Keesokan harinya, Chacha dan Okta tengah bercanda sambil berjalan berdampingan dengan wajah segarnya. Mereka baru saja dari sungai yang tak jauh dari tempat pengungsian. Mereka masih saja suka cekcok dan saling meledek, tetapi mereka menikmati itu semua. Karena itu bentuk kemesraan mereka berdua.
“Oh iya Nela, tadi pagi Dokter Riri bilang kalau selama gue menghilang. Lu sudah seperti mayat hidup yang mengurung diri di tenda dan terus menangis. Apa itu benar?” tanya Okta tetapi Chacha tak menanggapinya dan menghentikan langkahnya. Tatapannya melebar menatap ke depan.
‘Astaga ada anjing,’ batin Chacha.
Tak jauh di depan mereka ada seekor anjing hitam besar milik tentara, yang dibawa untuk melacak keberadaan korban.
“Apa sebegitu cemasnya? apa sebegitu takutnya kehilangan gue?” tanya Okta menanti jawaban dari Chacha yang terlihat pucat menatap ke depan.
‘Kenapa anjingnya di biarkan lepas begitu?’ batin Chacha ketakutan.
“Gue sangat bahagia saat mendengarnya. Apa benar yang di katakan Dokter Riri?” tanya Okta semakin penasaran.
“Kenapa anjingnya berjalan ke arah sini?” gumam Chacha semakin ketakutan.
“Lu bilang apa, Nela? Apa itu benar? Apa itu berarti lu udah mulai jatuh cinta sama gue?” tanya Okta.
“Aaaarrrggghhhhh Crocodile dia ke sini!” pekik Chacha ketakutan dan langsung loncat ke gendongan Okta, membuat Okta reflek menahan tubuh Chacha yang berada di gendongannya.
“Siapa yang ke sini?” tanya Okta bingung.
“Anjingnya ke sini!!” ujar Chacha ketakutan membuat Okta melongo dan benar saja di depan kaki Okta sudah ada anjing yang terlihat tengah mengendus-endus sepatu Okta.
“Jadi dari tadi lu nggak dengerin ucapan gue?” tanya Okta.
“Memang tadi lu ngomong apa?” tanya Chacha dengan polosnya.
“Oh sial. Jadi dari tadi gue sudah kayak penyiar radio yang ngomong panjang lebar tanpa lu dengerin?” ujar Okta kesal membuat Chacha memasang wajah bingungnya. “Gue turunin juga lu.”
“Jangan!!” teriak Chacha ketakutan. “Lu gila yah Crocodile, gue takut sama anjing!” pekik Chacha ketakutan dan semakin mengeratkan kalungan tangannya di leher Okta.
Okta menatap wajah Chacha yang tengah ketakutan itu dengan jarak yang sangat dekat, membuat kekesalannya hilang seketika.
“Astaga kenapa anjingnya tidak pergi-pergi sih,” gumam Chacha melihat ke bawah dimana anjingnya masih berada di depan kaki Okta. Tetapi Okta tidak menghiraukannya, pemandangan wajah Chacha jauh lebih menarik.
“Crocodile kenapa anjingnya tidak pergi-pergi?” tanya Chacha tetapi Okta tak menjawabnya, dan malah mesem-mesem melihat ke arah Chacha.
“CROCODILE!!” teriak Chacha menyadarkan Okta.
“Ahhh sialan,, gendang telinga gue pecah!” keluh Okta. “Heh Nenek Lampir, berisik banget sih lu! ganggu saja.”
“Dari tadi gue panggil, lu malah mesem-mesem nggak jelas. Itu cepetan usir anjingnya!” ujar Chacha kesal.
“Heh dog, lu pengen Nenek Lampir ini? Ini ambil saja, dia berisik banget,” ujar Okta seraya hendak menurunkan Chacha tetapi Chacha langsung memeluk leher Okta dengan erat karena ketakutan.
“Nela lu mau bunuh gue?” pekik Okta tercekik. “Gue kecekik!” Chacha langsung melonggarkan pelukannya.
“Gue takut !!” cicit Chacha.
“Iya tapi jangan segitunya juga, nafsu bener sih lu pengen nemplok sama gue,” ujar Okta santai membuat Chacha melotot sempurna.
“Dasar Crocodile jelek lu, siapa juga yang mau nemplok-nemplok sama lu! Kalau nggak ada tuh anjing, gue juga ogah meluk lu!” ujar Chacha dengan kesal.
“Lah ini buktinya, anjingnya sudah pergi daritadi. Lu nya masih betah nemplok di gue,” ujar Okta membuat Chacha melihat ke bawah dan benar saja anjingnya sudah tidak ada.
Dan Chacha langsung turun dari gendongan Okta dengan kesal. Chacha berjalan lebih dulu meninggalkan Okta yang mengikutinya dari belakang sambil terkekeh. Saat melewati mobil truk militer, seorang tentara muncul dengan mengangkat beberapa kardus besar sampai menutupi kepalanya dan hampir menabrak Chacha. Spontan Okta menarik Chacha membuatnya tertarik ke arah Okta dan punggung Chacha membentur truk itu tetapi tidak terlalu keras. Membuat keduanya berhadapan dan bertatapan dengan nafasnya yang tersenggal-senggal, d**a mereka berdua naik turun.
“Crocodile,” gumam Chacha.
“apa Nela? Apa ada anjing lagi datang?” tanya Okta karena melihat ekspresi tegang dari Chacha.
“Ini lebih menakutkan dari anjing tadi,” ujar Chacha.
“Apa?” tanya Okta berbisik.
“Ada tangan reptil yang menyentuh area terlarang gue,” ujar Chacha membuat Okta mengernyitkan dahinya bingung.
“Singkirin tangan kotor lu itu, Crocodile jelek!” pekik Chacha dengan wajah yang merah karena marah sekaligus malu. Tatapan Chacha tertuju pada tangan kanan Okta yang berada tepat di bagian d**a kanannya. Okta mengikuti arah pandang Chacha dan terpekik kaget.
“Astaga!” secepat kilat Okta menarik tangan kanannya menjauhi d**a Chacha dengan tidak enak. “Duh nakal banget nih tangan.”
“Dasar lu Crocodile gila, jelek, mesummmm!!”
“Aduh maaf Nela, gue kan nggak sadar dan nggak tau,” ujar Okta terkekeh polos.
“Nggak sadar? Lu sengaja kan nyari kesempatan dalam kesempitan!” tuduh Chacha kesal.
“Gue beneran nggak sadar Nela. Lagian gue nggak ngerasa megang itu lu. Punya lu kecil banget sih jadi gue nggak sadar lagi megang itu lu,” ujar Okta dengan santai membuat wajah Chacha semakin memerah karena emosi. Bagaimana bisa Okta berbicara masalah itu dengan santai sekali, pakai meledek pula.
“CROCODILEEEE !!!!” teriak Chacha kesal membuat Okta menutup kedua telinganya.
Chacha terlihat melepas sepatu bootsnya.
“Lu mau ngapain?” tanya Okta siap siaga mundur menjauhi Chacha.
Chacha mengangkat sepatu boots berhak itu ke udara hendak memukul Okta, tetapi Okta segera berlari menghindar.
“Sorry Nela, gue tidak sengaja. Sumpah! Jangan nimpuk lagi dong, itu sepatu lu alasnya lumayan keras loh, bisa bocor kepala gue,” ujar Okta sambil terus berlari menghindari Chacha.
“Dasar lu buaya m***m, jelek, nyebelin!” pekik Chacha masih mengejar.
“Itung-itung kita impas dong Nela, tadi kan lu yang tiba-tiba nemplok ke gue dan sekarang gue. Jadi kita impas dong,” ujar Okta masih berlari.
“Impas pala lu,,, enak di lu semua!” Chacha terus mengejar Okta. Beberapa tentara, warga yang mengungsi, relawan dan beberapa Dokter melihat aneh dan heran ke arah mereka yang saling kejar-kejaran.
“Aduh Nela kepala gue masih sakit, jangan lagi di timpuk dong. Maaf yah maaf,” ujar Okta masih menghindari Chacha.
“Nggak! nggak bakal gue kasih ampun, lu sudah nginjek harga diri seorang wanita. Pake ngehina punya gue kecil lagi. Dasar buaya gilaaaaaa!” teriak Chacha.
Okta terus menghindari Chacha hingga tak jauh dari sana Dhika tengah berdiri sambil membaca map hijau yang dia pegang. Okta berlari ke arah Dhika, dan bersembunyi di belakangnya.
“Lu ngapain sih?” tanya Dhika bingung.
“Diem! Nenek Lampir lagi ngamuk, ogah gue di timpuk lagi sama dia,” ujar Okta bersembunyi di belakang Dhika.
“Astaga. Kalian berdua selalu saja begini. Dikit dikit akur, dikit dikit berantem. Nggak cape apa main kejar-kejaran terus,” ujar Dhika heran.
“Namanya juga lagi pedekate sama Nenek Lampir, ya begini deh resikonya kalau dia ngamuk,” ujar Okta.
“Mau sembunyi dimana lu Crocodile jelekkk!” Chacha sudah berdiri di hadapan Dhika, sambil mencoba memukul Okta yang terus bersembunyi di belakang tubuh Dhika.
“Kalian berdua sudah seperti Tom and Jerry. Lepas ah, entar malah gue yang kena timpuk lagi. Mana tuh sepatu haknya keras banget lagi,” ujar Dhika ngeri melihat sepatu Chacha dan mencoba melepaskan pegangan Okta.
Dan tak jauh dari sana, terlihat Thalita baru saja keluar dari tenda kesehatan. Dan Okta berlari ke arah Thalita dan bersembunyi di belakang tubuh Thalita.
“Eh ini ada apaan?” tanya Lita bingung.
“Tolongin gue Tha, ada Nenek Lampir yang lagi ngamuk,” ujar Okta bersembunyi di belakang Thalita.
“Nenek Lampir?” Thalita kebingungan dan tak lama Chacha sudah ada di hadapan Lita dengan masih memegang sepatu boots berwarna hitamnya.
“Keluar lu Crocodile!” amuk Chacha dengan kesal.
“Astaga Cha, itu sepatu lu bisa buat kepala orang bocor loh,” ujar Lita ngeri melihat sepatu yang Chacha pegang.
“Iya nih Nela, kepala gue masih sakit juga. Katanya lu takut kehilangan gue, kok sekarang malah mau di aniaya sih,” keluh Okta.
“Gue tidak perduli lagi sekarang, gue pengen nendang lu ke muara Australia tempat lu berasal!” ujar Chacha kesal.
“Entar malah kangen gue lagi,” goda Okta dengan masih berlindung di belakang tubuh Lita.
“Idih, ogah gue kangen sama Crocodile m***m model lu,” ujar Chacha kesal.
“Kalian ini sungguh sangat ke kanak-kanakan,,,” Thalita hanya menggelengkan kepalanya. Dan bertepatan dengan itu, Dhika juga menghampiri mereka.
“Cukup Aligator! Kita masih banyak pekerjaan, ayo pergi.” ujar Dhika.
“Jangan bawa si Gator itu pergi dulu, biar gue cincang dulu dia jadi sop buaya!” ujar Chacha tajam membuat Okta meringis ngeri.
“Astaga, Nela lu kejem banget sih. Udah kayak psikopat saja,” keluh Okta membuat Lita terkekeh dan Dhika hanya menggelengkan kepalanya.
“Kalian benar-benar pasangan aneh,” kekeh Lita dan beranjak.
Tetapi baru saja melangkah, dengan sengaja Okta mendorong tubuh Lita membuatnya kehilangan keseimbangannya dan menabrak tubuh Dhika. Membuat keduanya berpelukan, Lita menengadahkan kepalanya menatap Dhika yang sedang menunduk menatapnya.
Deg deg deg
Detak jantung Dhika maupun Lita sama-sama berdebar kencang. Keduanya bertatapan penuh arti.
“Lu pinter Crocodile, mereka kan jadi bisa berdekatan,” ujar Chacha tersenyum mendekati Okta dengan masih menatap Dhika dan Lita.
“Iya Nela, gue pengen lihat mereka nyatu lagi,” ujar Okta merangkul pundak Chacha.
“Apaan lu rangkul-rangkul gue.” Chacha melepas rangkulan Okta kasar. “Gue masih belum maafin lu yah, enak saja lu main rangkul-rangkul gue!” ujar Chacha mengangkat kembali tangan yang tengah memegang sepatu itu ke udara.
“Astaga Nela, lu pendendam banget sih. Gue kan nggak sengaja,” ujar Okta berjalan mundur menjauhi Chacha.
“Nggak sengaja pala lu, sudah jelas-jelas lu megang itu gue dengan sengaja. Pake ngeledek lagi,” ujar Chacha hendak melayangkan sepatu ke arah Okta tetapi Okta langsung berlari menghindari.
“Ampun Nelaaaa!” teriak Okta dan Chacha kembali mengejar.
Keributan itu menyadarkan Dhika dan Lita, dengan segera Lita melepas pelukan Dhika dan berdiri tegak. Tanpa berkata apapun, Lita langsung beranjak pergi meninggalkan Dhika. Dhika hanya mampu menatap punggung Lita yang semakin menjauh.
◄►