya Okta menatap mata Chacha dengan teduh dan penasaran. “Ya, gue sangat takut” ujar Chacha lirih lebih ke berbisik. “Tetapi kenapa? Kenapa begitu?” tanya Okta. “Gue nggak tau,” ujar Chacha mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Sudahlah, diam saja. Biar gue selesaikan dulu mengobatinya.” Chacha kembali fokus mengobati luka di kepala Okta tetapi Okta kembali memegang kedua tangan Chacha agar menghentikan aktivitasnya.  Dengan satu hentakan, Okta menarik kepala Chacha membuat bibir mereka beradu. Kali ini Chacha tidak menolak atau mendorong Okta, ia malah memejamkan matanya, bahkan membalas ciuman Okta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN